
Kemudian sang petugas melihat perut besar Liza.
Ia pun curiga jika itu bukan air biasa, kemudian sang petugas berjongkok dan menyentuh air itu dengan tangannya.
Selanjutnya sang petugas mencium air tersebut.
“Ini air ketuban bu, cepat panggil dokter!” ucap sang petugas.
“Ba-baik!” Arsy pun dengan cepat berlari mencari bantuan.
Gibran yang memantau perkembangan Leon yang masih di tangani oleh dokter melihat Arsy yang berjalan dengan buru-buru.
“Mau kemana Sy?!” tanya Gibran.
“Liza pecah ketuban, sepertinya mau melahirkan.” ucap Fi dengan panik.
“Apa?! Aku saja yang pergi, kau jaga dia!”
“Baik.” kemudian Arsy kembali ke ruangan Liza.
Sedang Gibran mencari dokter. “Pada hal usia kandungannya baru 38 minggu, tapi sudah mau melahirkan.” Gibran takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.
Mengingat Liza sedang tidak baik-baik saja karena Leon.
10 menit kemudian, Gibran datang dengan membawa dokter.
Liza yang tak kunjung sadarkan diri membuat sang dokter mengambil tindakan.
Setalah melakukan serangkaian tes seperti, darah, urine, dan juga tensi, akhirnya sang dokter mengambil memutuskan.
“Kami butuh persetujuan bapak, untuk melakukan operasi sesar pada bu Liza.” ucap sang dokter.
“Apa?” hati Gibran tersentak mendengar apa yang di katakan oleh dokter.
“Sebab tensi bu Liza mencapai 198, dan bu Liza juga belum sadarkan diri, di takutkan ini akan membahayakan dede bayinya, karena air ketuban bu Liza bisa habis kalau kita menunggunya sadar, dan bayinya juga bisa meminum air ketuban bu Liza kakau tidak segera di operasi.” berkat penjelasan sang dokter. Gibran pun setuju.
“Lakukan yang terbaik dok.” kemudian Gibran di suruh menandatangani serangkaian dokumen.
Setelah itu, Liza yang masih pingsan di bawa menuju ruang operasi.
Keluarga Rabbani tak ada yang tahu kalau Liza akan melahirkan, karena mereka sibuk menjaga Leon yang baru selamat dari maut.
“Alhamdulillah, setelah di lakukan pensterilan, nak Leon bisa selamat, saya rasa sebelumnya si pasien sempat minum air, karena di dalam perutnya terdeteksi banyak air. Dan kalau kita di gigit ular pertolongan pertama yang tepat adalah minum air.” terang dokter wanita pada keluarga Rabbani.
“Syukurlah.” Basuki merasa lega, karena cucunya masih di beri kesempatan hidup oleh yang maha kuasa.
“Apa kami boleh melihatnya dok?” pinta Pinkan.
“Tentu saja, silahkan pak bu. Dan saya permisi dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi kami,” ucap sang dokter.
__ADS_1
“Baik, terimaksih dok.” ucap, Eric, Yudi dan juga Pinkan.
Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan, dan melihat Leon yang terbaring lemah di atas ranjang.
“Leon...” Basuki mencium pipi cucunya dengan perlahan.
“Kakek, dimana ular ku?” saat semua orang khawatir memikirkannya, Leon malah menanyakan keberadaan king kobra yang hampir menghabisi nyawanya.
“Sudah di bunuh,” ucap Basuki
“Kok di bunuh kek? Nanti kalau tante tahu gimana?” wajah Leon nampak khawatir.
“Hei Leon, enggak usah pikirkan ular itu lagi, kau tak tahu apa? Ular itu hampir membunuh mu? Kalau saja kau tak minum air, mungkin kau sudah lewat.” Pinkan kesal dengan Leon yang tak ada kapoknya.
Benar-benar muridnya Lula! batin Pinkan.
Kemudian Eric duduk di sebelah ranjang keponakannya.
“Leon, kau tak boleh bermain dengan ular lagi, karena itu berbahaya, kau tahu, karena ular itu mama mu jadi pingsan, memangnya kau tak sedih kalau mama mu sakit?” perkataan Eric membuat Leon merasa bersalah.
“Mama pingsan?” tanya Leon.
