
Kissky sangat suka ruangan tersebut, karena begitu memanjakan mata.
Ia yang lewat dari sebuah meja, melihat pernak pernik untuk membuat gelang di dalam beberapa mangkok besar, lengkap dengan tali benang benang elastis.
“Kalau yang ini, biasanya siapa yang mengerjakan?” tunjuk Kissky ke arah mangkuk kaca besar.
“Lula, dia suka membuat gelang dan kalung, kemudian ia jual online,” terang Zanjiil.
“Apa?” Kissky tak percaya, jika adik iparnya suka berdagang.
Pada hal sudah kaya sebelum lahir, kenapa masih cari uang? batin Kissky.
“Rajin banget Lula, di jual berapa perbuahnya?”
“10.000.” sahut Zanjiil.
“Murah banget, apa dia enggak lelah melakukannya? Uang yang di berikan papa dan mama kan lebih dari segitu,” ujar Kissky.
“Namanya juga hobi, lagian uangnya ia simpan di tabungannya, katanya untuk biaya naik haji nanti,” terang Zanjiil.
Kissky mengernyitkan dahinya, pasalnya keluarga itu tak kurang dalam keuangan, langkah mereka pun tak pernah terhenti kemana pun mereka mau.
Mungkin dia mau hidup mandiri, lagi pula yang ia nikmati sekarangkan harta orang tuanya, dan masa depan siapa yang tahu, bisa saja dia menikah dengan orang yang ekonominya menengah ke bawah. batin Kissky.
Ia pun menganggukkan kepalanya, dan ia juga merasa bangga akan kreativitas iparnya.
Saat Kissky masih sibuk melihat pernak pernik milik Lula, Zanjiil pun memanggilnya.
“Kemarilah!” ucap Zanjiil.
Lalu Kissky menoleh ke arah suaminya, yang telah selesai meletakkan kanvas pada standing frame di dekat jendela.
__ADS_1
Ia pun mendekat, “Wah, sekarang kita tinggal melukis dong!” ujar Kissky.
“Iya, kau kerjakan duluan, aku mau buat kopi untuk kita berdua,” ucap Zanjiil.
“Siap pak!” saat Kissky menoleh ke arah luar jendela kaca, ia pun melihat, lampu dengan berbagai macam warna di tepi pantai.
Zanjiil yang telah kembali dengan dua gelas cangkir kopi melihat istrinya yang melihat ke arah luar jendela.
“Apa kau suka laut?” ucapnya.
“Iya, dulu kalau dari rumah ku sangat jauh ke pantai, sekarang jalan kaki pun bisa,” Kissky tersenyum hangat pada Zanjiil.
Seketika jantung lelaki tampan itu bergetar, menerima senyuman dari istrinya.
Ku rasa, aku mulai menyukainya, walau hanya 2%, batin Zanjiil.
Kemudian Zanjiil duduk di atas stool bar yang ada di sebelah Kissky.
“Bagaimana kalau besok kita ke pantai?” Zanjiil yang ingin menghabiskan masa liburnya dengan Kissky, mengajaknya ke pantai.
“Kalau kesana aku sudah bosan.” ucap Zanjiil, sebab ia telah menghabiskan masa kecilnya disana dengan berlatih selancar.
“Lalu?”
“Kau tahu, ada pulau kecil di pertigaan menuju stasiun? Hanya 1 jam naik speed boot kesana, pulau itu sangat indah, di siang hari airnya akan surut, paling hanya semata hari kaki,” terang Zanjiil.
“Yah, berarti enggak bisa berenang dong!” Kissky yang suka menyelam merasa kurang bersemangat.
“Siapa bilang? Yang dangkal kan hanya di pinggir pantai pulaunya, 200 meter ke depan, sudah dalam, lautnya juga asri, masih banyak kepiting, kerang dan ikan laut yang biasa kau lihat di aquarium, ku yakin kau pasti suka.” penjelasan dari Zanjiil membuat Kissky tertarik dan penasaran.
“Ayo kesana, jangan lupa bawa kamera, sudah lama enggak ke pantai dan photo-photo,” terang Kissky.
__ADS_1
“Baiklah!” setelah sepakat, Kissky dan Zanjiil mulai melukis kembali.
Diam-diam Zanjiil melirik wajah Kissky, “Cantik,” gumamnya.
“Baru sadar,” sahut Kissky.
Zanjiil tersentak, karena Kissky mendengar apa yang ia katakan.
“Maksud ku lukisannya.” ucap Zanjiil bersilat lidah.
“Awas jatuh cinta, aku masih ingat yang kau katakan, kalau kau takkan jatuh cinta pada ku,” terang Kissky.
“Tentu, aku takkan lupa.” kemudian Zanjiil membuat kesibukannya, agar melupakan perasaannya pada Kissky.
Pagi harinya, saat Zanjiil baru bangun tidur, ia mendapat pesan baru dari Basuki.
Jiil, hari ini ada klien dari Peru, segera ke kantor, gantikan ayah meeting dengannya, bahan presentasi ada pada Ayu ✉️ Basuki.
Oke, pa ✉️ Zanjiil.
“Ya ampun, bukannya hanya tanda tangan dokumen? Kenapa harus ada meeting juga?” Kemudian Zanjiil melihat ke jam weker yang ada di atas meja sebelah ranjangnya yang telah menunjukkan pukul 05:30.
Dengan perasaan setengah ikhlas, Zanjiil bangkit dari ranjangnya.
Aku harus segera berangkat, agar ada waktu untuk mempelajari dokumen yang akan di bahas, batin Zanjiil.
Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
10 menit kemudian, Zanjiil yang telah bersih mengambil setelan baju formal dari dalam lemari.
Zanjiil semakin terlihat tampan, saat dirinya mengenakan kemeja putih di balut dengan jas abu-abu, pada bagian bawah, Zanjiil mengenakan celana nine kasual kotak-kotak warna abu-abu. Tak lupa Zanjiil menata rambutnya.
__ADS_1
Setelah rapi, ia pun keluar kamar, menuju kantor.
...Bersambung......