
Aku enggak mau kalah dari Zanjiil, batin Gibran.
Zanjiil yang telah duduk di bangkunya melihat ke arah depan, yaitu bangku milik Luna.
“Semoga hari ini dia datang, akan ku katakan padanya, kalau aku tak bisa bersamanya lagi.” Zanjiil pun mengambil handphonenya.
Kemudian ia membuka aplikasi si hijau, dan mencari kontak Luna.
“Aktif 2 hari yang lalu? Masa sih? Apa dia mengganti nomornya?” Zanjiil yang penasaran mendial kontak sang kekasih.
Berulang kali ia mencoba memanggil nomor Luna, namun tak kunjung tersambung.
“Ada apa dengannya?” Zanjiil yang memiliki nomor telepon keduaman Luna, mencoba menelepon kesana.
Ia yang ingin berbicara tenang pun bangkit dari duduknya untuk mencari tempat yang sepi, tanpa adanya orang lain.
Kissky yang duduk manis di bangkunya melihat Zanjiil melintas dari sebelahnya.
“Huffftt!!” Kissky menghela nafas panjang, karena keberadaan Zanjiil membuat lehernya tercekik.
Gibran yang melihat keanehan pada Kissky pun bertanya.
“Kau kenapa sih sebenarnya? Kau enggak seperti biasanya?”
“Iya, aku juga penasaran padanya, masa hanya karena baca novel dia menangis?” ujar Liza.
“Apa? Kau menangis?” Gibran yang ingin membuka kaca mata sahabatnya, di cegah oleh Kissky.
“Jangan, aku malu, kalau kalian tak percaya, coba baca saja novelnya, kalau tak menangis, berarti kalian tak punya nurani,” ucap Kissky.
“Baiklah, aku dan Liza akan membacanya,” ujar Gibran.
________________________________________
Zanjiil yang telah berada di depan gudang penyimpanan sapu, duduk di sebuah bangku yang tak di pakai.
kemudian ia pun mulai menelepon ke rumah Luna.
__ADS_1
📲 “Halo, dengan kediaman Luna Zubeir, saya sedang bicara dengan siapa?” Art.
📲 “Halo, saya Zanjiil,” Zanjiil.
📲 “Oh... tuan Zanjiil, kebetulan sekali,” Art.
📲 “Kebetulan gimana bi?” Zanjiil.
📲 “Tuan dan nyonya mencari nomor kontak tuan, tapi tak menemukannya,” Art.
📲 “Ada apa bu? Kenapa mencari ku?” Zanjiil.
📲 “Nona Luna belum pulang sejak hari Minggu kemarin, tuan besar dan nyonya besar sudah sibuk mencari kesana kemari, tapi belum ketemu, nomornya juga tidak aktif tuan,” Art.
📲 “Benarkah? Apa sudah lapor polisi?” Zanjiil.
📲 “Sudah tuan, tapi belum ada kabar terkait penyelidikan yang telah di lakukan, apa tuan bisa datang ke rumah? Karena tuan besar ingin bicara dengan tuan.” Art.
📲 “Baiklah, pulang sekolah, aku akan kesana,” Zanjiil.
📲 “Baik, terimakasih banyak tuan,” Art.
Zanjiil menjadi kepikiran pada Luna, terlebih Luna hilang setelah mereka berdua bertengkar hebat.
“Kau kemana Lun?” Zanjiil cemas pada Luna yang tak tahu rimbanya. Kemudian ia pun bangkit dari duduknya untuk kembali ke kelas.
Sesampainya ia ke kelas, ia menatap bangku Luna. Setelah itu ia beranjak ke bangkunya.
Aku harus ikut mencarinya, batin Zanjiil.
Pukul 16:00 sore, bel pulang sekolah pun berbunyi.
Tet... tet... tet...
Zanjiil yang buru-buru lewat di sebelah Kissky yang akan menyandang tasnya.
“Liza, aku duluan ya!” Kissky meninggalkan sahabatnya untuk mengejar Zanjiil, ia berpikir kali itu mereka akan pulang bersama.
__ADS_1
“Ya Tuhan, pada hal aku mau minta bantuannya untuk membantu ku mengepak barang. Setelah itu berangkat bersama ke museum, tapi enggak apa-apa deh, itu artinya, aku bisa berduaan dengan Gibran ku sayang,” gumam Liza.
Kissky begitu kesulitan menyusul Zanjiil, sebab kaki jenjang Zanjiil melangkah begitu cepat, hingga Kissky harus setengah berlari mengejarnya.
Bukankah kami akan pulang bersama? Tapi kenapa dia tak menunggu ku?” ia yang ingin memanggil nama suaminya malah sungkan untuk melakukannya, sebab mereka tidak dalam keadaan berdamai.
Zanjiil yang tahu kalau Kissky menyusul di belakangnya malah berlagak tak perduli.
Kau benar-benar berubah ya Huwl! batin Zanjiil.
Sesampainya di depan mobil suaminya, nafas Kissky terengah-engah.
“Kau mengikuti ku?” tanya Zanjiil dengan pura-pura tak tahu.
“Iya, bukankah kita akan pulang bersama?” ucap Kissky dengan suara terputus-putus.
“Siapa bilang? Kau pulang saja sendiri, bukannya kau bawa sepeda hari ini?” ujar Zanjiil.
“Ya, ku bawa, kalau begitu aku akan pulang sendiri.” rasa malu dan kesal bercampur jadi satu di dada Kissky.
Saat Kissky akan beranjak, Zanjiil menggenggam lengannya.
“Hei, nyonya muda!”
“Ya?” Kissky menoleh ke arah Zanjiil kembali.
“Langsung pulang ke rumah, jangan kemana-mana, tunggu aku di kamar mu.” sebelum masuk ke dalam mobil, Zanjiil mengusap lembut pipi Kissky.
“Iya.” Kissky mengangguk patuh akan perintah suaminya.
Kemudian Zanjiil masuk ke dalam mobil meninggalkan Kissky di parkiran. Orang-orang yang melihat hal tersebut berpendapat kalau Kissky yang mencoba merayu Zanjiil mendapat penolakan.
“Kasihan banget, di tolak Zanjiil mentah-mentah, lagian sok cantik sih, pacar orang mau di serobot!” ucap salah seorang siswi.
“Enggak tahu tuh, pada hal aku masih lebih cantik dari pada dia, tapi dia berani banget mau merebut pacar orang lain, terlalu!”
Kissky jelas mendengar suara-suara jahat yang mencibirnya. Namun ia tak menggubrisnya.
__ADS_1
Ia pun menaiki sepedanya untuk pulang ke rumah.
...Bersambung......