Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 23 (Muhrim)


__ADS_3

“Menjaga ku kau bilang?” Joe manganggukkan kepalanya.


“Ku lihat, dari kemarin ada orang yang sama selalu memperhatikan mu,” terang Joe.


“Kau tahu, selama beberapa hari ada yang memperhatikan ku? Berarti kau mengikuti ku juga dong?!” ucap Kissky.


“Tapi aku enggak mengikuti mu setiap waktu,” Joe yang tak merasa bersalah, membela diri.


“Lalu, siapa yang memperhatikan ku itu, apa kau kenal siapa dia?” tanya Kissky penuh selidik.


“Enggak, dia pakai masker soalnya,” jawab Joe.


“Oh ya??” Kissky jadi kepikiran dengan yang Joe katakan.


Liza yang telah melihat Kissky pun, segera mendatangi sahabatnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Liza, seraya memeriksa tubuh Kissky, ia takut jika sahabatnya itu ada luka atau lecet.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Kissky.


“Siapa dia? Bukankah dia yang mengikuti mu tadi?” Liza menunjuk ke arah Joe.


“Iya, kau benar, kata sih, dia hanya ingin menjaga ku, dari orang yang memperhatikan ku selama beberapa hari ini,” terang Kissky.


“Alah, paling modus!” Liza tak percaya begitu saja atas pengakuan Joe.


“Ya Tuhan, kau enggak boleh suuzon pada orang lain,” ucap Joe.


“Baiklah, kalau begitu, kita kenalan dulu, bar aku akan percaya, kau itu jujur atau tidak.” Liza yang ingin pendekatan pun mengambil kesempatan.


Joe dengan ramahnya, mengulurkan tangan pada Liza


“Jordan, tapi kau bisa memanggil ku dengan sebutan Joe.”


“Aku, Liza Zaza, sahabat karib Kissky dari SMP.” ucap Liza dengan wajah kalem di luar, heboh di dalam hati.


“Senang berkenalan dengan mu, aku kelas XI C, jurusan Otomotif.” Joe menjelaskan tentang dirinya lebih lanjut.

__ADS_1


“Kami dari seni, sekarang, berikan nomor telepon mu.” Kissky melirik Liza, yang begitu ketara, ingin mendekati Joe.


“Gimana ya...” Joe yang merasa tak nyaman pun bingung harus memberi nomor kontaknya atau tidak.


“Za, sudahlah, ayo kembali ke kelas, nanti kita terlambat loh!” Kissky yang malu akan sikap temannya, mengajak untuk segera kembali ke kelas.


“Sebentar!” Liza yang ingin menuntaskan keinginannya terus menunggu, hingga Joe memberikan nomornya.


“Ayo! Kau lama sekali!” Kissky kembali mengajaknya untuk pergi, namun Liza tak bersedia, hingga akhirnya Joe pun memberikan nomor pribadinya.


“Terimakasih banyak Joe.” ucap Liza dengan senyum sumringah.


Saat keduanya dalam perjalanan menuju kelas, Kissky menasehati sahabatnya.


“Liza, kau enggak boleh begitu loh, andaikan kau suka pada orangnya pun, tahan, perempuan itu di kejar, bukan mengejar, ku lihat dia terpaksa banget memberikan nomornya pada mu.”


“Kalau aku cantik, pasti aku takkan melakukannya, kau sih enak tinggal bilang begitu, nah! Aku yang tak memiliki tampang standar bagaimana? Kalau enggak usaha keras, rantai jomblo akut ku, takkan lepas, aku juga ingin punya pacar, sama seperti mu!” Liza yang belum pernah merasakan di cintai oleh lawan jenisnya pun, terus berusaha mendekati para lelaki yang masuk ke dalam tipe idealnya.


“Memangnya aku punya pacar? Bukannya kita sama-sama jomblo dari lahir?” Kissky yang telah menikah lupa akan statusnya.


“Sendiri itukan pilihan mu, kalau kau mau, banyak lelaki yang mengantri untuk jadi pacar mu, sedangkan aku.... sudah aku yang maju duluan, laki-lakinya pada kabur semua.” wajah Liza seketika murung, karena tak ada lelaki yang bersedia membalas cintanya.


“Sekolahnya ketat betul, pelajarannya juga full, oh iya, sebaiknya aku majukan saja alarm ku jadi jam 04:30.” ia yang takut terlambat ke sekolah lagi, mengubah jam alarm di ponselnya.


