Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Ban 135 (Pindah Rumah)


__ADS_3

Keesokan harinya, di minggu pagi yang cerah, kakek dan nenek Zanjiil kembali ke kampung dengan membawa 2 patung indah miliknya.


“Nenek beli patung dari mana?” tanya Kissky, sebab ia tak melihat patung itu sebelumnya.


“Rahasia, hehehe...” Berli tertawa girang.


Sedang anak dan cucunya berwajah lesu, sebab itu adalah masa lalu mereka masing-masing.


“Kami pulang dulu, ingat untuk tidak berbuat di luar jalur anak-anak.” Berli menasehati para keturunannya.


“Baik nek.” ucap seluruh keluarga Rabbani dengan serempak.


”Lula ini untuk mu.” Berli memberi cucu kesayangannya sebuah kotak indah berisi senjata api keluaran terbaru.


”Ini apa nek?” tanya Lula penasaran.


“Barang bagus, gunakan dengan benar.” Berli mengelus puncak kepala cucunya.


“Siap nek.” Lula yamg belum tahu apa isinya merasa girang.


Setelah Berli dan Musa pergi, mereka semua kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


“Ma, aku dan Kissky akan pindah rumah hari ini.” ucapan Zanjiil yang di dengar oleh Basuki.


“Apa maksud mu? Mau pindah kemana?” Basuki tak menyangka jika putranya akan pergi dari rumah.


”Perumahan tak jauh dari sini pa, aku sudah izin pada mama kemarin,” ucap Zanjiil.


“Tidak bisa, tak ada yang boleh keluar dari rumah ini.” Basuki melarang anak dan istrinya untuk minggat dari rumah.


“Aku juga akan pulang ke rumah ku, maaf saja ya, aku disini karena ada mama dan papa saja.” Pinkan yang tak ingin berdamai dengan suaminya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah barunya.


Lula yang melihat perpecahan keluarganya merasa iba pada sang ayah.


“Bang, rumah ini saja banyak kamar yang kosong, kenapa harus beli rumah lagi sih?” Lula marah pada abangnya yang tak memikirkan perasaan sang ayah.


“Kami ingin hidup mandiri.” Zanjiil yang muak pada keluarganya tak ingin tinggal bersama lagi.


“Tapi jangan sekarang juga dong bang, aku juga kan di asrama, siapa yang akan menemani papa?” Lula tetap berharap Zanjiil dan Kissky tinggal di rumah.


Kissky yang menyaksikan perdebatan antara abang adik itu hanya diam, dia takut jika ia angkat bicara malah menimbulkan masalah baru.


“Itu bukan urusan ku.” Zanjiil yang merasa ibunya lebih patut mendampingi ayahnya.


“Ya ampun bang, kau keras kepala sekali.” Lula tak dapat merubah keputusan abangnya yang tak menetap di rumah mereka lagi.


Basuki yang merasa sendiri, memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya, hatinya yang belum sembuh karena di tinggal istri keduanya, kini malah di tinggal anak dan istri pertamanya.


Aku hancur, batin Basuki.

__ADS_1


Pinkan yang tak mau tahu dengan masalah suaminya lagi, dengan segera meninggalkan rumah.


“Kau bisa datang ke rumah mama kalau rindu.” ucap Pinkan pada Lula.


Seketika Lula merasa bersalah, ia kira setelah neneknya datang keluarganya akan utuh kembali.


Karena aku, Esra jadi mati, batinnya.


Meski ia marah pada istri kedua ayahnya, namun melihat usahanya yang sia-sia ia jadi menyesal.


Ternyata tak semua hal bisa di selesaikan dengan bicara atau bertindak, andai aku diam, mungkin papa tak sesedih itu, batin Lula


Lula yang tak sanggup bertatap muka dengan sang ayah memutuskan untuk kembali ke asrama.


”Sudah pasti papa tahu, aku yang mengadu pada nenek.” Lula pun mengendarai motornya dengan hati yang gelisah.


Sementara Zanjiil dan Kissky yang telah selesai berkelas turun ke lantai satu.


Mereka yang melihat Basuki berdiri dengan tatapan kosong di pintu merasa tak enak untuk berpamitan.


Namun, meskpun begitu, mereka harus tetap melakukannya.


“Pa, kami pergi dulu.” Zanjiil menjabat tangan ayahnya. Begitu pula dengan Kissky.


