
Gibran yang belum memberi tahu orang tua Liza pun segera mengirim pesan.
Ma, Liza sudah melahirkan, datanglah ke rumah sakit Kasih Bunda. ✉️ Gibran.
Rachel yang membaca pesan itu terkejut bukan main, pasalnya bulan melahirkan Liza masih jauh.
Baiklah, mama dan papa akan kesana. ✉️ Rachel.
Setelah itu, Rachel memberitahu suaminya kabar bahagia itu.
🏵️
Arsy dan Pinkan yang kini ada di ruang rawat Liza menemani wanita yang baru operasi tanpa sadar itu.
“Liza sebenarnya pingsan apa tidur sih? Kenapa lama sekali?!” Pinkan mengeluh karena sudah lama menunggu, namun Liza tak kunjung sadarkan diri.
“Mungkin sebentar lagi ma.” Arsy dengan sabar menunggu sahabatnya bangun.
Tak lama setelah Pinkan mengeluh, Liza pun membuka matanya.
“Hum?? Aku ada dimana?” Liza yang bingung melihat kesana kemari.
“Kau ada di ruang rawat.” ucap Arsy seraya membantu Liza minum dengan air dalam kemasan botol pakai sedotan.
“Kok bisa???” saat Liza ingin berdiri, Pinkan melarangnya.
“Hei, diam saja disitu!” pekik Pinkan.
“Ssttt... kok aku jadi kaku??” Liza meringis kesakitan, kemudian ia melihat ke arah perutnya yang kini datar.
“Anak ku?! Anak ku dimana?!” Liza histeris saat tahu perutnya mengecil.
“Ya Tuhan, biasa saja dong!” kemudian Pinkan memberi Liza bubur ayam.
“Kau sudah melahirkan Za.” Arsy memberitahu kabar bahagia itu.
“Apa?! Kapan?! Kok aku tidak tahu?!!” mata Liza membelalak sempurna.
“Tadi, Lizaza! Saat kau pingsan karena syok, air ketuban mu pecah, tensi mu juga tinggi, makanya langsung di operasi,” terang Pinkan.
“Astaga... pada hal aku biasa melahirkan normal, kali ini malah sesar, hiks...” Liza malah menangis.
“Yang penting si kembar baik-baik saja Za.” Arsy merasa lucu dengan Liza yang begitu cengeng.
“Anak ku, perempuan apa laki-laki?” tanya Liza, sebab selama usg, kedua putrinya enggan memperlihatkan jenis kelamin mereka.
“Perempuan Za, ku rasa sebaiknya sekarang kau KB, karena anak-anak mu sudah lengkap,” ujar Arsy.
“Iya, coba nanti ku tanya sayang ku dulu,” ujar Liza.
“Iya begitu juga bagus.” kemudian Pinkan menyuap Liza yang terbaring lemah.
Setalah selesai makan, Roy dan Rachel tiba di kamar Liza.
__ADS_1
“Nak...” Rachel menangis haru, karena Liza melahirkan cucu-cucunya dengan selamat.
“Mama...” Liza memeluk ibunya.
Hari itu semua orang merasa bahagia, karena Leon juga pulih dengan cepat.
3 hari kemudian, Liza yang telah pulang ke rumah di temani oleh Arsy.
“Oh ya, maaf Sy karena aku tak bisa menghadiri pernikahan mu.” meski ingin, namun Liza yang baru sesar tak bisa bepergian jauh.
“Iya, tidak apa-apa.” Arsy maklum dengan halangan yang di miliki Liza.
Setelah itu Arsy pun pamit pada sahabatnya, karena ia dan Eric harus menghadiri acara lamaran Lula yang di adakan di rumah Pinkan.
“Aku pergi dulu Za. Titip salam sama Gibran.” ucap Arsy, sebab Gibran posisinya sedang bekerja.
“Semoga sehat ya, ibu 5 anak!” sebelum pergi, Eric memberi uang untuk anak-anak Liza.
“Buat beli popok!” ucap Eric.
“Terimaksih om! Xixixi...” Liza tertawa cekikikan.
Setelah itu Arsy dan Eric berangkat menuju rumah Pinkan.
Setelah 1 jam dalam perjalanan mereka pun sampai.
“Assalamu'alaikum.” ucap Arsy dan Eric.
“Walaikumsalam.” sahut keluarga Rabbani dan Fahri.
Pasalnya 3 orang yang tak pernah ingat Tuhan itu tiba-tiba berubah jadi alim.
Yang mana Lula dan Pinkan memakai baju gamis tertutup dan jilbab sepanjang lutut.
