Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 44 (Ruangan)


__ADS_3

“Tetap saja, aku rugi!” pekik Kissky.


“Ya sudah, kalau merasa rugi, akan ku tunjukkan punya ku juga, biar kita impas!” ucap Zanjiil yang berdiri tegap di hadapan Kissky.


“Enggak deh! Makasih! Sebaiknya kau keluar!” Kissky menolak tawaran Zanjiil mentah-mentah.


“Enggak bisa! Lihat dulu!” Zanjiil memegang ujung resletingnya.


“Berani buka, aku teriak nih!” Kissky memberi ancaman pada Zanjiil.


“Teriak saja! Lagi pula siapa juga yang berani masuk? Kau kan istri ku, apa kau lupa?” Zanjiil meletakkan telunjuknya di dahi Kissky.


“Tapi aku enggak mau bersentuhan dengan mu!” Kissky membuang wajahnya.


“Kalau aku mau, kapan pun akan ku lakukan, jika kau tak sudi, itu urusan mu, bukan aku!” kemudian Zanjiil meletakkan kedua tangannya ke pipi kiri dan kanan Kissky.


“Kau mengerti, istri?” Zanjiil yang terbawa suasana pun mulai membuat ancang-ancang untuk mengecup bibir seksi merona Kissky.


Ya ampun, aku harus gimana nih? batin Kissky.


Saat bibir keduanya hampir bersentuhan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Kissky.


Tok tok tok!


“Ck!” Zanjiil memejamkan matanya sejenak menahan kesal.


“Ada saja yang mengganggu!” pekik Zanjiil.


“Coba ku lihat siapa orangnya, akan ku beri pelajaran karena telah menggangu momen indah ku!” Zanjiil pun berjalan ke arah pintu, dan membuka kuncinya.


Ceklek... Kriett...


Saat pintu telah terbuka, ia memutar mata malas.


“Untuk apa kau pulang?” ucapnya pada Lula.


Kissky yang berada dalam kamar, penasaran siapa yang berada di luar pintu.

__ADS_1


“Memangnya ini rumah mu? Warisan belum di bagi saja wajah mu sudah masam begitu melihat ku datang! Minggir!” Luna menabrak bahu Zanjiil saat akan masuk ke kamar Kissky.


“Dasar!” Kemudian Zanjiil mengikuti langkah Lula.


Lula yang melihat penampakan tak biasa dalam kamar itu berkacak pinggang.


“Ada perang apa ini?” ucapnya, sebab ia melihat bantal berserakan di sembarang tempat.


“Itu...” Kissky malu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


“Tadinya kita mau begituan, tapi kau datang merusak suasana,” ucap Zanjiil tanpa rasa malu.


Sontak Kissky memelototi Zanjiil yang teramat jujur.


Anak kurang ajar! batin Kissky.


“Oh! Jadi aku menggangu ya?” Lula menatap serius ke arah Zanjiil.


“Tentu...” jawab Zanjiil.


“Enggak kok La, maaf kalau kamar ku berantakan ya.” Kissky tertawa kaku karena. Kemudian ia membereskan bantalnya kembali ke atas ranjang.


“Enggak kok, apa kau sudah makan? Ayo biar ku temani!” Kissky merangkul bahu Lula.


“Apa enggak masalah? Kaliankan belum selesai?” ujar Lula.


“Ahaha... kau ini... percaya saja apa yang dia katakan, Zanjiil hanya bercanda kok tadi,” ucap Kissky.


“Oh ya?” Zanjiil menggenggam tangan Kissky, menahannya untuk tak pergi kemana pun.


“Apa sih!” Kissky menghempaskan genggaman Zanjiil.


“Jangan kemana-mana, ikut aku ke studio,” ujar Zanjiil.


“Malam-malam begini kita ke studio?” tanya Kissky, ia berpiki, Zanjiil akan membawanya keluar rumah.


“Iya, tenang saja, studionya ada di ruang bawah tanah!” terang Zanjiil.

__ADS_1


“Oh ya? Apa ada piano atau gitar?” Kissky yang bisa memainkan keduanya merasa bersemangat. Ia seolah lupa, kalau dirinya dan Zanjiil baru saja bertengkar.


“Jangankan itu, ruang rekaman juga ada,” Zanjiil merasa bangga dengan peralatan musik mereka yang lengkap.


“Bang! Kalau mau melukis ke ruang seni saja, biasanya kalau kita mau melukis memang disana kan? Semua poto-poto juga di simpan disana, untuk apa ke basemen, yang ada kau akan buat bising!” karena dapat larangan dari Lula, Zanjiil mengurungkan niatnya untuk membawa Kissky ke studio tersebut.


“Baiklah, ayo Ky!” sebelum pergi, Zanjiil mengambil kertas kanvas yang ada di atas meja belajar Kissky.


Kissky yang ingin menolak ikut, malah di dukung oleh Luna.


“Sana kak! Belajar yang rajin ya?!” Luna memberi semangat pada kakak iparnya.


Setelah itu, Zanjiil dan Kissky beranjak menuju lantai 3 menggunakan lift.


Ting! Ketika pintu lift terbuka, keduanya keluar secara bersamaan.


Kissky yang teringat kembali akan kelakuan Zanjiil padanya mulai menjaga jarak.


Disini sepi banget, batinnya.


Ia pun celingak-celinguk, di hatinya timbul pertanyaan, saat melihat banyaknya ruangan di lantai 4 tersebut.


Setelah berjalan selama 2 menit, keduanya pun sampai di depan pintu, yang di atas kusennya terukir tulisan ruang seni.


Kemudian Zanjiil merogoh kunci ruangan tersebut dari sakunya.


Retek!


Krieett...


Ia pun membuka pintu ruangan , Kissky yang baru pertama kali masuk kesana merasa kagum. Sebab di ruangan yang memiliki panjang 30 meter dan lebar 20 meter tersebut, banyak terdapat lukisan dengan berbagai tema, tak cukup sampai disitu, Kissky juga melihat beberapa guci dengan cetakannya yang ada di sudut ruangan.


Di sepanjang dinding ruangan, terpanjang dengan rapi, hasil lukisan yang telah jadi dan juga hasil photo yang di tangkap oleh kamera.


“Apa ini museum?” gumamnya.


“Tepatnya, ini museum milik kelurga! Kalau kita senggang, akan melakukan apa pun yang kita inginkan,” terang Zanjiil.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2