
Pada pukul 05:00 pagi, Kissky terbangun dari tidurnya.
“Kok tubuh ku sakit semua ya??” ia yang ingin bangkit dari tidurnya melihat kalau bantal yang tak ia pakai pindah dari tempatnya.
“Apa semalam aku tidurnya lasak? Meski merasa aneh, namun Kissky tak terlalu memikirkannya .
Ia pun segera menuju kamar mandi, karena ia harus berangkat ke sekolah pagi itu.
10 menit kemudian, Kissky yang telah selesai mandi duduk di hadapan meja riasnya.
“Ya ampun, mata ku sembab dan bengkak banget, gimana aku akan ke sekolah...??” ia yang bingung mencari solusi di google.
“Oh, irisan mentimun atau kantung teh celup bisa, ah! Yang ini saja ku beli.” Kissky berniat berangkat lebih pagi ke sekolah, sebab ia ingin mampir ke super market untuk membeli roller mata pengurang sembab dan bengkak.
Kemudian ia segera memoles wajahnya dengan make up agar terlihat fresh, setelah di rasa cukup, ia keluar dari dalam kamarnya, ia pun menggunakan lift untuk turun menuju lantai satu.
“Mama dan papa sudah pulang enggak ya?” gumamnya.
Sedangkan Zanjiil yang baru keluar dari kamarnya menunggu Kissky di tangga. Namun lama ia menunggu, istrinya tak kunjung keluar kamar.
”Enggak mungkinkan dia masih tidurkan?” Zanjiil yang penasaran menuju kamar Kissky.
Tok tok tok!!
“Ky, buka pintunya, kau enggak ke sekolah ya hari ini? Hei cepatlah! Nanti kau terlambat.” Karena tak kunjung ada jawaban, Zanjiil memutuskan untuk turun ke lantai satu.
Ia yang menuju ruang makan bertemu Basuki dan Pinkan.
“Mama dan papa sampai jam berapa tadi malam?” tanya Zanjiil.
“Jam 03:00 pagi, oh ya, oleh-oleh untuk Kissky masih ada di bagasi mobil, suruh Art untuk mengantarnya ke kamarnya,” ucap Pinkan.
“Iya ma, nanti biar aku saja yang memberikan secara langsung padanya setelah dia turun,” ujar Zanjiil.
“Kau enggak tahu ya? Kissky baru saja berangakat,” ucap Pinkan.
“Oh ya?”
“Iya, diaa pakai kaca mata hitam, dan juga masker, katanya untuk menghindari debu masuk ke dalam mata dan mulutnya,” terang Basuki.
“Oh, iya juga sih.” Zanjiil tersenyum tipis pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Matanya pasti bengkak banget, batin Zanjiil.
Zanjiil yang telah selesai sarapan izin pada orang tuanya untuk berangkat ke sekolah.
“Ma, pa, Zanjiil berangkat dulu ya,” ia pun menjabat tangan Basuki dan Pinkan.
“Hati-hati di jalan,” ucap Pinkan dan Basuki.
_______________________________________
Kissky yang telah berada di kelasnya membuka kaca matanya.
Ia pun melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan tak ada orang lain dalam ruangan itu selain dirinya.
“Aman...” Kissky dengan cepat mengoles roller mata yang baru saja ia beli.
Setelah selesai, ia pun memakai kaca matanya kembali. Tak seberapa lama satu persatu siswa memasuki kelas.
Penampilan Kissky yang tak biasa di pagi itu membuat teman-teman sekelasnya tertawa.
“Kau kenapa Ky? Kenapa pakai kaca mata pagi-pagi begini l?“ tanya salah satu teman sekelasnya.
Liza yang baru datang melihat Kissky dengan kaca mata hitamnya.
“Waw!! Ada apa dengan mu? Kenapa pakai kaca mata hari ini? Apa mata mu sakit? Hah?!” Liza yang cekatan mencabut kaca mata sahabatnya, hingga ia pun melihat mata sembab Kissky.
“Ky!!!”
Lalu Kissky menekan telunjuknya ke bibirnya, “Sstt...” dengan cepat Kissky mengambil kembali kaca matanya dari Liza.
Liza pun duduk di kursinya, “Ada apa? Apa kau menangis semalam?” tanya Liza.
“Enggak, ini efek aku baca novel yang kisahnya menyayat hati,” terang Kissky.
“Karena itu kau menangis?” Liza yang tak pernah melihat Kissky menangis seumur hidupnya, merasa kalau novel tersebut isinya pasti luar biasa.
“Betul,” bisik Kissky seraya memakai kaca matanya kembali.
“Apa judulnya?” tanya Liza penasaran.
“Jangan Salahkan Takdir, pokoknya dramatis dan romantis di kemas dalam satu cerita, ku yakin kau akan menangis darah membacanya,” ucap Kissky.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mencari novel itu nanti.” ujar Liza.
Zanjiil yang baru tiba melihat istrinya dengan penampilan heroik.
Lalu ia pun mendatangi Kissky ke kurisnya, “Kenapa tak menunggu ku?” Zanjiil memegang kepala Kissky. Sontak Kissky dan Liza mendongak.
Apa-apaan sih dia? batin Kissky.
“Hei Zanjiil, kenapa kau selalu mendekati Kissky? Pada hal kau sudah punya pacar, nanti orang lain bisa salah sangka tahu, dan berpikir Kissky adalah perusak dalam hubungan kalian!” Liza yang ingin melindungi sahabatnya dari perkara gosip miring memarahi Zanjiil.
“Bukannya sudah jelas kalau aku yang mendekatinya?” ucap Zanjiil.
“Itu kata mu, orang lain tahu apa cerita yang sebenarnya.”
“Hei-hei ada apa ini?” ucap Gibran seraya merangkul bahu Zanjiil.
Zanjiil yang mendapat perlakuan sok akrab dari Gibran, melirik tajam ke arah tangan Gibran yang ada di bahunya.
Gawat! Bisa jadi masalah baru nih! batin Kissky.
“Hai Zanjiil, apa kabar?” sapa Gibran dengan ramah.
“Sangat baik, bagaimana dengan mu?” wajah sinis Zanjiil membuat Gibran tertawa.
“Wajah mu galak sekali, Hei Ky, nanti pulang sekolah ke museum kota yuk, disana lagi ada pameran patung dan lukisan,” ujar Gibran.
Kissky yang takut Zanjiil marah, ragu untuk menjawabnya.
Ia hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya.
“Kami pasti ikut!” Liza mewakili Kissky untuk menerima ajakan Gibran.
“Za, aku enggak bisa pergi, karena ada cara keluarga,” ucap Kissky.
Bagus, kalau kau sudah mengerti status mu, batin Zanjiil.
Ia yang merasa tak perlu mengawasi Kissky lagi, menyingkirkan tangan Gibran yang masih ada di bahunya.
Gibran menatap lekat wajah Zanjiil yang menampilkan tatapan mata tajam padanya.
...Bersambung......
__ADS_1