Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 151 (Jujur)


__ADS_3

“Hei, harusnya kau tahu diri, belum cerai tapi sudah mau nikah lagi!” seperti biasa, Eric tak mau kalah dari Arsy.


“Benar-benar ya kau! Enggak berubah dari Zanjiil sampai ke Eric!” Arsy yang kesal turun dari motornya.


“Untuk mu saja motornya! Aku jalan kaki saja!” Arsy melanjutkan langkah kakinya.


“Astaga... begitu saja marah.” kemudian Eric mendorong motor Arsy. Dan mengembalikannya. “Ini, pergilah bekerja.” Eric tersenyum pada Arsy.


Kemudian Arsy menerimanya. Tanpa hati ia meninggalkan Eric di jalan sepi yang kanan kirinya adalah sawah.


Eric yang di tinggal sendiri merasa sedih, ia tak tahu, harus merelakan Arsy menikah dengan orang lain atau tidak.


Eric yang masih rindu istrinya diam-diam mengikuti dari belakang.


Dan ia pun dapat melihat istrinya mengajar di sebuah SD. Seketika Eric teringat akan masa lalu, saat Kissky mengatakan ingin hidup sederhana dengannya.


“Ya Tuhan, apa masih ada kesempatan untuk kami bersama lagi?” Eric meletakkan keningnya ke setir mobilnya.


Saat ia akan pergi, tiba-tiba ia melihat Devan. Calon suami Arsy datang ke sekolah itu.


Ia yang melihat Arsy dan Devan seketika merasa cemburu.


Niat awalnya merelakan, malah tak ikhlas. Eric pun memantau pergerakan keduanya.


Setelah selesai mengobrol, Arsy kembali masuk ke dalam kelas.


Ketika Devan akan pergi dengan menaiki motor metiknya, Eric keluar dari mobilnya dan menghadang jalan Devan.


“Bisa kita bicara?” ucap Eric.


Devan yang masih ingat betul dengan wajah Eric akhirnya menyetujui permintaan pria yang ada di hadapannya.


“Mau bicara dimana?” tanya Devan.


“Dimana saja, kau saja yang bawa jalan,” ucap Eric.


Devan yang ingin tahu apa yang akan di katakan Eric segera menuku kafe terdekat.


Sesampainya mereka. Eric dan Devan turun dari kendaraan mereka masing-masing. Kemudian mereka memasuki kafe.


“Mau makan apa?” ia bertanya duluan karena tak mau di traktir oleh saingannya.


“Kopi saja.” jawab Devan.

__ADS_1


“Baiklah.” lalu Eric memanggil pramusaji. “Tolong buat 2 kopi paling enak, pokoknya menu favorit,” pinta Eric dengan wajah sombongnya.


“Baik, tunggu sebentar ya pak.” sang pramusaji pun kembali ke dapur kafe.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Devan penuh selidik.


“Aku enggak akan banyak intro, Arsy yang akan kau nikahi, adalah istri ku 10 tahun yang lalu. Kami menikah saat masih sekolah, dan kami berpisah karena urusan keluarga, aku sudah lama mencarinya, dan baru sekarang bertemu lagi.”


Pernyataan Eric membuat Devan panas dingin.


“Dia anak yatim piatu, dan aku sudah mengenalnya sejak kami kuliah, jadi jangan bercanda ya! Aku kenal betul siapa calon istri ku!” pekik Devan.


Hati Eric sangat sakit, saat Devan mengaku telah mengenal Arsy sejak kuliah. Pasalnya Arsy terkesan mudah melupakannya.


Apa mereka pacaran saat itu juga? batin Eric.


“Aku takkan bicara tanpa bukti.” Lalu Eric memperlihatkan photo kebersamaannya dengan Arsy dan juga photo saat mereka menikah.


Deg!


Devan yakin betul kalau itu Arsy, pasalnya saat ia pertama kali bertemu Arsy, wajah calon istrinya itu persis dengan yang ada di handphone Eric.


“Aku masih mencintainya, aku meninggalkan segalanya demi dia, dan aku selalu mencarinya, huh! Andai dia masih memakai nama Kissky Huwl, pasti aku sudah bertemu dia jauh-jauh hari. Devan... lepaskan dia, karena aku dengannya belum bercerai.”


