
Setelah jam pelajaran sekolah selesai, Lula menuju ruang guru untuk menemui Faiq.
“Ada apa pak?” tanya Lula dengan tatapan mata malas.
“Ini.” Faiq memberikan anak didiknya sebuah photo, yang mana menampilkan Lula sedang menaruh pisau silet ke dalam laci temannya.
Lula yang melihat hasil kerja keras Faiq menampilkan wajah datarnya.
“Kenapa sih, bapak selalu mau ikut campur dengan urusan ku? Apa segitu pentingnya, meliput setiap apa yang ku lakukan?” ucap Lula.
“Bukankah ibu sendiri yang meminta ini semua?” Faiq tertawa getir.
“Iya, tapi bapak yang paling protektif! Terlihat seperti mencari-cari kesalahan ku!” pekik Lula.
“Orang tua mu perlu datang besok, kalau tidak, bapak akan mengadukan perbuatan mu pada kepala sekolah, setelah itu kau akan di drop out!” Faiq mengancam Lula.
Hidung Lula kembang kempis karena emosi pada sang guru.
Sabar... batin Lula.
“Baiklah, kalau itu mau mu pak.” lalu Lula keluar dari ruang guru.
“Masalah drop out masih bisa ku atasi, hum... yang ku takutkan... hanya amarah mama...” Lula memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Ya ampun... si Faiq betul-betul membuat ku prustasi...” Lula yang tak bisa membuat gurunya jera memutuskan untuk pulang.
🏵️
Sore harinya, Kissky yang ingin menyiapkan makan malam merasa kerepotan, karena ia yang belum sempat les harus memasak menu kesukaan suaminya.
Yaitu sup daging, pargedel dan juga udang goreng.
Meski Zanjiil tak meminta, namun Kissky ingin membuat suaminya senang.
“Untung ada resep di google, jadi aku bisa berkreasi.” Kissky dengan penuh semangat memasak di dapur.
Ia yang belum pernah memegang dapur sebelumnya menurunkan semua barang-barang yang ada dalam lemari untuk ia pakai.
1 jam kemudian, ia baru selesai menyiapkan semua menu masaknya. Dan sesuai saran dari mbah google, ia pun menyajikannya di atas meja makan.
Setelah itu Kissky mandi dan memakai pakaian terbaiknya.
15 menit kemudian Zanjiil pun pulang dari kantor.
Kissky yang menunggu di ruang tamu menyambut kedatangan suaminya dengan penuh senyuman.
“Kau sudah makan belum?” tanya Zanjiil seraya mengecup kening Kissky.
“Belum Jiil, ayo kita makan.” Kissky sudah tak sabar, ingin segera melihat suaminya mencicipi masakannya.
__ADS_1
Kemudian Dimas datang dengan membawa 2 kantong kresek putih di tangannya.
“Selamat malam nyonya.” ucap Dimas pada majikannya.
“Malam juga pak.” sahut Kissky. Kemudian Dimas pergi menuju dapur.
“Pak Dimas bawa apa Jiil?” tanya Kissky dengan penasaran penuh.
“Makanan, kami membelinya di jalan, sup buntut sapi itu lagi vitar di toktok, kau pasti menyukainya.” terang Zanjiil, sebab ia berpikir istrinya takkan menyiapkan makanan apapun di rumah.
“Oh, gitu ya.” Kissky sedikit kecewa pada suaminya.
Pasti masakan ku takkan laku nantinya, batin Kissky.
Saat sudah di meja makan, Zanjiil tersentak saat melihat banyak makanan yang masih panas di atas meja.
“Kau masak?” tanya Zanjiil dengan tersenyum canggung.
“Iya, tapi... kita makan yang kau beli saja, hehehe... aku tadi hanya belajar masak, ternyata rasanya tidak enak.” Kissky merasa minder seketika.
“Hum... pak Dimas, semua makanan yang kita beli buat bapak saja.” untuk menghargai kinerja Kissky, Zanjiil memutuskan untuk memakan masakan sang istri tercinta.
“Jangan Jiil, kaukan cape, harusnya makan yang kau beli saja, itu pasti lebih enak,” ucap Kissky.
“Tidak apa, kelihatannya masakan mu enak juga.” kemudian Zanjiil duduk di atas bangku dan mulai mencicipi masakan istrinya.
”Um... enak juga, kau belajar darimana sayang?” Zanjiil mencubit pipi istrinya.
