Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 158 (Wanita)


__ADS_3

“Ayo! ikut aku!” Eric menuntun tangan istrinya.


“Mau kemana?” tanya Arsy.


“Ikut saja!” Eric membawa Arsy menuju kebun yang ada di belakang rumahnya.


Ketika Erik dan Arsy telah sampai. Seketika mata Arsy berbinar saat melihat tanaman yang ada disana.


“Kau yang tanam ini?” Arsy memegang cabai janda level 10 milik suaminya.


“Iya dong. Karena kau pernah bilang ingin bertani dan aku mencobanya.” Terang Eric.


“Kalau begini kita bisa kaya, apa lagi sekarang harga cabai dan sayur lagi mahal.” Arsy begitu senang melihat bebagai macam sayuran yang di tanam suaminya disana.


Ada kangkung, terong, cempoka, bawang putih, bawang merah, daun katuk, dan daun ubi.


“Tentu saja, lihat biar aku memasak untuk mu.” Eric pun memetik sayur dan cabai yang segar yang ia tanam.


Setelah selesai, mereka berdua pun menuju dapur.


Eric yang biasa memasak untuk dirinya sendiri, kini menambah porsi untuk istrinya.


“Sayurnya mau di apakan?” tanya Arsy penasaran.


“Di gule santan, dan telurnya di dadar,” ujar Eric.


Bukannya sama saja ya dengan apa yang akan ku buat? batin Arsy.


“Begini saja, kau yang masak gule, aku yang dadar telur. Biar cepat selesai, bukankah kau lapar?” tawaran yang di ajukan Arsy langsung di terima oleh Eric.


“Baiklah.” keduanya pun bekerja sama untuk membuat lauk makan siang mereka.


Setelah selesai memasak, Arsy dan Eric makan bersama.


Rasa telur dadar Arsy yang nikmat membuat Eric terharu.


“Kau kenapa?” tanya Arsy, sebab mata Eric berkaca-kaca.


“Tak ku sangka masakan mu enak sekarang, ku pikir kau tak berguna di dapur.” Eric masih sempat menghina istrinya yang sedang menikmati makannya.


“Sialan!” umpat Arsy.


Setelah selesai makan, Arsy merasa lelah. “Yang mana kamar ku?” tanya Arsy.


“Ngomongnya jangan aku Arsy! Tapi kita, kau makin tua makin aneh ya. Xixixi...” Eric semakin menjadi-jadi dalam meledek istrinya.


“Iya-iya!” Arsy yang malas berdebat hanya mengangguk setuju.


Kemudian Eric menunjukkan kamar mereka. “Ini!” seperti biasa, kamar lelaki selalu simpel tanpa pernak pernik.


“Aku tidur ya!” Arsy pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Kemudian Eric mengunci pintu kamar mereka.


“Hei!” Eric mencolek gunung kembar milik Arsy.

__ADS_1


“Akh! Apa sih Ric! Aneh banget kau! Bikin kesal! Tangan mu nakal banget ya!” Arsy pun menggeser tubuhnya menjauh dari Eric.


“Main lagi yuk!” Eric meminta jatah pada istrinya.


“Enggak mau, sekarang saja rasanya masih nyut-nyutan, perih dan juga nyeri, harusnya kau pengertian dong!” kemudian Arsy menutup tubuhnya dengan selimut.


“Apa benar sesakit itu?” tanya Eric.


“Tentu saja,” jawab Arsy.


“Sini ku periksa!” Eric membuka selimut istrinya.


“Untuk apa?!” Arsy duduk dan menarik selimutnya.


“Bagaimana pun aku perlu bertanggung jawab, itukan hasil perbuatan ku?” Eric tertawa nakal.


“Enggak usah, aku mau tidur sekarang.” Arsy menolak permintaan suaminya.


“Ayolah!” namun Eric yang naik rasa tetap meminta jatah pada istrinya.


“Hari ini sudah 2 kali loh! Enggak mau!” Arsy keberatan dengan permintaan suaminya.


“Ya sudah kalau begitu.” Eric pun merebahkan tubuhnya.


Arsy yang berpikir suaminya telah serius berhenti meminta memutuskan untuk tidur.


Eric yang memantau istrinya langsung bangkit, dan menarik celana Arsy.


“Eric! Dasar mesum!” Arsy mengata-ngatai suaminya.


🏵️


Dita yang ada di kamar kosnya membuka kotak jam tangan yang baru ia beli.


“Semoga pak Eric suka.” ia pun tersenyum. “Aku tak boleh menyerah, kalau memang ingin mendapatkan pak Eric ,aku harus ekstra cepat.” Dita percaya diri, kalau ia akan mendapatkan hati Eric.


