
Kabar duka dari sang nenek membuat Kissky menjadi tambah sedih.
Pantas, Zanjiil mau kami pindah rumah, batin Kissky.
“Sudahlah sayang, untuk apa marah pada orang yang tak bersalah, hemat tenaga mu nantikan kau mau melempar barang-barang ke wajah Basuki,” ucap Musa.
Sontak Kissky menoleh ke arah Musa yang berbicara dengan santai.
Lalu Pinkan yang telah di telepon terlebih dahulu datang ke rumah suaminya.
Melihat sang ibu kembali, Zanjiil, Lula dan Kissky merasa senang.
Ketiganya pun memeluk Pinkan dengan erat. “Mama jangan pergi lagi ya, kalau ada yang harus pergi, biarkan saja papa,” ucap Lula.
“Ma, apapun masalahnya jangan pergi, aku tak rela jika wanita itu menginjakkan kaki di rumah kita.” sambung Zanjiil.
“Apa-apaan sih kalian? Berhenti memeluk ku!” Pinkan pun melepaskan diri dari anak-anaknya.
Setelah itu, dia menjabat tangan ibu dan ayah mertuanya.
“Apa kabar mama dan papa?” sapa Pinkan dengan sopan.
“Kami kurang sehat!” jawab Berli dengan wajah kecut.
“Apa sudah berobat ma?” tanya Pinkan.
“Kalian bertiga, masuk ke kamar kalian masing-masing, karena ini bukan urusan anak- lagi.” ucap Berli sebelum menjawab pertanyaan menantunya. Ketiganya pun melihat satu sama lain.
“Kita juga ingin tahu nek, inikan masalah orang tua kita,” ucap Zanjiil.
”Tidak bisa, pergi kalian!” pekik Berli.
“Sudah-sudah... dengarkan apa kata nenek kalian anak-anak.” Musa pun mendukung ucapan istrinya.
Karena sang kakek langsung yang meminta, maka Kissky, Zanjiil dan Lula pun pergi menuju kamar masing-masing.
__ADS_1
Lula yang kamarnya di ruang tamu tak masalah jika ia harus pergi ke kamarnya. Karena dari sana pun ia bisa mendengar dan memantau pergerakan orang tua dan kakek neneknya.
Saat Lula telah sampai ke kamarnya, ia pun buru-buru untuk membuka cctv.
Namun sayang, saat ia telah terkoneksi dengan cctv-nya, para orang tua yang ingin ia tahu obrolannya, malah pindah tempat.
“Hum, pasti ulah nenek nih, dasar, pada hal aku penasaran habis!” Lula merasa kecewa karena tak dapat mengetahui apa yang akan di bicarakan kakek neneknya pada kedua orang tuanya.
🏵️
Sesampainya Pinkan dan kedua mertuanya di ruang kerja suaminya, Berli mulai mencerca Pinkan dengan banyak pertanyaan.
“Apa yang kau pikirkan Pinkan? Kenapa malah minta cerai dari Basuki? Kau tak memikirkan masa depan anak-anak mu ya? Kenapa kau memutuskan segalanya dengan gamblang? Kau tahukan, kalau di keluarga kita tak ada kata cerai? Kenapa kau melupakan itu Pinkan?” Berli begitu kecewa dan marah pada putra dan menantunya.
“Apa aku harus bertahan, dan menerima perlakuan tak adilnya?” Pinkan emosi saat mengingat yang telah Lalu.
“Hanya karena itu? Kan dari dulu sudah ku bilang pada mu, habisi wanita itu, tapi kau malah memberinya kesempatan untuk hidup, bukankah itu salah mu sendiri?” Berli tak menerima alasan apapun, jika itu tujuannya untuk berpisah.
“Waktu itu, ku pikir semua sudah aman, karena Basuki telah menceraikannya,” ujar Pinkan.
”Aku juga baru tahu kalau mereka ternyata masih bersama, aku juga ingin melakukannya, tapi... melihat cinta anak mama yang teramat dalam padanya, aku pun mengurungkan niat ku, karena, meski pun ia mati, aku tetap tak bisa mengganti posisinya di hati anak mama, karena Basuki tak pernah mencintai ku katanya. Jadi untuk apa mengotori tangan ku, kalau pada akhirnya, aku tetap tak ada di hatinya?”
terang Pinkan.
