
Keesokan harinya, saat sarapan pagi di meja makan, Kissky tak melihat kehadiran ibu mertuanya.
“Mama kemana yah? Kenapa enggak ikut sarapan?” tanya Kissky.
“Mama mu sedang tak enak badan, makanya dia istirihat di kamar.” terang Basuki.
“Oh, kalau begitu setelah selesai, aku akan mengantarkan sarapan pada mama.” Kissky yang masih memiliki waktu berpikir ingin merawat mertuanya, walau hanya sebentar.
“Enggak perlu, mama kalau sakit enggak mau di ganggu,” ucap Zanjiil.
“Masa sih?” Kissky tak percaya akan perkataan suaminya.
“Zanjiil benar, kau tak usah repot mengantarkan mama mu sarapan, lagi pula sudah ada yang mengurusnya.” karena sang suami dan ayah mertuanya melarang, Kissky pun mengurungkan niatnya.
Mereka bertiga yang telah selesai sarapan, bangkit dari kursi.
“Papa, kami berangkat dulu ya.” Kissky menjabat tangan Basuki.
“Ya, hati-hati di jalan nak.” lalu Zanjiil juga ikut menjabat tangan ayahnya.
Selanjutnya mereka bersama-sama menuju garasi.
“Ky... kau mau kemana?” tanya Basuki, karena ia melihat menantunya membuka pintu ke arah gudang.
“Aku mau ambil sepeda pa.” Kissky memutuskan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda.
“Untuk apa? Kan ada mobil?” ucap Zanjiil.
“Aku ingin sekalian olah raga,” sahut Kissky
“Kau gunakan mobil saja.” Basuki melarang menantunya untuk bersepeda ke sekolah.
“Tapi aku sangat hobi pa, naik sepeda.”
“Biarkan saja pa, lagi pula jarak dari sekolah ke rumahkan dekat.” Zanjiil memberi Kissky izin, setelah ia berpikir kalau itu adalah hal bagus, sebab mereka akan lebih terlihat seperti orang tak saling kenal.
“Baiklah, kalau menurut mu itu tak jadi masalah.” Basuki yang hampir saja terlambat ke kantor, berangkat duluan meninggalkan anak dan menantunya.
“Hati-hati di jalan ya.” ucap Zanjiil seraya masuk ke dalam mobilnya.
“Iya.” sahut Kissky, kemudian ia pun menuju gudang untuk mengambil sepeda.
Hari itu, Ia memilih BMX sebagai sarananya menuju ke sekolah.
“Ayo kita berangkat!!!” dengan penuh semangat, Kissky mengayun pedal sepedanya.
Suana pagi yang masih berudara dingin membuat pikiran Kissky jernih.
Saat akan mendekati sekolah, jalanan pun macet, Kissky yang menaiki sepeda dengan mudah menyelip di antara kendaraan bermesin yang sedang berbaris panjang.
Ketika ia akan keluar dari padatnya kendaraan tersebut, ia hampir saja tersenggol oleh mobil sedan berwarna silver, yang akan menyalip jalan.
__ADS_1
Tinn!!! Sontak pemilik mobil mewah itu membunyikan klaksonnya.
Ia yang merasa bersalah pun menundukkan kepalanya.
“Maafkan saya!” ucapnya sebanyak dua kali, lalu ia pun melihat sang pengemudi membuka sedikit kaca mobilnya.
“Cepat menyingkir dari situ! saya mau lewat!”
“Ba-baik!” Kissky dengan cepat mengayun sepedanya kembali.
Tak lama ia sampai ke sekolah, Kissky pun memarkirkan sepedanya di parkiran, tak lupa ia menggembok ban sepedanya, agar tak di curi oleh orang.
Saat ia akan beranjak, ia pun melihat mobil yang hampir menyerempetnya masuk ke dalam parkiran.
“Oh, ternyata mobil itu ke sekolah ini juga,” gumam Kissky. Ia yang hampir saja terlambat segera menuju kelasnya.
Ia yang telah sampai di kelas duduk di kursinya dengan nafas terengah-engah.
Liza yang melihat sahabatnya keringatan pun merasa aneh.
”Kau ke sekolah jalan kaki atau naik mobil? Kenapa jadi keringatan begitu?”
“Aku naik sepeda, karena takut terlambat, aku lari-lari dari parkiran,” terang Kissky.
“Lagian ada mobil, jangan bikin ribet hidup mu!” ujar Liza.
“Kau tahu, aku hobi naik sepeda.” saat keduanya asyik mengobrol, tiba-tiba seseorang menarik rambut hitam terurai milik Kissky.
