
Lula yang telah kembali ke kamar Kissky duduk tenang di atas ranjang kakak iparnya.
Cukup lama ia menunggu, hingga Kissky keluar dari kamar mandi dengan mata yang bengkak.
Akhirnya, setelah 2 jam seperti orang bodoh, kak Kissky keluar juga, batin Lula. Ia pun memberi senyuman pada kakak iparnya.
Lula pun masih sabat menunggu, hingga Kissky selesai berpakaian, setelah itu Lula mengajak bicara kakaknya.
“Kita duduk di sofa yuk kak.” Lula menuntun Kissky untuk mengambil tempat duduk ternyaman di kamar kakak iparnya.
Kissky pun mengikuti permintaan Lula. Setelah keduanya telah mendaratkan bokong masing-masing di atas sofa, Lula mulai bicara.
“Bagaimana perasaan mu sekarang kak?” ucapnya seraya menggenggam tangan Kissky yang sangat dingin.
“Aku baik.” jawab Kissky dengan suara bergetar.
“Aku tahu, rasanya jadi kaka. Anak-anak tunas bangsa itu memang sangat rasis pada siswa yang masuk jalur beasiswa, kalangan menengah ke bawah, dan... yang seperti dirimu kak, makanya aku jijik banget sekolah disana, takut khilaf dengan kelakuan primitif anak didiknya.” terang Lula.
Aku juga takut membunuh mereka satu persatu, batin Lula.
“Kalau kau sudah jelas alasannya karena malas belajar disana, dan juga dekat dari rumah, kau takut mama dan papa mengontrol mu yang suka bolos!” ucap Zanjiil.
Keduanya melihat ke arah Zanjiil yang telah rapi dan wangi, lelaki tampan itu ternyata datang membawa nasi dan juga teh manis hangat di atas nampan.
Kemudian Zanjiil duduk di sofa yang ada di sebelah Kissky.
“Makan dulu, kau pasti lapar,” ucap Zanjiil.
“Terimakasih banyak, tapi La, sejak kapan kau tahu mengenai diriku sebenarnya?” Kissky tak menyangka keluarga Rabbani tahu tentangnya.
Lula yang baru tahu saat itu pun memilih berbohong.
“Sudah lama, lagi pula enggak ada yang salah dengan itu kak, karena kami melihat hatimu yang tulus, dan juga sifat mu yang berbudi luhur.”
Zanjiil hampir terkikik mendengar pujian adiknya yang berlebihan.
“Pfff... sudahlah, bicaranya nanti saja, Ky makan dulu ya.” Zanjiil mengarahkan sendok berisi nasi pada Kissky.
Lalu, Kissky pun membuka mulutnya, dan menerima suapan yang di beri oleh Zanjiil.
__ADS_1
“Terimakasih banyak, aku beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Rabbani,” ucap Kissky.
“Aku juga senang menjadi adik ipar mu kak.”
Saat Zanjiil ingin kembali menyuap Kissky, Lula mengarahkan tangan Zanjiil yang memegang sendok ke mulutnya.
Nyam!
“Lula! Kalau lapar ambil sendiri, atau suruh Art, enggak sopan banget kau! Makan dari sendok kakak ipar mu.” Zanjiil marah, saat momen romantisnya dengan sang istri berkurang satu suap.
Pelit banget kau bang! Sudah lama kau tak menyuapi ku makan, pada hal waktu kecilkan kau biasa melakukannya!” pekik Lula.
Pertengkaran dua bersaudara itu membuat Kissky merasa terhibur. Meski keduanya saling menyambar satu sama lain, di mata Kissky itu menggambarkan keakuran bersaudara.
Apa aku juga punya saudara? Andaikan ibu kandung ku tak membuang ku, mungkin... aku akan bahagia, batin Kissky.
“Zanjiil, kau tak boleh begitu pada Lula, suap kami berdua, lagi pula kami 2 orang penting dalam hidup mu kan?” ujar Kissky.
“Tuh! Dengar apa kata kak Kissky! Abang harus sadar diri, hanya aku adik yang akan menyayangi mu dan mendukung mu, dan kemana pun kau cari, takkan ada adik yang seperti ku di dunia ini!” terang Lula.
“Heeh! Harusnya kau jangan membelanya Ky, nanti dia makin percaya diri mem-bully ku!” terang Zanjiil.
