
***
Setelah melakukan perjalanan lebih dari tiga puluh hari, Fang An sudah bisa melihat puncak Gunung Yizan dari jauh, sayang jaraknya masih jauh sehingga terlihat kebiruan.
Saat ini ketiga rombongan sudah berkumpul di tanah lapang yang cukup luas, hanya ada beberapa pohon besar dan kecil di sana, dan mereka membangun tenda sementara untuk beristirahat.
"Di sebelah sana ada desa yang tidak terlalu jauh jaraknya! Fang An, kamu dan beberapa orang ikut denganku untuk berbelanja kebutuhan bekal perjalanan kita disana!" kata Mu Yuan.
Fang An segera bangkit lalu disusul oleh tiga orang dari Klan Fang dan tiga orang dari Klan Mu.
"Tuan Muda, ijinkan aku ikut menemanimu!" kata salah satu pria paruh baya kepada Fang An.
"Sepertinya kami berenam sudah cukup paman!" jawab Fang An.
"Biarkan saja dia ikut dengan kita Fang An! Siapa tahu nanti tenaganya dibutuhkan!" kata Mu Yuan.
"Baiklah! Ayo Paman," ajak Fang An.
Pria tersebut bernama Fang Wu Hong, dia adalah adik kandung mendiang Fang Yu Jie yang meninggal karena terkena racun demi melindungi Fang An saat Fang An di serang oleh kelompok Pembunuh Kepala Ular.
Fang Wu Hong datang setelah mendengar kabar kakaknya yang meninggal, dia adalah salah satu anggota yang berada sangat jauh dari kota Chang Lan, karena itu dia tidak segera datang setelah mendapatkan surat panggilan dari Fang Zui untuk berkumpul.
Namun setelah kabar meninggalnya Fang Yu Jie, dia segera pergi ke Kota Chang Lan dan baru tiba lima bulan setelah kematian kakaknya.
Mereka bersembilan segera pergi setelah berpamitan kepada Gu Yao He dan Fang Zui serta Fang Xian, mereka membawa dua kereta untuk membeli logistik perbekalan yang sudah tinggal sedikit yang tersisa.
"Tuan Mu Yuan, apakah ini tidak apa-apa?" tanya Fang An.
Fang An sejak awal tidak setuju jika harus menambah jumlah lagi untuk pergi ke Desa di depan, sebab itu bisa menarik perhatian banyak orang nantinya.
"Tenang saja! Setelah kita hampir sampai di Desa Lianxai, kita akan berpencar menjadi dua kelompok!" kata Mu Yuan.
Karena mereka semua ada sembilan orang, maka Mu Yuan akan membagi dua, satu empat orang membawa satu kereta, dan satu lagi lima orang yang juga akan membawa kereta sisanya, keduanya akan berpencar dan berbelanja dengan menjaga jarak.
Dengan demikian seharusnya tidak akan menarik perhatian para penduduk Desa Lianxai, dan pasti Mu Yuan dan Fang An akan berpisah, sedangkan daftar yang akan dibelanjakan nanti akan di bagi dua, satu untuk Fang An, dan yang satu akan dibawa oleh Mu Yuan.
Mu Yuan menyobek daftar perbelanjaan nya dan menyerahkan sebagian sobekan catatan itu kepada Fang An. "Barang-barang ini agak sulit untuk menemukannya di Desa Lianxai, jika nanti kamu tidak menemukannya juga, maka biarkan saja dan beli yang lainnya!" kata Mu Yuan.
Fang An mengangguk, namun sebenarnya dia tidak terlalu suka jika harus melakukan perbelanjaan seperti itu, apalagi dalam jumlah yang sangat banyak.
"Aku akan menemani dan membantu Tuan muda, serahkan saja catatan itu padaku, dan Tuan muda cukup melihatnya saja!" kata Fang Wu Hong.
Fang An menatap Fang Wu Hong dengan tersenyum lebar, akhirnya dia sadar jika tenaga Fang Wu Hong benar-benar sangat berguna, untungnya Fang An mau mendengarkan Mu Yuan sehingga dia sekarang tidak perlu repot-repot berbelanja.
