Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 125 (Menyesal)


__ADS_3

“Benarkah?” Liza sangat senang akan perhatian kekasihnya.


“Apa kau suka?” Tanya Joe. Karena ia merasa bahagia apabila Liza menyukai pemberiannya.


“Tentu saja aku suka, wanita mana yang tak suka barang-barang seperti ini.” Liza menepuk punggung kekasihnya.


“Berarti aku harus kerja keras.” gumam Joe.


“Kau bekerja?” tanya Liza yang tak sengaja mendengar perkataan Joe.


“Iya, karena itu aku bisa membeli berlian untuk mu,” ucap Joe.


“Hum? Memangnya anak SMK seperti mu kerja apa? Sehingga bisa membeli berlian seharga ratusan juta.” Liza merasa bingung dengan kekasihnya.


“Membunuh.” Joe yang tak punya basa-basi mengatakan profesinya.


”Oh...” Liza mengangguk seraya memancungkan bibirnya.


Membunuh saldo ibu mu, begitukan? Dasar nakal! Demi membuat ku bahagia, kau menguras kantong ibu mertua, batin Liza.


Liza menyimpulkan sendiri apa yang di katakan kekasihnya.


Begitu pula dengan Joe, ia berpikir kalau Liza tak masalah dengan pekerjaannya.


Tak ku sangka, Liza biasa menerima orang seperti ku, batin Joe.


_________________________________________


Zanjiil yang berada di rumahnya merasa suntuk, ia pun mendatangi istrinya yang sedang melukis di balkon.


“Huwl, jalan-jalan yuk, aku bosan!” Zanjiil mengajak istrinya untuk keluar.


“Kemana?” Kissky yang malas ke tempat yang tak jelas bertanya terlebih dahulu.


“Ayolah, jangan banyak tanya.” Zanjiil menarik tangan Kissky.


“Awas ya, kalau kau bawa aku ke tempat yang tak ada orangnya!” Kissky masih ingat pengalamannya di pulau bersama Zanjiil.


“Enggak bawel.” kemudian keduanya menaiki lift untuk mencapai lantai satu.


Ting!


Setelah pintu lift terbuka, Zanjiil dan Kissky keluar, selanjutnya menuju garasi.


“Kita jalan-jalannya naik apa?” tanya Kissky.


“Motor!” kemudian Zanjiil menaiki motor gedenya.


“Ayo naik.” Zanjiil menyuruh istrinya untuk naik ke atas motornya.


“Aku belum pakai jaket.” ucap Kissky yang takut kedinginan.


“Ini!” Zanjiil memberi jaket kulit miliknya.


“Terimakasih.” Kissky pun segera memakai jaket suaminya. Setelah itu baru ia naik ke atas motor.


“Peluk ya, nanti kau jatuh lagi,” ucap Zanjiil.


“Oke sayang.” sahut Kissky.


Bremmm!!!

__ADS_1


Zanjiil melajukan motornya dengan penuh senyum. Sebab sang istri memanggilnya dengan kata sayang.


Cukup lama Zanjiil melajukan motornya, hingga mereka berhenti di sebuah pintu masuk perumahan.


“Ngapian kita kesini?” Kissky bingung akan tujuan suaminya.


“Ikut saja!” Zanjiil pun kembali melajukan motornya. Membawa sang istri menyusuri perubahan yang bentuk dan ukurannya sama.


“Kau mau yang mana? Masih banyak yang kosong.”


“Maksud mu kita mau tinggal mandiri?” Kissky tak menyangka suaminya punya ide sebagus itu.


“Iya, kita akan lebih bahagia, kalau tinggal berdua,” ujar Zanjiil.


“Perasaan di rumah juga kita serasa berdua terus,” ungkap Kissky.


“Kau tak suka rumah kecil ya Huwl?!” Zanjiil memarahi istrinya.


“Bukan begitu, tapi apa di kasih izin sama papa dan mama?” Kissky takut jika mertuanya akan melarang.


“Tenang saja, pasti boleh kok, aku sih bisa saja beli rumah yang besar, tapi aku takut kau akan stres membersihkannya,” terang Zanjiil.


“Bukannya kita akan pakai jasa Art?”


“No no no! Aku mau, hanya kau dan aku.” ujar Zanjiil yang tak ingin ada orang lain selain mereka.


“Tapi akukan enggak bisa masak?” Kissky takut tak bisa menghidangkan apapun untuk suaminya.


“Karena itu, kau ku buat kursus memasak, sebulan pertama, kita beli makanan online, bulan kedua, kau wajib bisa pekerjaan rumah tangga,” terang Zanjiil.


