Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 106 (Berpisah)


__ADS_3

“Mama... papa hanya...”


“Hanya apa pa? Katakan dengan jelas!” pekik July.


“Maaf papa khilaf, dan... papa ingin punya anak ma.” kejujuran dari Ahmad membuat hati July hancur berkeping-keping.


“Kau ingin anak? Ah hahaha...” July bertepuk tangan. “Apa ini? Bukankah dulu kau katakan tak punya pun tak apa-apa? Putri ku pergi juga karena mu!” July menunjuk tajam ke wajah suaminya.


“Itu kecelakaan ma, mana mungkin papa ingin itu terjadi.”


“Mana mungkin kau bilang? Saat kau melakukan kecerobohan itu, aku berbesar hati menerima.” July mengingatkannya suaminya atas kecelakaan yang menimpa mereka di masa lalu.


“Mama...”


“Jangan panggil aku mama. Katakan, apa lagi yang kau sembunyikannya dari ku, oh! Tunggu dulu, jadi perusahaan bangkrut karena kau main perempuan?! Hah! Itu alasannya?” July baru menyadari perbuatan suaminya selama ini.


”Maafkan papa.” Ahmad menundukkan kepalanya.


“Hiks... teganya kau pa! Kau hancur aku dengan sikap mu! Tak sadarkah kau telah menyakiti ku? Katakan semua yang tak ku tahu sekarang juga!” kali itu amarah July benar-benar meledak.


Hingga Kissky menjadi takut pada ibunya, pasalnya ia tak pernah melihat sang ibu semarah itu.


“Papa telah memberikan semua harta dan aset-aset keluarga Huwl pada wanita itu.” terang Zanjiil yang baru datang ke ruang kerja Ahmad.


“Ya Tuhan.” July seketika lemas, ia yang tak berdaya hampir ambruk ke lantai, beruntung Zanjiil yang ada di dekat July menangkap tubuh mertuanya.


Saat Ahmad akan menyentuh July. July menepis tangan suaminya.


“Menyingkir kau bangsat! Dasar suami tak tahu diri, kalau bukan karena orang tua ku, kau bukanlah siapa-siapa! Kini aku menyesal, Karena lebih memilih mu, dari pada keluarga ku!” July pun bangkit dari tubuh Zanjiil.


“Pengkhianatan mu yang sekarang tak dapat ku maafkan, jika kau begitu menginginkan anak itu! Maka aku akan terima! Aku takkan menghalangi mu bersamanya. Untuk itu, sekarang aku minta ceraikan aku!” sikap tegas July membuat Ahmad tersentak.


“Mama! Apa yang kau katakan?!” Ahmad tak menyangka jika July sanggup mengatakan berpisah dengannya. Begitu pula dengan Kissky, ia sangat syok atas keputusan ibunya.


”Sekali lagi ku katakan pada mu, jangan panggil aku mama, karena aku tak memiliki anak dengan mu! Akan ku urus segera surat cerai kita, dan... bawalah keluarga baru mu itu kemari, karena aku akan kembali ke negara ku!”


Rencana kepergian July membuat Ahmad panik, sebab dalam surat perjanjian kontrak kerja yang ia tanda tangani. Ahmad menjadikan seluruh organ July sebagai jaminan, apabila ia melanggar hal-hal yang di larang oleh perusahaan.


“Jangan tinggalkan aku ma.” Ahmad menggenggam erat tangan istrinya.


“Iya ma, jangan tinggalkan kami.” Kissky pun memeluk July.

__ADS_1


“Maafkan mama nak, dan mama baru tahu, tangis mu yang kemarin, karena ulah manusia ular itu.” July pun menghempaskan tangan Ahmad darinya.


“Ma, tolong jangan tinggalkan papa!” Ahmad terus memohon, agar July tak pergi.


“Iya ma jangan pergi, hiks...” Kissky menangis sesungukan.


“Biarkan mama pergi.” Zanjiil yang tahu isi perjanjian itu mendukung mertuanya untuk pulang kampung.


“Zanjiil, jangan ikut campur!” pekik Kissky.


“Mama butuh ketenangan, kau egois, bila menahan mama tetap disini,” ucap Zanjiil.


“Zanjiil benar, tak usah khawatir nak, kita akan sering bertemu, tenang saja.” Setelah mengelus puncak kepala putri sambungnya. July pergi menuju kamarnya.


Ketika Ahmad akan menyusul, Zanjiil menghentikannya.


“Selesaikan sendiri pa.”


Kissky yang ada di antara ayah dan suaminya merasa bingung dengan percakapan keduanya.


