Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 167 (Ta'aruf)


__ADS_3

Kemudian Pinkan mengambil baju yang ada dalam tas belanjanya.


“Tentu saja mama pakai, setidaknya saat mereka datang mama terlihat seperti manusia pada umumnya .” Pinkan pun mulai mencoba baju gamisnya.


“Hum... dasar mama.” Lula menyunggingkan bibirnya.


“Sudah, cepat kau pakai, sebentar lagi mereka mau datang!” Pinkan mendesak putrinya.


“Iya ma!” kemudian Lula pun memakai baju pemberian ibunya.


Setelah itu keduanya bersiap menunggu Fahri dan kedua orang tuanya.


🏵️


Arsy yang baru bangun, turun dari ranjang. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


15 menit kemudian Arsy keluar, dan melihat suaminya masih terlelap.


Ia pun tak membangunkan Eric. Arsy yang ingin jadi istri yang baik, menuju dapur setelah selesai berpakaian.


Sesampainya di dapur, Arsy membuka lemari pendingin, ia pun melihat ada ikan kembung beserta toge dan tahu yang di beli suaminya kemarin.


“Masak ikan presmol saja deh.” selanjutnya Arsy mengambil bahan-bahan untuk membuat menu lauk pagi itu.


Di antaranya adalah satu buah Jeruk nipis, satu sendok Garam, satu batang Sereh, dua lembar Daun salam, tujuh buah Cabai rawit, tujuh buah bawang merah utuh, satu buah Mentimun potong bentuk batang, satu buah Wortel di potong dengan bentuk batang. Air Cuka, satu sendok lada, satu sendok gula.


Setelah mengolah bahan-bahan mentah tersebut, Arsy pun membersihkan ikan kembung yang akan ia jadikan presmol.


“Semoga saja, nanti rasanya enak.” saat Arsy sibuk di dapur ternyata Eric mengintip dari pintu.


“Dia benar-benar berubah.” Eric merasa senang, nasehat dari Liza betul-betul berguna untuk istrinya dan juga dirinya sendiri.


Awalnya Eric berniat membantu, namun ia mengurungkan niatnya, karena ia ingin membiarkan istrinya mandiri untuk hari itu saja.


1 jam kemudian, Arsy telah selesai memasak. Kemudian Eric yang telah selesai berpakaian datang ke dapur.


“Kau masak apa sayang? Wanginya sampai ke kamar loh.” Eric memuji istrinya.


“Ikan kembung presmol sayang, apa kau pernah makan ini?” Arsy menunjuk ke arah piring berisi ikan kembungnya pada Eric.


“Tentu saja, tapi ku rasa masakan mu lebih enak!” Eric mengecup kening istrinya.


“Jangan katakan enak sebelum mencicipi terlebih dahulu sayang.” kemudian Eric dan Arsy duduk di kursi yang saling berhadapan.


“Andaikan kita punya anak, dia akan duduk disini.” Eric menunjuk ke sebelah kursinya.


“Sama-sama berusaha dan berdo'a saja sayang, semoga Allah kasih kita keturunan secepatnya.” ucap Fi seraya menyendok nasi ke piring suaminya.


“Pasti keluarga Gibran seru banget, banyak anak-anak lucu yang menemani makan mereka tiap hari.


🏵️

__ADS_1


“Aji! Eza! Jangan rebutan sendok!” Liza melerai anak-anaknya yang bertengkar hanya karena sendok yang gambarnya lebih bagus.


“Aji duluan ma yang ambil, tapi Eza malah mau merebutnya dariku!” Aji tak mau mengalah pada adiknya.


“Tapi itukan sendok hadiah bang Leon untuk ku!” pekik Eza yang merasa lebih berhak.


“Ya ampun Eza! Aji! Sendok itu sama saja, yang penting bisa menaruh nasi enggak ke perut! Akh! Kalian dasar ya! Selalu buat mama pusing, ini masih pagi loh, sayang-sayangya mama!” Liza setiap hari harus menghadapi drama anak-anaknya yang memiliki watak berbeda-beda.


“Lihat bang Leon! Dia makan dengan baik, enggak seperti kalian!” Leon adalah anak kesayangan Liza, karena buah hatinya dengan Joe itu penurut, pendiam dan juga penyayang.


“Aji, Eza, kenapa kalian selalu nakal sih? Kasian mama tahu, ngurus kalian enggak selesai-selesai! Aji, kasih sendoknya sama Eza.”


Leon yang memiliki aura dan karisma kuat yang ia dapat dari kakeknya, membuatnya disegani oleh adik-adiknya.


“Oke bang.” Aji menurut dengan apa yang Leon katakan tanpa berontak.