“Iya, dan sekarang lagi di rawat, pikirkan lagi kalau kau mau bermain-main dengan hewan berbahaya, karena kalau kau celaka, yang repot itu bukan hanya ibu mu, tapi orang lain juga!” kata-kata pedas Pinkan membuat Leon diam.
“Jangan bilang begitu Pinkan, kasihan Leon, dia baru pulih,” ujar Basuki.
“Memang benarkan? Pada hal kau punya 2 adik yang tinggal di rumah, kalau ibu mu kenapa-napa, Memangnya kau bisa di andalkan untuk mengerjakan semua pekerjaan ibu mu?” Pinkan kesal pada Leon yang tak memikirkan orang lain.
“Maafkan Leon Nek, Leon salah.” Leon menyesal atas semua perbuatannya.
“Untung kau yang di gigit, coba kalau Aji dan Eza. Bisa mati kali!” pekik Pinkan.
“Mama, jangan bicara kasar lagi, kasihan Leon.” Eric tak suka dengan ibunya yang judes.
“Biar saja, tujuannya kan biar dia sadar!” ucap Pinkan.
“Pokoknya, jangan pegang ular lagi, jangan main dengan ular! Mengerti Leon?” Basuki kembali mencium cucunya.
“Iya kek, aku janji, enggak melakukannya lagi.” Leon yang patuh menurut dengan apa yang di katakan 3 orang dewasa itu.
Kemudian Lula datang dari pintu masuk. Hatinya pun lega, saat melihat Leon dengan keadaan baik .
Ia yang tak pernah menangis tiba-tiba merasa perih di matanya.
Lula pun mendekat ke ranjang Leon. “Hei, apa kau baik-baik saja?” Lula mencolek pipi Leon.
“Aku sehat kok tante, jangan khawatir tan, karena aku adalah anak kuat!” Leon tersenyum ceria.
“Ya Tuhan, Lula banget ini anak, pasti besok di ulang lagi.” Pinkan tahu betul dengan watak putrinya.
__ADS_1
Kemudina Lula memeluk Leon dengan penuh kasih sayang.
“Lain kali jangan ambil ular tante tanpa izin ya.” ucap Lula.
“Siap tante.” Leon membalas pelukan Lula.
Pinkan yang ingin marah di hentikan oleh Eric. “Ma, sudah ma.” Eric menggelengkan kepalanya.
1 jam kemudian, 2 perawat wanita keluar dari dalam ruang operasi membawa bayi kembar Gibran dan Liza.
“Bayinya bapak Gibran!” ucap salah satu perawat.
“Iya, saya!” Gibran pun mendekat. Dan melihat wajah bayinya yang ternyata dua-duanya adalah perempuan.
Seketika Gibran menangis haru, sebab wajah putri kembarnya mirip dengannya.
Kemudian, dua perawat wanita itu membawa bayi-bayi cantiknya ke ruang bayi.
Arsy yang ikut mendampingi Gibran ikut menitikkan air mata. Rasanya ia ingin sekali memiliki anak juga.
Andai dulu aku tak pergi, mungkin kami juga sudah punya anak-anak yang lucu, sama seperti Liza dan Gibran, batin Arsy.
Pinkan yang baru dari toilet melihat Arsy dan Gibran yang sedang berjalan.
“Kalian mau kemana?” tanya Pinkan.
“Ke ruang bayi ma, Liza baru saja melahirkan,” ucap Fi.
“Hah? Mana?” Pinkan pun melihat ke arah perawat yang tadi lewat di hadapannya.
“Itu anak Liza?” Pinkan yang tadinya ingin kembali ke ruangan Leon malah putar arah ke ruang bayi.
Sesampainya di ruang bayi, baik Pinkan dan juga Arsy tak di izinkan masuk.
“Hanya ayahnya saja ya bu.” ucap sang perawat.
“Baik suster.” kemudian Arsy dan Pinkan menunggu di kursi tunggu yang ada di depan ruang bayi.
“Apa jenis kelaminnya?” tanya Pinkan dengan antusias.
“Perempuan ma, cantik banget.” Arsy sangat bahagia dengan kelahiran anak Liza.
“Oh, Liza sehatkan?”
“Itu aku kurang tahu ma, karena langsung mengikuti Gibran tadi.” kemudian Arsy bangkit dari duduknya.
“Mau ke ruang operasi lagi ya?” Pinkan pun berdiri.
“Iya ma.” keduanya pun kembali untuk menemani Liza.
__ADS_1
...Bersambung......