Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 75 (Candu)


__ADS_3

Keduanya duduk berjauhan kembali, Zanjiil yang semakin candu pada istrinya semakin nakal. Jemarinya mulai merangkak untuk meraih tangan Kissky yang terletak di bangku yang mereka duduki.


Tab!


Kissky menoleh ke arah Zanjiil yang menggenggam erat tangannya yang sedingin es.


Kali itu Kissky tak menolak, ia hanya diam, seolah menikmati apa yang Zanjiil lakukan padanya.


Cuaca dingin dalam kereta membuat mata gadis cantik itu mengantuk.


Ia pun menyandarkan lehernya ke kaca yang ada di belakangnya.


Zanjiil yang tahu kalau istrinya kelelahan menggeser duduknya.


Setelah cukup dekat, Zanjiil memindahkan kepala Kissky ke bahunya.


Rasanya seperti kencan beneran, batin Zanjiil.


Lagu romantis dari payung teduh berjudul Akad menemani perjalanan mereka.


Tak terasa keduanya pun sampai di tujuan. “Ky, Kissky, bangun! Kita sudah sampai.” Zanjiil menggoyang-goyang tubuh istrinya.


“Um...??” perlahan Kissky membuka matanya yang tertutup. “Sudah sampai ya...” ucapnya.


“Iya, ayo kita turun!” Zanjiil bangkit dari duduknya, kemudian ia pun menarik tangan Kissky agar segera berdiri.


“Kau lambat sekali,” ucap Zanjiil.


“Sabar dong!” dengan nyawa yang belum terkumpul penuh. Kissky keluar dari kereta dengan langkah terhuyung.


Mereka yang ingin keluar dari stasiun harus terkendala, sebab hujan malam itu belum kunjung mereda.


“Ayo duduk disana!” Zanjiil mengajak Kissky untuk duduk di kursi yang terletak di sebuah pintu keluar yang tak banyak di lewati oleh penumpang.


“Tunggu disini sebentar.” ucap Zanjiil.


“Kau mau kemana?” tanya Kissky seraya mengucek matanya yang masih terasa pekat.


“Mau ke Indomared beli kopi.” Zanjiil yang ingin menghangatkan diri segera menuju mini market yang terletak 50 meter dari tempat mereka duduk.


Kissky yang di tinggal sendiri membuka handphonenya.


Ia pun melihat 5 panggilan telepon dan 1 pesan singkat dari sahabatnya Liza.


Hei, kenapa tak angkat telepon ku? Kau lagi apa? Aku ingin curhat pada mu ✉️ Liza.


Lalu Kissky pun membalas pesan dari sahabatnya.


Maaf, tadi aku ada acara tadi ✉️ Kissky.


Setelah pesan singkatnya terkirim, Kissky memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya.


“Huff... huff...” Kissky meniup tangannya yang terasa seperti tumpukan es di kutub Utara.


Tak lama Zanjiil datang dengan membawa 2 gelas kopi sekali pakai si tangannya.


“Ini untuk mu.” Zanjiil memberikan istrinya kopi yang ia bawa. Lalu ia pun duduk di sebelah Kissky.


”Srrrrppp! Akh!” Zanjiil menyeruput kopi panasnya. “Hari ini seru!” Zanjiil tersenyum mengingat apa yang ia lalukan dengan Kissky.

__ADS_1


“Tapi aku merasa bersalah.” ungkap Kissky.


“Kenapa?” Zanjiil tak mengerti maksud perkataan istrinya.


“Aku merasa seperti pengganggu hubungan orang lain, aku kencan dengan orang yang telah memiliki kekasih.” sontak Zanjiil menatap lekat Kissky yang mengatakan kencan.


Sementara Kissky yang tak sadar dengan apa yang ia katakan terus saja menyeruput kopi yang ada di tangannya.


“Kau tak perlu memikirkan dia, karena itu bukan urusan mu.” terang Zanjiil yang merasa Kissky tak ada sangkut pautnya dengan Luna.


“Tetap saja, aku merasa berdosa, tidak ada yang tahu apa yang dia alami saat ini.” Kissky menoleh ke arah Zanjiil, “Zanjiil.”


”Iya?” sahut Zanjiil.


“Apa kau tidak khawatir sama sekali? Pada hal kau dan dia sudah bersama selama 2 tahun lebih, apa semudah itu kau melepas orang yang menyayangi mu?” pertanyaan Kissky membuat Zanjiil serba salah.


“Tentu saja aku khawatir, tapi... sudah jadi sifat ku, tak bisa mencampur satu hal dengan hal yang lain, pada saat bahagia aku akan bahagia, karena jika aku larut dalam kesedihan pun takkan ada gunanya,” terang Zanjiil.


“Aneh banget kau! Benar-benar tak bisa di percaya.” Kissky yang menyukai Zanjiil berpikir dua kali, apakah suaminya layak untuk di cintai atau tidak.


“Apa maksud mu?” tanya Zanjiil.


“Pikirkan saja sendiri!” pekik Kissky.


“Ya ampun Ky, bukannya kau sama dengan ku?”


“Jelas beda Jiil, kau ini ada-ada saja!” Kissky memutar mata malas pada suaminya.


“Beda darimana sih? Kalau merasa bersalah, tak mungkin kau mau jalan bermesraan dengan ku, aduh... mau sok suci, sendirinya munafik!” Zanjiil geleng-geleng kepala akan istrinya.


