
“Beruntungnya dirimu, di eksekusi disini, kau harus berterimakasih pada nyonya, meski pun kau mati, ginjal mu akan di beri pada abang nyonya, dan potongan daging mu akan di beri pada para anjing penjaga rumah ini, bagaimana? Bukankah kau beruntung? Masih ada di sekitar rumah ini? Dan tulang mu, akan di buat patung. Hum... nyonya cukup baik juga
pada mu.” Winda memuji kebaikan majikannya.
Luna hanya bisa menangis mendengar akhir hidupnya.
Papa... mama... tolong aku, batin Luna.
“Apa kau tahu, tuan muda Zanjiil, sudah membunuh berapa banyak orang??”
Mata Luna membelalak sempurna, saat tahu kekasihnya salah satu pelaku kejinya.
“Tak terhitung, sejak kecil dia sudah di latih untuk mencabut nyawa orang, baik untuk bahan latihan, iseng, atau pun karena permintaan pelanggan, harusnya sudah benar kau tak menikah dengannya, karena tak ada jaminan kau akan di sayang olehnya, dan kalau kau ketahuan berkhianat meski kau istrinya, kau harus mendapat hukuman,” terang Winda.
Luna terus menggelengkan kepalanya, “Tolong lepaskan aku... ku mohon...” air mata ketakutan dan juga kesedihan dari Luna terlihat jelas, terlebih saat sebilah pisau telah selesai di asah.
Kemudian salah satu ajudan mengambil talenan besar dan meletakkannya di bawah kepala Luna.
“Hari ini kita menyembelih manusia, kau tahu Lun, kenapa kau di taruh di bak? itu agar meringankan pekerjaan kami, karena darah mu yang mengalir, akan langsung di buang ke sepiteng.” terang Winda.
“Hiks... jangan! Jangan bunuh aku!! Ku mohon hiks!! Akhh...!!!” Luna berteriak dan memohon sebisanya. Karena ia terus berusah bangkit, maka 2 ajudan itu pun memegang kaki dan tangannya, hingga ia tak dapat bergerak seinci pun.
Sedang Winda yang telah siap dengan pisau pemotong daging manusia kesayangannya, mulai mengarahkan mata pisaunya je leher jenjang Luna.
“Selamat jalan Luna, sampai bertemu di akhirat!”
“Akhhhh!!!” teriakan Luna pecah, saat pisau maut tersebut menyentuh lehernya.
Sreetttttt sreeetttt... sreettt...
Tak! Winda memotong tulang leher Luna dengan tekanan kuat.
Dengan ketajaman pisau yang luar biasa, akhirnya Winda berhasil menggorok leher Luna hingga putus.
Lalu Winda pun menjinjing kepala Luna dengan memegang rambut gadis yang baru menghembuskan nafas terakhirnya.
“Jelek!” umpat Winda, saat melihat mata luna yang membelalak, serta lidah yang menjulur.
Setelah itu Winda mulai memisahkan daging Luna dari tulangnya dengan telaten. 2 ajudan itu pun membantunya untuk mengantarkan daging Luna ke kandang anjing yang ada di dekat kebun sayur keluarga Rabbani.
Organ Luna pun di letakkan dalam toples khusus, karena akan segera di kirim ke Singapura, dan Malaysia.
Hanya butuh 2 jam bagi Winda yang telah professional untuk membereskan segalanya.
Selanjutnya ia mandi di dalam kamar mandi yang ada dalam ruang duka tersebut.
Setelah bersih, tak tercium bau darah di tubuhnya, ia pun kembali ke lantai 1.
__ADS_1
Flash Back Off.
“Jangan sampai bang Zanjiil tahu akan hal ini, bisa-bisa dia marah, papa pun akan naik pitam, kalau tahu kau membunuhnya di rumah ini. Lagi pula kenapa mama seceroboh ini sih?! Lula menggaruk kepalanya karena kesal.
“Dimana patungnya?” tanya Lula.
“Sedang di pajang di pameran museum kota.” terang Winda.
“Kenapa mama jadi segila itu? Masih pakai nama samaran kan?” tanya Lula kembali.
“Ya, nyonya masih menggunakan nama Rose.” jawab Winda.
“Mama.. mama...” Lula pun mengerti, perbuatan ibunya yang di luar batas di sebabkan masalah perselingkuhan.
