Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 180 (Usil)


__ADS_3

Alhasil Basuki tak jadi meminta tolong pada putrinya.


Ia yang merasa tertampar keadaan dan kenyataan termenung di meja yang ada di ruang kerjanya.


Basuki yang resah melihat ke segala penjuru ruang kerjanya yang luas.


Setelah itu ia melihat photo keluarganya yang ada di meja kerjanya.


“Hufff...” Basuki menghela nafas panjang. Dua anggota keluarga penting dalam hidupnya pergi meninggalkan rumah besar mereka.


“Bahkan satu kampung pun rumah ini dapat menampungnya.” Basuki memijat pelipisnya yang teras sakit.


Kenyataan hidup yang terasa pelik, seolah mencekik lehernya.


Ia pun melihat kembali photo istri yang ia sakiti hatinya selama ini.


“Maafkan aku mamanya anak-anak, andai kau mau menerima ku lagi, kan ku jadikan kau ratu, titah mu adalah iya ku.” Namun apa boleh buat, semua telah terlambat.


Basuki yang ingin taubat pun mengingat apa yang di katakan calon menantunya.


“Allah itu maha pemaaf, sebesar apapun dosa kita, kalau kita memohon ampun dengan tulus, maka Allah akan memberi maafnya, tiada kata terlambat, selagi hayat di kandung badan.” Basuki memejamkan matanya sejenak.


Setelah itu ia membuka google, dan menulis di pencarian.


“Cara mengucap syahadat.”


Tididing!


Seketika, banyak artikel yang muncul atas apa yang Basuki cari.


Dan pria tua pemimpin mafia itu pun memilih yang ada audionya.


“Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Waasyhaduanna Muhammadar Rasuulullah.” Basuki pun mengikuti apa yang di katakan audio otomatis internet itu.


Tujuannya membaca syahadat karena ia merasa belum jadi hamba Tuhan yang benar selama ini.


Lula yang kebetulan ingin ke ruang kerja ayahnya pun mendengar suara ayahnya sedang belajar membaca syahadat itu berulang-ulang.


Lula yang merasa bahagia karena ia dan ayahnya dapat bertaubat bersama, masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.


“Papa...” Lula memijat kedua pundak ayahnya dengan kedua tangannya.


“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Basuki.


“Baru saja, nah! Gitu dong pa. Mana tahu papa taubat beneran, mama mau sama papa lagi,” Lula menyemangati ayahnya.


“Menurut mu begitu?” Basuki menganggap serius dengan apa yang di katakan putrinya.


“Tentu saja, dan aku yakin pa, kalau mama masih mencintai papa, terbuktikan sampai sekarang mama masih menyendiri.” Lula selalu berkata positif pada ayahnya.


“Papa sebenarnya mau saja La, tapi... kau tahu itu tak mudah, ada kakek nenek mu La, nanti yang ada kita di anggap pengkhianat lagi La.” Basuki yang ingin ke jalan Tuhan harus terhenti karena orang tuanya.


“Papa benar juga, tapi enggak apa-apa sebenarnya pa, kalau sudah taubat, kita akan seperti bayi yang baru lahir, suci dari dosa, andai kata papa di bunuh, maka papa bisa jadi masuk surga.” pernyataan Lula membuat Basuki menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


“Kalau begitu, kenapa tak kau saja La? Hitung-hitung untuk mengabdi pada orang tua.” Basuki menyarankan anaknya saja yang di korbankan.


“Aku sih mau saja pa, tapi papa tahukan, pertama aku masih muda, belum sepenuhnya menikmati dunia, kedua aku belum menikah dan punya anak. Sementara papa sudah tua, menikah 2 kali, punya anak tiga dan cucu satu, egois kalau papa enggak mau mati demi kesejahteraan anak cucu papa.” Lula yang cerdik membuat ayahnya bungkam.


“Jadi kalau papa yang mati enggak apa-apa La?” tanya Basuki dengan menahan kesal.


“Ya enggak apa-apalah, atau papa mau pilihan yang kedua?” perkataan Lula membuat Basuki penasaran.


“Apa itu?” tanya Basuki penuh selidik.


“Kita bunuh saja nenek dan kakek.” Lula yang tak menganggap nyawa manusia penting memberi ide gila itu pada ayahnya.


“Kau waras enggak La?!” Basuki tak suka dengan ide gila putrinya.


