
Suara meninggi Kissky membuat Riza panas dingin.
“Minta maaf kau pada ibu!” pekik Riza.
“Enggak mau! Dari kemarin saya mau tanya pada ibu, apa kira-kira kesalahan yang ku perbuat sehingga ibu tak suka pada ku!”
“Oh...! Pada hal masih kecil, tapi mulutnya enggak bisa di rem!”
Tangan Riza yang sudah gatal langsung melayangkan satu tamparan di pipi Kissky.
Plak!
“Akh!” Kissky memegang bekas tamparan Riza.
“Bawa surat panggilan ini! Atau ku DO kau dari sekolah!” pekik Riza.
“Saya enggak mau!” Kissky yang tak terima di perlakukan kasar mengambil surat panggilannya.
Sreekk! Sreekk! Ia merobek-robek surat tersebut di depan Riza.
“Saya enggak tahu apa alasan ibu melakukan ini semua pada saya, tapi... tamparan yang baru ibu lakukan tidak bisa saya maafkan! Kalau ibu masih memaksa saya untuk membawa orang tua saya kesini, maka saya akan melaporkan tindakan kasar yang baru ibu lakukan! Jangan pikir saya mau saja menerima perlakuan semena-mena dari ibu!” setelah mengeluarkan isi hatinya, Kissky bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang itu.
“Akh!” Riza memukul meja kayu yang ada di hadapannya.
“Percaya diri sekali kau Ky! Aku enggak bisa terima dengan penghinaan yang kau lakukan!!”
______________________________________
Kissky yang telah berada di luar kantor guru bertemu dengan Zanjiil.
“Ky, wajah mu!” di bawah sinar mentari yang bersinar terang Zanjiil melihat dengan jelas bekas tamparan Riza.
“Siapa yang melakukannya?!” Zanjiil yang tak bisa menerima berniat balas dendam.
“Bu Riza.”
“Apa?” Zanjiil tak percaya, Riza berani menyentuh Kissky. “Awas dia!” Zanjiil yang ingin masuk ke kantor guru di hentikan oleh Kissky.
“Jiil, aku lelah, ayo kita pulang,” pinta Kissky
“Tapi...”
“Jangan lagi, besok aku masih ada hal besar yang harus ku hadapi.”
Zanjiil mengerti, jika Kissky memikirkan tentang identitasnya yang telah terkuak ke publik.
“Baiklah.” ia pun merangkul Kissky yang nampak tak bertenaga.
Awas saja kau Riza! Apa tak ada yang memberitahu mu, kalau ayah ku adalah salah satu donatur terbesar sekolah ini?! Akan ku habisi kau! batin Zanjiil.
__ADS_1
Kissky dan Zanjiil pun pulang ke rumah bersama-sama.
Sesampainya mereka, jam telah menunjukkan pukul 18:00 malam.
Selama dalam perjalan sampai ke dalam rumah, Kissky hanya diam. Ia tak mampu untuk menatap wajah Zanjiil, karena identitasnya yang telah terbongkar.
“Ky, ayo makan dulu sebelum ke kamar.” Zanjiil yang lapar berniat mengisi perut terlebih dahulu sebelum istirahat.
“Kau saja, aku mau mandi dulu, baru makan.” ucap Kissky seraya terus melangkah.
“Kau pasti lapar, ayo! Kita makan dulu!” Zanjiil menarik tangan Kissky.
Pada hal aku ingin menangis di kamar, kenapa Zanjiil enggak pengertian sih! batin Kissky.
Kissky yang menahan tangis sedari tadi tak dapat membendung air matanya lagi.
Tes!
Buliran air bening menetes dari pangkal matanya.
Zanjiil yang melihat hal itu menghela nafas panjang.
“Huff!! Kissky... jangan menangis, lagi pula semua bukan salah mu,” Zanjiil memberi semangat pada istrinya yang rapuh.
“Kenapa kau tak bertanya pada ku?” Kissky merasa aneh pada suaminya yang telah mengetahui statusnya namun tak memberi respon apapun.
“Aku, yang hanya anak adopsi keluarga Huwl, bukankah kita tidak selevel? Apa kau tak marah pada ku?” Kissky yang merasa rendah diri tak pantas bersama Zanjiil lagi.