“Heran deh, kalau mama yang ngomong kalian tutup telinga, giliran bang Leon langsung patuh!” meski begitu Liza merasa bersyukur dengan keberadaan Leon.


“Ada apa sih sayang?” tanya Gibran yang baru datang ke meja makan.


“Biasa sayang, drama tiap hari, hum! Pusing!” Liza memijat kepalanya yang terasa sakit.


“Aji, Eza, enggak boleh bandel ya! Kasihan mama, nanti kalau mama sakit gimana? Nanti jalian juga yang repot.” Gibran menasehati kedua putranya.


“Iya papa.” sahut keduanya.


“Ayo pa, duduk, biar mama siapkan nasi.” Liza yang dulu manja dan tak tahu banyak hal, kini menjadi wanita yang pintar dan juga cekatan berkat keadaan.


🏵️


Meja sofa yang biasa kosong melompong, kini malah penuh dengan berbagai jenis kue, dinding rumah Pinkan pun di penuhi dengan gambar berbau agama.


“Ma, ini sih namanya kita menipu orang, harusnya biasa saja ma, memangnya Fahri sepenting itu apa?” Lula tak suka dengan ide ibunya.


“Hei, mama benar-benar ingin jadikan dia menantu, karena jujur saja La, mama ingin taubat, mama mau kau dapat orang yang benar, mama sudah tua nak, menikahkan mu dengan orang yang sholeh merupakan cita-cita terbesar mama.”


Taubatnya Pinkan berkat mendengar ceramah Fahri yang tak sengaja ia lihat lewat di beranda pesbuknya.


Lula yang telah dewasa mengerti tujuan ibunya. Ia pun mencoba mengikuti arahan sang ibu.


“Ya sudah, aku ikut kata mama, semoga ini adalah yang terbaik untuk ku,” ucap Lula.


Saat keduanya masih mengobrol, Fahri dan kedua kedua orang tuanya datang.


Tok!


Tok!


Tok!


“Assamu'alaikum...” ucap Fahri dan kedua orang tuanya

__ADS_1


Pinkan dan Lula yang mendengar suara itu langsung bangkit dari duduk mereka mereka.


“Jangan lupa, panggil Fahri abang,” ucap Pinkan.


“Sayang boleh ma?!” Lula mengajak ibu ya bercanda.


“Silahkan kalau kau berani,” ujar Pinkan.


“Xixixi... mana mungkin ma.” Lula tertawa, kemudian keduanya pun menuju pintu.


“Walaikumsalam pak, bu.” sahut Pinkan.


Kemudian Pinkan dan Lula menjabat tangan Fahri dan kedua orang tuanya.


Fahri yang melihat wajah cantik dan teduh Lula langsung jatuh hati.


Lula yang pintar akting, kali itu berperan sebagai gadis pendiam dan juga sopan santun.


“Silahkan masuk.” Pinkan yang aktif pun menuntun calon menantu dan besannya menuju ruang tamu.


“Maaf kalau kami terlambat datang bu.” ucap Sulaiman, ayahhanda Fahri.


“Tidak apa-apa pak, lagi pula ini masih pagi.” ucap Pinkan, meski saat itu telah menunjukkan pukul 13:00 siang.


“Ibu bisa saja, tadi kita sengaja, karena harus sholat Zuhur dulu.” timpal Siti, ibunda Fahri.


Sedang Fahri hanya diam saja, ia membiarkan kedua orang tuanya yang bercengkrama dengan calon ibu mertuanya.


“Silahkan duduk pak, bu, nak Fahri.” ucap Pinkan dengan semangat.


Ketiganya pun duduk sesuai arahan dari Pinkan.


Tak lama art pun datang membawa minuman segar untuk tamu spesial mereka.


“Di minum dulu pak, bu, nak Fahri, pasti kalian haus setelah perjalanan jauh.” keramahan Pinkan yang tak seperti biasanya membuat Lula hampir cekikikan.


Namun ia menahannya, karena dirinya harus terlihat anggun dan juga elegan.


Setelah keluarga Fahri selesai meneguk sajian yang di hidangkan.


Siti, ibunda Fahri menoleh ke arah Lula. “Cantik, nama mu siapa nak?” sapa Siti pada Lula.


“Alula, bu.” suara lembut Lula menenangkan hati calon keluarga barunya.


“Masya Allah, nama dan parasnya sama-sama cantik.” Siti memuji Lula.


“Betul, ayah suka dengan Lula bu, semoga Lula mau menerima lamaran anak kita,” ujar Sulaiman.


“Saya bersedia pak.” jawab Lula spontan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2