Zanjiil pun mengangkat sebelah alisnya, karena istrinya sudah meminta, ia pun tak bisa menolak.
Ia yang gagah dan seorang pembunuh bayaran harus kalah dengan wanita tak berdaya seperti Kissky, di tambah dengan sang adik yang sangat cerewet dan juga banyak akal.
Baiklah, Ini semua demi cinta, batin Zanjiil.
“Kak, kalau di Tunas bangsa kau tak boleh bersikap lemah lembut, nanti bisa jadi target bully, kalau orang lain keras kau harus lebih keras, istilahnya begini kak, kalau orang melempar mu dengan batu, balas dengan bom!” Lula mengajari Kissky untuk menjadi bringas.
“Hei-hei! Jangan ajari Kissky yang tidak-tidak, cukup kau saja yang begitu!” Zanjiil sungguh tak ingin, jika istrinya menjadi sepertinya atau keluarganya. Zanjiil yang biasa bertumpah darah menginginkan istri normal, yaitu lemah lembut, manja dan suka menangis, sebab di keluarganya tak ada yang berlinang air mata selain bergenang darah.
“Ini demi keselamatan kakak juga, kau kan enggak bisa menjaganya dengan benar bang!”
Zanjiil memutar mata malas, pasalnya sang adik selalu memojokkannya.
Ia yang tak akan menang berdebat dengan Lula memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, yaitu menyuap istri dan adiknya.
Sore harinya, Pinkan yang baru pulang dari kantor mencari Lula ke kamarnya.
__ADS_1
Tok! Tok tok!
“Lula, ini mama, sedang apa kau di dalam? Bukan pintunya.”
Lula yang mendengar suara ibunya semakin deg degan, pasalnya ia salah karena bolos dari sekolah.
Lula dengan langkah ragu mendekat ke pintu, aduh, habis deh aku kali ini, batin Lula.
Retek! Kriettt!!!
Lula yang membuka pintu kamarnya seketika tersentak, sebab Pinkan telah berdiri tegap seraya berkacak pinggang di hadapannya.
“Mama... hehehe...” Lula tertawa kaku.
“Mama! Mama kau bilang! Di sekolah yang sekarang, sudah berapa kali kau bolos? Katakan anak nakal!” Pinkan pun menjewer telinga putri bungsunya.
“Ampun ma, aku enggak bolos, aku cuma pusing, badan ku sakit semua, makanya aku pulang!” ucap Lula dengan sungguh-sungguh, sebab ia memang merasakan itu karena memikirkan perbuatan ibunya.
“Lula, kau pikir mama bodoh? Kalau kau belum jujur, mama akan mengembalikan mu ke Tunas Bangsa, agar langkah mu terjangkau! Kau ke sekolah asrama itu karena ingin menghindari pekerjaan dari mama dan papa kan? Kau ingin bebas makanya memilih sekolah tertutup dan memiliki asrama, mama tahu isi kepala mu ini Lula!” Pinkan menekan-nekan kening putrinya.
“Mama membiarkan mu, karena kau perempuan, ku beri kelonggaran sedikit, meski IQ mu tinggi, itu bukan alasan kau tak mau mengikuti pelajaran di sekolah mu, dekat saja kau berandal, apa lagi sekolah ke luar negeri!”
Nyuutt!! Pinkan memelintir perut rata Lula, Hera yang melihat hal tersebut dari sofa yang ada di ruang tamu tertawa cekikikan.
Sedang Lula yang melihat Hera meledeknya, memberi ancaman dengan memelototi Artnya yang kurang waras tersebut.
“Heh! Untuk apa mata mu begitu padanya? Kau takkan bisa melawannya, kalau mama mengizinkannya untuk adu otot dengan mu, hargai dia, karena dia yang akan mengajari mu Kyokushin.” Pinkan memarahi putrinya.
Lula memutar mata malas, “Iya ma, aku tahu.” ucapnya.
“Jangan kau pikir masalah ini akan berakhir sampai disini, mama akan selidiki, bagaimana kau di sekolah.” Pinkan yang lelah memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Setelah ibunya pergi, Lula pun mendekati Hera yang masih berdiri di dekat sofa.
“Sialan kau! Gara-gara mu aku kena marah! Sekali lagi kau tertawa tak jelas pada ku, ku colok mata mu!” pekik Lula.
“Xixixixi,” bukannya takut, Hera justru semakin tertawa lepas.
...Bersambung......
__ADS_1