Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 166 (Memilih)


__ADS_3

Setelah tangis Arsy mereda, Liza yang pun menasehati sahabatnya.


“Arsy, lain kali kalau ada masalah, jangan main kabur-kaburan lagi, enggak baik loh, beruntungnya Eric masih setia pada mu, tak pernah mencari ganti mu, yang namanya dunia rumah tangga, pasti banyak halangan dan rintangan.” Liza mengusap paha Arsy yang duduk di pangkuan Eric.


“Benar, rumah tangga itu menyatukan 2 insan yang watak dan sifatnya berbeda, nah! Untuk itu, saling melengkapi lah kalian satu sama lain, kalau ada yang salah, atau ada yang mengganjal di hati, bicarakan baik-baik, jangan malah melenggang pergi, kalau kalian tak bisa bersikap dewasa, hubungan pernikahan kalian akan hancur.” Gibran memberi nasehat pada kedua sahabatnya.


“Benar, baik kau atau pun Eric harus berubah, karena kalau sifat kalian tetap kurang dewasa, mau menikah dengan siapapun, pasti tidak akan langgeng, Arsy.” Liza berharap sahabatnya mengerti dengan apa yang ia katakan.


“Ya Liza, terimakasih banyak masukannya.” Arsy merasa bersyukur punya sahabat seperti Liza.


“Berubah ya, nurut sana suami.” Liza tersenyum pada Arsy.


“Kau juga Ric, kalau ngomong jangan kasar-kasar, karena sifat istri, tergantung suami, jaga Arsy Ric, bagaimana pun, jangan pisah lagi.” Gibran yang menyayangi keduanya, tak ingin bila Arsy dan Eric menderita akan kesalahan yang akan mereka buat ke depannya.


“Baik.” ucap Eric dan Arsy.


🏵️


Lula yang baru kembali ke rumah duduk di sofa dengan tatapan fokus ke lantai.


Leon yang baru selesai bermain dengan Basuki melihat kehadiran Lula yang tak bersemangat.


Leon yang dekat dengan Lula, langsung berlari ke arah tantenya.


“Tante Lula! Tante sudah pulang?” Leon yang manja langsung duduk di pangkuan Lula.


“Leon.”


“Iya tante cantik?” sahut Leon.


“Apa tante sudah terlihat tua?” ternyata Lula kepikiran dengan yang di katakan ibunya.


“Tidak, tante cantik, dan sangat cantik!” Leon mencium pipi Lula.


Basuki yang kini duduk di hadapan Lula menatap bingung ke putrinya.


“Ada apa Lula?” tanya Basuki penuh selidik.


“Mama pa, katanya aku sudah perawan tua, pada hal aku baru 22 tahun.” wajah Lula nampak sedih di mata Basuki.


“Ya kalau 22 sudah tua sih tante.” mendengar penuturan Leon, Lula jadi marah.


“Menyingkir dariku!” pekik Lula.


“Hei, jangan bicara begitu pada Leon, dia mana mungkin mengerti apa maksud yang kau katakan.” Basuki selalu membela cucunya.


“Pa, aku seumuran dia sudah bisa cari uang, naik motor, mobil dan juga karate!”


“Jangan samakan kau dan Leon dong, itu sudah beda zaman,” ujar Basuki.

__ADS_1


“Bukan beda zaman, tapi karena Liza yang melahirkannya! Jadi rada bodoh!” Lula yang emosi melampiaskannya pada Leon.


“Tante kenapa sih?! Jangan galak tan, nanti enggak laku lagi!” setelah meledek Lula, Leon mengecup pipi tantenya.


Lula yang ingin marah lebih lanjut jadi mengurungkan niatnya.


“Kau kenapa sih?” Basuki bertanya kembali.


“Mama menyuruh ku untuk menikahi dosen ku pa, pada hal aku enggak mau loh!” Lula mengatakan kekesalannya pada ayahnya.


“Pilih yang papa tawarkan saja pada mu.” ucap Basuki, karena ia juga tak setuju, Lula menikah dengan orang yang tak sevisi misi dengan keluarganya.


“Aku enggak suka dua-duanya papa! Awas Leon.” Lula yang makin pusing karena Basuki memilih masuk ke dalam kamarnya.


Baik Leon dan Basuki melihat Lula yang wajahnya bagai benang kusut.


Sesampainya di kamar, Lula memikirkan dua calon yang di rekomendasikan ibunya.


“Yang satu ustad, yang satunya dosen, aduh! Gila deh!” Lula yang harus mengatakan keputusannya malam nanti memikirkan dengan matang-matang, pada siapa ia harus memberikan hatinya.


