Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 96 (Pabrik)


__ADS_3

Ibu dari dua anak itu pun memilih angkat kaki dari kamar yang ia tempati bersama suaminya selama ini.


Ia pun keluar menuju kamar yang ada di sebelah kamarnya dan suaminya.


“Takkan ku maafkan semua perbuatan Basuki! Ku yakin, kau dan Esra masih berhubungan, jika itu benar, aku akan menghabisi wanita itu dengan tangan ku sendiri.” Pinkan yang ambisius takkan berhenti, sampai ia mendapat apa yang ia inginkan.


Keesokan harinya, setelah Basuki berpamitan pada keluarganya, ia pun berangkat menuju bandara Internasional Soekarno Hatta.


“Hari ini kita ke pabrik,” ucap Zanjiil pada adiknya.


“Aku enggak mau!” Lula yang ada janji dengan sang kekasih menolak ajakan abangnya.


“Kalau tak mau, katakan langsung pada papa, jangan pada ku!” Zanjiil membentak adiknya yang sulit si atur.


“Ya, kau wajib pergi La, belajar yang banyak disana, karena nantinya, kau akan jadi salah satu bagian dari tukang bedah, hahaha!” Pinkan tertawa cekikikan, Zanjiil dan Lula pun tercengang akan sikap aneh ibunya di pagi itu.


“Mama baik-baik sajakan?” Lula menjamah pundak ibunya.


“Tentu saja, apa mama terlihat sakit? Tidak kan? Kalian baik-baik ya di rumah, karena mama ada misi yang harus di kerjakan, ahahaha!” Pinkan kembali cekikikan yang membuat kedua anaknya merasa khawatir.


“Apa papa dan mama bertengkar lagi?” tanya Zanjiil pada sang adik.


“Bisa jadi bang, biasanya kalau mama tertawa tak jelas, dia sedang ada masalah dengan papa, hanya papa yang bisa membuat mama stres,” terang Lula.


“Berarti mama sudah tahu soal papa hubungan papa dan Esra.” Zanjiil dan Lula merasa sedih akan penderitaan batin sang ibunda.


“Sudahlah bang, tak usah pikirkan, lebih baik kita bersiap.”


“Ya.” kedua kakak adik itu pun kembali ke kamar mereka masing-masing.


Kissky yang baru selesai mandi keluar dari kamarnya. Ia yang telah rapi dengan setelan dress kuning motif musim panas, berdiri tegap di depan pintu kamar suaminya.


Tok tok!


Kissky mengetuk pintu kamar Zanjiil yang kini membuat ia rindu tiap kali membuka mata dari tidurnya.

__ADS_1


Ceklek!


Krieett...!!


Setelah pintu terbuka, Kissky melihat sang suami tampannya memakai pakaian formal dari baju sampai dengan celana.


“Memangnya kita mau kemana hari ini?” tanya Kissky, ia mengira jika sang suami akan mengajaknya jalan-jalan.


“Kau di rumah, aku ke kantor.” ucap Zanjiil dengan jelas.


Seketika Kissky memancungkan bibirnya, “Ini hari minggu, dan kau mengurung ku di rumah? Hari libur ku hanya sekali seminggu, apa salahnya kalau kau mengajak ku kencan, seperti pasangan normal di luar sana?!” Kissky sungguh berharap, ia dan Zanjiil jalan berdua menghabiskan waktu untuk saat yang lama.


“Banyak mau kau! Aku pergi untuk mu juga, memangnya uang datang begitu saja ke atm ku? Apa lagi sekarang ada kau, bukannya aku harus kerja ekstra? Memangnya kau mau tas celin dan celen palsu? Kalau iya, biar aku leha-leha dengan mu di rumahm” penuturan Zanjiil yang begitu padat membuat Kissky tak dapat mengatakan keluhannya lagi.


“Ya sudah, pergilah! Aku juga cuma bercanda kok, siapa juga yang mau jalan dengan orang sinting seperti mu!” Kissky terpaksa berbohong sebab ia malu karena dapat penolakan dari suaminya.