Dan Basuki mengenakan baju Koko, kopiah dan kain sarung, seolah seperti baru selesai sholat.
Arsy yang datang dengan penampilan tak menutup aurat menjadi sangat malu.
Kok enggak ada yang kasih kode sih?! batin Arsy.
Apa nih judul dramanya, batin Eric.
Dengan segan pasangan suami istri yang tak ada dalam skenario lamaran tersebut masuk ke dalam rumah.
Kemudian Arsy dan Eric duduk di satu sofa yang cukup di duduki dua orang.
“Ini siapa pak?” tanya Siti.
“Eric, anak pertama kami bu,” jawab Pinkan.
“Oh, pasti yang di sebelahnya istrinya ya?” ujar Siti.
“Iya bu. Namanya Arsy,” ucap Pinkan.
__ADS_1
Kemudian Arsy dan Eric menjabat tangan keluarga Fahri satu persatu.
Saat Arsy melihat wajah Fahri, ia pun menundukkan pandangannya, sebab ia mengenali sosok ustad itu.
Luar biasa, siapa yang menyangka, kalau Lula akan berjodoh dengan pemuka agama seperti ini, batin Arsy.
Arsy pun jadi sadar, kalau takdir nasib seseorang itu tidak ada yang tahu, terbukti dengan Lula yang seroang mafia berdarah dingin berjodoh dengan Fahri, pemuda tampan, yang akhlaknya terpuji.
“Jadi, tanggal pernikahannya kapan pak? Bu?” tanya Siti.
“Bagaimana kalau bulan depan saja bu?” Siti memberi ide.
“Iya, karena tadi ibu dan bapak bilang kalau nak Eric akan adakan resepsi pernikahan Minggu besok, pasti repot sekali, kalau harus kita adakan minggu depannya lagi,” ujar Sulaiman.
“Ya, betul, kalau memang itu baiknya, kami dari calon mempelai wanita setuju saja pak.” ucap Basuki.
“Bagaimana nak Lula, kau juga setujukan nak?” Siti menanyakan pendapat calon menantunya.
“Setuju bu, saya akan ikut apa kata orang ibu saja.” Lula tersenyum manis pada kelurga calon suaminya.
“Alhamdulillah, semoga rencana baik ini di beri kelancaran oleh Allah SWT,” ucap Basuki.
Dan semua orang mengucapkan kata aamiin. Kemudian Lula pun di ikat oleh keluarga Fahri dengan cincin emas seberat 3 gram.
Sejak Lula menonton video ceramah Fahri, hatinya jadi tergugah, ia pun merasa beruntung karena bisa menjadi pendamping hidup Fahri.
Begitu pula dengan Fahri, ia yang tak menyelidiki siapa Lula sebenarnya percaya saja, jika yang akan ia nikahi adalah perempuan yang baik hatinya.
Setelah keluarga Fahri pulang, Eric tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha... Sekarang kalian jadi penipu?” Eric yang merasa lucu tertawa sampai perutnya terasa sakit.
Lula yang marah melempar nastar yang ada di tangannya ke wajah Eric.
Plak!
Seketika Eric diam dengan tindakan adiknya, “Lula! Kau sudah mau menikah, tapi masih kekanak-kanakan begini?”
“Kau sendiri gimana? Malah meledek ku! Sialan kau! Pada hal aku benar mau pakai hijab tahu!” penurutan Lula membuat Pinkan senang.
“Bagus! Ini baru anak mama!” Pinkan mengangkat kedua jempolnya.
“Tapi Lula, kau tak berniat untuk keluar dari Angel's Hand kan?” Basuki bertanya dengan serius.
“Akan ku pikirkan.” Lula benar-benar terpengaruh dengan aura positif Fahri.
“Astaga, Pinkan!” Basuki marah pada mantan istrinya.
“Hei, kandidat mu kan banyak yang hebat-hebat, memangnya Lula yang membunuh semua orang-orang itu?” sebisa mungkin Pinkan menjauhkan putrinya dari bisnis ilegal keluarga suaminya.
“Papa, hidup normal itu enak tahu, papa juga enggak tahu kapan papa akan mati, bagaimana kalau papa taubat?” Eric mengajak ayahnya untuk keluar dari lembah hitam itu.
“Kalau papa menyerahkannya pada kakek dan nenek kembali, aku dan Arsy akan tinggal di Jakarta lagi.” ucap Eric tanpa bertanya pendapat istrinya terlebih dahulu.
__ADS_1
...Bersambung.......