Kissky yang lebih mementingkan sang ibu, tak begitu memikirkan apa yang baru saja ia dengar. Kissky yang lebih mementingkan July menyusul ke kamar ibunya.


July yang telah selesai menyusun barangnya, mulai menarik kopernya.


“Hiks... mama, maafkan aku, karena aku mama dan papa berpisah.” Kissky merasa sangat bersalah.


“Ini tak ada hubungannya dengan mu nak, semua ini karena papa mu yang bodoh itu.” kemudian July memeluk Kissky dengan erat, karena ia tak tahu, kapan lagi akan bertemu putrinya.


Selesai berpelukan, July memberi nasehat singkat pada putrinya.


“Ingat nak, kau boleh mencintai siapapun, tapi jangan terlalu cinta. Karena tak ada jaminan untuk siapapun beralih hati. Mama pergi, baik-baiklah dengan Zanjiil.


“Mama juga hati-hati di jalan, hiks...” dengan penuh rasa kecewa di hatinya. July meninggalkan rumah kenangannya bersama putri kandung dan putri angkatnya.


Sementara Ahmad yang tertahan di ruang kerjanya, mendapat nasehat dari Zanjiil.


“Untuk keluarga kedua papa, semoga papa bisa bersikap lebih baik. Tapi orang tua zaman dulu selalu bilang, biasanya yang kedua lebih parah dari yang pertama, berharap dapat bahagia, nyatanya nestapa yang akan mengiringi perjalanan hidup mu, karena seorang pengkhianat, akan di khianati orang lain pula!”


Termasuk papa ku, batin Zanjiil. Setelah itu Zanjiil meninggalkan Ahmad.


Ahmad sendiri tak tahu, ia harus bahagia atau sedih. Karena dengan begitu, ia bisa bersama dengan keluarga barunya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi.

__ADS_1


Kissky dan Zanjiil hari itu memutuskan untuk bolos sekolah, sebab mereka sudah sangat terlambat.


Setelah berpamitan pada Ahmad, Zanjiil membawa Kissky ke pulau yang sempat ia janjikan dulu.


Mereka yang telah tiba di pelabuhan turun dari dalam mobil.


“Kita mau kemana?” tanya Kissky yang belum tahu tujuan mereka.


“Ke pulau,” ucap Zanjiil.


“Aku enggak mau ah Jiil, kau kan tahu, aku lagi berduka.” Kissky merasa tak pantas, di saat ibu dan ayahnya berpisah, ia malah bersenang-senang.


“Untuk itu kau perlu di hibur.” tak lama helikopter pesanan Zanjiil datang menjemput mereka.


“Kau berlebihan banget! pakai speedboot juga bisakan?!” Kissky merasa malu, saat semua mata tertuju pada mereka.


“Makan waktu banyak kalau pakai itu, ayo naiklah!”


Keduanya pun naik ke dalam helikopter, selanjutanya menuju pulau Bintang milik keluarga Rabbani.


Perlahan helikopter yang mereka tumpangi mulai naik. Mereka yang kini ada di ketinggian 2500 meter, dapat melihat keindahan seluruh kota.


Belum lagi laut biru yang begitu indah membuat Kissky seketika lupa akan kesedihannya.


Zanjiil sendiri merasa senang, karena ia dapat berguna, di saat istrinya sedang berduka.


Setelah 10 menit berada di ketinggian, akhirnya mereka tiba di sebuah pulau kecil namun begitu indah di pandang mata. Pulau itu banyak di timbuhi pohon kelapa dan pisang dimana-mana.


Setelah helikopter mendarat di atas pasir pantai putih, Kissky dan Zanjiil pun turun dengan hati-hati. Dan sang pilot mematikan mesin helikopter.


“Loh, kok helikopternya enggak terbang lagi?” tanya Kissky, ia berpikir jika itu helikopternya sewaan.


“Itu milik keluarga ku, dan dia adalah penjaga villa kami.” Zanjiil pun menunjuk villa indah berdindingkan beton, yang memiliki lantai dua, terbentang indah di hadapan Kissky.


“Loh, pada hal dari atas enggak kelihatan, kalau disini ada villa,” ucap Kissky.


“Itu karena pepohonan menutupi atap villa.” terang Zanjiil.


“Bagimana? Baguskan? Aku sangat suka kesini saat aku merasa suntuk atau bosan, pilot yang tadi tinggal disini bersama istrinya, jadi kalau yang datang, mereka yang akan melayani, masakan istrinya juga enak banget, sebaiknya kau minta semua resep masakannya, biar aku betah makan di rumah,” ucap Zanjiil.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2