Zanjiil benar juga, batin Kissky.


“Sudahlah, tak ada gunanya kita berdebat, oh ya Ky... apa yang kau katakan barusan sungguhan?”


“Yang mana?” Kissky tak tahu apa yang di maksud oleh suaminya.


“Soal kencan, aku tak menyangka, kalau kau beranggapan sama dengan ku,” Zanjiil tersenyum bahagia.


“Kapan aku bilang begitu?” Kissky yang tak ingat membantah apa yang di katakan oleh suaminya.


“Ya ampun, kau pelupa sekali, sudahlah... begini saja, Kissky Huwl, maukah kau jadi pacar ku?” Zanjiil Rabbani menyatakan keinginannya pada Kissky.


Deg!


“A-apa kau menembak ku?” Kissky menjadi kikuk, saat Zanjiil berkata demikian.


“Enggak, aku mengajak mu pacaran, ku harap kau tak menolak, karena aku takkan mengulangi apa yang ku katakan.” kesombongan Zanjiil membuat Kissky merasa tertantang.


“Aku menolak!”


Untuk apa jadi pacar, kalau sekarang saja status ku adalah istri mu, batin Kissky.


“Be-benarkah?” Zanjiil tak percaya, jika dirinya mendapat penolakan untuk pertama kalinya.


“Ky, apa kau sudah pikirkan matang-matang?” Zanjiil yang tak mau di tolak bertanya pada Kissky sekali lagi.


“Jangankan matang, ini sudah busuk, aku enggak mau jadi pacar mu, hum!” Kissky menyunggingkan bibirnya.


“Astaga...!” Zanjiil menghela napas panjang. Hatinya sedikit sakit, karena Kissky tak bersedia menjadi kekasihnya.

__ADS_1


“Baiklah! Jangan menyesal ya!”


“Ohohoho! Oke!” Kissky tertawa geli.


Zanjiil lucu juga kalau marah, hehehe. batin Kissky. Ia amat senang membuat Zanjiil panas dingin.


“Tapi Huwl, bukan berarti kau boleh pacaran dengan orang lain, awas saja kalau kau ketahuan selingkuh!” Zanjiil mengancam istrinya.


“Jangan bisanya buat aturan bos! Kalau aku enggak boleh dengan orang lain, berarti kau juga begitu!”


“Kalau aku enggak mau gimana?” Zanjiil yang bebal membuat Kissky bingung ingin memberi ancaman apa.


“Ka-kalau kau melakukannya, um... kau tak boleh dekat dan menyentuh ku!” karena tak bisa memberi ancaman pisah, terpaksa Kissky mengatakan demikian.


“Kalau aku melanggar?” Zanjiil yang pantang di do gertak, menantang Kissky.


Ih... kok dia enggak mau kalah debat sih! batin Kissky ingin sekali mencubit tubuh Zanjiil tanpa celah.


“Ayo katakan! Mau apa kalau aku tak patuh?!” tanya Zanjiil dengan wajah tengilnya.


“Pegang tangan satu juta, cium pipi 5 juta!”


Cih! Mata duitan, pada hal sudah kaya dari sananya. batin Zanjiil.


“Oh...” Zanjiil yang merasa uang dengan nilai segitu tak seberapa langsung menggenggam erat tangan Kissky.


“Satu juta!” selanjutnya ia mencium pipi Kissky berulang kali.


“5 juta, 10 juta, 15 juta, 20 juta!” ia terus mencium pipi lembut dan mulus Kissky dengan terus mengucapkan nilai uang yang meningkat.


“Berhenti! Zanjiil!” Kissky yang tak suka mendorong tubuh Zanjiil.


“Itu terlalu murah untuk ku, coba kasih yang lebih mahal Huwl, kesannya kau murahan banget!”


“Sialan!” umpat Kissky.


“Kalau bibir berapa?” Zanjiil menawar bibir merona gadis cantik itu.


“I-itu enggak boleh!” Kissky menutup rapat bibirnya.


“Kenapa? Bukannya semua yang ada di tubuh mu ada nilainya?!” tanpa Zanjiil sadari ia mulai menganggap remeh istrinya.


“Zanjiil, kau ngomong apa sih?!” perlahan Kissky tak nyaman dengan sikap Zanjiil.


“Berapa harga mu satu malam? Di pikir-pikir kita belum melakukan tugas kita masing-masing, setahu ku, kita akan berdosa jika tidak melaksanakannya.” perkataan Zanjiil yang hampir menyamankan nya dengan wanita panggilan membuat Kissky tersinggung.


“Zanjiil, kau memang enggak punya perasaan ya!” Kissky yang tak suka akan candaan Zanjiil kali itu bangkit dari duduknya.


“Kau mau kemana? Masih hujan loh!”


“Mau pulang bodoh!” dengan cepat Kissky keluar dari stasiun. Ia memilih untuk menerobos hujan untuk mencapai halte bis yang ada di pinggir jalan.


Zanjiil yang ingin memanggil istrinya merasa malu kalau harus berteriak di depan umum.


“Lewat enggak ya? Akh! Pada hal aku sudah bilang pada pak Dimas untuk menjemput kami!” Zanjiil ragu untuk menerjang hujan demi cintanya, atau memilih diam dan membiarkan wanitanya pergi.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2