Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 79 (Fitnah)


__ADS_3

“Biarkan aku ke kantin sebentar pak, aku tak istirihat juga karena teman-teman!” ucap Lula.


“Silahkan pergi, tapi setelah itu kau wajib menyerahkan hukuman yang ku beri pada mu paling lambat besok pagi, pada jam pertama pelajaran ku, kalau kau melanggar, maka aku akan mengirim surat panggilan pada orang tua mu, ku rasa kau tak mau itu terjadi kan?” ancaman yang di berikan Faiq membuat Lula menelan salivanya.


“Baiklah!” Lula tersenyum seraya menahan kesal pada sang guru.


Saat ia balik kanan, ia pun menunjukkan kepalan tangannya pada semua orang yang membuatnya gagal mengisi perutnya yang keroncongan.


Awas kalian semua! batin Lula.


Faiq yang melihat kelakuan Lula geleng-geleng kepala.


Dasar anak nakal! batin Faiq.


“Semuanya, duduk di bangku kalian masing-masing! Pelajaran akan segera di mulai!” titah Faiq.


Lula menatap lekat wajah sang guru yang begitu menyebalkan baginya.


Masa kejayaan mu akan segera berakhir ku buat pak Faiq. batin Lula.


Lula yang banyak akal berniat balas dendam pada gurunya.


_____________________________________


Di ruang praktik seni, kelas XA di berikan tugas untuk membuat seni rupa murni berupa topeng


kayu, alat-alat yabg di perlukan setiap siswa pun telah di sediakan, berupa gergaji potong, bor, pahat, kapak dan amplas. Bahan lain yang di butuhkan adalah kayu, kuas, lem, pensil dan cat warna.


Setiap siswa mengerjakan tugas yang di berikan oleh Riza dengan serius.


“Untuk motif topeng bebas ya, boleh topeng kebudayaan atau wajah kekasih kalian!” ujar Riza.


“Aku buat wajah ibu saja kalau begitu!” ucap Rizal yang berada di sudut ruang praktik.


“Terserah, tapi kalau menurut ibu jelek, siap-siap dapat nilai nol!” pekik Riza.


Sontak Rizal menelan salivanya, “Ya sudah, lebih baik aku gambar wajah Kissky saja!” ucapnya dengan sembarang.


Sontak Zanjiil memelototi Rizal, “Buat gambar si Covit saja!” pekik Zanjiil.


“Memangnya kenapa?” Rizal merasa aneh dengan sikap Zanjiil yang seolah bagai pacar Kissky.


Riza yang mendengar cekcok antara dua siswanya memperebutkan Kissky merasa gerah.

__ADS_1


Sebaiknya, aku kasih dia pelajaran, batin Riza.


Ia pun meninggalkan ruang praktik menuju kelas XA.


Untung aku sudah putar CCTV ke arah sudut kelas, jadi... aku bisa bebas untuk mengerjainya. batin Riza.


Riza yang ingin membuat hidup Kissky susah, membuka satu persatu tas siswa dan siswinya untuk mencari sesuatu yang berharga.


“Nah! Ini dia!” Ia pun menemukan cincin berlian di tas Coronia.


“Di lihat dari model dan bahannya, pasti ini harganya mahal!” Riza yang licik meletakkan cincin berlian tersebut ke dalam loker Kissky yang berada dalam kelas.


“Beres! Setelah ini gempar, maka aku akan buat gosip tentang statusnya yang hanya anak angkat dari keluarga Huwl. Bisa apa dia, kalau anak-anak sekolah kurang akhlak Tunas bangsa menjadikannya bahan cibiran, bahkan mungkin takkan ada yang mau berteman dengannya, hehehe!” Di rasa sudah cukup untuk hari itu, Riza pun kembali lagi ke ruang praktik.


“Bagaimana anak-anak! Apa sudah selesai?? Waktu tinggal sedikit lagi! Ayo-ayo!” Riza mendesak para siswa siswinya agar segera menyelesaikan pekerjaannya.


“Sebentar bu!” para siswa menjadi heboh, ada yang belum mencat, ada yang masih memahat bagian yang kurang sempurna.


“Hei-hei! Ini sudah 5 jam! Sebentar lagi mau pulang! Ibu enggak mau sampai rumah terlalu malam!”


