Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 14 (Gibran)


__ADS_3

“Karena aku hanya ingin bicara pada mu, sebentar saja, aku janji.” karena Gibran bersikeras, akhirnya Kissky pun bersedia.


“Baiklah. Za, tunggu sebentar disini,” ucap Kissky.


“Oke, jangan lama-lama, aku lapar.” Liza memegang perutnya yang keroncongan.


“Siap!” sahut Kissky.


Gibran yang melangkah terlebih dahulu, di ikuti oleh Kissky.


Hingga keduanya sampai di depan kelas kosong yang sepi akan siswa. Kemudian Gibran mengalihkan pandangannya ke arah laut lepas.


“Kau mau bicara apa?” tanya Kissky penuh selidik.


“Apa benar nama mu Kissky?” tanya Gibran memastikan.


“Iya, itu namanya ku,” jawab Kissky.


“Maaf sebelumnya, kalau aku menyinggung perasaan mu.” Gibran sempat meragu, untuk menanyakan yang mengganjal di hatinya atau tidak.


“Katakan saja, selagi itu sopan, aku enggak masalah.”


“Baiklah, kalau aku salah, aku mohon maaf terlebih dahulu.”


“Oke,” sahut Kissky.


“Apa kau Kissky, yang pernah tinggal di panti asuhan Kasih Bunda, 10 tahun yang lalu?” pertanyaan Gibran membuat gadis cantik itu tersentak. Pasalnya tak ada yang tahu siapa dirinya dengan identitasnya sekarang.


“Dari mana kau tahu? Apa kau mengenal ku?” tanya Kissky yang makin penasaran siapa Gibran sebenernya.


“Berarti dugaan ku benar, apa kau sudah lupa pada ku?” Lalu Gibran menunjukkan gelang tangan yang di berikan Kissky padanya 10 tahun silam.


“Rio... apa kau Rio teman masa kecil ku?” ucapnya dengan mata memerah.


“Iya, ini aku!” mereka berdua pun saling berpelukan melepas rindu, setelah sekian lama berpisah.


“Kau kemana saja?” tanya Kissky.


“Kau yang kemana saja, 3 tahun aku menunggu, tapi kau tak kunjung datang.” ucap Gibran seraya melepas pelukannya.


“Maafkan aku, karena orang tua angkat ku pindah ke Jakarta, aku tak sempat menemui mu lagi, tapi... bagaimana bisa kau sampai kemari?” Kissky begitu penasaran akan perjalanan hidup Gibran.


“Setelah 3 tahun tinggal di panti, ada keluarga kaya raya yang tak memiliki keturunan, datang mengadopsi ku, lalu mereka membawa ku ke Jakarta juga, dan membuat identitas baru untuk ku, termasuk mengganti nama ku jadi Gibran, aku sangat beruntung, karena mereka sangat baik, menganggap ku seperti anak kandung, menyekolahkan ku ke sekolah elit, kau tahu, aku dari SMP menuntut ilmu disini,” terang Gibran.


“Wah! Berarti kaya banget dong!” Kissky sangat senang dengan kebahagiaan yang sahabatnya dapatkan.


“Iya, lain kali kau akan ku bawa ke rumah orang tua ku.” ujar Gibran.


“Baiklah, aku mau!” seru Kissky.

__ADS_1


“Ky, aku perlu memberitahu mu satu hal.”


“Apa itu?”


“Jangan sampai ada yang tahu soal masa lalu kita, kalau tidak, kita akan jadi bahan rundungan disini, sekolah ini tampilan dan visi misinya saja yang bagus, tapi di dalamnya banyak orang-orang bermuka dua.” Rio menjelaskan situasi sekolah pada sahabat kecilnya.


“Baiklah, aku mengerti, terimakasih atas informasinya,” ucap Kissky.


“Apa kau masih menyimpan cincin yang ku beri?”


“Tentu!” lalu Kissky pun mengeluarkan kalung yang ia sembunyikan dalam baju seragamnya.


“Ini dia!” ternyata gadis cantik itu membuat cincin pemberian Gibran sebagai aksesoris kalung mas putihnya.


Sontak Gibran tersenyum tipis, saat mengetahui, barang ia beri di rawat baik oleh Kissky.


“Ada apa?” tanya Kissky, karena senyuman Gibran begitu aneh menurutnya.


“Aku sangat bahagia,” ungkap Gibran.


“Aku juga, sudah lama aku mencari mu,” terang Kissky.


“Dimana kau mencari ku?” tanya Gibran penasaran.


