Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 22 (Penguntit?)


__ADS_3

“Ayo cepat, yang tak mengerjakan, yang tinggal di rumah, atau lupa ingatan, maju ke depan!” Kissky dengan penuh rasa takut dalam hatinya bangkit dari duduknya.


Semua orang menaruh pandang padanya yang maju ke depan kelas.


Gila, hanya aku? batinnya.


“Hem... kau lagi?” Lisa menatap sinis pada Kissky yang selalu salah di matanya.


“Maaf bu, saya enggak tahu kalau ada PR.” ucap Kissky dengan menelan berat salivanya.


“Memangnya kau tak bertanya pada teman-teman mu?” tanya Lisa seraya menggelengkan kepalanya.


“Maaf bu, saya salah.” Kissky yang malu menundukkan kepalanya.


“Makanya, lain kali bertanya, yang mau sekolahkan dirimu.”


“Iya bu, maaf.” Kissky yang berada di depan kelas, di tertawai oleh teman-temannya, terutama Luna, ia sangat puas melihat kemalangan yang Kissky alami.


“Mampus!” ucapnya dengan lantang.


“Sudah! Sudah! Buka buku kalian, lihat halaman 5!” Lisa menghentikan keributan yang ada dalam kelas. Seketika para siswa siswi pun bungkam.


“Kissky, serahkan tugas hukuman yang ibu suruh kemarin, jangan bilang kau lupa ya!”


“Saya ingat kok bu, sebentar saya ambilkan.” Kissky pun beranjak ke kursinya.


Ia yang membuka tasnya mencari keberadaan bukunya.


“Heh?” Ia menjadi heboh sendiri, ketika tak menemukan yang ia cari.


“Kan... benar firasat ibu, sudahlah Ky, maju ke depan.”


Kok bisa tinggal sih! batinnya


Ia pun dengan langkah tak semangat kembali berdiri di sebelah gurunya.


“Ulurkan tangan mu.” Kissky yang bersalah, mengikuti permintaan gurunya. Lalu Lisa mengambil rol panjang.


“Berapa soal PR kemarin anak-anak?” tanya Lisa.


“ 5 lima bu!!” jawab serempak anggota kelas.


Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!


5 pukulan keras mendarat ke telapak tangan Kissky.


“Auh! Sakit!” Kissky meringis, ia pun mengibas-ngibas tangannya yang sangat merah.


Zanjiil, Gibran dan Liza tersentak, mereka tak menyangka, Kissky mendapat hukuman begitu keras.

__ADS_1


“Itu untuk PR ya, hukuman bolos kemarin, ibu minta kau, ke ruang praktik seni, bersihkan seluruh ruangan, setelah jam pelajaran ibu selesai, ibu akan menceknya.”


Tanpa debat, Kissky keluar dari dalam kelas dengan wajah datar.


Harusnya, aku tak mengganggunya semalam, ini semua karena ku, paling bodohnya, aku merubah jam alarmnya, andai ku tahu akhirnya begini, pasti aku enggak akan melakukannya, batin Zanjiil.


Hati kecilnya sungguh menyesal, ia juga sangat iba pada istrinya yang mendapat pukulan.


“Itu balasan, atas perbuatan mu kemarin kampret!” celotehan Luna di dengar langsung oleh Zanjiil.


Entah mengapa, ia sedikit tak suka, melihat kekasihnya bahagia di atas penderitaan istrinya. Meski begitu, ia tak menegur Luna.


Kissky yang telah berada di ruang praktik seni, mulai membersihkan ruangan dengan perasaan malas.


“Sial banget sih... 3 hari masuk sekolah, 3 kali juga kena hukum, huh!” meski tak ikhlas, namun ia harus tetap mengerjakannya.


Setelah 2 jam berselang, akhirnya ia selesai juga, ia yang merasa lelah, duduk di salah satu kursi yang ada dalam ruangan itu.


Tubuhnya yang penuh keringat, membuat ia ingin mengipasnya dengan sesuatu yang bisa menghasilkan angin.


“Remot AC nya mana sih??” ia yang melihat ada alat pendingin di sudut ruangan, mencari remot AC tersebut, ia yang baru pertama kali masuk ke ruangan itu, tak berhasil menemukannya.


Tanpa sengaja, Kissky melihat sebuah buku di atas meja, yang mana dia sebelahnya, ada sebuah patung yang masih dalam proses pengerjaan.


Ia pun mendekat, seraya berdecak kagum, “Bagus banget patungnya, terlihat nyata, apa lagi rambutnya.” Kissky mengelus rambut terurai patung yang entah siapa pengrajinnya itu.