Liza yang duduk satu meja dengan Kissky pun mengeluarkan keluhannya.


“Bu Riza makin galak saja, sudah kelihatan tabiatnya, awalnya saja yang baik.”


“Kau tak boleh begitu Za, lagi pula benar yang bu Riza katakan, kita sudah 5 jam di ruangan ini, harusnya sudah selesai.” ucap Kissky seraya terus mencat topeng kucing miliknya.


“Astaga... kau ini!” Kissky yang terus fokus dengan pekerjaannya akhirnya menyelesaikan dengan tepat waktu.


Sedang Liza yang terus mengoceh hanya bisa mewarnai hidung topeng monyetnya.


Tet... tet.. tet..


Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, banyak yang mengeluh atas waktu yang terlalu singkat menurut para siswa.


“Ya Tuhan, bisa dapat nilai kurang nih dari bu Riza.” meski banyak keluhan, tapi Liza tetap mengumpul karya seninya.


Setelah itu, para siswa dan siswi kembali ke kelas.


Coronia yang ada kencan hari itu berniat untuk memakai cincin berliannya. Ia pun mencari-cari keberadaan perhiasan mahalnya tersebut.


“Hum? Kok enggak ada? Perasaan tadi aku taruh di dalam tas ku.” ia pun mulai panik, pasalnya cincin berlian tersebut adalah milik kakaknya.


Riza yang ada di kelas untuk mengambil tasnya pun melihat Coronia yang resah tak menentu.

__ADS_1


“Ada Cor? Apa semua baik-baik saja?” tanya Riza.


“Ini bu...” Riza ragu untuk jujur atau tidak.


“Katakanlah!” ucap Riza.


“Cincin berlian ku hilang bu.” pernyataan Coronia membuat anggota kelas menoleh padanya.


“Kau yakin membawanya ke sekolah? Ingat-ingat dulu, mana tahu tinggal di rumah,” ujar Riza.


“Saya yakin bu, karena Covitria juga melihat ku memakainya tadi pagi bu!”


“Benar bu, saya lihat Coronia memakainya tadi pagi.” kesaksian akurat dari Covitra membuat Riza girang bukan main.


“Gila! Pada hal ini sekolah, untuk apa bawa barang mewah!” Liza merasa geli pada Coronia yang terlihat kolot di matanya.


“Kau benar! Enggak seharusnya pelajar membawa barang mewah,” ucap Kissky.


“Semuanya, tak ada satu orang pun yang boleh keluar dari ruangan ini.” semua orang mengeluh atas perintah Riza.


“Bikin kerjaan saja si Coronia!” pekik Tono yang duduk di sebelah Rizal.


“Kau benar!” sambung Rizal. Sebab ia yang ingin ke rumah neneknya harus tertunda karena masalah sepele yang Coronia timbulkan.


“Ayo! Taruh tas kalian masing-masing di atas meja.” semua orang meletakan tasnya sesuai yang di perintahkan Riza.


“Agar lebih cepat, ibu minta bantuan kalian untuk menggeledah. Gibran, Rizal, Ayu dan Covitria! Kalian periksa tas teman-teman kalian, sesuai barisan kalian duduk, setelah selesai, kalian lanjut ke loker! Mengerti?!”


Dengan perasaan malas, Gibran pun melakukan perintah gurunya.


Ke empat siswa yang di utus Riza melaksanakan tugasnya masing-masing. Dan pada bagian tas, semua siswa dan siswi lolos.


Pada saat mereka beranjak ke loker, Covitria yang membuka loker Kissky membelalak tak percaya.


“Aku dapat!” suara menggelegar dari Covitria membuat semua orang berkerumun padanya.


Covitria pun mengangkat tinggi-tinggi cincin berlian milik Coronia.


“Aku menemukannya di loker Kissky!”


Pengakuan dari Covitria membuat Kissky tersentak, tak terkecuali, Liza dan Gibran.


Mereka sama-sama tak percaya dengan apa yang di katakan Covitria.

__ADS_1


Anggota kelas lainnya menatap sinis pada Kissky yang terlihat seperti anak orang kaya tapi ternyata adalah maling.


...Bersambung......


__ADS_2