
“Ayo!” Gibran mengajak kedua tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
“Loh, sudah pulang nak?” ucap Jenny, ibu angkat Gibran.
“Iya bu, Assalamu'alaikum.” Gibran menjabat tangan ibunya.
“Walaikumsalam, eh... siapa 2 gadis cantik ini?” sapa Jenny seraya tersenyum manis.
“Mereka teman sekolah ku bu, namanya Kissky dan Liza.” Gibran pun mengenalkan kedua teman sekolahnya pada Jenny.
“Assalamu'alaikum tante.” Kissky menjabat tangan Jenny, begitu pula dengan Liza.
“Walaikumsalam.” Jenny mengusap puncak kepala 2 gadis cantik tersebut secara bergantian.
Wah, hebat juga anak ku, belum seminggu sekolah, sudah dapat 2 perempuan, pada hal waktu dia SMP, tak pernah sekali pun membawa siapapun ke rumah, batin Jenny.
“Ma, enggak apa-apakan kalau teman ku main ke rumah?” ucap Gibran..
“Enggak apa-apa sayang, justru mama senang, ayo-ayo! Kita makan dulu, Gibran, bawa gadis-gadis cantik ini ke meja makan!” seru Jenny, ia yang tak memiliki anak perempuan, amat bersemangat dengan kehadiran Kissky dan Liza.
“Baik bu, ayo Ky, Za!” ujar Gibran, ia pun membawa Kissky dan Liza ke ruang makan.
Sementara Jenny beranjak ke kamarnya untuk mengambil oleh-oleh yang ia bawa dari Turki.
Mereka yang telah sampai di meja makan, mulai di layani oleh 2 Art yang bertugas mengurus ruang makan dan dapur.
Makanan yang tersaji juga begitu mewah dan lezat.
Liza yang banyak makan, mendadak menolak, saat salah seorang Art, memberikan nasi putih sebanyak 3 sendok padanya.
“Ehm, tolong di kurangi kak, satu sendok saja.” ucapnya dengan lembut.
Kissky yang melihat perubahan instan Liza mengangkat kedua alisnya.
“Hei, jangan diet, nanti kau sakit!” celetuk Kissky. Sontak Liza memelototi sahabatnya.
__ADS_1
Ini orang kok enggak peka sih! Aku kan mau terlihat elegan di mata mertua dan calon suami ku, batin Liza.
Gibran yang menoleh ke piring Liza, yang isinya nasi segenggam tangan anak kecil mengernyitkan dahinya.
Apa nafsu makannya bermasalah juga? batin Gibran.
“Liza, apa enggak masalah dengan nasi segitu?” tanya Gibran.
“Enggak apa-apa, biasanya juga porsi makan ku segini kok,” jawab Liza dengan tersenyum lembut.
Nanti kalau kena maag baru tahu rasa, batin Kissky.
Kissky yang lapar pun mulai mengambil lauk pauk yang ada di hadapan mereka bertiga tanpa sungkan, sebab ia sudah merasa nyaman dengan Gibran.
“Liza, kau harus makan banyak, kasihan kalau kau sampai sakit nanti.” Gibran memberi perhatian pada Liza, karena takut gadis itu sakit.
“Enggak apa-apa kok Bran, aku memang biasa makan segini, dan selama ini aman-aman saja.” Liza yang konsisten pada dramanya, tak mengindahkan perkataan Gibran.
Lalu, Gibran melihat ke piring Kissky yang terisi penuh.
Kissky makan banyak tapi tetap kurus, sedang Liza makan sedikit, tapi badannya padat berisi, batin Gibran.
Ia yang menyayangi gadis cantik itu pun, menambahkan daging panggang ke piring Kissky yang masih terisi penuh.
“Terimaksih banyak.” Kissky yang gemar makan, tak menolak pemberian Gibran.
Liza yang menyaksikan hal tersebut, menjadi bimbang, antara melanjutkan dramanya atau tidak.
Saat mereka sedang makan bersama, Jenny datang dengan membawa troli yang terisi penuh.
“Apa makanan di rumah ini enak?” ucapnya, ketiga anak muda yang sedang bersantap ria itu pun menaruh pandang padanya.
“Enak tante.” sahut Kissky dan Liza.
Wah! Calon mertua ku bawa apa tuh! batin Liza.
__ADS_1
Apa itu oleh-oleh dari Turki? batin Kissky.
Jenny yang telah berada di dekat ketiganya berniat ingin duduk. Dan Liza yang memiliki tingkat kepekaan mencapai 200% dengan sigap berdiri.
Drrrkkk... ia pun menggeser bangku makan yang terbuat dari jati asli tersebut.
Sialan, berat banget, batin Liza.
“Silahkan duduk tante!” ucapnya dengan ramah.
Mulut Kissky menganga, dengan sikap Liza yang sangat luar biasa.
“Terimaksih cantik, tapi... lain kali jangan lakukan ya, karena itu bukan tugas mu sayang.” nada lembut dari Jenny membuat Liza semakin percaya diri, kalau dirinya bisa jadi menantu di rumah raksasa itu.
Kalau ada kata lain kali, berarti aku masih ada kesempatan kedua untuk datang kesini, hehehe, batin Liza.
“Enggak apa-apa tante, aku senang melakukannya.” ujar Liza, dengan senyum cerah, bak cahaya matahari di siang hari.
“Aduh, kau manis sekali, ini untuk mu!” Jenny memberi tas cenel pada Liza yang baik hati. Dan tas tersebut bisa di bawa ke sekolah.
“Ini untuk ku tante?!!” Liza tak mengira, bahwa yang ada dalam khayalnya beberapa menit yang lalu, malah jadi kenyataan.
“Dan ini, untuk mu lagi!” Jenny memberi sepatu merek Roid pada Liza, yang harganya puluhan juta rupiah.
“Ya Allah, tante baik banget, terimakasih banyak Tante!!!” Liza memeluk Jenny yang begitu royal.
“Lain kali, aku akan bawa hadiah juga untuk tante.” ujar Liza.
“Enggak perlu, kalian cukup sering-sering main kesini saja.” Jenny yang ingin memiliki seorang putri dari dulu, sangat berharap, Liza dan Kissky selalu datang ke rumahnya.
“Tentu saja, kalau tante dan Gibran enggak keberatan, aku akan selalu datang.” ucap Liza bersemangat.
“Dan, ini untuk mu!” Jenny memberi cincin super mahal merek celline pada Kissky. “Ini baru di promosikan Idol Lisa loh, kau kenalkan, yang judul lagunya Lalisa??!.”
“Iya, saya tahu tan tapi maaf tante, bukannya menolak rezeki, ini terlalu mahal untuk ku.” Kissky merasa tak pantas menerima barang dari orang yang baru pertama kali bertemu dengannya.
__ADS_1
“Tak apa, di kamar rias tante masih banyak koleksi kok! Ini tante kasih, karena kau dan Liza sangat manis dan cantik. ” ujar Jenny.
...Bersambung......