Ia yang baru saja membuka aplikasi alarm terkejut, saat pengaturan alarmnya sebelumnya adalah jam 06:00 pagi.


“Kok jam segini sih? Bukannya dari 2 tahun yang lalu aku buat jam 05:00?” ia yang sadar itu semua ada campur tangan dari suaminya, merasa geram.


Ia yang ingin istirahat mengurungkan niatnya, kemudian dengan segera, Kissky keluar dari kamarnya, menuju kamar Zanjiil.


Tok! tok! tok!!


Ia mengetuk pintu tersebut dengan keras berulang kali, hingga suaminya yang baru selesai mandi pun membuka pintu.


“Kau!” Kissky yang ingin marah, terdiam sejenak, saat ia melihat penampilan Zanjiil yang memakai handuk di pinggang, dan bertelanjang dada.


“Apa?!” sahut Zanjiil, serays meletakkan tangannya ke kusen pintu sebelah atas.

__ADS_1


“Pasti kau kan yang mengerjai ku! Mengubah alarm di handphone ku, kau senang ya melihat aku susah?!” pekik Kissky.


Wah! Gawat, akhirnya dia sadar juga, batin Zanjiil.


“Kenapa kau diam saja? Hah! Itu namanya bukan usil lagi, tapi jahat! Karena mu, aku jadi kena hukum! Tugas ku tinggal juga gara-gara kau! Sepanjang hari di sekolah juga kau enggak minta maaf atas apa yang kau perbuat, wah! Hebat banget kau! Tingkat ke tegaan mu melebihi Nara pidana!” mata dan mulut Kissky seolah berapi saat mengeluarkan isi hatinya.


Zanjiil yang sadar atas kesalahannya pun menelan salivanya.


“Maaf, aku salah.” ucapnya dengan rasa bersalah.


“Enak saja bilang maaf, kau pikir dengan meminta maaf, waktu bisa di ulang! Huh! Tangan ku sakit, pinggang ku encok, ini semua karena mu! Aku dalam bahaya juga, tak lepas dari kau penyebab utamanya! ” Kissky yang kesal mengepal kedua tangannya di hadapan wajah Zanjiil.


“Rasanya aku, pengen banget menguliti mu sampai habis!” ucapnya dengan sembarang.


“Nih!” Zanjiil memberikan tubuh tegap dan maskulinnya pada Kissky. “Kuliti sampai puas,” ucapnya.


“Apa?!” netranya tak bisa melihat Zanjiil, terlebih dada lelaki tampan itu lebih besar dari pada miliknya.


“Menjauh dariku dasar gila!” pekik Kissky.


“Ck! Yang datang pada ku itu kau, yang mau menguliti juga kau, jadi sekarang aku masih salah di mata mu?”


“Ya! Kau salah! Dengar ya biawak, aku sangat membenci mu! Dan juga pacar mu itu! Kau dan dia sama saja, enggak punya hati!”


“Kenapa kau jadi bawa-bawa Luna?”


“Karena aku enggak suka pada kalian berdua, sama menyebalkannya, dan suka cari masalah pada ku!”


“Aku terima kalau kau menyalahkan ku, tapi jangan sekali-kali bawa dia, karena dia tak salah apapun.” Zanjiil tak bisa menerima ketika Luna di bawa dalam permasalahan mereka berdua.


“Dia memang salah, dengan seenaknya main tangan pada orang lain, dan kau tanpa menyelidiki, malah membela wanita yang bukan muhrim mu, karena itukan, kau dendam pada ku, sehingga dengan teganya mengerjai ku, iya kan?!” Zanjiil tersentak saat Kissky mengatakan muhrim padanya.


Apa dia beneran serius menganggap pernikahan kami, batin Zanjiil.


“Mungkin kau benar, tapi dia begitu pasti ada sebabnya, sudahlah Ky, aku lelah dan belum pakai baju, tapi... kalau kau masih mau lanjut marah-marah pada ku, kita di dalam saja.” ucap Zanjiil seraya mengibas rambutnya.


“Apa maksud mu?” ucap Kissky dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


“Aku akan mendengar semua ocehan mu, sampai kau puas, tapi sambil aku memaki baju, kau tahu sendirikan, AC di seluruh rumah ini, nyala 24 jam? Memangnya kalau aku masuk angin, kau mau merawat ku?” Zanjiil menunduk, dan menghantar wajahnya ke wajah Kissky.


...Bersambung......


__ADS_2