Saat ia masih mengagumi karya buatan tangan manusia tersebut, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sendirinya.


Sontak pandangannya pun menoleh ke arah sumber suara.


“Apa ada yang datang?” gumamnya. Karena Kissky telah selesai, ia pun berniat keluar dari ruangan tersebut.


Drrkk...


Ia yang akan mencapai pintu, tiba-tiba mendengar suara bangku yang di geser.


Deg!


Tanpa sengaja ia melihat seorang siswa telah duduk tak jauh dari tempat ia berdiri.


Ah! Bikin kaget, dia masuk tanpa bilang permisi dulu pada ku? batin Kissky.


Ia yang menatap lekat pada anak lelaki tersebut merasa aneh, karena siswa itu tak bergerak, hanya menunduk melihat ke meja polos yang tak ada apapun di atasnya.


Kissky yang merasa aneh pun, memutuskan untuk cepat-cepat pergi, sebab ia takut sesuatu yang aneh akan menimpanya, bila berlama-lama disana.


Kissky dengan langkah cepat berjalan di koridor menuju kelasnya. Beruntungnya banyak orang yang sedang berada di lapangan saat itu, yang membuat Kissky sedikit lega.


Drrrttt... handphone di sakunya pun bergetar, saat ia memeriksa, siapa yang melakukan panggilan padanya, ternyata itu adalah Liza. Ia pun mengangkat panggilan video itu.

__ADS_1


📲 “Hei, cepat kembali ke kelas, kau ini hobi sekali kena hukum!” Liza.


📲 “Iya, ini juga lagi jalan kesana!” Kissky.


Saat Kissky sedang asyik berbicara dengan Liza, ia pun baru sadar, jika di belakangnya ada seseorang yang mengikutinya dari tadi.


Apa hanya perasaan ku? Sepertinya jalan mana yang ku pilih, selalu sama dengannya, dan dia pun enggak pernah mendahului langkah ku, batin Kissky


Ia pun mulai waspada dengan sosok laki-laki yang sedang memakai Hoodie lengkap dengan topi dan juga masker penutup mulut tersebut


📲 “Liza, sudah dulu ya, sebentar lagi aku sampai,” Kissky.


📲 “Baiklah, hati-hati, sepertinya laki-laki yang di belakang mu itu mengikuti mu!” Liza.


Netra Kissky membulat sempurna, saat sahabatnya berkata demikian.


Ia pun mengedipkan matanya tanda mengerti, Liza yang tadinya bercanda, malah panik melihat kode yang Kissky beri.


Ia pun buru-buru keluar dalam kelas untuk menyusul sahabatnya, agar tak sendirian dalam perjalanan menuju kelas yang memakan waktu 7 menit dari ruang praktik seni.


Kau lewat jalan biasa saja, agar kita bertemu, ✉️ Liza.


Kissky yang masih sempat melihat pesan dari Liza, mengikuti arahan dari sahabatnya.


Setelah keluar dari area gedung praktik sekolah, Kissky mulai melewati lapangan olah raga yang sepi, sebab tak ada yang memakai lapangan di jam ketiga pelajaran tersebut.


Ia yang fokus memandang ke depan, lupa untuk melihat ke bawah, alhasil dirinya tersandung batu yang terletak di atas tanah.


Bruk!!


“Astaga!! Sakit!” ia yang meringis tiba-tiba di hampiri oleh lelaki yang mengikutinya.


“Kenapa jalannya buru-buru?” tanya lelaki misterius tersebut.


Kissky yang takut, tak berani menoleh ke belakangnya.


Lalu lelaki itu berjongkok di hadapan Kissky, “Ayo ku bantu!” suara maskulin dari lelaki itu membuat Kissky perlahan membuka matanya.


“Kau, siapa?” tanyanya dengan suara bergetar.


Lalu lelaki itu membuka masker yang menutupi wajahnya.


“Aku, Jordan, biasa di panggil Joe...”


“Bodoh amat!” Kissky memotong perkenalan yang Jordan lakukan.


“Maaf, kalau kau ketakutan karena ku,” ucapnya dengan sopan.


“Kau tahu aku ketakutan, tapi kau tetap mengikuti ku, sudah mirip penguntit tahu! Bikin merinding.” Kissky yang kesal bangkit dari tanah. “Jangan lakukan lagi, aku enggak suka tahu!”

__ADS_1


“Kenapa kau jadi marah pada ku? Pada hal aku melakukannya, karena ingin menjaga mu.” penyataan Joe membuat Kissky jadi bingung.


...Bersambung......


__ADS_2