
Basuki yang melihat ibu dan ayahnya meregang nyawa menangis pilu.
“Maafkan aku,” hanya itu yang bisa Basuki katakan.
Meski orang tuanya telah berbuat salah selama ini, namun hati Basuki tetap sakit, menyaksikan kepergian orang tuanya.
Setelah Berli dan Musa meninggal dunia, Basuki pun memberi perintah pada Winda.
“Urus sisanya.”
“Siap tuan.” kemudian Winda dan 2 ajudan kepercayaan Basuki membawa jasad Berli dan Musa menuju mobil.
Basuki yang merasa bersalah namun hatinya lega memutuskan untuk ke rumah Pinkan.
🏵️
Arsy yang baru selesai mengajar keluar dari kelasnya.
Ia yang akan menuju kantor guru melihat rekan seprofesinya memegang photo usg bayinya.
“Sudah berapa bulan bu Fera?” tanya Arsy, sebab rekan kerjanya baru menikah satu bulan yang lalu.
“3 minggu bu Arsy, alhamdulillah banget, Allah kasih amanah ini untuk saya dan suami.” ucap Fera seraya mata berkaca-kaca saat mengatakannya.
“Selamat ya bu, kalau orang baik, pasti Allah kasih apa yang di mintanya.” ucap Sania sang guru matematika. Sontak Arsy mengkaji dirinya sendiri.
Apa karena suami ku penjahat? batin Arsy.
“Memangnya kalau orang yang punya dosa Allah tidak akan mengabulkan do'anya bu Sani?” Arsy bertanya karena penasaran.
“Di kabulkan juga bu, sama seperti orang baik. Hanya saja untuk orang berhati luhur itu berkah, sedang si pembangkang adalah laknat.” guru matematika itu berkata dengan asal.
Arsy yang mendengarnya menghela napas panjang.
“Ibu belajar dimana sih.” setelah mengatakan itu Arsy berjalan terlebih dahulu menuju kantor guru.
Sesampainya Arsy, ia langsung mengemas semua barangnya ke dalam tas, Arsy memutuskan untuk pulang dengan menaiki motor metik pemberian suaminya.
Di dalam perjalanan Arsy memikirkan apa yang Sania katakan.
“Apa benar ya?” Arsy menjadi di lema, terlebih dirinya dan suami telah melakukan serangkaian tes ke dokter, mulai dari cek kesuburan, trans vaginal, cek darah, benih dan lainnya.
Namun hasil menunjukkan bahwa mereka berdua baik-baik saja, tak ada masalah apapun.
“Ya Allah, kapan aku dan suami ku akan punya anak.” Arsy meras resah akan keadaannya, terlebih ia dan suami sangat memimpikan ada si kecil di kehidupan rumah tangganya.
Dan orang-orang sekitar yang menanyakan dirinya sudah berbadan dua atau belum membuatnya tertekan.
__ADS_1
Yang ia takutkan adalah, keluarga Rabbani menagih cucu padanya, secara Lula sendiri telah mengandung.
Sesampainya di rumah, Arsy yang merasa tak bersemangat pergi ke kebun sayur milik suaminya.
Ia yang berniat untuk mencabut rumput sebagai pelepas stresnya harus gagal, karena kebun suaminya bersih tanpa ada rumput liar satu pun.
“Hufff...” Arsy menghela napas panjang, lalu ia pun duduk di sebuah kursi yang ada di dekat sayur suaminya.
“Kok malah begini ya, rasanya aku sekarang lebih mudah tersinggung dan juga marah.” saat Arsy masih merenung, tiba-tiba Eric datang.
“Sayang.” Eric mencium ubun-ubun istrinya.
“Ini masih siang, kenapa kau pulang?!” tanya Arsy, karena itu tak biasanya.
“Nenek dan kakek kecelakaan saat jalan ke Bandara.” Eric menyampaikan kabar duka itu.
“Innailaihi wa inna lillahi rajiun, di kebumikan dimana mas?” tanya Arsy.
“Di Jakarta, ayo! Kita segera berangkat.” Eric dan Arsy pun segera menuju kediaman keluarga Rabbani menggunakan mobil.
Lula bersama suaminya yang sudah ada di rumah sang ayah, melihat kakek dan neneknya terbujur kaku. Ia pun melirik ke arah Basuki.
Di lakukan juga, pada hal aku hanya bercanda, tapi bagus sih, kalau tetap hidup pasti tidak ada ketenangan, batin Lula.
