Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 170 (Bahaya)


__ADS_3

Wahyu yang telah berusia 25 tahun merasa mampu untuk mempersunting Lula.


“Iya bu. Ibu jangan khawatir, saya juga sudah lulus jadi PNS, sudah punya rumah sendiri, andai kata takdir menyatukan saya dan Lula. Lula akan saya jadikan ibu rumah tangga, tak usah kerja, tapi... kalau dia ingin menghilangkan kebosanannya, saya akan membuka warung kelontong untuk Lula.”


Kesungguhan hati Wahyu di tanggapi baik oleh Pinkan.


“Saya senang, dan sangat bersyukur atas niat baik bapak, dan saya juga berterimakasih karena bapak telah melamar Lula. Tapi... Lula sudah ta'aruf dengan laki-laki lain,” terang Pinkan.


Mendengar kabar baik itu, Wahyu menerima dengan lapang dada.


“Tidak apa-apa bu, berarti saya dan Lula tidak berjodoh.” Wahyu senang karena Lula yang baik akhlaknya di matanya telah di lamar laki-laki lain.


“Iya pak, mohon maaf sebelumnya ya.” ujar Pinkan dengan tersenyum kaku.


🏵️


Arsy dan Eric yang telah sampai di rumah mulai membuat daftar tamu undangan.


Mereka yang sebelumnya telah mencetak undangan menulis nama-nama orang yang akan menghadiri pernikahan mereka.


“Kau mau undang siapa saja?” tanya Eric.


“Liza dan teman-teman sekolah kita yang dulu.” ucap Arsy, sebab ia sangat merindukan teman-teman sekolah Tunas bangsanya dulu.


“Kalau aku teman-teman dari sekolah ku yang ada disini, para karyawan dan juga rekan bisnis,” ujar Eric


“Baguslah, ayo cepat kerjakan!” ucap Arsy.


Keduanya pun mengerjakan tugas mereka masing-masing.


3 jam kemudian, Arsy dan Eric telah menyelesaikan undangan pernikahan mereka.


Saat mereka berdua sedang di meja makan, Eric pun bertanya tentang pendapat istrinya.


“Sy, aku ingin tanya pendapat mu.”


“Soal apa?” ucap Arsy seraya mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


“Bagaimana kalau kita kembali ke Jakarta, rasanya aneh, kalau kita memberi undangan pada keluarga ku, tapi... kalau kau tak bersedia, tidak apa-apa, aku tahu pasti berat untuk mu.” Eric menerima apapun keputusan istrinya.


Arsy berpikir sejenak, harus menerima atau tidak permintaan suaminya.


Kalau aku tetap bersamanya, sudah jelas tetap berhubungan dengan mereka, bagaimana pun, itu adalah keluarganya, batin Arsy.


“Baiklah, tapi aku punya beberapa syarat.” Arsy mengajukan beberapa ketentuan, tujuannya untuk melindungi dirinya sendiri.


“Apa sayang? Katakan saja,” ucap Eric.


“Aku mau, pertemuan di lakukan di tempat ramai, tak ada kunjungan ke rumah, dan... itu terakhir kita ke Jakarta.” persyaratan yang di ajukan istrinya cukup berat.


Namun Eric mengerti, itu semua terjadi karena kesalahan dari pihak keluarganya.


“Baiklah sayang.” Eric setuju dengan permintaan istrinya.

__ADS_1


🏵️


Lula yang baru selesai membunuh korbannya di area gedung kosong menerima sebuah pesan baru.


Assamu'alaikum, ini abang dik Lula. ✉️ Fahri.


“Hum?? Pasti dapat nomor ku dari mama.” gumam Lula.


Ia yang ingin membalas pesan Fahri, segera membuka sarung karet yang membalut jemarinya.


Setelah itu, Lula memasukkannya ke dalam plastik klip yang selalu ia sediakan apabila ia menerima pemesanan pembunuhan dengan cara di tusuk.


Setelah di rasa semua aman, Lula kembali ke motor tempat ia parkir.


Kemudian ia mengambil handphonenya. Dan membalas pesan dari Fahri.


Walaikumsalam bang, ini Lula. ✉️ Lula.


Membaca pesan yang ia kirim, Lula merasa geli.


“Ini Fahri, ini Lula, ck!” Lula geleng-geleng kepala.


“Oh ya, aku lupa, bukankah aku harus memutus Roy??” Lula yang tak ingin punya hubungan apapun dengan kekasihnya dengan cepat menuju kafe langganan mereka.


Breeemm....