“Melawan juga percuma.” meski Lula sangat mencintai kekasihnya, namun keluarga adalah nomor satu di hatinya.


Ia yang benci Faiq dengan cepat memilih Fahri, ustad muda dan juga tampan.


Ia pun mendial sang ibu, karena ia takut jika terlalu lama mengatakan keputusannya, Faiq malah datang ke rumah ibunya.


Halo mama. 📲 Lula.


Iya ma, aku... memilih Fahri. 📲 Lula.


Bagus, besok datang lagi ke rumah, karena Fahri dan keluarganya akan datang bersilaturrahmi. 📲 Pinkan.


Secepat itu? 📲 Lula.


Kalau bisa cepat, buat apa lama? Lagi pula ibunya itu kenalan mama, dan mama punya nomor handphone, Sudah! Mama tutup dulu, karena mama mau bilang pada Fahri. 📲 Pinkan.


Oke ma. 📲 Lula.


“Huffff!” Lula menghela nafas panjang, ia merasa sedih karena di suruh menikah buru-buru.


“Tapi kalau di pikir-pikir, abang lebih muda dariku sih saat menikah.” Lula yang lelah memutuskan untuk tidur.


🏵️


Malam harinya, Liza dan Gibran memutuskan untuk pulang, karena mereka kasihan dengan anak-anak mereka yang di tinggal di rumah orang tua mereka.


“Menginap saja Za, ini sudah malam loh, apa lagi kau sedang hamil besar.” Arsy yang masih rindu tak ingin sahabatnya pulang dengan cepat.


“Lain kali saja Sy, sekalian kami bawa anak-anak kesini.” komedian Liza memeluk Fi.

__ADS_1


“Ya Tuhan, kenapa kau sombong banget sih, menginap semalam saja enggak mau.” Fi menghela napas panjang.


“Mengertilah Sy, repotnya punya anak banyak, nanti kau juga pasti merasakannya.” setelah itu Liza melepas pelukannya.


“Kami pulang Eric, Arsy.” kemudian Liza dan Gibran menjabat tangan Arsy dan Eric.


Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, dan meluncur menuju Jakarta.


“Ayo masuk.” Eric merangkul bahu Arsy untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka yang telah berada dalam kamar duduk di atas ranjang.


“Arsy, sayang ku, aku minta maaf ya, kalau sudah menyakiti hati mu selama ini.” Eric menjabat tangan istrinya seraya memberi kecupan hangat di bagian kening.


“Aku juga, maafkan aku, karena banyak berbuat salah.” Arsy memeluk Eric.


“Arsy, mulai sekarang aku takkan memanggil nama mu lagi,” ucap Eric.


“Maksudnya apa?” tanya Arsy.


“Mulai detik ini, kau akan ku panggil dengan sebutan, sayang.” Eric mengecup pipi Arsy berulang kali.


“Baiklah, aku juga akan panggil kau sayang.” setelah itu, Arsy membalas ciuman Arsy.


“Oh ya, bagaimana menurut mu, kalau kita menikah ulang? Aku ingin kita adakan resepsi, pernikahan yang dulu hanya sirih, karena kita masih di bawah umur.” rencana Eric membuat Arsy bahagia.


“Aku setuju, terimaksih sudah berpikir sampai kesana sayang.” Arsy membenamkan wajahnya di dada Eric.


“Semoga, setelah itu, kita dapat momongan dari Allah.”


“Aamiin sayang.” Arsy yang ingin menyenangkan hati suaminya mengajak bercinta terlebih dahulu.


“Kita olah raga yuk sayang?!” Arsy menyentuh terong panjang milik suaminya.


“Ayo! Aku mau!” Eric yang pantang menolak, memberi serangan cinta pada Arsy.


🏵️


Keesokan harinya, Lula yang telah berada di rumah ibunya mendapat hadiah.


“Apa ini?” tanya Lula pada Pinkan.


“Itu namanya baju gamis, dan juga jilbab sorong jumbo,” terang Pinkan.


Kemudian Lula membuka jilbab yang panjangnya mencapai lututnya.


“Ma, aku enggak cocok pakai yang beginian, masa pendosa seperti ku harus memakai perlengakapan alim ini?” Lula merasa tak pantas dengan statusnya.


“Hei, pakaian dan sifat itu dua hal yang berbeda, memangnya orang yang pakai jilbab harus sudah alim? Dan harus agamis? Cepat pakai, setidaknya kau nabung pahala walau beberapa jam,” terang Pinkan.

__ADS_1


“Mama sendiri gimana ma?” tanya Lula, sebab, sepanjang hidupnya, ia tak pernah melihat ibunya menutup aurat apa lagi sholat.


...Bersambung......


__ADS_2