“Kok malah maksa sih kesannya?”


“Huwl, aku ingin sekali membina rumah tangga dengan mu seperti pasangan pada umumnya.” Zanjiil yang ingin keluar dari rumah, berharap istrinya sependapat dengannya.


“Siap!!” Zanjiil sungguh bahagia, karena Kissky mau tinggal berdua dengannya.


Setelah itu Kissky dan Zanjiil menemui agen perumahan, dan mereka pun memilih rumah paling pojok, yang dekat dengan jalan utama dan memiliki tanah hook.


Setelah memberi uang muka, Kissky dan Zanjiil memutuskan untuk pulang.


“Kapak kita akan pindah?” tanya Kissky.


“Hari minggu.” ucap Zanjiil. Kemudian keduanya kembali ke rumah.


______________________________________


Basuki yang sedang berada di kantor memikirkan kembali tentang hubungannya dengan Pinkan.


Meski ia tak memiliki rasa pada istrinya tersebut, namun entah mengapa ia merasa tak rela, jika harus bercerai dengan wanita yang telah memberi ia 2 anak emas. Dan Berkat anak-anaknya ia menjadi semakin kaya raya.


Saat ia masih hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya.


Tok tok tok!


“Masuk!” ucap Basuki.


Ceklek!


Kemudian sekretaris cantiknya membuka pintu. “Permisi pak, ada paket untuk bapak.” sang sekretaris masuk ke dalam ruangan Basuki, dan meletakkan map berwarna putih di meja kerja atasannya.


“Baiklah, terimakasih banyak.” Basuki pun melihat nama si pengirim amplop.

__ADS_1


“Pinkan?” ia pun dapat menebak, apa yang ada dalam amplop putih tersebut.


Srettt!!


Saat ia membaca bagian tulisan paling atas dalam kertas putih yang ia pegang, mendadak Basuki merapatkan bibirnya.


“Ternyata kau serius.” yang paling membuat Basuki pilu, sang istri, telah menanda tangani isi surat tersebut.


Apa ini? Kenapa hatiku jadi terasa sakit? Apakah aku menyesal karena menyia-nyiakan dia? batin Basuki.


Basuki pun mengambil pulpen yang ada di saku jasnya.


Saat ia akan menggores tanda tangannya, ia kembali meragu.


“Tak bisa begini!” ia yang tak siap, dengan cepat mendial nomor Pinkan.


Halo 📲 Basuki.


Ada apa kau menelepon? 📲 Pinkan.


Dimana kau? Aku ingin bertemu. 📲 Basuki.


Aku lagi sibuk, kalau sudah tanda tangankan?serahkan saja ke kantor ku, nanti akan ku ambil. 📲 Pinkan


Pinkan! Ini penting, berikan alamat mu! 📲Basuki.


Lalu Pinkan yang tak ingin berdebat panjang pun memberi apa yang di inginkan Basuki.


Baiklah, datang saja ke jalan Kamboja nomor 5. 📲 Pinkan.


Oke, tunggu aku disitu, jangan pergi sebelum aku datang. 📲 Basuki.


Setelah sambungan telepon terputus, Basuki segera meluncur ke rumah baru Pinkan.


Setelah menempuh 1 jam perjalanan, ia pun tiba di sebuah perumahan mewah, yang memiliki 2 lantai.


“Apa kau tinggal bersama dengan kekasih mu?” Basuki sungguh tak terima, bila istrinya di sentuh orang lain.


Sesampainya ia di depan rumah Pinkan ia pun menekan bel rumah istrinya.


Ting tong!


Ceklek!


Pinkan membuka pintu dengan cepat. Wajah cantik Pinkan tanpa polesan make up membuat jantung Basuki bergetar.


Deg!


Kenapa, setelah ingin berpisah, dia malah kelihatan cantik? batin Basuki.


“Masuklah.” Pinkan mempersilahkan Basuki masuk ke dalam rumahnya.


“Terimakasih.” kemudian Basuki melihat area rumah Pinkan yang terlihat simpel namun elegan.


“Kau betah tinggal di rumah sekecil ini?” Basuki tak menyangka, istrinya bisa hidup sederhana.


“Mau apa kau kemari? Katakan, apa tujuan mu?” Pinkan yang tak berbasa-basi langsung ke intinya.


“Aku, tak ingin cerai dengan mu!” ternyata Basuki tak dapat berpisah dengan istri pertamanya.


“Hum!” Pinkan menyunggingkan bibirnya. “Aku masih ingat betul perlakuan tega mu pada ku, jadi ku rasa, aku tak ada alasan untuk tetap bersama mu.”

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2