Lula mengemudi motor kesayangannya dengan kecepatan penuh.


Setelah menempuh perjalanan 20 menit, akhirnya Lula sampai di tempat janjiannya dengan sang kekasih.


Ia pun masuk dan duduk di hadapan kekasihnya.


“Kau sudah datang?” ucap Roy.


“Iya.” jawab singkat Lula.


“Kau kau pesan apa?” tanya Roy seraya membuka buku menu.


“Aku lagi diet, dan aku juga lagi buru-buru, Roy.” cara bicara Lula yang tak seperti biasanya membuat Roy melihat wajah kekasihnya.


“Apa ada masalah?” Roy, menatap lekat wajah cantik Lula.


“Aku mau menikah.” Lula mengatakan tujuannya.


”Iya, untuk itu kau ku panggil kemari, aku ingin kita menikah.” entah apa yang terjadi, hingga banyak lelaki yang melamarnya secara tiba-tiba.


“Tidak, aku tidak akan menikah dengan mu.” sikap Lula yang dingin membuat Roy resah.


“Apa maksudnya? Lula, bicara yang jelas, bukankah kita sudah komitmen untuk selalu bersama?” Roy mengingatkan janji suci cinta mereka.


“Itu dulu, sekarang sudah tak berlaku lagi, karena ibu ku meminta ku untuk menikah dengan laki-laki lain, dan tak ada yang merestui hubungan kita, maaf Roy. Meski aku mencintai mu, tapi... aku lebih mencintai keluarga ku dari pada kau!”


Kata-kata Lula yang tak pakai hati membuat Roy lemas.

__ADS_1


“Lula, jangan lakukan ini pada ku, I'm Crazy loving you, You know that?! Honey, please, don't leave me!” mata Roy berkaca-kaca, rasa takut di tinggalkan terlihat jelas di wajah pria berkepala 4 itu.


“I'm so sorry, aku enggak bisa, Roy. Carilah wanita yang seusia mu.” setelah mengatakan itu, Lula bangkit dari duduknya.


“Good bye Roy, ku harap kau selalu bahagia, terimakasih untuk kebersamaan 11 tahun kita.” Lula yang memprioritaskan keluarga meninggalkan kekasihnya tanpa ada rasa penyesalan di hatinya


Pada dasarnya, seorang Lula tak pernah mencintai siapapun dengan utuh.


Jadi siapapun pasangannya, ia bisa menerima begitu saja.


Sebab hati dan jiwanya ia abdika abdikan pada pekerjaan gelapnya.


Lula yang larut dalam profesinya menghilangkan mintanya untuk tertarik pada lawan jenisnya.


🏵️


Leon yang tidur lelap di kamarnya lupa menutup kamar mandi.


Ular kopra yang ia kurung pun lepas. Tatapan tajam dari raja ular itu begitu mengerikan


Ular bersisik hitam dan panjang milik tantenya mengembangkan kepalanya di dekat ranjang Leon.


Kemudian Kobra itu pun naik ke atas ranjang secara perlahan.


Sssttt!!!


Kobra besar itu mendesis, menjulurkan lidahnya berulang kali.


🏵️


Lula yang ada di kandang ular miliknya merasa heran, karena ia tak menemukan king kobra terganasnya.


”Hum?? Bukankah ku buat disini?” melihat kandang kaca yang kosong membuat Lula menaruh curiga, kalau ularnya kabur.


Yang tak ia sadari adalah, keponakannya lah yang mengambil ular itu tanpa izin.


Lula yang kehilangan ular peliharaanya pun tak terlalu khawatir, sebab semua orang yang ada dalam rumahnya, tak ada yang takut dengan hewan reptil berbisa itu.


Ia pun keluar dari ruang penangkarannya, dan menemui Hera.


“Hera, kasih tahu yang lain, kalau ketemu ular kobra, kembalikan ke ruangan penangkaran, oke!”


“Siap nona, hehehe...” Hera mengangkat kedua jempolnya.


🏵️


Arsy yang baru selesai menonton horor kembali ke kamar.


Ia pun melihat suaminya menatap layar handphonenya tanpa melakukan apapun.


kemudian Arsy mendekat dan memeluk suaminya.


“Teleponlah sayang, bukankah besok kita mau berangkat ke Jakarta? Nanti kalau datang tiba-tiba malah membuat mereka repot,” ujar Arsy.

__ADS_1


”Baiklah sayang.” kemudian Eric mendial nomor Pinkan terlebih dahulu.


...Bersambung......


__ADS_2