Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 122 (Panas)


__ADS_3

Basuki melihat putranya yang pergi tanpa menyapanya.


Ada apa dengannya? Apa dia mau ikut-ikutan ngambek seperti mamanya? batin Basuki.


Basuki yang ingin pergi ke kamarnya terlebih dahulu menemui Winda ke dapur sekalian mengisi perutnya.


Kissky yang diabaikan anak dan ayah itu makin bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Ia pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Zanjiil.


Sedangkan Basuki yang telah tiba di dapur menyapa Winda.


“Win...” ucap Basuki seraya duduk di kursi.


“Iya tuan?” sahut Winda.


“Tolong, berikan ini pada nyonya.” Basuki menyerahkan dokomen perceraiannya bersama Pinkan.


“Baik tuan.” Winda mengambil dokumen tersebut tanpa tahu isinya.


“Apa tuan mau makan?” tanya Winda, karena ia melihat wajah majikannya yang pucat.


“Iya Win.” entah mengapa, Basuki meragu akan dokumen cerai yang ia siapkan sendiri.


Setalah selesai mengambil nasi. Winda meletakkannya di hadapan Basuki.


Winda yang melihat keanehan pada tuannya tak memberi komentar sama sekali, karena bukan haknya untuk memberi masukan bila tak di minta.


“Winda, kalau aku dan nyonya jadi berpisah, kau harus keluar dari rumah ini, karena bagaimana pun, kau adalah orang bawaan ku,” terang Basuki.


“Saya ikut apa kata tuan.” Mendengar penyampaian tuannya Winda cukup terkejut, dan ia pun tahu, Esra adalah penyebabnya.


“Baguslah kalau begitu, apa menurut mu Zanjiil dan Lula akan mengerti?” Basuki menanya pendapat Winda.


“Tentu saja, tapi mereka akan sangat kecewa dengan keputusan tuan dan nyonya,” terang Winda.


“Begitukah?” ujar Basuki.


“Iya tuan, dan perlu tuan tahu, baik tuan muda Zanjiil dan nona Lula, bukanlah anak-anak biasa, karena mereka di didik dengan kekerasan, saya yakin keduanya akan berontak, dan kalau bisa, tuan pikirkan lagi, karena kalau berpisah, tuan sendiri yang akan rugi, karena sudah jelas, nona Lula dan tuan Zanjiil akan ikut nyonya, dan itu akan mendatangkan kehancuran bagi tuan.” Winda mengeluarkan pendapatnya.


Basuki yang bimbang, menjadi ragu untuk menceraikan Pinkan, karena ia sendiri sadar bisnis ilegalnya menjadi jaya berkat kedua anak dan istrinya yang pintar di bidang strategi pemasaran dan jiga transaksi.


Namun di sisi lain, ia tak bisa ingkar janji lebih lama pada Esra.


“Winda...”


“Iya tuan?” sahut Winda.


“Kembalikan dokumen cerai itu,” pinta Basuki.


“Baiklah tuan.” Winda memberi dokumen tersebut kembali pada Basuki.


Baguslah, lagi pula wanita itu tak tahu malu banget, ingin menghancurkan rumah tangga tuan dan nyonya, batin Winda.


_____________________________________

__ADS_1


Kissky yang baru selesai mandi dan berpakaian masuk ke kamar Zanjiil melalui pintu kamar mereka yang terhubung.


“Zanjiil...” Kissky memanggil nama suaminya.


“Ya?” sahut Zanjiil yang baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk di pinggangnya.


Kissky yang melihat pemandangan indah itu jadi malu-malu kucing.


“Oh, kau belum selesai? Kalau begitu, aku akan keluar,” ucap Kissky.


“Kau jangan kemana-mana? Duduk saja di ranjang, kitakan suami istri, jadi harus mulai membiasakan hal umum seperti ini pelan-pelan,” ujar Zanjiil.


“Baiklah, kalau kau memaksa,” kemudian Kissky duduk di pinggir ranjang Zanjiil.


“Ky, ini namanya ****** ***** pria, khusus untuk ku, ukurannya XXXL.” terang Zanjiil seraya memperlihatkan celananya pada istrinya.


“Aku enggak nanya.” ucap Kissky.


“Buar kau tahu saja, mana tahu nanti kau mau beli kado ulang tahun untuk ku?” ujar Zanjiil seraya memakai ****** ******** di hadapan Kissky.


Zanjiil, ayo dong godain aku, masa aku kalah dengan Liza, batin Kissky.


Namun Zanjiil yang tak selera hari itu malah memakai pakaiannya dengan baik, tanpa berbuat iseng pada istrinya.


Setelah itu Zanjiil duduk di sebelah Kissky. “Ky!”


