
Zanjiil melihat wajah istrinya yang cemberut.
“Ya ampun, begitu saja sudah marah.” Zanjiil memeluk istrinya dari belakang.
“Awas dulu, nanti keramiknya peot.” Kissky tak suka pada suaminya yang selalu asal bicara.
“Maaf ya sayang, kalau aku sudah menyakiti hati mu...” lalu Zanjiil menyatukan tangannya ke tangan Kissky yang sedang sibuk membentuk keramik yang ada di atas meja putar.
“Berikan sentuhan lembut sayang, kalau kau memberi banyak tekanan, maka gucinya akan jelek,” terang Zanjiil.
“Oh ya?”
“Tentu,” ucap Zanjiil.
Berkat bantuan suaminya, tugas sekolah Kissky pun selesai dengan hasil yang indah.
“Wah! Kau benar!” Kissky tersenyum pada Zanjiil, ia lupa seketika akan marahnya pada suaminya.
“Tunggu kering dulu, nanti baru kita cat,” ucap Zanjiil.
“Oke.” Kissky bangkit dari duduknya, lalu membuka celemek berbahan plastik yang ia pakai.
Saat mereka berdua mencuci tangan di wastafel, Kissky bertanya pada suaminya.
“Oh ya Jiil, Joe kan saudara tiri mu, itu artinya, anak Liza keponakan mu juga dong?”
“Tepat sekali, kau tahu Ky, Joe ternyata anak kandung pertama papa dengan Esra.” Zanjiil menceritakan kebenarannya pada sang istri.
“Apa? Kok bisa begitu?” Kissky terkejut akan pernyataan suaminya.
“Ternyata dulu Esra mengandung anaknya papa, tapi papa tak bisa menikahi dia, hum... aku juga kasihan Ky dengan anak yang di kandung Liza, tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi,” Zanjiil menggelengkan kepalanya.
“Andaikan kau punya adik, sudah kita jodohkan dengan Liza.” ucapan Kissky membuat Zanjiil tertawa geli.
“Lula saja masih 12 tahun, bagaimana kalau aku benar punya adik laki-laki, iya kali Liza nikah sama bocah 10 tahun, hahaha...”
“Hum... kau selalu kebiasaan ya, bercanda saat situasi sedang serius.” Kissky yang sudah selesai membersihkan tangannya keluar dari ruang seni yang mereka buat sebagai tempat praktek mereka kalau mengerjakan tugas sekolah.
“Ky, bagaimana kalau kita punya anak juga?” Zanjiil kembali menjahili istrinya.
“Yang benar saja kau! Aku tak mau mengulang satu tahun hanya karena anak ya, lebih baik tamat sekolah dulu.” Kissky yang masih ingin melanjutkan pendidikannya, tak mau mengandung anak Zanjiil dalam waktu dekat.
“Kalau kawin bagaimana?” Zanjiil mengecup pipi Kissky.
Sontak Kissky memalingkan pandangannya dari Zanjiil, sebab pertanyaan dari suaminya begitu memalukan untuknya.
__ADS_1
“Enggak mau!” mulut Kissky menolak, namun sanubarinya berkata setuju.
“Ayolah, 1 minggu lagikan liburan semester, kita pergi honeymoon, kita sudah lama menikah loh, tapi kita belum pernah menjalankan kewajiban kita masing-masing,” bisik Zanjiil ke telinga istrinya.
“Tapi kalau aku hamil gimana?” ucap Kissky sebagai alasan, agar tak terlihat murahan.
“Ambil cuti sekolah, jangan persulit segala hal, kalau bisa di permudah,” ujar Zanjiil.
“Baiklah kalau kau memaksa.” Kissky akhirnya setuju dengan ide suaminya.
🏵️
Liza yang ada di rumahnya kembali bicara dengan ayahnya.
“Ingat Liza, setelah selesai ujian, kita gugurkan kandungan mu, papa tak mau jika anak itu lahir!” Rio benar-benar tak sudi memiliki cucu saat itu, terlebih anaknya mengandung tanpa seorang ayah.
“Baik pa.” Liza yang tak bisa membantah menuruti kemauan ayahnya.
Setelah berbicara pada ayahnya di ruang tamu, Liza kembali ke kamarnya.
Retek,!
Setelah mengunci pintu, Liza mulai menangis lagi.
“Maafkan mama nak, mama tak punya kekuatan untuk melawan perintah kakek mu, hiks... maafkan aku juga Joe, aku tak bisa menjaga anak kita.” Liza yang patah hati membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
🏵️
Gibran yang ada di rumahnya menemui ibunya di dapur. “Ma, aku mau bicara.” ucap Gibran.
