Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 139 (Kena Marah)


__ADS_3

Karena sudah terlanjur di katakan oleh Zanjiil, akhirnya Liza jujur pada Gibran.


“Iya Bran, aku hamil.” Liza mengakui kondisinya yang tengah berbadan dua.


“Ya Allah, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau malah bisa kecolongan?!” Gibran turut sedih atas apa yang menimpa teman yang telah ia anggap adik.


“Aku memang salah Bran, tak hati-hati dalam melangkah.” ucap Liza seraya menghapus air matanya dengan tisu.


“Siapa laki-laki yang telah menghamili mu?” tanya Gibran penuh selidik.


“Joe.” jawab Liza singkat.


“Astaga....” Gibran yang tahu kalau Joe telah tiada mengusap wajahnya. “Lalu sekarang bagaimana? Apa ibu mu sudah tahu mengenai hal ini?”


”Belum, aku takut kalau jujur pada mereka, hiks...” Liza tak tahu harus bertindak apa saat itu.


“Jujur saja Liza, kalau kau memang ingin anak itu hidup, pasti suatu saat akan ketahuan,” Zanjiil memberi saran yang menurutnya benar.


“Tantekan orangnya baik Za, sebaiknya katakan saja, nanti kita bisa menentukan langka apa yang harus di ambil,” ujar Kissky.


“Betul kata Kissky dan Zanjiil, kami akan mengantar mu ke rumah orang tua mu.” ide dari Gibran membuat mata Zanjiil membelalak.


“Kenapa aku harus ikutan juga? Yang buat dia hamilkan Joe, jadi biarkan dia yang mengatakan pada orang tuanya sendiri, tentang semua perbuatannya.” Zanjiil menolak ikut ke rumah Liza.


“Zanjiil, kita semuakan sahabat, mana boleh begitu, saat suka dan duka kita harus bersama.” Kissky yang sayang pada Liza, berniat ingin mendampingi sahabatnya.


“Iya deh, sahabat banget.” Zanjiil tak dapat menolak karena sang istri yang meminta langsung.


“Kita pergi sekarang Za?” Kissky memegang tangan sahabatnya.


“Tapi aku takut.” Liza masih ragu dengan langkah yang akan ia ambil.


“Cepat atau lambat sama saja Liza.” Gibran menggenggam tangan Liza juga, seolah menguatkan gadis salah langkah itu.


Berkat dukungan ketiga sahabatnya, Liza akhirnya setuju.


Mereka berempat pun menuju rumah Liza yang di antar oleh Dimas.


Selama perjalanan Dimas terus melirik ke arah bangku belakang, yang di duduki Zanjiil, Kissky dan Liza.


Makin hari, tuan makin banyak teman, sampai-sampai masalah sensitif saja tuan ikut turun tangan, luar biasa pengaruh nyonya Kissky, batin Dimas.


Setelah 2 jam lebih di perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua Liza.


Sang ibu, Rachel yang tak kemana pun hari itu melihat kedatangan putrinya bersama 3 orang temannya.

__ADS_1


“Liza, kok pulang sayang? Ada apa?” Rachel yang tak tahu apapun merasa heran, apa lagi hari itu masih Rabu.


“Liza kurang sehat tante,” ucap Kissky.


“Benarkah? Kau sakit apa sayang? Pantas kau menangis, apa maag mu kambuh lagi nak?” Rachel menuntun tangan putrinya untuk duduk di sofa


“Ayo anak-anak duduk dulu.” kemudian Rachel meminta artnya untuk membawakan minuman pada teman-teman anaknya.


“Terimakasih sudah mengantar Liza, tante senang Liza punya teman seperti kalian.” Rachel sangat bahagia melihat anaknya mendapat banyak perhatian dari teman sekolahnya.


Lalu Kissky yang duduk di sebelah Liza, mencolek lutut sahabatnya. Seolah memberi kode.


“Mama, aku mau mengatakan sesuatu.” ucap Liza seraya memainkan jemarinya.


“Ada apa nak? Katakan saja.” Rachel memeluk putrinya yang terlihat lemah.


“Mama... aku hamil.” mendengar pengakuan mengejutkan putri semata wayangnya Rachel langsung menyingkirkan tubuh putrinya dari pelukannya.


Bruk!


Kepala Liza yang besar menambarak bibir Kissky yang duduk di sebelahnya.


Asem, sakit banget! batin Kissky.