“Tentu, tapi... kalau kau masak sekali lagi, garamnya di kurangi ya, karena akukan punya tensi tinggi, takutnya aku kenapa-napa lagi.” Zanjiil mengkritik masakan istrinya yang sangat asin dengan lembut.
“Saya juga punya darah tinggi nyonya, jadi tak boleh makan garam terlalu banyak.” Dimas yang kompak dengan Zanjiil ikut memakan masakan sang nyonya.
“Baiklah, lain kali akan ku kurangi garamnya.” angguk Kissky, tanpa mengerti jika masakannya tak bisa di makan.
“Aku sangat suka, karena itu kau takkan ku bagi, ini untuk ku dan pak Dimas, kau makan yang baru kami beli saja,” ujar Zanjiil.
“Betul nyonya.” ucap Dimas dengan mata berkaca-kaca.
Sudah pedas, asin lagi, batin Dimas.
“Baiklah kalau begitu.” Kissky yang tak tahu apapun melahap makanan yang di beli suaminya.
Sedang 2 lelaki yang mencoba menghargai hati seorang wanita yang ada di hadapan mereka harus menderita di lidah, tenggorokan dan lambung.
Pukul 23:00 malam, Zanjiil terbangun dari tidurnya karena perutnya mulas.
Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi. “Ah, gila! Kissky buat ladanya berapa kilo sih!”
Cukup lama pria tampan itu bersemedi di kamar mandi, hingga akhirnya ia selesai pada pukul 00:30 dini hari.
__ADS_1
Ia yang keluar dari kamar mandi melihat wajah istrinya yang tertidur pulas.
“Harusnya les dulu baru masak Huwl! pekik Zanjiil.
🏵️
Liza yang berada di kamar kosnya bingung harus berbuat apa, ia yang mengandung benih Joe merasa sedih.
Karena ia tak tahu harus bagaimana, ia yang masih di bawah umur tak mungkin memiliki anak tanpa suami.
“Apa aku harus menggugurkannya? Hiks..” Liza meragu untuk membesarkan anaknya atau tidak.
Ia yang merindukan Joe melihat photo sang kekasih di handphonenya.
“Sayang, kenapa kau pergi tanpa pamit? Segala janji dan masa depan yang kita rencanakan kini sirna, Joe... I'm so miss you, huah...” Liza kembali menangisi kepergian kekasihnya.
🏵️
Keesokan harinya, pada saat jam ujian telah selesai, Kissky, Zanjiil dan juga Liza berbincang sejenak di taman sekolah.
“Kau bilang apa Za?” tanya Kissky.
“Aku, mau menggugurkan kandungan ku.”
“Apa?” pengakuan dari Liza membuat Kissky dan Zanjiil terkejut.
“Jangan Za, kasihan anak mu, dia enggak berdosa loh ” Kissky tak tega jika buah hati Liza dan Joe menyusul sang ayah.
“Makanya ku bilang, lebih baik nikah sirihkan Za, status mu jelas, kalau begini, yang repotkan kau sendiri, bagus kalau ibu mu tak murka, kalau tak terima, bisa makin repot urusannya,” ujar Zanjiil.
“Zanjiil, jangan bilang begitu, kasihan Lizakan...” Kissky melerai suaminya yang suka berkata apa adanya.
“Terus bagaimana, Za? Kalau kau membunuh anak mu, tak akan ada lagi yang tersisa antara kau dan Joe, lebih baik pikirkan lagi, sekolah juga takkan menerima gadis yang hamil, mau tak mau kau harus jujur pada ibu mu,” terang Zanjiil.
Gibran yang saat itu ada di taman untuk mengambil batang pohon Cemara melihat ketiganya yang sedang berbincang.
Matanya pun membelalak saat melihat Liza menangis haru.
“Ada apa ini?” ia yang juga teman kedua gadis segera itu mendekat.
“Liza, kau kenapa?” Gibran yang telah menganggap Liza adalah adiknya, merasa sakit ketika melihat gadis itu menangis.
“Aku tak apa-apa.” ucap Liza, ia tak ingin jika aibnya di ketahui banyak orang.
“Katakan saja Za, mana tahu Gibran mau jadi ayah dari anak yang kau kandung...” ucap Zanjiil.
“Zanjii! Masih sempat kau bercanda saat begini?!” pekik Kissky.
“Benar kau hamil?” Gibran menatap lekat ke arah Liza.
__ADS_1
...Bersambung......