
Mata Basuki membelalak sempurna, saat putranya memanggil istri mudanya dengan sebutan nama.
“Zanjiil! Sopan sedikit ya!” Basuki membentak anaknya.
“Hei, Basuki. Jangan marahi anak ku, lagi pula apa ada yang salah dengan yang ia katakan? Bukankah benar, kau menikahi wanita gatal itu lagi?”
Basuki sungguh tak terima istri mudanya di hina oleh Pinkan.
“Pinkan, jaga ucapan mu, dia tak seburuk apa yang kau katakan.” Basuki membela Esra yang telah berhasil memisahkan ia dengan istri sahnya.
“Basuki, jika ia baik, pastinya dia tak akan mengambil mu dariku dan juga anak-anak mu. Dan jika kau suami yang adil dan waras, tak mungkin kau mengkhianati seluruh keluarga mu, hanya karena seorang janda miskin itu!” Basuki dan Pinkan pun bersitegang.
“Pinkan!”
“Basuki! Setelah ku tanda tangani surat cerai itu, segala aset yang ikut ku kelola, wajib di bagi.” ucap Pinkan dengan tegas.
“Mama mau cerai dengan papa?” Lula yang baru tahu merasa sedih mendengar kabar duka tersebut.
“Iya nak, maafkan mama, bukan mama tak sayang kalian, tapi... mama sudah mencoba bertahan selama bertahun-tahun, kalian berdua juga tahu bagaimana perjuangan mama, jadi mama harap, kalian tak menghalangi perpisahan mama dan papa.”
Selain Zanjiil dan Lula, ternyata Basuki juga merasa sedih, akan keputusan final Pinkan.
“Ma, pikirkan matang-matang, jangan asal memberi keputusan,” Zanjiil tak ingin jika suatu saat ibunya menyesal.
“Tidak nak, mama sudah yakin dengan keputusan mama, dan tujuan mama pulang hari ini, hanya untuk mengambil barang-barang mama.”
Duar!!
Basuki tersentak bukan main, Pinkan yang selama ini tergila-gila padanya bisa pergi begitu saja.
“Apa? Jadi kau serius?” Basuki mengernyitkan dahinya.
“Iya, ini semua demi kau, karena pastinya sulit bagi mu dan dia hidup sembunyi-sembunyi.” setelah itu, Pinkan pergi menuju kamarnya.
“Mama!!” baik Zanjiil mau pun Lula mengikuti langkah Pinkan menuju kamar.
Seketika Basuki merasa nyawanya melayang, ia tak menyangka, kalau hatinya akan sesakit itu hanya karena di tinggal Pinkan.
Ia juga tak dapat membayangkan, bagaimana amarah yang akan ia terima dari orang tuanya di kampung.
Pinkan yang masuk ke kamar tamu membuat Zanjiil dan Lula melihat satu sama lain.
__ADS_1
“Sejak kapan papa dan mama pisah ranjang?” tanya Lula ke abangnya.
“Aku enggak tahu.” kemudian kedua bersaudara itu masuk ke dalam kamar ibunya.
“Ma, pikirkan lagi ma kalau mau keluar, masa mama mau meninggalkan kita?” Lula membujuk ibunya agar tak pergi.
“Apa boleh buat, mama mengambil keputusan ini setelah berpikir panjang. Mama yakin kalian berdua bisa jaga diri,” ucap Pinkan.
”Mama, yang tak bisa di jaga itu hati ma, aku enggak habis pikir, kalau mama pergi hanya karena wanita itu, kepergian mama, membuka pintu lebar untuknya kesini, aku tak sudi, kalau dia menginjakkan kaki di rumah kita ma.” Zanjiil berusaha untuk mempengaruhi ibunya.
“Apa boleh buat, mama cape nak, bertahan tanpa di cintai rasanya sakit, maafkan mama Zanjiil, sudah merusak masa muda mu, tak seharusnya kau menikahkan mu dengan Kissky dulu, sekarang langkah mu terjangkau karena istri mu, tapi walau pun begitu, mama mohon pada mu, jangan lakukan kesalahan yang sama pada Kissky, karena itu sangat sakit.” Pinkan menasehati putranya agar tak mengikuti jejak sang ayah.
