Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 89 (Bringas)


__ADS_3

Toriq menelan salivanya, ancaman Joe membuatnya bungkam.


“Ayo, kalian semua! Cepat minta maaf pada Kissky dan Liza!” pekik Toriq.


“Kalau mereka berdua tak bersedia memaafkan kalian, aku akan menyeret kalian ke kantor polisi.” sikap tegas Joe membuat kelima siswi itu ketakutan.


Karena tak ingin berbuntut panjang, para siswi nakal itu pun berbaris rapi.


”Aku minta maaf karena telah berbuat tak pantas pada mu.” ucap siswi C.


Kissky yang masih dalam pelukan Zanjiil enggan untuk bicara.


“Kami tak memaafkan kalian!” Liza yang dendam mewakili Kissky untuk memberi keputusan.


Sontak ke 5 siswi itu menangis, mereka sangat takut apabila masuk penjara.


“Tolonglah... maafkan kami, hiks... kami rak akan mengulanginyaagi.” siswi D memohon dengan sangat, dan di ikuti oleh yang lainnya.


“Joe, jangan main polisilah, kau tahu ini sekolah elit, sedikit skandal maka akan di liput oleh media, kita damai saja.” Toriq mencoba bernegosiasi dengan Joe.


“Enggak bisa, keputusan ku sudah mutlak, kecuali bapak bisa menjamin ini takkan terulang untuk yang kedua kalinya.”


“Baik!” kelonggaran yang Joe beri langsung di setujui oleh Toriq.


Setelah membereskan kekacauan yang terjadi, Joe pun meninggalkan kerumunan yang disini siswa dan para guru.


Hanya karena kau putra donatur, kalau tidak, sudah ku drop out kau anak nakal! batin Toriq.


Toriq tak memandang Zanjiil ada, sebab ia tak tahu, jika Zanjiil adalah putra kandung Basuki. Dan Toriq salah mengira selama ini.


Zanjiil menatap lekat Joe yang membelah kerumunan.


Apa benar kau sesuka itu pada Kissky? batin Zanjiil.


“Ayo pulang, kita tak bisa belajar dengan keadaan kotor begini,” ucap Liza.


Zanjiil menganggukkan kepalanya. “Ky, ayo kita pulang.” ucapan Zanjiil membuat tanda tanya besar di hati Liza.


“Aku akan ikut mengantarnya pulang.” Liza yang masih bersalah pada Kissky, berniat ingin menemaninya sampai rumah.


“Aku saja Za, kau urus saja dirimu, percayakan Kissky pada ku,” ujar Zanjiil.


“Baiklah.”


Tanpa permisi pada Toriq dan yang lainnya, ketiganya pun pulang ke rumah masing-masing .


Kissky yang berada dalam mobil bersama Zanjiil tak hentinya meneteskan air mata.

__ADS_1


“Sudah, jangan menangis lagi, semua sudah berlalu, kuatkan dirimu Ky.” Zanjiil kembali memeluk Kissky yang duduk di sebelahnya.


“Mereka tega benget pada ku, pada hal apapun status ku, aku tak merugikan mereka, hiks...” Kissky merasa hidupnya tak pernah beranjak dari kemalangan.


“Sabar, mereka memang tak punya otak!” Zanjiil menghela nafas panjang. Ia amat geram pada para pembenci istrinya.


“Apa perlu saya bereskan tuan muda?” Dimas berniat untuk mengambil alih situasi.


“Tidak usah pak, mereka hanya anak-anak nakal biasa!” ujar Zanjiil.


“Apa tuan muda yakin?” ucap Dimas memastikan, karena dalam hatinya juga tak terima nyonya Rabbani di sakiti.


“Ya, karena pastinya mereka akan kapok!” Dimas mengangguk paham pad apa yang di katakan majikannya.


Sesampainya di pintu utama, Kissky dan Zanjiil keluar dari dalam mobil. Para Art dan pekerja lainnya tercengang ketika melihat kondisi Kissky.


“Aku lewat belakang saja.” ucap Kissky, karena ia merasa tak enak jika mengganggu penciuman orang lain.


“Dari sini saja.” Zanjiil merangkul Kissky untuk masuk ke dalam rumah.


Ku pikir Zanjiil akan jijik pada ku, apa lagi bau tubuh ku sangat amis, batin Kissky.


Lula yang ada di ruang tamu pun mencium aroma tak sedap yang membuatnya ingin muntah.


Kok tiba-tiba bau sih? batin Lula.