“Semuanya sudah bereskan? Sudah tak ada jejaknya lagikan di rumah ini?” tanya Lula untuk memastikan.
“Tenang saja non, semua sudah rapi,” ucap Winda.
“Bagus kalau begitu.” setelah mendapatkan informasi yang ia perlukan, Lula meninggalkan Winda di dapur.
Ia yang kembali ke kamarnya, menghapus file rekaman kehadiran Luna hari itu.
Setelah itu, ia pun mendial Pinkan yang sedang ada di kantornya.
Mama lagi apa? 📲 Lula.
Lagi mencek data penjualan organ bulan ini. 📲 Pinkan.
Oh, kau sudah tahu ternyata. 📲 Pinkan.
Kalau sampai papa dan Zanjiil tahu, mereka bisa marah besar ke mama! 📲 Lula.
Lula. 📲 Pinkan.
Ya, mama? 📲 Lula.
Jadi kau menelepon hanya untuk mengomeli mama? Dengar ya Lula, sebelum kau bisa melakukan yang kau lakukan sekarang, mama sudah terlebih dahulu mengerjakannya, jadi jangan ajari mama, dan... kenapa kau bolos sekolah!! 📲 Pinkan.
Seketika Lula tersentak, karena merasa bersemangat, ia lupa untuk menelepon di jam yang tepat.
i-itu, karena aku kurang enak badan. 📲 Lula.
Kau pikir mama nenek tahun 70-an? Yang bisa kau tipu? Awas kau ya! Tunggu mama di rumah! Jangan coba-coba kembali ke asrama, sebelum bertemu mama! 📲 Pinkan.
Pinkan pun memutus sambungan teleponnya dengan kasar.
“Astaga... kok aku bodoh banget sih!” Lula menepuk keningnya.
__ADS_1
___________________________________________
Kissky yang ingin ke toilet mengajak Liza yang duduk di hadapannya.
“Za, ke toilet yuk!” Kissky menyentuh bahu Liza dengan telunjuknya.
Namun Liza tak mau merespon Kissky sedikit pun.
“Liza, kau masih marah pada ku? Maafkan aku ya karena enggak jujur pada mu.” Karena sahabatnya tak bergeming, Kissky bangkit dari duduknya. Ia pun pergi ke toilet seorang diri.
Zanjiil yang melihat hal itu merasa iba pada istrinya.
Manusia memang tak bisa di percaya begitu saja, karena kapanpun bisa berubah, jika ada salah sedikit saja, batin Zanjiil.
Rizal yang duduk di belakangnya menyentuh pundaknya.
“Sst!!”
“Ada apa?” Zanjiil memutar tubuhnya ke arah Rizal.
“Kissky mentalnya kuat banget ya, pada hal statusnya sudah ketahuan, semua orang pun mencibirnya, sahabatnya juga menjauhinya, tapi dia masih tetap bertahan di sekolah ini, cih!!”
Tap!
Zanjiil menangkap mulut besar Rizal dengan jemarinya.
“Jangan bicarakan dia di hadapan ku!” pekik Zanjiil. Ia pun melepaskan bibir teman setelah memberi teguran.
“Kau, suka beneran padanya ya?!” tanya Rizal.
“Kalau iya memangnya kenapa? Apa kau merasa di rugikan dengan perasaan ku padanya?” Zanjiil yang gusar tak menyaring kata-katanya lagi pada Rizal.
“Otak mu sudah rusak kayaknya, pada hal masih banyak gadis yang lebih baik,” terang Rizal.
“Tutup mulut mu Rizal, kalau masih berani membicarakan dia, ku botaki kau!” pekik Zanjiil.
“Astaga! Kau pemarah sekali!” Rizal pun menutup rapat mulutnya.
Kissky yang telah sampai ke toilet bertemu dengan trio galak.
“Halo anak adopsi! Kau mau pipis ya?” ucap Angel seraya menarik kasar rambut Kissky yang terurai.
“Apa-apaan kau!” pekik Kissky, netranya pun membelalak sempurna.
“Kau berani melawan?!” bentak Zoe.
“Memannya aku enggak boleh melawan pada kalian?” Kissky yang sudah pada puncaknya, tak perduli lagi pada pandangan keluarga suaminya. Kemudian Zoe yang kesal meremas bibir Kissky.
__ADS_1
Kissky yang tak tahan lagi, melayangkan tinju mautnya ke wajah Zoe yang tepat di hadapannya.
...Bersambung......