Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 26 (Praktik)


__ADS_3

Setelah Kissky pergi, Luna memberi tatapan mata tajam pada Zanjiil.


“Jadi, kenapa kau bisa berangkat dengannya?!” tanya Luna penuh selidik.


“Kebetulan aku bertemu dengannya di jalan, karena aku kasihan, jadinya ku ajak untuk berangkat bersama.” Zanjiil memilih berbohong demi keutuhan hubungannya dengan sang kekasih.


“Benarkah?” Luna yang cerdik terpacaya begitu saja.


“Tentu saja, jadi kau tak usah bertindak berlebihan, kasihan anak orang kau perlakukan begitu, sikap mu hanya akan menambah banyak musuh mu Luna,” terang Zanjiil.


Luna menghela nafas panjang, “Aku tahu mana yang harus di jadikan musuh, mana yang tidak, jadi jangan ajari aku, apa lagi aku telah melihat, kau jalan bersama dengannya.” ucap Luna. Zanjiil yang tak ingin bertengkar memilih mengalah.


“Baiklah, lain kali takkan ku ulangi, apa kita bisa ke kelas sekarang, dan juga berdamai? Kalau tidak, kita bisa terlambat,” ujar Zanjiil.


”Ya sudah, kalau kau mengulanginya, kau akan tahu akibatnya!” Luna memberi ancaman pada Zanjiil.


“Oke.” setelah keduanya berdamai, mereka pun bergegas menuju kelas.


Sesampainya di kelas, Kissky yang melihat suami dan kekasihnya datang, membuang wajahnya, ia tak mau melihat Zanjiil meski hanya sedetik saja.


Zanjiil yang melewati Kissky juga tak memberi sapaan sama sekali.


Saat pelajaran seni berlangsung, Riza menjelaskan tentang seni rupa pada anak didiknya.


“Seni rupa adalah bentuk hasil karya manusia yang memiliki keindahan dan bisa dinikmati oleh orang lain. Dengan kata lain, seni rupa merupakan proses penciptaan keindahan yang tujuannya untuk dinikmati, contoh yang termasuk seni rupa murni adalah patung, mosaik, lukisan alam, lukisan abstrak, lukisan batik, kaligrafi, topeng, guci, kaca patri, dan lain-lain. Sampai sini, masih ada yang tidak mengerti? Kalau masih, tolong angkat tangan, biar ibu jelaskan, karena setelah ini, kita langsung praktek!” terang Riza, sebab di sekolah Tunas bangsa, umumnya melakukan teori 20%, praktek 80%, sebab itu, lukisan dari sana selalu siap tempur, ketika telah lulus.


Lalu, dari kursinya, Rizal mengangkat tangannya.


“Ya Rizal, mau tanya apa nak?”


“Apa kita bebas memilih tema yang akan kita kerjakan?” tanyanya dengan serius.


“Tentu saja, di ruang praktik, nanti kau bisa pilih melukis, membuat patung mosaik, dan lainnya, mana yang kau mampu saja, pokoknya, lusa tugas yang ibu beri sudah harus di kumpul, dan tidak boleh ada alasan, tinggal, belum selesai atau lupa, paham?!” Riza yang tegas membuat seluruh siswanya segan, kecuali Rizal.


“Bebas ya bu,” ucapnya penuh makna.


“Iya, tentu saja.” sahut Riza.


“Berarti, kalau aku melukis wajah ibu, boleh dong?!” pertanyaan dari siswanya yang selalu ingin melakukan pendekatan membuat Riza, yang jomblo akut dari lahir jadi salah tingkah.


“Kecuali wajah ku, yang lain boleh!”


“Cie.. cie...!” suasana tegang seketika menjadi cair, berkat tingkah lucu Rizal.

__ADS_1


“Maju terus Zal, kami mendukung mu!” ucap salah satu siswa.


“Betul Zal, nilai anggota kelas, ada di tangan mu.” ujar Zanjiil seraya menutup mulutnya yang sedang menahan tawa.


Rizal yang mendapat banyak dukungan dari teman-teman sekelasnya jadi lebih percaya diri.


“Konsistenlah bu, ibu bilang tadi bebas, berarti aku punya hak untuk melukis apa yang indah di mata ku!” ucapnya seraya mengelus tengkuknya karena malu.


Mendengar gombalan Rizal yang bertubi-tubi pada gurunya, membaut Kissky tertawa kecil, ternyata aksi Rizal mampu membaut gadis cantik itu tertawa, dan tawa itu berbeda dari yang ia tampilkan pada suaminya selama ini.


