
Dengan berat hati, Basuki menyuntikkan racun ke leher Esra.
Setelah Basuki melakukannya, ia pun terduduk lemas di sebelah istri mudanya.
“Maafkan aku, sayang.” Basuki mengusap puncak kepala Esra yang wajahnya mulai memucat.
Tak lama, mata Esra tiba-tiba membelalak, “Sakit!!” ia yang sedang meregang nyawa melihat ke arah orang yang ia percaya menjadi cinta sejatinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Esra dengan suara yang parau.
Lalu Basuki menoleh ke Esra yang terbaring di sebelahnya.
“Maaf, kali inipun aku tak bisa memilih mu, tapi aku berjanji, akan menjamin masa depan Joe.
Mendengar pengakuan orang yang ia cintai, Esra pun menitihkan air matanya.
“Hiks... teganya kau pada ku, ku pikir kau dan aku sama tulusnya dalam menjalin hubungan ini.” Esra yang masih ingin bicara harus terhalang, karena lehernya serasa tercekik, kemudian busa berwarna putih pun keluar dari mulutnya.
Melihat Esra yang akan menemui ajalnya, Basuki terisak, tak dapat menahan sedihnya.
“Aku mencintai mu, tapi aku lebih memilih keluarga ku.” Basuki begitu terluka, namun karena ia tak mau di buang oleh keluarganya, terpaksa ia melakukan itu semua.
Di penghujung hayatnya Esra memegang tangan Basuki.
“Aku mencintai mu, apa adanya.” hingga akhirnya Esra menghembuskan nafas terakhirnya.
Baru kali itu, Basuki menghabisi nyawa orang terdekatnya. Seketika ia merasakan, bagaimana perasaan keluarga korban yang ia bunuh.
Kemudian Basuki menggendong tubuh Esra yang tak bernyawa ke mobilnya, sebab sesuai titah orang tuanya. ia wajib membawa mayat Esra ke hadapan mereka.
“Maafkan aku sayang, tapi aku takkan meninggalkan mu setelah ini, aku akan selalu mendo'akan mu setiap hari.” Basuki yang telah berada dalam mobil, melajukan mobilnya menuju kediamannya.
🏵️
Joe yang sedang berada di kosan Liza begitu ceria, sebab sang kekasih memasak mie goreng untuk mereka berdua.
“Sudah matang! Kemarilah sayang!!” Seru Liza seraya meletakkan mie yang telah tersaji di atas meja.
Joe yang sedang tiduran di ranjang pun bangkit, kemudian menuju dapur minimalis Liza.
“Wah! Sepertinya enak!” air liur Joe seakan mau menetes saat melihat hasil masakan kekasihnya.
“Semoga rasanya sesuai selera mu.” ucap Liza dengan mimik wajah malu-malu.
“Aku tak menyangka kau pintar memasak,” Joe memuji kepandaian Liza.
“Masa sih? Aku bahkan baru mulai memasak sekarang,” ujar Liza.
“Benarkah? Xixixixi...” Joe tertawa geli.
“Sudahlah, enggak ada yang lucu juga, cepat habiskan makanan mu sayang,” ucap Liza.
__ADS_1
“Siap sayang ku!” sebelum makan, Joe mengecup pipi Liza terlebih dahulu.
Setelah itu, ia pun duduk di kursi yang ada di hadapan Liza.
“Um... baunya enak sekali.” saat mie goreng buatan kekasihnya masuk ke mulutnya. Tiba-tiba Joe merasa ingin meledak.
Astaga, sudah pedas, asin lagi, batin Joe.
Joe pun melihat wajah Liza, yang nampak biasa saja saat menelan makanannya.
“Kenapa kau berhenti makan?” tanya Liza penasaran.
“Tidak. Ku pikir kau makannya sedikit” ungkap Joe, sebab selama ini ia melihat Liza selalu makan sedikit.
Liza yang lupa akan dramanya seketika tersentak.
“Aku makan banyak karena kau ada disini, rasanya selera makan ku mencuat saat melihat wajah mu, apa itu salah?” Liza memarahi kekasihnya.
“Tidak, apa aku bilang sesuatu yang menyakiti telinga mu?” tanya Joe, sebab respon Liza begitu berlebihan.
“Enggak juga sih. Ya sudahlah sayang, habiskan mie mu!” pekik Liza.
“Baiklah.” Joe pun melanjutkan makannya, meski ia tersiksa di lidah, tenggorokan dan juga lambungnya. Namun semua ia tahan demi menjaga perasaan sang kekasih.
“Nanti kalau kita menikah, aku akan memasak makanan yang enak-enak untuk mu.” Liza mulai berkhayal jadi istri sholeha untuk Joe di masa depan.
