
“Zanjiil, kau buat masalah apa, sehingga para polisi itu bisa menginjakkan kaki di rumah kita?!” pekik Basuki.
Dengan terpaksa Zanjiil pun menceritakan kronologi kejadian yang terjadi.
Plak!!
“Hah!” Kissky yang berada tak jauh dari pintu utama melihat Basuki menampar Zanjiil.
Apa yang terjadi? batin Kissky.
Ia yang ingin mendekat untuk mencari informasi secara diam-diam pun di hentikan oleh Lula yang berdiri di belakangnya.
“Jangan kesana kak, biarkan bang Zanjiil menyelesaikan masalah yang ia buat,” ucap Lula.
“Tapi...” meski Zanjiil telah menyakitinya, namun ia tetap kasihan pada suami egoisnya itu.
“Ayo, lebih baik kita ke ruang seni, banyak yang bisa di kerjakan disana.” Lula pun menarik tangan Kissky untuk menjauh dari sana.
“Apa kau sadar dengan yang kau lakukan? Pertama kau main hati, yang kedua! Kau bisa membahayakan keluarga kita! Harusnya kau enggak usah jujur, ini malah kau katakan bertemu dengannya pada orang tua si Luna! Kau pikir semua akan beres begitu saja? Bagaimana kalau perempuan itu belum di temukan? Kau bisa jadi bahan pengawasan polisi! Zanjiil... Zanjiil! Sudah sering di ingatkan, jangan pernah buat masalah! Otak mu kau taruh dimana? Hah?!” Basuki marah besar pada Zanjiil saat itu, pasalnya ia takut jika perusahaan yang mereka kelola di selidiki oleh kepolisian, karena selain bisnis legal, mereka juga melakukan bisnis ilegal yang tidak di terima oleh masyarakat dan negara.
“Maaf yah, aku salah.” Zanjiil sangat menyesal akan langkah gegabah yang ia lakukan.
“Kau memang salah! Menurut mu untuk apa kau ku nikahkan dengan Kissky? Itu karena dia hanya anak angkat, tidak akan membuat masalah untuk kita ke depannya, dan... ayahnya yang sekarang, setuju untuk bekerja sama dengan segala bisnis ilegal yang kita lakukan! Kau paham!”
Zanjiil tersentak ketika mengetahui status istrinya yang hanya anak angakat keluarga Huwl.
“Zanjiil... Zanjiil.” Basuki yang emosi ingin sekali menjahit mulut anaknya, agar tak sembarangan berucap lagi.
Ketika Basuki ingin menyerang Zanjiil, Pinkan menghentikannya.
“Ada apa ini? Kenapa papa mau menampar Zanjiil?” ucap Pinkan penuh selidik.
__ADS_1
“Tanya saja padanya! Zanjiil, temui papa di ruang kerja, papa akan beri perhitungan pada mu.” Sebelum memberi nasehat panjang lebar pada putranya, Basuki yang merasa gerah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
“Zanjiil, bisa kau jelaskan pada mama?” Zanjiil pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Pinkan.
Plak!
“Anak setan! Kau masih bau kencur! Kalau sampai bisnis kita di ketahui oleh polisi, habis kau mama buat, huh! Karena mu, keluarga ini harus repot, pada hal mama dan papa lagi sibuk-sibuknya! Temui papa dan mama 30 menit lagi di ruang kerja, paham kau!” Pinkan sangat kecewa pada putranya yang bersikap teledor.
Zanjiil menelan salivanya, nasehat yang selalu kedua orang tuanya sampaikan selama ini dia abaikan begitu saja.
Semoga saja, para polisi itu tidak menyelidiki ku lebih lanjut, Akh! sial, malah aku bawa-bawa perusahaan lagi, batin Zanjiil.
Karena masih ada waktu 30 menit sebelum dapat perhitungan dari Pinkan dan Basuki, Zanjiil memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Sesampainya ia di lantai dua, ia berpapasan dengan Kissky yang akan menuju lift.
“Zanjiil...” Kissky memanggilnya.
“Kenapa bibir mu berdarah?” Kissky yang khawatir menuntun Zanjiil untuk duduk di kursi panjang yang ada di dekat tangga.
Kemudian Kissky membersihkan darah yang ada di sudut bibir suaminya dengan jemarinya.
Zanjiil yang baru tahu kalau bibirnya berdarah merasa malu pada istrinya.
“Apa kau emggak ingin tanya aku kenapa?”
“Itu bukan urusan ku.” Kissky yang tak ingin merusak kepercayaan diri suaminya memilih terlihat acuh.
Zanjiil yang menyesal atas semua kesalahannya pun menyandarkan dagunya di bahu Kissky.
“Maaf, aku bodoh.” ucap Zanjiil.
__ADS_1
“Zanjiil...” Kissky yang tak nyaman ingin segera melepas kepala Zanjiil darinya.
Namun Zanjiil yang butuh teman memeluk tubuh Kissky.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mungkin papa mertua yang melukainya? Tapi kenapa? Apa yang telah kau perbuat Zanjiil? batin Kissky.
Sejujurnya ia ingin menanyakan banyak hal pada suaminya, namun Kissky memilih diam.
Setelah merasa tenang, Zanjiil bangkit dari bahu Kissky.
“Terimakasih karena sudah ada untuk ku.” Zanjiil pun beranjak dari bangku, lalu pergi menuju kamarnya.
“Kenapa hatiku terasa sakit, melihat dia terluka dan tak bersemangat?” Kissky yang tak punya kegiatan saat itu, memutuskan untuk tetap duduk di kursi, berharap jika Zanjiil akan datang lagi padanya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Zanjiil muncul, Kissky yang mengira suaminya akan duduk bersamanya lagi merasa senang.
Aku akan menghiburnya, batin Kissky.
Namun sayang, Zanjiil justru berjalan lurus menuju tangga.
“Tidurlah Huwl, hari sudah malam, jangan lupa sikat gigi dan cuci muka terlebih dahulu,” ucap Zanjiil.
“Lalu, kau sendiri bagaimana?” tanya Kissky.
“Aku mau menemui mana dan papa.” setelah itu Zanjiil menuruni anak tangga untuk mencapai lantai satu.
...Bersambung......
__ADS_1