“Ya ampun pa, memang papa enggak kasihan pada nenek dan kakek apa? Mereka susah bau tanah, tapi kerjanya buat dosa terus, kalau mereka di bunuh nanti masuk surga, nah... amankan? Papa yang sudah durhaka, tinggal taubat nasuha saja pa.” Lula berkata dengan datar.


“Papa enggak setuju dengan ide mu, yang benar saja kau! Siapa yang mengajari mu begitu, hah?!’” Rasanya Basuki ingin melempar putrinya ke kandang buaya.


“Ya sudah kalau enggak mau. Terima saja amarah nenek.”


Lula yang merasa percuma diskusi pada ayahnya memilih pergi.


Sedang Basuki yang termakan omongan putrinya, mulai memikirkan apa yang Lula katakan.


🏵️


Arsy yang berbulan madu dengan suaminya memilih untuk keliling danau raksasa di dekat villa penginapan mereka dengan menggunakan perahu dayung.


“Kenapa?” sahut Eric yang mendayung di hadapan Arsy.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Arsy memotret suaminya dengan beruntun. “Ganteng!” Ia pun memuji paras suaminya.


“Iya, kau baru sadar ya...”


“Iya, baru banget! Xixixixi...” Arsy tertawa cekikan.


“Oh ya? Lebih tampan aku atau selingkuhan mu?!” Eric yang masih memiliki rasa cemburu menanyakan pada istrinya.


“Tentu saja kau sayang.” Arsy yang usil menyiram air ke wajah suaminya.


“Jangan, aku basah loh sayang.” Eric tak suka jika istrinya membuat bajunya basah.


“Ahahaha... jangan marah, kita tak sempat melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya.” Arsy terus saja mencipratkan air ke wajah suaminya.


“Arsy! Jangan, nanti kalau aku masuk angin bagaimana?” wajah Eric nampak kesal, pasalnya ia yang sudah tampan malas untuk mandi kembali.


Sebab air danau yang memiliki banyak ikan membaut ia sedikit alergi.

__ADS_1


“Hahaha! Enggak boleh marah, kita lagi bulan madu pak.” Arsy terus mencari perkara pada suaminya.


“Ya sudah, siram saja, aku enggak akan marah.” ucap Eric dengan tersenyum penuh makna.


“Benarkah? Boleh?” wajah Arsy nampak senang.


“Iya, silahkan saja.” Eric hanya tersenyum saat istrinya terus membuatnya kesal.


Kemudian mereka pun berlayar menyusuri danau yang di penuhi dengan berbagai jenis ikan tawar.


Keduanya menyimpan banyak momen di handphone dan kamera digital mereka.


Setelahah senja mulai menampakkan dirinya di langit.


Eric pun mengajak istrinya untuk menepi. “Sayang.”


“Iya sayang??” sahut Arsy.


“Kita pulang atau menginap disini?” pertanyaan Eric membuat Arsy tertawa.


“Hahaha... tidur di boat yang lebih besar saja aku tak mau, apa lagi yang kecil.” Arsy mengedipkan matanya pada suaminya.


“Oke! Sudah di putuskan, kita menepi sekarang.” Eric pun mendayung perahu kayu yang mereka naiki hingga ketepian.


Arsy yang tak melakukan apapun hanya sibuk memotret pemandangan indah sekitar dan juga dirinya dan sang suami.


Sesampainya mereka, Eric naik terlebih dahulu.


Setelah itu ia pun membatu istrinya untuk naik ke darat.


Arsy yang kurang tepat dalam menginjakkan kakinya ke tanah, membuat ia hampir jatuh. Beruntungnya sang suami tercinta memegang tangannya dengan erat.


“Terimaksih banyak sayang.” Arsy sangat bersyukur ada suaminya di saat ia susah.


“Sama-sama sayang.” Eric yang menatap dekat wajah istrinya yang kena pantul cahaya matahari sore. Merasa berdebar-debar.


Bagaimana tidak, kecantikan alami Arsy makin berseri-seri di bawah cahaya matahari yang indah.


Eric yang semakin jatuh hati mulai mengecup bibir lembut istrinya di tempat terbuka yang minim warga itu.


Arsy yang menerima serangan dadakan itu merasa tak masalah, ia justru membalas perlakuan manis suaminya.


Setelah selesai menuntaskan hajat kecilnya, Eric melepaskan tangannya dari sang istri.


“Sudah bisa jalankan?” ucap Eric.


“Iya sayang.” sahut Arsy.


Eric pun melangkahkan kakinya, ketika Arsy ingin melangkah juga tiba-tiba Eric mendorong keras tubuh Arsy.


Ceburr!!!!


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2