“Ada apa nak?” lalu Jenny duduk di atas kursi.
“Ma, maafkan aku sebelumnya, karena tak tahu terimakasih pada mama dan papa.” Gibran memutuskan untuk menikahi Liza.
“Loh, kenapa tiba-tiba kau ngomong begitu nak? Kau itu tak pernah mengecewakan mama dan papa, kau kebanggaan kami.” Jenny mengusap puncak kepala Gibran.
“Mama, aku mau menikah.” pengakuan Gibran yang mendadak membuat Jenny terkejut.
“Loh, kok tiba-tiba nak, ada apa?” Jenny penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Liza mengandung ma untuk itu aku harus menikahinya.”
“Apa?” Jenny yang kenal Gibran dengan baik, tak menyangka, jika putra angkatnya menghamili anak orang.
“Aku mohon do'a restunya ma, karena aku akan menikahinya.” keputusan Gibran membuat Jenny sedih.
__ADS_1
“Apa kau yakin nak? Kau masih muda loh! Masa depan mu masih panjang.” Jenny mencoba mempengaruhi pikiran anaknya, agar tak jadi menikah.
“Mau bagaimana lagi ma, anak itu butuh ayah, dan orang tua Liza akan menggugurkannya kalau sampai aku tak menikahi Liza. Kasihan anak tak berdosa itu ma, dia tak tahu apapun dengan apa yang di perbuat orang tuanya.” Gibran yang mantap ingin menikahi Liza berharap orang tua angkatnya akan mengizinkan.
“Bagaimana dengan sekolah mu kalau begitu nak?” Jenny khawatir masa depan anaknya akan hancur.
“Aku tetap sekolah, aku dan Liza hanya menikah sirih, dia yang akan cuti sekolah selama hamil ma,” terang Gibran.
“Astaga... Gibran... Gibran, kenapa kau bisa melalukan itu nak...” Jenny merasa kecewa dengan anak sambung yang ia harapkan menjadi penerus perusahaan keluarganya.
“Aku tahu, aku salah ma, maafkan aku.” Gibran tak jujur jika itu bukan anak kandungnya, sebab kalau ia mengatakan yang sebenarnya pasti ibunya takkan memberi restu.
“Baiklah nak, mama akan membicarakan ini pada papa mu,” ujar Jenny.
Meski ia marah, tapi Jenny yang sayang Gibran, layaknya anak kandungnya sendiri, memutuskan untuk memaafkan kesalahan anaknya.
“Gibran, semoga kau tak menyesali keputusan mu.” Jenny bangkit dari duduknya, lalu memeluk putranya.
“Temani aku untuk melamarnya ma, ku mohon ” pinta Gibran.
“Baiklah, tapi mama bilang ke papa dulu ya,” Setelah itu Jenny beranjak dari dapur.
Anak zaman sekarang memang tak bisa di percaya, ya Allah Gibran, batin Jenny.
🏵️
Keesokan harinya, saat di kelas, Gibran membuat, Kissky, Liza dan Zanjiil tersentak hebat.
“Apa?!” ucap ketiganya.
“Iya, ayo kita menikah Za, aku akan jadi ayah untuk anak mu,” terang Gibran.
“Apa yang kau pikirkan Bran, inikan bukan anak mu.” Liza merasa tak enak jika di nikahi oleh Gibran. Ia juga tak mau menjadika teman baiknya itu ikut menanggung kesalahan yang ia perbuat.
“Tidak apa-apa, ini keputusan ku, kau juga ingin anak mu tetap hidupkan?” ucap Gibran.
“Tapi papa ku bilang, setelah libur semester, anak ku harus di gugurkan, aku takut kalau melawan perintah papa,” Liza menceriakan apa yang telah di katakan ayahnya.
“Aku yang akan bicara langsung dengan om, aku dan kedua orang tua ku akan datang menemui keluarga mu, besok Lusa. Untuk itu, jaga anak mu baik-baik ya.” Gibran berharap pernikahan itu terjadi, karena ia sangat ingin bertemu ibu dan adiknya.
Gila si Gibran, apa yang dia pikirkan sebenarnya? Bukankah kemarin dia menolak untuk menikahi Liza? batin Zanjiil.
“Kau yakin Bran akan menikahi Liza? Karena ini menyangkut masa depan mu loh?!” tanya Kissky.
“Iya, aku yakin.” sahut Gibran dengan hati yang mantap.
__ADS_1
...Bersambung......