“Papa jaga kesehatan ya.” meski berat bagi Kissky meninggalkan mertuanya seorang diri, namun ia harus mengikuti suaminya.


Deg!


Hati Zanjiil merasa tersentak, seketika pikiran buruk mengenai sang ayah yang tak menyayanginya selama ini hilang.


“Zanjiil, hiduplah yang benar, jangan seperti papa.” nasehat Basuki di dengar baik oleh Zanjiil.


Kissky merasa kasihan pada mertuanya yang terlihat begitu menderita.


Setelah berpamitan, Zanjiil dan Kissky berangakat menuju rumah baru mereka dengan di antar oleh Dimas.


Selama perjalanan Zanjiil teringat akan pelukan sang ayah.


”Pak Dimas, kau akan tinggal bersama kamikan?” Zanjiil ingin tangan kanannya ikut bersamanya.


“Bukannya kita hanya tinggal berdua?” Kissky merasa tak enak bila Dimas akan ikut memakan masakannya yang tak lezat.


“Apa ada masalah?” ucap Zanjiil.


”Aku tanya baik-baik loh Jiil?! Kamu jangan sinis gitulah pada ku! Enggak ada romantisnya banget!” Kissky yang tersinggung bersedekap seraya mengalihkan wajahnya dari Zanjiil.


“Begitu saja merajuk.” gumam Zanjiil. “Oh ya pak, tolong berhenti di depan.” Zanjiil yang melihat tokoh bunga ingin mampir sejenak.


“Baik tuan muda.”

__ADS_1


Cit!


Dimas merem mobil yang ia bawa, kemudian Zanjiil keluar dari dalam mobil. Kissky yang tak mau tahu apa yang di lakukan suaminya tetap menghadapkan wajahnya ke arah kaca pintu mobil yang ada di sebelahnya.


Tak lama Zanjiil kembali dengan membawa bunga mawar merah sebanyak 49 tangkai.


“Ini untuk mu.” Zanjiil mengarahkan bunga yagg ia bawa ke leher Kissky.


Kissky yang mencium bau wangi dari mawar tersebut menoleh ke arah suaminya.


“Hah!” Seketika netranya membelalak, sebab bunga yang begitu indah ada di depan matanya.


“Ini untuk ku?” seketika marah di hatinya langsung hilang, layaknya wanita pada umumnya, di sogok sedikit hatinya akan goyah.


“Iya, atau ini untuk pak Dimas saja?”


“Jangan!” Kissky memeluk bunga mawar pemberian suaminya. Gadis cantik itu pun menghirup lekat sari-sari bunga yang melambangkan cinta tersebut.


“Kau suka?” tanya Zanjiil dengan perasaan senang.


“Iya, bunganya bagus.” Kissky tersenyum manis.


Mudah sekali mengambil hatinya, batin Zanjiil.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat, mereka pun sampai di rumah baru mereka.


Keduanya pun menurunkan koper mereka masing-masing.


“Saya bantu masukkan ke dalam nyonya.” ucap Dimas, sebab ia kasihan pada nyonya yang kurus kerempeng mendorong sebuah koper yang lebih besar dari tubuh majikannya.


“Terimakasih banyak pak.” Kissky merasa terbantu dengan kebaikan Dimas.


Dasar suami tak berguna, harusnya koper inikan tugasnya, batin Kissky.


Namun Zanjiil yang kurang peka malah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah mereka.


Kissky yang menyusul suaminya terkejut, sebab perabotan dalam rumah itu sudah tersedia dengan lengkap.


“Sejak kapan kau beli semua ini?” Kissky merasa senang akan tindak sigap suaminya.


“Ya kemarin, aku suruh tukang dekorasi rumah buat menatanya, makanya kita tinggal bawa baju saja.” meski Zanjiil bukan suami yang romantis, namun dirinya tak ingin memberatkan istrinya dalam hal yang menguras tenaga.


“Kau pengertian banget.” Kissky memeluk suaminya yang semakin tampan di matanya.


“Memang harus begitukan? Oh ya pak Dimas, kamar bapak ada di ujung lorong ya.” ujar Zanjiil. Sengaja ia tempatkan jauh supirnya agar tak mengganggu aktivitas mesranya dan sang istri.


“Siap tuan.” sahut Dimas.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2