Devan menelan salivanya, ia tak tahu harus berkomentar apa. Rasa marah, cemburu, dan di bohongi bersarang di dadanya.


“Ku mohon, jangan menikahi istri ku, karena aku masih mencintainya.” ucap Eric dengan tegas.


Devan mengepal tangannya, perasaannya juga hancur seketika. Harapan berumah tangga dengan Arsy terancam gagal.


“Aku tak bisa melalukan itu begitu saja, karena undangan telah tersebar, aku juga sangat menyayanginya, dan tak mau kehilangan dirinya, mohon kau mengerti, dan jangan halangi jalan kami untuk bersama, bagaimana pun, kau hanya masa lalunya.”


Penolakan dari Devan membuat Eric menghela nafas panjang.


“Baik, tapi pikirkan baik-baik, karena aku bisa membawa masalah ini ke jalur hukum, aku dan dia masih sah, jadi siapkan pengacara mu!” setelah mengatakan itu, Eric meninggalkan kafe tanpa menunggu kopinya datang.


“Sialan!” umpat Eric dalam mobil. “Aku tak rela, bila Kissky Arsy ku di sentuh orang lain!” selanjutnya Eric melajukan mobilnya menuju hotel.


“Kalau tidak bisa dengan cara baik-baik, maka akan ku lakukan cara licik!” Eric pun merencanakan trik kotor untuk mendapatkan istrinya kembali.


Devan yang di tinggal di kafe di datangi oleh sang pramusaji.


“Ini kopinya pak.” sang pramusaji meletakkan kopi serta struk tagihan di atas nampan.

__ADS_1


“Terimakasih banyak.” ketika Devan melihat nominal yang harus ia bayar matanya langsung melotot, sebab itu adalah separuh gajinya sebulan sebagai guru honorer.


Gluk!


Ia pun menelan salivanya, ia yang belum gajian merasa ingin menangis saat akan membuka isi dompetnya.


100 ribu untuk satu kopi, apa aku akan kenyang 10 hari jika meminum ini? batin Devan.


Ingin rasanya dirinya memukul Eric yang meninggalkan tagihan padanya.


Bertemu sekali lagi, ku minta ganti uang kopinya, tapi salah ku juga sih, aku yang membawanya kemari, batin Devan.


Karena sudah terlanjur, ia pun meminum 2 kopi yang rasanya pahit minta ampun di lidahnya.


Andai ini bukan kopi sultan, pasti sudah ku buang. setelah menghabiskan 2 kopi yang mencekik lidah dan lehernya, Devan pun membayar ke kasir.


Rasanya ia tak rela memberi 2 tukaran merahnya pada sang kasir


Pada hal, 200 ribu bisa beli beras 20 kilo, astaga, apes banget. batin Devan.


Devan yang datang dari keluarga tak mampu, membuat ia merasa kopi dengan harga 100 ribu adalah harga yang luar biasa.


Setelah melakukan pembayaran, Devan pun berangkat kerja dengan membawa uang 10 ribu rupiah.


Malam harinya, Devan mengajak Arsy bertemu.


Mereka pun bersua di taman dekat rumah Arsy.


“Ada apa sayang?” tanya Arsy seraya duduk di bangku taman.


“Aku ingin tanya pada mu, tolong jawab jujur, apa benar, Eric adalah suami mu?” pertanyaan dari Devan membuat Arsy tersentak.


“Kau bertemu dengannya?” tanya Arsy kembali.


“Iya. Arsy, ku mohon jangan sembunyikan apapun lagi dariku, kita akan segera menikah, apa kau akan menyimpan kebohongan dalam pernikahan kita?” meski sudah tahu akan kebenarannya. Namun Devan ingin dengar langsung dari mulut Arsy.


Sejenak Arsy diam, sebab ia merasa bersalah, karena telah menyembunyikan masa lalunya.


“Katakanlah, jangan diam Sy, cepat atau lambat, pasti semua akan ketahuan.” Devan terus mendesak Arsy untuk jujur.


“Ya, kau benar, aku adalah istrinya, tapi kami sudah lama berpisah, tanpa cerai.” Arsy menundukkan kepalanya.


Devan memejamkan matanya, ia menjadi ragu untuk melanjutkan pernikahan mereka, terlebih ia melihat Eric adalah orang berada, pasti sulit untuknya melawan pria berduit itu.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2