
“Berhenti pak!” titah Zanjiil.
Lalu Dimas meminggirkan mobil yang sedang ia kemudi tepat di dekat halte bis.
“Biar aku saja yang pergi, bapak pulang saja duluan.” Zanjiil yang tak ingin ada yang mengetahui masalahnya, memilih untuk berangkat sendiri menuju rumah Luna.
“Baik tuan.” Dimas pun keluar dari dalam mobil, selanjutnya Zanjiil pindah ke kursi kemudi, tanpa menunggu lama ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
Setelah 20 menit dalam perjalanan, Zanjiil Tiba di rumah Luna.
Tin tin! Ia pun membunyikan klakson mobil, lalu sang satpam membuka gerbang untuk Zanjiil.
Setelah terbuka penuh, Zanjiil mengemudikan mobilnya hingga ke pintu utama rumah Luna.
Ciiit!
Zanjiil keluar dari dalam mobil kemudian menuju pintu.
Ting tong! ia menekan bel pintu rumah kekasihnya.
Krieet...!!!
Lalu sang art membuka pintu untuk Zanjiil, “Selamat sore tuan,” sapa Yati. sang Art berkepala tiga.
“Sore juga bi, apa om dan tante ada di rumah?” tanya Zanjiil.
“Ada tuan, silahkan masuk!” Yati mempersilahkan Zanjiil untuk masuk ke dalam rumah.
Zanjiil mengikuti Yati menuju ruang tamu, “Silahkan duduk tuan, saya akan panggil tuan besar dulu,” ucap Yati.
“Baik bi.” Zanjiil pun duduk di atas sofa, ia yang merasa bersalah tak hentinya mengkhawatirkan Luna.
Setelah menunggu beberapa saat, Reyhan ayahanda Luna yang di temani istrinya Ruza tiba di ruang tamu.
Melihat kehadiran kedua orang tua Luna, Zanjiil bangkit dari duduknya.
“Selamat sore om, tante, apa kabar?” Zanjiil menjabat kedua tangan orang tua Luna yang wajahnya nampak tak tenang.
__ADS_1
“Ayo, silahkan duduk nak Zanjiil.”
“Terimakasih banyak om.” ketiganya pun duduk saling berhadapan.
“Maaf, om meminta mu datang kemari, pada hal mungkin saat ini kau ada kegiatan lain,” ucap Reyhan berbasa-basi.
“Enggak apa-apa om, santai saja,” sahut Zanjiil.
“Rita sudah menceritakan pada mu kan, tentang Luna yang belum pulang selama 2 hari?”
“Betul om, dan saya juga baru tahu itu, dia juga enggak datang ke sekolah, awalnya ku pikir dia bolos biasa, tapi setelah 2 hari absen tanpa kabar ke sekolah, aku jadi khawatir, makanya aku telepon kesini tadi om,” terang Zanjiil.
“Hiks... apa kau tahu nak kira-kira dimana Luna berada? Tante sangat khawatir padanya, terlebih kabar dari kepolisian juga belum ada, hiks... Luna...” Ruza menangisi putrinya yang menghilang tanpa kabar.
“Sabar ma, sabar... Luna pasti ketemu.” Reyhan memeluk istrinya yang menangis sesungukan.
“Papa, anak kita hanya satu, mama enggak sanggup kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, hiks...”
Zanjiil tak dapat melihat Ruza yang begitu rapuh di hadapannya.
“Nak Zanjiil, kapan terakhir kali kau bertemu dengan Luna?” tanya Reyhan, ia sangat berharap mendapat informasi dari Zanjiil walau sekecil apapun.
“Jadi kau bertemu di hari terkahir Luna hilang?” Reyhan tak menyangka jika Zanjiil bertemunya Luna hari iyu.
“Iya om, itu juga hanya sebentar di depan mini market pinggir kota, lalu Luna pergi begitu saja,” terang Zanjiil.
“Apa Luna mengatakan kemana dia akan pergi?” tanya Ruza dengan penasaran penuh.
“Enggak tante, waktu itu kita kebetulan bertemu, karena aku ada keperluan lain, makanya kita berpisah tanpa sempat mengobrol banyak,” terang Zanjiil.
“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Ruza kembali berduka, harapannya untuk mendapatkan petunjuk pupus sudah.
“Maaf om, tante, andai ku tahu ujungnya akan begini, pasti hari itu ku bawa Luna bersama ku.” Zanjiil menundukkan kepala, karena tak mampu melihat wajah Ruza dan Reyhan.
“Tak apa nak, kita sama-sama berdo'a saja semoga Luna segera di temukan,” ujar Reyhan.
“Baik om, saya juga akan membantu pencarian Luna om, dan kalau saya mendapatkan informasi apapun, saya akan segera mengabari om dan tante.”
__ADS_1
“Terimakasih banyak nak.” ucap Reyhan dan Ruza.
Karena hari sudah menjelang malam, Zanjiil pun pamit pulang kepada orang tua Luna.
“Om tante, saya pulang dulu, maaf kalau saya tak banyak membantu.” Zanjiil berdiri seraya menjabat tangan Ruza dan Reyhan.
“Baik nak, terimakasih banyak.” ucap Reyhan.
Kemudian Zanjiil pun beranjak menuju mobilnya.
Bremmm...
Setelah Zanjiil hilang dari pandangan mereka, Reyhan pun menatap serius pada istrinya.
“Ada apa pa?” tanya Ruza.
“Kita harus mengatakan informasi ini pada penyidik,” ujar Reyhan.
“Tentang pertemuan Zanjiil dan Luna?”
“Iya ma, papa yakin, Zanjiil terlibat atas hilangnya putri kita,” terang Reyhan.
“Mana mungkin pa, kalau pun itu benar, dia pasti tak mau mengakui, kalau dia bertemu dengan Luna hari itu, ini papa lihat sendiri, Zanjiil mengakuinya, kalau dia bertemu Luna hari itu.” Ruza tak percaya dengan yang suaminya katakan.
“Jadi kau percaya begitu saja padanya ma? Dia adalah satu-satunya saksi yang melihat putri kita terakhir kalinya, siapa yang tahu isi hati seseorang, papa bukan menuduhnya, hanya saja kesaksian yang ia katakan bisa menjadi petunjuk baru, untuk mengetahui, dimana putri kita berada,” terang Reyhan.
“Baiklah, mama percaya pada papa.”
____________________________________
Zanjiil yang baru saja sampai ke rumah, bertemu dengan adiknya yang sedang menelepon si sofa yang berada di teras pintu utama.
Apa sebelumnya Lula dan Luna bertemu? batinnya.
Ia pun mendatangi adiknya yang sedang cekikikan berbicara dengan seseorang di balik layar ponselnya.
“Lula!” ia memanggil adiknya.
__ADS_1
“Apa?” sahut Lula sejenak, lalu melanjut obrolannya.
...Bersambung......