
“Tapi mas, aku belum isi juga, kau lihat Liza dan Lula, mereka mudah banget hamilnya.” Arsy merasa resah karena tak bisa memberi anak pada suaminya.
“Arsy, semua itu sudah di rencanakan oleh Allah, ada yang di kasih cepat ada pula yang lambat, lagi pula 5 bulan itu waktu yang sebentar sayang, sabar dong. Untuk sekarang kita nikmati saja masa kebersamaan kita, karena kalau kita sudah punya si kecil, kita akan fokus padanya.” Eric menghibur istrinya.
“Baiklah mas, aku mengerti dengan yang kau katakan.” Arsy pun paham dengan apa yang di
jelaskan suaminya.
🏵️
Berli dan Musa malam itu menginap di rumah lama mereka yaitu yang rumah besar yang di tinggi Basuki.
“Ki, kenapa kau kasih Izin Lula menikah dengan ustad itu? Kau tahu, semua ini akan jadi awal kehancuran kita, harusnya kau bisa mengatur anak mu dengan benar.” Berli sedikit tak setuju dengan pernikahan cucunya dan Fahri.
“Apa boleh buat ma, itu pilihannya, aku tak bisa memaksa kalau dia tak mau, lagi pula itu juga pilihan Pinkan,” terang Basuki.
“Kenapa jadi mereka yang memutuskan? Mana wibawa mu sebagai seorang pemimpin keluarga kalau begini?” Berli merasa geram dengan menantunya.
“Benar, kita memberi restu, karena kau juga setuju, kita pikir orangnya seperti apa, ternyata seorang ustad, yakinlah Basuki, dia akan membuat Lula berubah, takkan bisa di harapkan lagi anak itu, cih!” Musa mendengkus kesal akan keadaan yang menimpa mereka.
“Itu semua demi kebahagiaannya ma, pa.” Basuki tak banyak komentar akan perkataan ayah dan ibunya.
“Baiklah, kalau begitu kau pantau putri mu dengan baik, kira-kira suaminya buat oleng, langsung tebas!” titah Musa.
Basuki tak menjawab setiap perkataan ibu dan ayahnya, karena ia sendiri tak ingin merenggut kebahagiaan putrinya.
Pukul 23:30, Basuki berdiri tepat di pintu kamar yang di tempati oleh ayah dan ibunya.
Tangannya memegang sebilah pisau ,matanya menatap nanar seolah ia dapat melihat ke dalam kamar tanpa pintu di buka.
“Haruskah ku lakukan?” Basuki masih merasa ragu dengan apa yang akan ia kerjakan.
Saat tangannya yang kekar dan bidang akan membuka handle pintu, tiba-tiba Hera berdiri di belakangnya.
“Ehehehe... tuan mau apa bawa-bawa pisau begitu?” suara tawa khas Hera membuat Basuki merasa merinding.
Kemudian ia pun membalik badannya menghadap sang Art.
“Haruskah ku katakan pada mu, Hera?” Basuki menatap tajam pada menantunya.
“Hum?? Tidak juga sih tuan, hehehe... tapi, jangan sampai ketahuan, nanti ikut menyusul lagi, eh hehehe...” Hera tertawa jahil.
Setelah itu Hera meninggalkan Basuki dari sana.
“Semoga berjalan dengan sukses.” Hera tahu, jika majikannya ingin membunuh pemimpin besar mereka.
Namun ia tak bertindak mencegah, karena ia ingin muridnya juga bahagia.
“Apa aku harus menikah juga? Eh hehehe... tapi dengan siapa?” Hera pun mempunyai keinginan untuk melepaskan masa lajangnya yang sangat panjang.
🏵️
__ADS_1
Keesokan harinya, tepatnya di pukul 04:00 pagi, Fahri bangun dari tidurnya.
“Sayang, dik Lula ayo bangun.” Fahri mengecup kening istrinya.
“Jangan sentuh, atau ku patahkan leher mu!” Lula mengigau akan membunuh Faiq.
“Sayang, sayang ku.” Fahri menepuk-nepuk pipi istrinya, hingga akhirnya Lula membuka matanya.
“Heh?!” Lula pun mengernyitkan dahinya.
Pasalnya wajah Fahri yang tampan terpampang jelas di depan matanya.
“Sayang... apa ini sudah Subuh?” suara Lula kembali menggemaskan, mirip anak kucing baru lahir.