Tab! Zanjiil memeluk Kissky dengan erat.


Dari tadi ini yang ku tunggu-tunggu, batin Kissky.


“Ya Zanjiil?” sahut Kissky.


“Aku juga merasakan apa yang kau rasakan.” Kissky menggombal Zanjiil kembali.


Zanjiil yang ingin bercerita mengurungkan niatnya.


Ini adalah aib keluarga, tak selayaknya Kissky tahu ini. Zanjiil menyimpan rasa sakitnya sendirian.


“Zanjiil...”


“Iya Kissky??”


“Kenapa kau tak mencium ku?” tanya Kissky, yang ternyata menunggu momen tabrak bibir dengan suaminya.


“Kau ketagihan?”


“Iya, karena rasanya manis,” kali itu Kissky jujur pada suaminya.


“Baiklah.” kemudian Zanjiil mengecup bibir lembut istri cantiknya.


“Aku mau yang itu...”


“Yang mana?” Zanjiil tak mengerti maksud Kissky.


“Yang main adu lidah, masa kau enggak tahu?” Kissky memancungkan bibirnya.

__ADS_1


“Okelah...” kemudian Zanjiil langsung menyeruput lidah Kissky.


Kissky yang candu menaruhkan tubuhnya ke atas ranjang, yang di ikuti oleh Zanjiil.


Ini pasti efek si Liza, makanya wanita jelek ini jadi genit, batin Zanjiil.


Keduanya terus saja beradu kelihaian sampai lupa waktu.


______________________________________


Joe yang sedang berada di rumah bertemu dengan ibunya.


“Joe, kapan kau akan membunuh Lula?” Esra penasaran, karena putranya tak kunjung memberikan laporan baru padanya.


Joe yang mulai berubah sebenarnya tak ingin melakukan permintaan ibunya, karena bila ia pikir-pikir, Lula atau Zanjiil tak pernah mengusik hidupnya.


Namun permintaan sang ibu, tak dapat Joe tolak begitu saja. Karena sudah pasti, Esra yang tamak tak mau tahu akan alasan Joe.


“Nanti saja ma, aku belum sempat saat ini.” ucap Joe, ia yang ingin buru-buru bertemu Liza berniat segera keluar rumah.


“Lakukan secepatnya, mama enggak mau tahu, anak itu harus mati, karena sampai kapanpun mama tak akan merasa tenang, sebelum melihat Pinkan menangis darah.” perkataan Pinkan sungguh membuat Joe tak nyaman.


Liza yang mengajarkannya kelembutan berhasil mengubah cara pandangnya sedikit demi sedikit.


“Baiklah ma.” meski tak setuju, Joe pura-pura setuju dengan yang ibunya katakan, tujuannya agar ia keluar dari ruang itu.


__________________________________________


Malam harinya, Basuki duduk di teras pintu utama menunggu kepulangan Pinkan.


Namun hingga pukul 23:00 malam, istri yang ia sakiti tak kunjung kembali.


“Kemana saja dia dari pagi?” Basuki yang penasaran mengirim pesan pada Pinkan.


Namun saat ia membuka aplikasi si hijau, Basuki mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak melihatnya photo profile istrinya.


“Apa dia memblokir nomor ku?” Basuki yang tak pernah melihat istrinya tak memakai photo menjadi curiga sendiri.


Namun saat ia masih dalam rasa penasarannya, tiba-tiba Pinkan memajang photo profilnya bersama terong muda yang ketampanannya mengalahkan Basuki.


Baik dirinya dan kedua anaknya yang melihat hal tersebut dari handphone mereka masin-masing merasa malu sendiri.


Sebab Pinkan, menggandeng pria yang jauh di bawah umurnya.


”Ternyata dia serius ingin berpisah.” Basuki menggenggam erat handphone buah miliknya. Hatinya pun semakin kuat untuk berpisah saat itu.


“Awas saja kalau dia pulang, akan ku beri pelajaran.” tanpa sadar Basuki merasa cemburu pada istrinya.


Ia yang menanti sang istri harus menahan amarahnya, sebab Pinkan tak pulang hingga tiga hari lamanya.


Yang membuat Basuki makin naik pitam, Pinkan tak pulang karena sedang liburan bersama pacar barunya.


Banyak photo-photo mesra yang di bagikan Pinkan dalam status update 24 jam aplikasi si hijaunya.


Basuki tiap kali bertemu Kissky dan Zanjiil di meja makan tak mengeluarkannya sepatah kata pun dari bibirnya.

__ADS_1


Begitu pula dengan anak dan menantunya,mereka enggan untuk buka suara, karena tahu akan perseteruan antara ibu dan ayah mereka.


...Bersambung......


__ADS_2