“Jangan merajuk Huwl, aku kerja demi masa depan kita, memangnya kalau papa tak memberi ku warisan, kau masih mau bertahan dengan ku?” tanya Zanjiil dengan iseng.


“Tentu, lagi pula aku tak menyentuh uang yang kau beri, kita bisa jadikan itu modal untuk membeli tanah di perkampungan, lalu kita bercocok tanam disana, ku yakin kalau kita bersama, kita pasti bisa!” cita-cita sederhana Kissky mengundang gelak tawa di perut Zanjiil.


“Bakso mercon porsi jumbo, goreng tempe, bakwan dan tahu.” permintaan sederhana istrinya membuat Zanjiil tersenyum. Zanjiil pun mencubit pipi istrinya yang tirus.


“A-ah! Sakit Zanjiil!” Kissky mengusap-usap pipinya yang kini jadi merah.


“Minta yang lebih mahal dong, kalau jajan mu hanya 20 rb sehari, ku rasa kita bisa membeli negara ini, hahaha!” tawa bahagia Zanjiil membuat jantung Kissky bergetar tak beraturan.


“Kan buat jaga-jaga, mana tahu kau di hapus sungguhan dari daftar pewaris,” ujar Kissky.


“Yang benar saja kau!” Zanjiil menjewer telinga Kissky.


“Wah wah... lihat dua pasangan bucin ini.” kemesraan keduanya harus terhenti, saat Lula berdiri seraya bersedekap di sebelah mereka.


“Aku akan turun, untuk apa kau naik?” ucap Zanjiil.


“Ku rasa, kalau aku tak kesini, kau takkan turun-turun, ayo! Lambat banget kau!” Lula memarahi abangnya di hadapan Kissky.

__ADS_1


“La.” Kissky memanggil nama adik iparnya.


“Ya kak?” sahut Lula.


“Jangan keras-keras pada Zanjiil, kasihan, dia sebenarnya anak yang baik.” Kissky yang terlalu sering melihat Lula berucap kasar pada suaminya. Kali itu membela suaminya.


Sontak Lula mengernyitkan dahinya, “Apa?”


“Hei! Ayo! Jangan malah adu mulut dengan kakak mu!” Zanjiil merangkul sang adik, dan membawanya turun ke lantai satu menggunakan lift.


Kissky yang kini sendiri, kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam mobil, Lula tertawa cekikikan, “Hahaha, tak ku sangka, kak Kissky akan menegur perbuatan ku pada mu.” bukannya marah, Lula justru merasa lucu.


“Habis kau kelewatan, mungkin hari ini dia masih berkata sopan, besok-besok ku rasa dia akan menghajar mu,” terang Zanjiil.


“Itu takkan terjadi.” ucap Lula.


“Ayo pak, berangkat!” titah Zanjiil.


Kemudian Dimas melajukan mobil menuju pabrik raksasa milik Rabbani yang terletak di pinggir kota.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam melalui tol layang, akhirnya mereka tiba, di pabrik pengolahan barang-barang elektronik, peralatan rumah tangga, dan tempat bedah tubuh manusia, baik yang di bunuh, atau yang menyerahkan diri demi uang, tentunya siapa saja pendonor yang memasuki ruang bedah yang terletak di dasar tanah, maka takkan bisa keluar lagi.


Karyawan yang bekerja di lantai dasar, dua dan tiga, tak tahu akan keberadaan ruangan mengerikan itu, karena tentunya mereka di tuntun oleh satpam yang berjaga setiap kali datang dan pergi kerja. Dan sebelum jam kerja habis, mereka tak boleh keluar dari dalam pabrik.


Semua aktivitas selama shifting di lakukan dalam gedung.


Makan siang pun di sediakan secara gratis, setiap hari para karyawan yang jumlahnya ribuan sering di suguhkan makanan bergizi dan multivitamin.


Namun yang tak mereka tahu adalah, di antara daging olahan yang mereka lahap terdapat campuran daging manusia asli, tujuan keluarga Rabbani untuk menghilangkan jejak hitam yang mereka lalukan.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2