“Aku mengerti ma, terimakasih atas nasehatnya,” sungguh hati Zanjiil sangat sedih karena kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
“Kalau kau tak betah tinggal disini, carilah rumah untuk mu dan Kissky, masalah uang tak usah khawatir, mama akan memberi misi pada mu,” terang Pinkan.
“Ma, jangan sampai menyesal, karena wanita itu akan merasa di atas angin.” Lula mengingatkan sang ibu.
“Tidak apa-apa, mama sudah dapat yang lain.” Pinkan terlihat bahagia dengan jalan yang ia pilih.
Lula yang merasa sakit hati karena di tinggal sang ibu, berniat untuk membalas perbuatan ayahnya.
Lihat saja, aku akan menelepon nenek dan kakek, akan ku bongkar semua kebusukan papa selama ini, enak banget wanita itu, dia yang bukan siapa-siapa mengusik keluarga besar kami, batin Lula.
“Lula, kau tetaplah di rumah, kalau si gatal jadi datang kemari, usik hidupnya, bunuh dia perlahan-lahan saja, biar dia tahu rasa.” Pinkan memberi amanat pada putrinya.
“Oke ma, nanti ku rengsa dia, kalau memang benar datang ke rumah ini.” Lula yang taat pada sang ibu dengan mudah menyanggupi titahnya.
“Zanjiil, kau juga sudah jadi kepala rumah tangga, jangan neko-neko seperti kemarin lagi,
karena itu hanya akan mendatangkan kehancuran. Jaga istri mu, cintai dia.” setalah itu Pinkan keluar kamar.
Basuki yang duduk di ruang tamu melihat istrinya melintas di hadapannya.
Sungguh ia ingin mencegah langkah Pinkan, namun apa daya, egonya yang lebih besar dari gunung Everest tak dapat ia turuni.
Pinkan pun melenggang mulus dari rumah besar yang ia tinggali dengan suaminya.
Kau pasti menyesal, Basuki. Meninggalkan ku hanya akan membawa kesialan untuk mu, suatu saat, jika kau sudah sadar. tiada lagi yang tersisa selain kata seandainya, batin Pinkan.
Lula dan Zanjiil menatap nanar kepergian sang ibu yang begitu mendadak.
__ADS_1
Basuki yang ingin bicara pada kedua anaknya merasa segan, sebab ia sadar, karena ulahnya ibu mereka pergi dari rumah.
Kissky yang baru bangun tidur merasa perutnya sangat lapar. Ia yang turun ke ruang makan tak melihat siapapun.
“Kak Win, semua orang kemana?” tanya Kissky pada Artnya.
“Tuan besar ada di ruang kerja, nona dan tuan muda lagi ada urusan di luar,” terang Winda.
“Begitu ya kak?” Kissky mengangguk paham.
Pada hal kak Winda kerjanya di dapur, tapi dia tahu segalanya, luar biasa, batin Kissky.
“Mama belum pulang juga ya kak?” tanya Kissky kembali.
“Nyonya sudah pulang, tapi sekarang lagi pergi,” jawab Winda.
“Ada apa dengan mereka semua?” Kissky merasa aneh, karena dirinya di tinggal sendiri.
🏵️
Liza yang berada di kosannya di datangi oleh Joe.
“Kau datang?” sapa Liza dengan wajah yang ceria.
“Iya, ini!” Joe membawa oleh-oleh untuk kekasihnya.
“Apa ini?” tanya Liza penasaran.
“Buka saja.” kemudian Joe dan Liza duduk di atas sofa.
Saat Liza membuka isi dalam tas belanja yang di bawa oleh Joe, matanya membelalak sempurna.
“Sayang, kau serius memberi ku berlian?!” Liza menatap tak percaya ke arah pujaan hatinya.
“Iya, apa ada yang salah?”
“Tidak sih, hanya saja ini sepertinya mahal,” Liza tak enak menerima barang tersebut.
“Tidak, hanya 100 juta.” jawab Joe dengan polosnya.
“Kau dapat uang darimana sayang? Jangan-jangan ini punya tante ya?” Liza sangat takut jika kekasihnya mencuri.
__ADS_1
“Enggak kok, hanya mirip modelnya saja.” Joe yang merasa berlian sang ibu sangat bagus saat itu, memutuskan untuk membeli pada kekasihnya.
...Bersambung......