“Anak siapa yang kau kandung Liza!” suara Rachel begitu melengking, hingga membuat telinga mereka yang mendengar seakan mau pecah.


“Jawab... apa dia ayahnya?!” Rachel menunjuk ke arah Zanjiil.


“Maaf tante, bukan aku, aku sudah punya istri, eh maksud ku pacar.” meski membunuh itu gampang untuknya, namun amarah ibu-ibu lebih menakutkan bagi seorang Zanjiil.


“Oh... jadi kau?!” Rachel mengalihkan telunjuknya ke arah Gibran.


“Bukan tante, saya hanya temannya.” ucap Gibran dengan suara bergetar.


“Ayahnya sudah meninggal ma, hiks...” Liza menangis kala mengingat kekasihnya.


“Apa? Jadi kau mengandung anak yatim?” seketika Rachel tak bertenaga, anak kebanggaan yang akan menjadi penerus perusahaan toko ponsel milik mereka akan memiliki anak di usia muda.


“Iya ma, maafkan aku sudah membuat mama kecewa.” Liza sangat menyesal atas kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.


“Kau benar-benar membuat mama gila Liza, mama sekolahkan kau di tempat bagus, berharap masa depan mu tertata dengan baik, tapi kau... menghancurkan harapan kami dengan sekejab, kalau sampai orang tahu kau hamil, kami takkan bisa menegakkan kepala kami lagi.” Rachel sangat sedih dengan nasib malang yang menimpa anaknya.


“Maafkan aku ma, aku salah...”


“Hancur sudah masa depan mu nak... kau takkan bisa sekolah lagi...” Rachel merasa pusing menghadapi masalah anaknya.

__ADS_1


“Liza masih bisa sekolah kok tan, tinggal ambil cuti saja, katakan dia sakit kanker stadium akhir, kalau sudah melahirkan, baru masuk sekolah lagi, tak apa kalau mengulang satu tahun.” ujar Zanjiil yang mempermudah segala masalah.


Gila banget sih dia, lagi serius juga, batin Kissky.


“Ada apa ini? Kenapa kau dan Liza menangis Chel?” tanya Rio, ayahanda Liza.


Kehadiran dari Rio membuat Rachel dan Liza jantungan. Rachel juga tak berani buka suara, sebab Rio adalah suami yang sangat tegas.


Kemudian Rio duduk di sofa, tepat di sebelah Zanjiil.


“Liza hamil om.” Zanjiil yang tak ingin bertele-tele malah mendahului Rachel bicara.


“Apa? Liza?” Rio mengernyitkan dahinya.


Astaga Zanjiil, batin Kissky.


Kissky sangat menyesal karena telah membawa suaminya ke rumah sahabatnya.


Seketika Rio bangkit dari duduknya dan mendatangi Liza.


“Siapa ayahnya?” pertanyaan yang sama keluar dari mulut Rio.


“Sudah meninggal pa.” ucap Rachel dengan suara yang redup.


“Ya Allah...” seketika Rio naik pitam.


Kissky, Gibran dan Zanjiil hanya diam, tak berani asal bicara lagi, sebab aura Rio begitu menakutkan di mata mereka.


Plak!


Rio menampar wajah Liza, “Anak kurang ajar! Ini sebabnya aku tak izinkan kun ngekos, tapi... kau malah minta terus... kau masih ingat yang papa katakankan? Papa akan menghukum berat kau kalau sampai membuat kesalahan?” Rio mengingatkan putrinya tentang apa yang ia katakan dulu.


“Iya pa.” Liza menganggukkan kepalanya.


“Papa tak ingin menanggung malu, gugurkan anak itu, masa depan mu masih panjang Za.” Rio yang belum siap memiliki cucu meminta pada putrinya untuk membuang calon cucunya.


“Jangan om!” ucap spontan Kissky, Zanjiil dan Gibran.


“Kalian tak usah ikut campur, karena ini demi kehidupan Liza ke depannya, sudah, kalian pulang saja!” seketika ketiganya merasa merinding, saat suara keras dari Rio menggema di telinga mereka.


Sialan, kalau bukan bapaknya Liza, sudah ku buat rujak daging dia! batin Zanjiil.


Kasihan Liza, andai dia tak salah jalan, batin Gibran.


Mudah-mudahan Liza tak di hajar oleh om. Kissky sungguh khawatir dengan sahabatnya setelah mereka tinggal.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2