Kissku yang meringis kesakitan, mendongak, untuk melihat siapa gerangan yang berbuat kasar padanya.
“Apa masalah mu!” Liza yang tak terima sahabatnya di perlakuan kasar tanpa alasan pun marah.
“Diam kau!” Luna, kekasih Zanjiil membentak Liza.
“Lepaskan rambut ku!” ucap Kissky seraya menarik rambutnya dari cengkraman Luna.
“Kau pantas mendapatkannya, karena mu, aku hampir saja celaka, dan kau lihat!” Luna menunjuk ke arah bibirnya.
“Lipstik ku rusak karena mu yang tak hati-hati mengemudikan sepeda butut mu!”
Plak! Luna yang emosi memukul kepala Kissky.
Kissky yang tak terima dirinya di perlakukan demikian bangkit dari duduknya.
“Pada hal aku sudah minta maaf, tapi kau malah berbuat kasar!” dengan secepat kilat, tangan Kissky menjambak rambut pirang milik Luna.
“Lepaskan!” teriak Luna.
“Kau duluan yang harus lepas!” pekik Kissky yang semakin mengencangkan jambakannya.
Orang-orang yang ada di kelas tak ada yang melerai, justru menurut mereka itu sangat lucu.
__ADS_1
Liza yang tak terima temannya di perlakukan buruk, terlebih ia juga menerimanya, tanpa pikir dua kali, membantu Kissky untuk memberi pelajaran pada Luna.
“Berani macam-macam kau ya!” ia pun menarik kencang rambut bagian belakang Luna, hingga kepala gadis menjengkelkan itu menjungkal ke belakang.
“Akh!! Akhh!!” Luna mengerang kesakitan, ia yang kalah jumlah pun menjadi kewalahan, terlebih 2 sahabatnya belum ada yang datang.
“Lepas!” pinta Luna dengan ekspresi tak menentu.
“Kau duluan yang lepas! Kalau enggak, kita enggak akan lepas!” pekik Kissky yang semakin mengencangkan tarikannya.
“Betul, lepas enggak?!” Liza yang kesal mencubit perut Luna.
Salah seorang siswa yang telah selesai merekam, membagikan video tersebut ke group chat kelas XA seni.
Zanjiil dan Gibran yang akan sampai ke kelas pun melihat video itu, sontak keduanya berlari ke dalam kelas.
“Ada apa ini?” tanya Zanjiil, ia pun mencoba memisahkan, dengan menarik tubuh Luna.
“Lepas Ky, sudah jangan lagi!” Gibran pun memeluk tubuh Kissky dari belakang.
Melihat Kissky dan Luna di lerai oleh 2 pria tampan, ia pun menoleh ke belakangnya, berharap ada sosok tampan yang memeluknya juga.
Sial, kenapa tak ada yang memisahkan ku dari Luna? Apa aksi ku kurang garang? batinnya.
Ia pun semakin menjadi-jadi, dengan sekuat tenaga menarik rambut Luna, hingga gadis cantik itu hampir menangis.
Zanjiil yang takut rambut kekasihnya rontok membentak istrinya.
“Kissky Huwl! Singkirkan tangan mu!! Sekarang juga!!” suara Zanjiil yang menggelegar bak petir di siang bolong pun membuat Kissky tersentak.
Ia menatap lekat wajah Zanjiil, kemudian ia dengan kasar mendorong kepala Luna ke dada suaminya, lalu melepaskannya.
Liza yang tak ingin dapat sambaran kedua pun ikut melepaskan tangannya.
Kemudian Kissky yang masih dalam pelukan Gibran, menjamah bekas jambakan Luna.
Tanpa kata, seraya menahan air mata, Kissky memperlihatkan berapa banyak rambutnya yang telah rontok karena Luna.
Zanjiil terdiam, ia pun dapat melihat wajah Kissky yang memendam rasa kecewa padanya.
Namun apa daya, sang kekasih lebih utama di bandingkan istri.
“Kau tak apa-apa.” Gibran melepas pelukannya, dan menggenggam wajah gadis yang hampir menitihkan air mata itu.
“Ya, aku sangat baik.” Kissky melepas kedua tangan Gibran dari wajahnya.
Ia yang kesal tak ingin melihat wajah Zanjiil apa lagi Luna. Sebelum ia pergi, Kissky menyempatkan diri untuk memberi goreng panas pada Luna.
Plak! Satu pukulan keras mendarat di kepala kekasih suaminya.
“Kissky!” lagi-lagi Zanjiil membentaknya.
__ADS_1
Kissky tanpa tanpa kata, meninggalkan kelas dengan langkah yang kasar.
...Bersambung......