“Belum sayang, baru mau menjelang, ayo kita mandi, setelah itu mengaji subuh.” Fahri pun menarik lembut tangan jenjang Lula.
“Iya sayang,” jawab Lula.
Ya ampun, pada hal dingin banget lagi, tapi aku harus mengguyur badan ku tiap hari, batin Lula.
Setelah itu, Lula dan Fahri masuk ke kamar mandi untuk mandi bersama.
15 menit kemudian Fahri dan Lula keluar dari kamar mandi, selanjutnya mereka memakai baju dan segera menuju mushollah yang ada dalam rumah mereka.
Lula dan Fahri melakukan kegiatan rutin, yaitu mengaji Alquran lengkap dengan tajwidnya .
Lula tersenyum malu, saat ia melirik wajah tampan suaminya gang sedang membaca surah Albaqara.
Ia yang telah terlanjur cinta pada Fahri tak dapat hidup tanpa pria tampan itu.
Fahri yang tahu jika dirinya di pantau oleh Lula, langsung mengedipkan mata kanannya.
“Sabar ya istri ku, nanti setelah kita selesai sholat.” senyum Fahri yang begitu lembut, dapat meneduhkan hati Lula. Keduanya pun melanjutkan kajian mereka.
🏵️
Arsy yang sedang ada di dapur telah menyiapkan sarapan, sebab suaminya hari itu akan pergi ke Jakarta pagi-pagi, dirinya tak bisa ikut karena harus masuk sekolah.
“Sayang.” sapa Eric seraya mengecup pipi istrinya.
“Ayo sarapan sayang.” Arsy pun menghidangkan nasi remas di piring suaminya.
“Wah, lauk hari ini toge, tahu dan ikan tuna goreng, enak banget nih,” ucap Eric.
“Apa kau bosan mas?” tanya Arsy memastikan.
“Tidak, aku suka apapun yang kau masak.” Eric pun mulai melahap apa yang di berikan istrinya.
Ganti menu sesekali sayang, masa aku harus memakan lauk yang sama selama 2 minggu? batin Eric.
Arsy yang ingin punya anak dengan cepat terus memasak bahan pangan yang sama.
__ADS_1
Semoga Allah memberi kita anak, agar kau bahagia sayang, batin Eric.
Ia sangat kasihan melihat istrinya yang tertekan.
🏵️
Di pagi yang mendung itu, Berli, Musa dan Basuki sarapan bersama.
“Lontong sayur?” Berli mengernyitkan dahinya.
“Kaukan tahu Ki, papa dan mama tidak suka sarapan beginian, maunya langsung nasi,” ujar Musa.
“Sesekali enggak apa-apakan ma, pa.” Basuki tersenyum pada kedua orang tuanya.
“Hah, kau ini.” Berli cukup tak bersahabat makan santan pagi itu.
Namun karena tak ingin membuang makanan, ia dan suaminya pun memakan hidangan yang di beri oleh putra mereka.
Basuki menatap ke arah mangkok lontong ibu dan ayahnya.
Saat Berli dan Musa memakan 3 suap lontong sayur tersebut, mereka belum merasakan apa-apa.
Tapi tidak untuk yang kelima. Baik Pinkan atau pun Musa merasa lidah mereka kaku.
Perut mereka bergejolak, ingin muntah tapi tak bisa.
“Apa yamg kau lakukan Basuki?!” pekik Musa.
“Yang seharusnya ku lakukan sejak dulu mama, papa.” Basuki menundukkan kepalanya.
Lalu Winda pun masuk ke dalam ruang makan.
“Mobilnya sudah siap tuan.” ternyata Basuki akan mengatur kematian ayah dan ibunya sebagai kecelakaan
“Kau benar-benar anak durhaka, teganya kau meracuni kami! Basuki”teriak Berli.
“Maaf ma, andai mama tak ingin merusak kebahagiaan putri ku, pasti semua ini takkan terjadi. Cukup hanya aku yang menjadi tahanan begi kalian.”
Basuki tak menyesal sama sekali akan jalan yang ia pilih.
“Kau pasti menyesal karena telah melakukan ini pada kami!” perlahan busa putih memenuhi mulut Berli dan Musa.
Mereka yang ingin bangkit malah terjatuh ke lantai.
Rasa sakit yang sangat parah membuat mereka terus memegang perut mereka yang terasa menusuk-nusuk seluruh organ yang ada di dalamnya.
...Bersambung......
Nantikan karya baru author yang update pada tanggal 01 Agustus 2022, wajib baca!
__ADS_1