“Di media sosial, ku pikir yang namanya Rio kau saja, ternyata ada ratusan ribu orang, sialnya aku enggak tahu, nama panjang mu, dan andaikan ketemu juga, aku enggak kenal wajah mu hehehe...” Kissky tertawa cengengesan.


Rio yang gemas melihat senyuman Kissky yang begitu imut, mengelus puncak kepala gadis cantik itu.


“Benarkah?” ujar Kissky dengan malu-malu.


“Iya, apa lagi saat kau tertawa, waktu kecil hanya air mata mu yang ku lihat setiap harinya, aku senang, melihat kau yang sekarang," ujar Gibran.


“Aku juga begitu pada mu, oh ya... apa aku boleh minta kontak mu?” Kissky yang ingin terus terhubung dengan Gibran meminta nomor teleponnya.


“Boleh.” lalu Gibran memberikan nomornya pada Kissky.


Tanpa terasa mereka menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol panjang lebar di tempat tersebut.


Tet... tet... tet...


“Ayo, bel sudah berbunyi,” ujar Gibran.


“Oke!” keduanya pun kembali ke dalam kelas.


Liza yang berada di kursinya melihat Kissky dan Gibran masuk kelas dengan saling melempar senyum satu sama lain.


“Gila, apa mereka sudah jadian?” gumam Liza.


Zanjiil yang baru kembali dari kantin bersama Luna pun melihat istrinya yang tertawa lepas dengan Gibran.

__ADS_1


Cepat banget prosesnya, batin Zanjiil.


Ia pun duduk kembali ke kursinya, begitu pula dengan Kissky.


Lalu Zanjiil yang penasaran pun bertanya langsung pada Kissky melalui pesan elektronik.


Apa kau dan orang itu pacaran? ✉️ Zanjiil.


Kissky yang telah membaca pesan suaminya malah mengabaikan pesan tersebut.


Sepulang sekolah, Kissky yang ingin buang air kecil pun pergi ke toilet bersama dengan Liza.


“Supir mu belum datangkan?” ucap Kissky yang takut merepotkan.


“Tejang saja! Enggak masalah kok.” setibanya mereka di depan pintu toilet, tiba-tiba mereka mendengar suara para gadis yang sedang bertengkar.


“Hei! Sudah ku bilang! Jangan ikuti aku! Kenapa kau berani bersekolah disini juga?! Apa kau sengaja menguntit ku?” ucap seorang gadis.


Kissky dan Liza menjadi ragu, antara masuk atau tidak.


Brak!!


Mereka yang ingin pergi, mendengar suara benda jatuh dengan begitu keras.


“Apa itu?” tanya Liza penasaran.


“Aku enggak tahu, kitakan sama-sama disini,” jawab Kissky.


Karena keduanya merasa penasaran, mereka pun memberanikan diri untuk mengintip.


Saat mereka ingin mengendap-endap masuk, tiba-tiba 3 wanita dengan wajah sadis keluar dari dalam toilet, mereka yang berpapasan langsung tersentak dan syok.


“Astaga!” Liza memegang jantungnya yang berdetak kencang. Sedangkan Kissky bersikap biasa saja.


Lalu salah seorang wanita yang terlihat seperti kepala geng pun berkata pada Kissky dan Liza.


“Kalau sampai kabar ini sampai ke telinga orang lain, kalian berdua, akan jadi target kami selanjutnya.” wanita itu mengancam dua sahabat karib tersebut.


Setelah itu, ketiga gadis itu pun beranjak pergi, Kissky dan Liza sama-sama menelan salivanya.


“Kok kita jadi terlibat Ky?” Liza melirik ke Kissky yang ada di sebelahnya.


“Enggak tahu, pada hal kita enggak berbuat apa-apa.” Kissky yang masih ingin buang air pun buru-buru masuk ke dalam toilet.


Mereka yang baru masuk pun melihat, seorang gadis yang memiliki parah kurang cantik, duduk di atas lantai dengan baju basah akan air bekas pelan.


Kissky dan Liza saling bertukar pandang, mereka yang ingin menolong gadis tersebut menjadi bimbang, karena takut kena getah dari trio sadis yang baru saja memberi peringatan pada mereka.


Kissky dan Liza dengan terpaksa menutup nurani mereka, dan menganggap gadis malang itu tak ada disana.

__ADS_1


Dengan perlahan, Kissky melewati gadis itu, lalu masuk ke dalam bilik toilet. Liza yang menunggu di luar tak tahu harus menaruh pandangan kemana, sebab gadis itu hanya menundukkan kepalanya.


...Bersambung......


__ADS_2