“Apa? Jadi dia berkata begitu pada mu?” Musa pun naik pitam, ia merasa anaknya tak bertanggung jawab dan tak perasaan pada Pinkan.
“Ya begitulah pa, jadi ku mohon, biarkan kami berpisah,” Pinkan tetap memilih untuk bercerai.
“Bicara apa sih kau Pinkan, pikirkan masa depan cucu ku, kau berbuat begini sama dengan menghancurkan masa depan mereka!” Berli tetap tak ingin jika Pinkan dan Basuki berpisah.
“Aku tak sanggup, tolong ma, jangan memaksakan keadaan.” ujar Pinkan yang sudah merasa lelah mencintai orang yang tak pernah mencintainya. Kemudian Pinkan menyerahkan ibu mertuanya, photo-photo Basuki dan Esra waktu di London.
Ceklek!
Suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengalihkan fokus ketiganya.
__ADS_1
“Mama dan papa disini?” sapa Basuki yang baru pulang kerja.
“Tak usah kau beramah tamah pada kami anak kurang ajar!” pekik Berli.
“Kesini kau! Basuki!” hardik Musa.
Sontak Basuki menelan salivanya, ia tahu kalau kedua orang tuanya akan memberinya perhitungan, meski ia mafia, namun seperti istilah yang marak di masyarakat, di atas langit, masih ada langit.
Kemudian Basuki pun duduk di sebelah Pinkan.
“Apa ini?!” Berli melempar photo-photo mesra Basuki dan Esra ke lantai.
“Kau ternyata belum waras dan sadarkan diri ya? Mama pikir, masa lalu mu yang dulu sudah cukup untuk memberi mu pelajaran! Tapi apa? Apa semua ini Basuki?!! Kau mengulanginya lagi? Otak mu kau taruh dimana?” Berli yang emosi melempar handphonenya ke kepala Basuki, beruntungnya bos mafia itu dapat menghindar dengan cepat.
“Kau tahukan Basuki, Tak boleh ada yang cerai di keluarga kita?” ucap Musa.
“Aku tahu pa, tapi, ini semua permintaan Pinkan,” ujar Basuki.
“Siapa saja pasti minta pisah, kalau di selingkuhi Basuki!!” teriak Berli.
“Begini saja Ki, papa enggak mau bicara panjang lebar, kau boleh bersama wanita itu, asal kau tinggalkan semua apa yang telah kau miliki sekarang.”
Duar!! Keputusan Musa membuat Basuki syok.
“Kau bisa bersama Pinkan lagi, dan memiliki segalanya, kalau kau telah menghabisi nyawa istri kedua mu itu. Jika kau tak mampu memilih salah satu, menyingkir dari keluarga ini, karena papa tak pernah menerima pengkhianat, jika itu orang lain, pasti sudah papa bunuh, tapi karena kau anak papa. Papa kasih keringanan, pergilah dengan wanita itu, tapi jangan bawa apapun, perusahaan sudah ada sebelum papa lahir, itu artinya, tanpa mu pun, perusahaan akan tetap berjalan. Dan kau Pinkan, jangan tinggalkan rumah, kalau ada yang harus pergi, itu hanya Basuki. Kita lihat saja, sampai dimana cinta keduanya tanpa harta papa.”
Keputusan Musa membuat Basuki sesak nafas, karena ia tahu betul, Esra suka uang dan barang mewah, jadi sudah jelas hubungan mereka terancam apabila ia tak punya apapun.
“Mama setuju dengan papa, pergilah nak, mulai kehidupan baru mu dengan istri yang sangat kau cintai itu, tak apa-apa mama dan papa sudah ikhlas.” Restu yang di beri oleh Berli membuat Basuki makin tak tenang.
Mati kau! Akhirnya semua menjadi milik ku, pergilah dengan wanita busuk itu! batin Pinkan.
“Sudah, tak ada lagi yang ingin kami bicarakan pada mu, kau bisa pergi, jangan bawa apapun kecuali baju yang ada di tubuh mu, tinggalkan tas mu, bawa 1 atm saja, selain itu, jangan berani mengambil apapun, karena kau sudah bukan anggota keluarga ini lagi.” ucap Musa dengan tegas.
...Bersambung... ...
__ADS_1