Setelah itu ia menyimpan hadiah yang akan dia berikan pada Eric di dalam tasnya.


Ia yang rindu pada sang bos, memutuskan untuk mengirim pesan.


Jangan lupa makan pak. ✉️ Dita.


🏵️


Arsy yang kebetulan sedang memegang handphone Eric langsung membaca pesan tersebut.


Ceklek!


Eric yang baru keluar dari kamar mandi mendapat tatapan tak mengenakan dari Arsy.


“Apa mata mu sakit, sayang?” Eric mengecup pipi Arsy.


“Ini! Kau dapat pesan cinta dari pacar mu.” senyum lebar Arsy membuat Eric merinding.


“Pacar ku yang mana?” namun Eric terus saja memancing amarah istrinya.

__ADS_1


“Memangnya kau punya pacar berapa?” tanya Arsy dengan wajah masam.


Kemudian Eric mengambil handphonenya dari tangan Arsy.


“Hanya kau, satu-satunya.” Eric mencolek pipi Arsy.


Sontak Arsy menahan senyumnya. “Aneh kau! Apa kau belajar romantisme dari Liza?”


“Um... sepertinya iya.” sahut Eric.


🏵️


“Hatciiiuuh!” Liza yang sedang mengaduk susu tiba-tiba. bersin “Apa aku mau demam ya?” gumam Liza.


“Ada apa sayang?” tanya Gibran yang datang ke dapur.


“Tidak apa-apa, aku hanya flu sayang.” Liza mengecup pipi Gibran yang baru pulang kerja.


“Apa anak-anak sudah tidur?”


“Sudah sayang, tapi... kenapa kau pulang lama hari ini?” tanya Liza.


“Aku lembur sayang.” Gibran memeluk Liza.


“Lain kali kalau lembur bilang dong sayang, akukan khawatir kau di culik gadis-gadis yang mangkal di pinggir jalan.” Liza yang cemburuan membuat Gibran tertawa.


“Mana mungkin aku melirik wanita lain selama kau masih ada di sisi ku.” Gibran menyakinkan setianya pada liza.


“Awas saja kalau kau macam-macam!” pekik Liza.


“Terus kau mau apa kalau aku main gila sayang?” Gibran yang lembut mengelus puncak kepala istrinya.


“Ku gigit pisang mu sampai putus, setelah itu ku buat jadi dendeng pedas manis!” Liza mengancam suaminya.


“Bukannya si pelakornya yang harus di hukum?” Gibran mengira jika wanita yang akan selalu di salahkan.


“Perempuan selingkuhan mu juga ikut ku dendeng, lagi pula yang paling salah adalah kau! Sudah sadar kau punya istri dan anak, tapi kau masih cari barang baru, menurut mu kau masih bisa di anggap benar?!” Liza berkacak pinggang, dan memegang sendok makan besi di tangannya.


“Astaga sayang, aku tak pernah berniat main-main sekalipun, apa lagi sekarang kau sedang mengandung anak kembar kita.” Gibran menelus perut buncit Liza.


“Makanya, perlakukan aku dengan baik. Karena aku adalah wanita istimewa di zaman ini, mau melahirkan anak banyak-banyak, memangnya kalau kau menikahi mantan mu yang kemarin, dia mau mengandung berulang-ulang?” Liza bangga dengan dirinya yang tak memakai KB.


“Iyalah sayang, kau benar, terimakasih sudah mau menjadi istri ku.” Gibran mengecup perut besar Liza.


“Baiklah, kau ku maafkan, tapi tolong suap aku makan ya sayang, ini si kembar yang minta loh!” Liza selalu menjadikan anak yang ada dalam kandungannya sebagai alasan apabila ia ingin meminta sesuatu pada Gibran.


“Baiklah.” meski lelah, namun Gibran tak pernah mengeluh, karena ia sadar, nanti Liza akan mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan kedua bayi mereka ke dunia.


Dan Gibran yang telah mengetahui siapa ibunya, memutuskan untuk tak menemuinya, sebab sang ibu sama sekali tak mengenalinya, saat mereka berdua bertatap muka.


Untuk itu Gibran tak ingin, jika anak-anaknya merasakan hal yang sama, ia selalu mengalah, apabila Liza berkata tak enak padanya, karena Gibran, sangat menghormati istrinya, sebab di matanya, seorang istri harus di sayang.


Ia juga sadar tujuannya menikah untuk menambah beban, bukan meringankan beban.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2