“Tak perlu, karena kita akan pakai jasa Art,” terang Joe.
Karena kalau aku makan begini tiap hari bisa membunuh ku dengan cepat, batin Joe.
“Karena aku tak mau kau repot, aku ingin kerja mu hanya berhias, kalau aku pulang kerja, tubuh mu harus wangi.”
Permintaan dari Joe membuat Liza tersenyum malu.
“Sayang, aku beruntung sekali bertemu kau,” ucap Liza seraya menepuk punggung suaminya.
“Aku juga,” sahut Joe.
Setidaknya, aku tahu tujuan ku hidup untuk apa, batin Joe.
Joe yang sedang berbahagia bersama kekasihnya, tak tahu jika sang ibu, keluarga satu-satunya telah berpulang ke Rahmatullah.
🏵️
Kissky yang melihat Zanjiil termenung di pinggir balkon merasa resah.
“Jill!!” Kissky memeluk suami dari belakang.
“Kau disini?” Zanjiil memutar tubuhnya menghadap Kissky, kemudian membalas pelukan istrinya.
“Jangan sedih terus dong Jiil...” Kissky mengelus punggung suaminya yang sedang berduka.
__ADS_1
“Tidak, aku enggak sedih kok Ky.” Zanjiil tahu, jika istrinya memikirkannya.
“Semua pasti ada jalan keluarnya, ini semua sudah takdir Allah bersabarlah, semoga mama dan papa bisa berbaikan kembali,” Kissky menyemangati suaminya.
“Iya sayang, terimakasih banyak.” Zanjiil mengecup kening istrinya.
“Apa kita jadi pindah hari minggu Jill?” tanya Kissky.
“Tentu saja.”
🏵️
Pinkan yang ingin kembali ke rumahnya, berpamitan terlebih dahulu pada mertuanya yang berada di ruang tamu.
“Ma, pa... aku ingin pulang, aku akan mengantar kalian ke bandara kalau sudah mau pulang nanti,” ucap Pinkan.
“Jangan kemana-mana sebelum Basuki datang, lagi pula kalian masih suami istri untuk apa kau pisah rumah segala!” Berli memarahi menantunya yang sama bebalnya dengan anaknya.
“Tapi ma, ini bukan rumah ku lagi,” terang Pinkan.
“Iya, ini memang bukan rumah mu, dan juga bukan rumah Basuki, kalian semua hanya menumpang disini. Tapi walaupun begitu, kau bersediakan tetap tinggal, sampai Basuki mengatakan keputusannya apa?” ujar Berli.
”Mama mu benar Pinkan, jangan kemana-mana, jangan buat kami makin pusing dengan apa yang kalian lakukan!” karena sang ayah ikut bicara, Pinkan pun makin sulit untuk mengatakan keinginannya.
“Baiklah pa.” ucap Pinkan. Untuk sementara ia memutuskan tetap tinggal di rumah, karena kedua mertuanya.
“Duduklah diaini.” Berli mengajak Pinkan untuk bergabung dengan mereka.
“Iya ma.” saat Pinkan ingin duduk. Basuki datang dengan kondisi mata memerah.
“Pilihan yang tepat.” Musa langsung dapat menebak apa yang di lakukan putranya.
“Iya.” sahut Basuki dengan perasaan lemas.
Kemudian ayah 2 anak itu duduk di sebelah Pinkan. “Semua sudah selesai, tak ada lagi yang harus di permasalahkan,” ungkap Basuki.
“Kau membunuhnya?” tanya Pinkan.
“Iya, karena pada akhirnya, aku harus kembali pada mu.”
Bukannya senang, Pinkan justru tak suka mendengar penuturan Basuki. Sebab ia merasa dirinya begitu menyedihkan.
Pasalnya suaminya bertahan dengannya bukan karena cinta, melainkan harta dan tahta.
Apa ini sudah benar? Untuk apa masih bersama, kalau dia dan aku tak sama-sama bahagia, selama ini aku pikir yang ku lakukan benar, tapi sekarang, dia membunuh Esra dengan hati terluka, apa aku dan dia bisa hidup normal? Tidak... aku tak mau seperti ini, batin Pinkan.
“Kau lihatkan Pinkan. Dugaan mama benar, dia pasti memilih mu,” ucap Berli dengan tersenyum puas.
Bukan, dia memilih harga, batin Pinkan.
“Ingat Basuki, jangan pernah bermain-main dengan wanita manapun lagi, karena itu takkan pernah berhasil selagi kau mencintai apa yang kau miliki sekarang,” terang Berli.
__ADS_1
“Betul, jangan menambah nestapa di hatimu lagi, Basuki!” Musa memperingati anaknya.
...Bersambung......