
Selanjutnya Sinta menangkap tangan Luna kemudian memelintirnya. Hingga Luna merasakan sakit yang luar biasa.
“Lepaskan!” Luna berteriak tanpa henti, namun Sinta tak ada rasa iba sedikit pun.
Winda yang mendengar kekacauan yang terjadi mendekat.
“Ada apa ini?” Winda yang melihat wajah Luna langsung mengerti situasi sebenarnya.
“Lihat, apa yang dia lakukan pada ku!” Luna menunjuk ke arah bibirnya yang terluka.
“Dia datang membawa kerusuhan kak, dan dia juga menyuruh ku untuk membawa nyonya ke hadapannya.” Sinta mengatakan apa yang di lakukan Luna sebelumnya.
Winda dengan wajah tanpa ekspresi berkata, “Bawa dia masuk.”
“Tapi kak??” kedatangan Luna yang tak bersahabat membuat Sinta tak sudi untuk menuntun Luna masuk ke dalam rumah.
“Sinta!” Winda membentak juniornya.
“Baik kak.” Sinta yang ingin bicara pada Luna, malah mendapat perlakuan kasar.
Brak! Luna menabrak bahu Sinta saat akan masuk ke dalam rumah.
Dan tanpa di persilahkan Luna duduk di ruang tamu dengan seenaknya.
Winda yang masih di pintu utama menelepon Pinkan.
Nyonya, disini ada Luna, kekasih tuan muda. 📲 Winda.
Maksud mu, wanita yang kemarin di bawa Zanjiil ke rumah ? 📲 Pinkan.
Ternyata Winda memberitahu Pinkan, saat Zanjiil membawa Luna ke rumah keluarganya.
Betul nyonya. 📲 Winda.
Untuk apa dia ke rumah? Bukankah Kissky di rumah? 📲 Pinkan.
Betul nyonya, Luna juga buat ulah, dia memaksa untuk membawa nyonya Kissky ke hadapannya, Luna juga sudah berkelahi dengan Sinta. 📲 Winda.
Winda menceritakan kronologi kejadian secara detail.
__ADS_1
Eksekusi! Kau tahukan, siapapun yang berani membuat kerusuhan di kediaman Rabbani, harus di habisi? Apa lagi dia sudah mengancam akan menyakiti menantu ku. 📲 Pinkan.
Model berapa nyonya? 📲 Winda.
4! Jaga organ-organnya tetap utuh, abang ku lagi butuh ginjal, kirim secepatnya! 📲 Pinkan.
Siap nyonya, dagingnya mau di masak atau bagaimana nyah? 📲 Winda.
Lempar ke kandang anjing. 📲 Pinkan.
Siap nyonya. 📲 Winda.
Setelah sambungan telepon terputus, Winda menyusul ke ruang tamu.
Ia pun melihat, mulut Luna yang tak hentinya mengoceh.
Lalu Winda dengan langkah yang tenang berdiri di hadapan Luna yang duduk di atas sofa.
“Apa kau sudah memanggil si ****** itu? Atau belum? Kamarnya di sebelah mana? Biar aku sendiri yang ke sana!” Luna yang tak tahu nyawanya dalam bahaya bangkit dari duduknya.
Buk! Winda dengan secepat kilat mendaratkan tinju besarnya ke hidung Luna.
Tenaga Winda yang ahli dalam berbagai teknik bela diri membuat Luna kalah telak dalam sekali pukul.
“Bawa dia ke ruang bawah tanah!” Winda memberi titah pada 2 ajudan yang ada di sebelah kiri dan kanannya.
Luna yang saat itu tak berdaya, tak mampu untuk berteriak apa lagi melarikan diri.
Ia yang lemah di gendong ala bridal style oleh ajudan dengan kepala plontos.
Kali itu Luna baru sadar bahwa dirinya menjalin kasih dengan seseorang yang tak biasa.
“Lepaskan aku,” ucapnya dengan suara redup
Namun si ajudan hanya tersenyum getir padanya.
Si ajudan pun menuruni anak tangga yang tak dapat di kira jumlahnya oleh Luna. Hingga akhirnya ia sampai di lantai basemen yang memiliki banyak ruangan.
Tak lama ajudan itu pun berhenti di sebuah ruangan, tepat di sebelah ruang bertuliskan studio.