”Siapa yang berani melakukan itu pada kak Kissky?!” Lula jadi heboh sendiri. Karena dalam sejarah keluarganya, baru Kissky orang pertama mendapat perlakuan tak enak.


Zanjiil pun melihat ke arah adiknya yang mendekat pada mereka.


“Lula! Kau bolos?”


“Bicara apa sih kau? Hah! Dasar laki-laki enggak berguna! Bisa-bisanya kau kecolongan? Ini istri mu bang!!” sebelum Zanjiil marah, Lula terlebih dahulu membentak abangnya.


Zanjiil yang merasa bersalah karena tak dapat melindungi Kissky tak dapat menjawab perkataan Lula.


Yes! Untung aku punya alasan untuk marah, kalau tidak, bisa kena marah balik aku, batin Lula.


“Awas kau!” Lula menyingkirkan tangan Zanjiil dari bahu Kissky.


“Ayo kak, ku temani kau ke kamar mu.”


Zanjiil yang berjalan di belakang keduanya mendapat amukan kembali dari Lula.


“Sana kau! Jangan ikuti kami! Kalau enggak bisa berbuat apa-apa, lebih baik kau ke dapur buat iris bawang” pekik Lula.


“La, jangan marahi Zanjiil, dia sudah berbuat banyak pada ku.” Kissky sungguh tak tega suaminya di perlakukan kasar oleh Lula.

__ADS_1


“Maaf kak, aku enggak sengaja.” Lula pun mengakhiri dramanya. Selanjutnya mereka menuju kamar Kissky.


Sesampainya di depan kamar Kissky, Lula dan Kissky pun masuk ke dalam kamar, sedang Zanjiil menuju kamarnya.


“Ayo, kakak mandi dulu, nanti kita cerita.”


“Oke.” setelah Kissky masuk ke kamar mandi. Lula pun beranjak ke kamar abangnya.


Tanpa permisi, Lula menerobos masuk, Zanjiil yang sedang bertelanjang dada memelototi adiknya.


“Lula, kau lihat aku sedang apa?!” Zanjiil tak suka dengan cara Lula yang masuk tanpa permisi.


“Kau gimana sih bang? Kalau papa dan mama lihat lukanya bagaimana? Dan kenapa bisa kecolongan sih?”


“Itu karena fitnah yang di lakukan Riza, dan wanita itu juga menyebar dokumen adopsi Kissky.” terang Zanjiil.


“Apa? Kak Kissky anak adopsi?” Lula yang baru tahu merasa tercengang.


“Ya, itu alasan, kenapa papa menjodohkan ku dengannya. Dan Riza itu adalah teman satu pantinya,” terang Zanjiil.


”Kak Kissky jadi target bully wanita itu?!”


“Ya.” jawab Zanjiil.


“Apa si kepala sekolah Toriq tak tahu siapa abang dan kak Kissky?” tanya Lula.


“Yang mengurus pendaftaran ku dan Kissky saat itukan utusan mama, waktu kunjungan orang tua juga belum ada, paling papa dan mama akan mengenalkan ku dan Kissky saat nanti,” terang Zanjiil.


“Katakan pada ku, siapa saja yang menggangu kak Kissky, mereka semua akan ku mutasi!”


“Kau gila? Kalau kau melakukannya, sama dengan menghancurkan kita semua, karena sudah jelas tuduhan mengarah ke kita, kalau membunuh mereka menghasilkan uang enggak masalah, kalau hanya masalah, lebih baik lupakan! Aku akan bicara pada ayah, untuk berhentu jadi donatur disana, kalau masih ada yang mengganggu Kissky.”


Lula menganggukkan kepalanya. “Baiklah, tapi... si Riza itu bagaimana?” tanya Lula penasaran.


“Sudah ku beri kenang-kenangan,” ungkap Zanjiil.


“Baguslaj kalau begitu!” ucap Lula.


“Apa sekarang kau bisa keluar dari kamar ku? Aku mau mandi, sekali lagi kau masuk tanpa sopan santun, ku lempar kau ke luar! Aku diam karena kau adik ku, Lula!” pekik Zanjiil, ia merasa kesal karena selalu tak di hargai adiknya.


“Biasa saja bang! Jangan marah-marah! Nanti cepat keriput!” Lula meledek abangnya.


Bam! Lula keluar seraya membanting pintu kamar abangnya dengan kasar.


“Ck! Anak itu, lama-lama bikin aku khilafah juga, kalau dia orang lain, sudah ku rendam dengan air garam.”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2