
“Jadi, ini yang namanya hasil tangan keberuntungan?” rasanya Liza ingin memakan Luna hidup-hidup.
“Bukannya ular juga bagus?!” Luna yang sebenarnya tak suka, gengsi untuk mengakui kesalahannya.
“Astaga!!” Liza amat geram, pasalnya ia begitu trauma akan ular, meski melihat gambarnya saja.
Sedang Gibran dan Rizal mendapat tugas untuk melukis laut biru.
Pada saat giliran Kissky dan Zanjiil, keduanya saling melihat satu sama lain.
“Kau saja yang ambil,” titah Zanjiil.
“Kau saja, kenapa harus aku!” ucap Kissky.
“Baiklah, kalau dapat yang aneh-aneh, jangan salahkan aku.” ketika Zanjiil akan memasukkan tangannya ke dalam toples, tiba-tiba Kissky berubah pikiran.
“Ehm, biar aku saja! Aku takut kalau sampai tangan mu salah ambil! Minggir, jangan menutupi jalan!” Kissky pun menepis tangan Zanjiil dari mulut toples.
“Tabahkan aku dari perempuan sambleng ini Tuhan...” gumam Zanjiil.
Kissky yang mendengar perkataan suaminya pun melempar senyuman jahat.
“Biasa saja biawak! Jangan berlebihan begitu.” setelah mendapat kertas yang Kissky rasa akan membawa keberuntungan. Mereka berdua pun sama-sama membaca tulisan yang ada dalam kertas tersebut.
“Lukis dirimu, dengan memakai baju pengantin.” Kissky dan Zanjiil mengernyitkan dahi mereka.
Lalu, sang lelaki tampan itu, menatap lekat wajah wanita yang selalu berlagak pintar di hadapannya.
“Ini yang kau sebut beruntung?” ucapnya dengan wajah datar.
“Iya, bukannya ini bagus?! Hahaha!” Kissky tersenyum kaku, sebab ia sendiri malu dengan tugas yang akan mereka kerjakan.
“Ganti-ganti!” pekik Zanjiil.
“Hei, kalian!” suara tegas Riza membuat kedua siswanya diam. “Kalian punya 1 kesempatan untuk mengambil kertas, kalau sudah, segera kerjakan, jangan banyak debat!” berkat teguran Riza, keduanya pun berdamai, kemudian mereka beranjak ke standing kanvas yang telah di sediakan.
__ADS_1
“Gimana cara mengerjakannya?” tanya Kissky.
“Ya tinggal di kerjakan, ku gambar wajah ku, kau gambar wajah mu,” ujar Zanjiil.
“Oh ya?” Kissky mengernyitkan dahinya.
“Tentu saja, atau kau mau melukis aku? Dan aku yang melukis mu?” Zanjiil memberikan penawaran pada Kissky.
“Enggak deh, nanti kau malah buat hidung ku jadi pesek lagi!” ucap Kissky seraya menyunggingkan bibirnya.
“Suuzon terus!”
“Jangan banyak omong lagi, ayo kita kerjakan!” pekik Kissky, untuk menyudahi perdebatan mereka.
Saat semua sibuk melukis, Riza kembali ke kelas untuk memberi nilai pada setiap hasil buah tangan siswa-siswinya.
“Wah... lumayan juga hasilnya, pada hal mereka baru perdana mengerjakannya. Mungkin memang ada bakat sebelumnya, makanya mereka mengambil jurusan seni.” ketika Riza memeriksa milik Kissky, netranya membelalak sempurna.
“Dia???” Riza sangat mengenal gadis kecil yang di lukis oleh Kissky.
“Ku pikir namanya saja yang mirip, ternyata memang dia Kissky, waw... tak di sangka, kita bertiga bertemu di tempat yang sama.” ternyata Riza adalah Rena, senior Kissky dan Gibran di panti asuhan dulu.
Ia pun di sekolahkan di tempat terbaik, hingga lulus kuliah dan menjadi guru di sekolah Tunas Bangsa.
“Astaga, Kissky... rupanya orang tua angkat mu kaya raya juga, pasti hidup mu bahagia selama ini, bagaimana ya jadinya, kalau aku bongkar siapa kau sebenarnya??” ternyata dendam masa lalu belum usai di hati Riza.
Riza yang gemar mengusik Kissky dari kecil, kini berencana untuk menghancurkan kehidupan tenang gadis itu.
“Sebagai salam perkenalan dariku, akan ku beri kau nilai pas-pasan! Hehehe...” Riza pun menyiratkan angka 7 pada lukisan Kissky, yang hasilnya bisa di katakan bagus untuk seorang pemula.
Sementara Kissky yang berada di ruang praktik merasa keberatan dengan Zanjiil yang duduknya terlalu dekat dengannya.
“Geser!” Kissky menendang kaki bangku yang Zanjiil duduki.
“Aku mau geser kemana lagi? Kau lihat sendirikan, kanvasnya cuma satu, dan harus di kerjakan bersama, ya wajar kalau aku dekat dengan mu!” terang Zanjiil.
__ADS_1
“Kau bilang kerjakan sediri wajah masing-masing, jadi biar aku yang duluan, walau hanya bagian kepala atau rambut!” ucap Kissky dengan nada mengotot.
“Bawel banget sih kau! Kalau begitu, aku saja yang duluan!” Zanjiil sama sekali tak mau mengalah pada istrinya.
“Ya sudah, silahkan kau yang duluan!” Kissky bangkit dari kursinya, lalu keluar dari ruang praktik untuk membeli minum ke vending mesin.
Sesampainya ia di depan vending mesin, Kissky mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangannya.
“Huuh!!! Panas!” ternyata, Kissky tak ingin mengerjakan bersama dengan Zanjiil karena merasa grogi, sebab wajah Zanjiil membuatnya panas dingin.
“Kenapa harus begini sih? Pada hal tadi malam kita baru bertengkar, tapi dengan mudah aku merasa dag dig dug enggak jelas padanya, apa lagi wajahnya tadi... astaga!” Kissky yang baru pertama kali melihat visual Zanjiil dari dekat, tak dapat menahan debaran di dalam hatinya.
“Sejak kapan aku menyukainya?” meski ia berusaha membohongi perasaannya, namun kenyataannya, ia telah jatuh hati pada suaminya .
Kissky yang haus pun menghentikan semua pikirannya tentang Zanjiil.
Dengan cepat, ia memasukkan koin ke dalam lubang mesin.
Treng!!!
1 kaleng minuman dingin pelepas dahaga pun meluncur ke lubang pengambilan minuman, lalu Kissky dengan sigap mengambilnya dengan cara membungkuk.
Saat ia berdiri kembali, “Astaga!” ia di kejutkan oleh Joe yang tiba-tiba berada di sampingnya.
“Kenapa kau berteriak?" tanya Joe tanpa rasa bersalah.
“Kenapa kau tiba-tiba ada di sebelah ku?!” tanya Kissky kembali.
“Akukan dari tadi disini, kau saja yang tak melihat, malah kau sibuk mengoceh sendiri, siapa orang beruntung yang berhasil mendapatkan hatimu?” ucap Joe penuh selidik.
“Apa-apaan sih kau! Sana belajar! Perasaan setiap kali kita bertemu, kau selalu ada di luar kelas, dan juga di tempat yang tak terduga!” ucap Kissky.
“Aku baru selesai merakit mini motor!” terang Joe.
“Bohong!” Kissky langsung membantahnya.
__ADS_1
Lalu, saat keduanya masih mengobrol, tiba-tiba Zanjiil telah berada di antara mereka berdua.
...Bersambung......