__ADS_1
Ajudan satunya pun membuka pintu, kemudian mereka masuk ke dalam ruangan.
Dengan mata sendu Luna menatap ke setiap sudut ruangan.
Ia pun melihat pasung, berbagai organ manusia dalam toples, yang di susun rapi dalam rak kaca dengan suhu yang telah di sesuaikan agar tak merusak kualitas organ yang ada disana. selain itu ia juga melihat ada ranjang pasien yang biasa di pakai di rumah sakit, yang paling membuat ia bergidik ngeri adalah tali penggantung leher dan juga guillotine, alat pemenggal kepala manusia yang biasa digunakan algojo.
Ia pun menelan salivanya, “Tolong maafkan aku... bebaskan aku...” ucapnya dengan suara yang parau.
Winda yang ada dalam ruangan itu membuka baju seragam kerjanya yang berwarna putih.
Saat bajunya telah terlepas, nampak jelas banyak tato dalam tubuhnya.
”Angkat badannya ke atas bak!” titah Winda.
Tubuh gadis malang itu pun di gotong oleh kedua ajudan yang di perintahkan oleh Winda.
Luna menangis histeris, “Jangan! Bebaskan aku, aku minta maaf, aku takkan mengatakan pada siapapun apa yang telah ku lihat, aku mohon... hiks...”
Luna yang tahu ajalnya akan tiba tak dapat menahan ketakutannya.
Namun orang-orang pesuruh keluarga Rabbani seolah tak mendengar isak tangis Luna.
Setelah tubuh Luna di letakkan dalam bak yang dalamnya 20 cm, Winda pun duduk di sebelah leher gadis malang itu.
“Perlu adab kalau datang ke rumah orang lain, kau yang bukan siapa-siapa ingin melukai anggota keluarga Rabbani? Itu adalah nyali yang tak bisa di maafkan, tak ada orang yang keluar hidup-hidup dari rumah ini, kalau cara datangnya tak baik. Karena kau akan mati, akan ku ceritakan sedikit pada mu, mengenai keluarga ini.” ucap Winda seraya mengasah pisaunya.
Luna geleng-geleng kepala dengan penuh air mata di pipinya.
“Kak, tolong jangan bunuh aku, maafkan aku, aku akan membayar berapapun asal kau membebaskan ku, hiks...” Luna yang masih berharap hidup, memberi penawaran pada Winda.
“Hahaha!! Kau mau kasih berapa? Kau pikir, kami para Art dan pekerja di rumah ini di bayar murah oleh keluarga Rabbani? Ck, ck! Gaji kami semua ratusan juta perbulan, kau tahu apa yang membuat kami di bayar mahal? Pertama, kami memiliki loyalitas tinggi, kedua, kami bukan pekerja biasa seperti yang kau bayangkan, kalau tak bisa karate dan menbunuh manusia, takkan lulus seleksi, dan apabila kami melakukan pengkhianatan, maka kami dan anggota keluarga kami akan di habisi. Selama kami mengikuti aturan, semua akan baik-baik saja.” Winda bercerita dengan begitu santai.
“Maafkan aku!” Luna yang ingin bangkit dari bathtub, kembali mendapat pukulan panas tepat di kepalanya.
“Aku belum selesai cerita, kau tak boleh bergerak Luna!”
Dengan setengah kesadarannya, Luna harus mendengar kisah kelam keluarga kekasihnya.
“Keluarga Rabbani, secara turun temurun melakukan bisnis jual organ, dan juga menerima jasa menghabisi nyawa orang lain, apabila si klien tak ingin jasad korbannya, maka kelurga Rabbani akan mengambil organ yang bisa di jual, serta daging korban itu akan di jual di dark web. Pembeli organ tiap bulannya terus meningkat, begitu pula dengan daging manusia pekilonya lumayan mahal, bisnis legal yang mereka kelola selama ini hanyalah pengalihan dari kecurigaan polisi, di dalam pabrik pembuatan barang-barang yang mereka produksi, ada ruang bawah tanah yang luasnya 100 hektar, disitulah pesta penyembelihan manusia, banyak dokter bedah yang bergabung, dan bekerja di bawah kuasa keluarga Rabbani Hahahaha!” Winda tertawa lepas.
__ADS_1
...Bersambung......