Zanjiil yang tak sengaja mendapati istrinya tertawa tanpa suara istrinya seketika tertegun. Pasalnya, aura gadis jelek di matanya tersebut begitu asing, wajah istrinya kian terlihat lembut, layaknya seorang gadis yang tak bisa adu otot dan mulut.


“Cantik.” ucapnya tanpa sadar.


Gibran yang merasakan hal yang sama dengan Zanjiil pun merasa kagum, ia yang dari kecil sangat menyayangi Kissky layaknya saudara, perlahan berubah menjadi cinta.


Sementara Riza yang terus dapat gombalan maut bertubi-tubi dari Rizal, benar-benar tak tahan, ia merasa hatinya akan meledak.


“Ya sudah, terserah kau saja mau melukis apa.” ia pun membebas kan Rizal untuk berkarya.


“Semuanya, segera menuju ruang praktik!” saat satu persatu siswa kelaur kelas, Riza menatap lekat ke arah Gibran yang akan melintas di hadapannya.


Wuss!!!


Gibran, dari dulu enggak berubah, tetap tampan dan mempesona, batin Riza.


Sesampainya mereka di ruang praktik seni yang memiliki ukuran luas dan besar, Riza mengarahkan siswanya untuk mengambil peralatan seni yang ingin mereka lakukan di sebuah lemari. Yang masing-masing dari lemari penyimpanan tersebut memiliki nama, sesuai fungsinya.


Karena waktu yang di beri sangat singkat, para siswa dan siswi lebih memilih untuk melukis, sebagai bahan tugas seni rupa mereka kali itu.


Kissky yang duduk di antara Gibran dan Liza melirik kedua sahabatnya satu sama lain.


“Kalian mau melukis apa?” Kissky bertanya Karena tak tahu apa yang akan ia lukis.


“Aku, bunga!” ucap Luna, yang ingin semua serba mudah.


“Kalau aku, rumah.” terang Gibran. mendengar pernyataan Gibran, membuat Kissky memiliki ide.


“Bagus, ayo kita mulai!” seketika Kissky jadi bersemangat.


”Memangnya kau sudah dapat ide?” tanya Liza dengan penasaran.


“Sudah!” jawabnya.

__ADS_1


“Mau melukis apa?” tanya Liza kembali yang makin penasaran.


“Lihat saja, ayo cepat, kita kerjakan.” ketiganya mulai menggores kuas pada kanvas putih yang ada di hadapan mereka masing-masing.


Kekompakan antara ketiganya mencuri perhatian Zanjiil yang duduk bersebelahan dengan sang kekasih.


“Sayang, aku akan melukis mu, dan kau harus melukis ku.” Luna ingin Zanjiil melukis wajah cantiknya, di tugas perdana mereka.


“Lain kali saja,” sahut Zanjiil.


“Kenapa?” Luna yang tersinggung pun ingin berontak.


“Aku ingin melukis ibu ku.” ucapnya sebagai alasan untuk menolak keinginan pacarnya.


“Tega banget sih! Ayolah sayang!!!” Luna yang manja memaksa Zanjiil untuk bersedia.


“Aku akan melukis mu di lain waktu, kalau tujuan mu ingin pamer hubungan kita, ku rasa semua orang sudah tahu, kalau kita ini pacaran, jadi enggak perlu melakukan itu, menurut ku.” terang Zanjiil.


Karena sang kekasih tetap menolak, Luna yang sakit hati melempar kuas yang ada di tangannya ke sembarang arah.


Makin egois, batin Zanjiil.


Kali itu Zanjiil tak mengambil hati, atau pun minta maaf pada Luna, ia malah lanjut melukis, seolah tak ada masalah.


Luna yang emosi tapi tak di perdulikan, mengambil kembali kuasnya dari lantai.


Ini pasti gara-gara wanita miskin sialan itu! Tapi... kalau dia orang tak mampu, kenapa bisa sekolah disini? Apa mungkin dapat beasiswa? Masa gadis sebodoh dia dapat beasiswa? batin Luna.


Gibran yang melirik ke arah kanvas Kissky perlahan dapat menebak, gadis itu sedang melukis apa.


“Kau melukis dirimu di masa lalu?” Kissky menoleh ke arah Gibran, karena tebakannya sangat tepat.


“Kau tahu dari mana?”


“Aku masih ingat wajah mu.” Gibran menunjuk hasil lukisan Kissky yang baru selesai di bagian kepalanya.


“Aku rindu masa-masa itu.” bisik Kissky, agar tak di dengar oleh orang lain.


Gibran pun tersenyum, Lalu ia menunjukkan hasil lukisannya pada Kissky.


“Coba, lihatlah!” ujar Gibran.


Lalu Kissky yang duduk di atas kurisnya memiringkan sedikit tubuhnya, agar dapat melihat hasil karya sahabatnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2