“Aku sudah tahu itu.”
“Apa?” Kissky mendongak pada suaminya.
“Ya, dan aku tak ada keluhan soal asal usul mu.” Zanjiil yang tak perduli siapa Kissky menerima apa adanya gadis yang di buang oleh orang tua kandungnya tersebut.
“Terimakasih banyak.” untuk pertama kalinya, Kissky berterimakasih dengan hati yang tulus pada Zanjiil.
Lalu Zanjiil menyeka setiap buliran air mata yang membasahi pipi Kissky dengan jemarinya.
“Sudahlah, lupakan semuanya, kita makan dulu sekarang!” Zanjiil pun merangkul rapat istrinya.
Malam harinya, saat Zanjiil sedang duduk santai di meja belajarnya, ia pun menerima pesan dari kenalan yang ia minta bantuannya, terkait nomor tak di kenal yang ia dapatkan dari handphone Mei.
Lokasi saat pengiriman pesan di sekolah Tunas Bangsa, IMEI/MEID 12345678901234, serial XX 12345XXX6, sekarang si pemilik handphone menuju perumahan Permata Indah. ✉️ Reo.
“Hum? Bukankah itu perumahan mewah? Siapa kira-kira yang tinggal disana?” lalu Zanjiil pun membalas pesan Reo.
Terimakasih banyak. ✉️ Zanjiil.
Lalu Reo pun mengirim detail terakhir posisi Riza.
__ADS_1
Zanjiil yang penasaran mengambil kunci mobil dari atas mejanya. Tak lupa ia memakai jaket kulit hitamnya, sebab malam itu cuacanya sangat dingin.
Ia yang keluar dari kamar bertemu dengan Kissky yang baru datang dari lantai satu.
“Kau mau kemana?” tanya Kissky pada Zanjiil yang terlihat rapi.
“Aku mau keluar sebentar, tidurlah duluan, aku enggak akan lama.” terang Zanjiil.
“Apa?” Kissky mengernyitkan dahinya, sebab kata-kata Zanjiil seolah mereka tidur satu ranjang selama ini.
”Sana! Jangan banyak tanya lagi, sebelum tidur jangan lupa cuci muka, kaki dan gosok gigi!” setelah itu, Zanjiil pun turun dengan menuruni anak tangga.
Kissky yang telah berada di kamarnya langsung masuk kamar mandi. Ia pun melakukan semua yang di katakan Zanjiil sesuai urutannya.
Zanjiil yang sedang mengemudi dengan kecepatan penuh meremas setir mobilnya.
Ia sungguh tak sabar untuk bertemu si biang onar yang telah menyusahkan istrinya.
Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit, akhirnya ia sampai ke tujuan.
Zanjiil menepikan mobilnya di seberang rumah Liza.
Ia pun memantau dengan cermat, menunggu si pelaku keluar dari rumah tersebut.
Cukup lama ia menunggu, hingga Riza keluar untuk membuang sampah.
Mata Zanjiil membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Jadi memang kau pelakunya bu!” hati Zanjiil benar-benar panas membara.
Ia pun keluar dari dalam mobil dan menyebrang menuju rumah Riza.
“Jadi kau pelakunya bu?” suara Zanjiil yang familiar, membuat bulu kuduk Riza merinding.
Perlahan guru killer itu balik kanan, untuk melihat Zanjiil yang berdiri di belakangnya.
“Untuk apa kau kesini? Apa kau membuntuti ku?!” netra Riza membulat sempurna.
“Tutup mulut mu, bu! Aku yakin kau punya alasan besar melakukan itu semua pada Kissky, sebagai seorang guru, kau tak pantas melakukan hal memalukan itu, dengan seenaknya kau menyebar identitasnya, apa jangan-jangan, ibu juga yang menjebaknya?” pernyataan Zanjiil yang tak meleset membuat Riza naik darah.
“Apa kau gila?! Kau kesini hanya untuk mengatakan hal omong kosong itu?” Riza yang belum tahu jika Zanjiil punya bukti kuat, masih melawan pada siswanya itu.
“Aku punya bukti kuat!” Zanjiil pun memperlihatkan pesan yang di kirim Riza pada Mei dengan nomor baru, serta pelacakan yang di lakukan oleh Reo.
...Bersambung......
__ADS_1