Ia yang tak ingin melakukan dosa lagi, merasa tindakan ayahnya sudah yang paling tepat.
Fahri, selaku menantu keluarga Rabbani memimpin pengajian wirid Yasin siang itu.
Setelah dalam perjalanan selama 2 jam 30 menit, akhirnya Arsy dan Eric tiba di rumah keluarga Rabbani.
Ia yang menyayangi neneknya merasa berduka. Apa lagi keduanya pergi secara bersamaan.
Setelah 15 menit duduk di sebelah kakeknya, akhirnya jasad pemimpin besar mafia itu di sholat kan ke mesjid terdekat.
Yang jadi imam tentu saja Fahri. Suami Lula yang tahu banyak soal agama, menjadikannya menantu kesayangan.
Setelah selesai sholat, Berli dan Musa pun di kebumikan ke pemakaman setempat.
Malam harinya setelah selesai pengajian, seluruh, anggota keluarga berkumpul di ruang tamu.
“Pa, kok bisa kakek dan nenek kecelakaan?” tanya Eric yang ingin tahu cerita sebenarnya.
“Papa juga enggak tahu Ric namanya juga kecelakaan.” Basuki enggan mengatakan sebenarnya karena ada keluarga Liza, Gibran dan juga Fahri.
“Namanya juga ajalnya sudah tiba bang, pasti tidak bisa di hindari.” ujar Liza dengan tersenyum tipis.
Sontak Eric memijat pelipisnya, sebab ia tahu apa maksud dari senyuman Lula tersebut.
__ADS_1
“Sudah bang Eric, ikhlaskan saja, lebih baik kirim do'a yang banyak, agar kakek dan nenek di terima di sisi Allah SWT.”
Karena semua sudah terjadi, maka Eric pun mengikhlaskan segalanya.
Semoga Allah memaafkan kesalahan yang pernah kalian perbuat, kakek, nenek, batin Eric.
Liza yang ada di dalam kamar, di temani oleh Arsy.
“Kalian menginapkan Za?” ucap Arsy seraya menggendong si kembar Aisyah.
“Iya Sy, enggak enak kalau pulang sekarang.” sahut Liza yang sedang memberi asi Ameena.
“Arsy, kau jangan berlarut-larut sedihnya hanya kepergian nenek dan kakek.” Liza mengira kalau Arsy sepenuhnya sedih karena kepergian Berli dan Musa.
“Bukan karena itu Za.” ucap Arsy seraya mencium kening Aisyah.
“Terus?”
“Ini semua karena aku belum punya anak Za.” jawab Arsy dengan dengan raut wajah sedih.
“Arsy, jangan terlalu di pikirkan, lagi pula kau masih muda, mungkin belum waktunya saja. Sabar Za, nikmati saja masa-masa kebersamaan mu dengan Eric. Jangan lupa terus berdo'a dan sholat malam, aku yakin Allah Akan segera memberikan keturunan untuk kalian.” Liza memberi kata-kata positif pada sahabatnya.
“Iya, kau benar juga Za, terimakasih atas nasehatnya.” Berkat Liza, Arsy kembali bersemangat.
Namun hingga Lula melahirkan, sampai 3 tahun sejak pernikahan kedua mereka, Arsy belum hamil juga.
Ia yang malu karena di tagih cucu terus oleh Pinkan dan Basuki, membuat Arsy jarang ikut di pertemuan keluarga.
Ia juga merasa minder dengan Lula yang kini beranak dua.
“Besok hari ulang tahun Mahlil, kita ke Jakarta ya sayang,” ucap Eric.
Kali itu ia ingin istrinya ikut, karena Arsy sudah lama absen pertemuan keluarga.
“Enggak bisa mas, karena besok ada rapat orang tua murid.” ucap Arsy sebagai alasan.
“Ayolah sayang, mereka terus bertanya soal dirimu.” Eric sangat malu, setiap kali di tanya oleh keluarganya mengenai Arsy yang tak mau datang ke Jakarta.
“Lain kali saja mas, aku sibuk, aku titip salam saja.” Arsy tetap tak ingin ikut ke rumah mertuanya.
Ada untungnya juga ternyata tinggal jauh dari keluarga, batin Arsy.
2 tahun kemudian, Arsy dan Eric belum di karuniai anak juga, Arsy pun merasa pernikahan mereka terasa hambar, ia juga jarang bermain handphone, karena tak ingin di hubungi oleh siapapun.
...Bersambung......
__ADS_1