Setelah mereka sudah hampir sampai di Desa Lianxai, mereka segera membagi dua kelompok dan yang masuk duluan adalah Fang An, setelah Fang An masuk ke dalam Desa, Mu Yuan dan ketiga anggotanya segera menyusul dengan menjaga jarak.
__ADS_1
"Desa ini seharusnya tidak sesepi ini!" gumam Mu Yuan.
Fang An yang berjalan agak jauh di depan melihat ke sekelilingnya, setiap ada rumah yang pintunya masih terbuka, pemilik rumah segera berlari dan masuk kedalam lalu menatap rombongan Fang An dengan ekspresi wajah takut lalu menutup pintu rumah.
Andai hanya satu tidak masalah, namun semua orang bersikap aneh seperti ketakutan dan segera menutup pintu begitu melihat Fang An dan anggotanya.
"Apa iya di desa ini ada pasarnya? Desa ini terlalu sepi, walau desa besar, tapi para Penduduknya sangat tidak ramah!" kata Fang An.
"Mungkin telah terjadi sesuatu di desa ini Tuan muda, dilihat dari ekspresi wajah mereka, sangat jelas jika mereka seperti sangat ketakutan!" kata Fang Wu Hong.
"Iya aku juga melihatnya, hanya saja kenapa mereka juga harus takut dengan kita? Apakah tampang kita semua ini mirip tampang penjahat?"
"Kalau sudah takut dan Trauma, maka orang asing yang mereka lihat akan terlihat seperti orang jahat," jawab Fang Wu Hong.
"Sebaiknya kita abaikan saja mereka, lebih baik kita terus berjalan ke pasar!" kata Fang An.
Fang An memang tidak tahu di mana letak pasarnya, hanya saja Mu Yuan pasti tahu letaknya, dan dia sesekali melihat ke arah Mu Yuan yang memberikan arahan dengan isyarat sebagai penunjuk arah.
Setelah berjalan cukup lama dan terasa seperti berputar-putar di dalam Desa, akhirnya Fang An sampai di pasar itu.
Pasarnya memang tidak sebesar seperti pasar di Kota Chang Lan, terlebih lagi hanya sedikit saja yang berdagang, dan sisanya masih tutup.
Fang Wu Hong segera menghampiri salah satu penjual sayur, lalu dia memesan beberapa sayur dalam jumlah yang lumayan banyak.
Pedagang sayur itu terlihat sangat senang karena ada pembeli yang memborong barang dagangannya, hanya saja dia tidak bisa menunjukkan rasa kebahagiannya, jadi yang ada hanya sikap canggung serta gugup saat melayani pesanan Fang Wu Hong.
Setelah beberapa saat kemudian, pedagang itu sudah menyelesaikan barang yang dibeli oleh Fang Wu Hong, hanya saja tidak semua barang yang ada di dalam catatan tersedia sehingga Fang Wu Hong kembali mendatangi pedagang lainnya.
Fang An yang hanya diam dan melihat-lihat ke sekeliling pasar tiba-tiba saja melihat ke arah salah satu pedagang, bukan pedagangnya yang membuat Fang An tertarik, namun barang dagangannya yang membuat Fang An memfokuskan pandangannya.
"Buah Ginseng Api!"
Fang An segera menghampiri pria tua yang berjualan bahan obat untuk membuat Pil, dari sekian banyaknya bahan obat yang dijual, hanya buah Ginseng yang memiliki warna kulit menyala seperti api, itu adalah Buah Ginseng Api.
"Kakek! Berapa usia Buah Ginseng Api ini?" tanya Fang An.
Kakek penjual itu menatap Fang An, lalu dia menatap kearah Ginseng nya seraya menjawab, "Ini adalah Ginseng Api berusia 300 tahun! Apakah kamu mau membelinya?" jawab kakek itu dengan suara tuanya.
"300 tahun? Owh iya saya ingin membelinya, berapa harganya?" tanya Fang An dan saat yang bersamaan Fang Wu Hong juga menghampirinya.
"Eee.. Aku menjual bahan obat disini tidak dengan koin, melainkan dengan Ziyuan, apakah kamu memiliki itu?" tanya lagi kakek tersebut.
"Berapa Ziyuan harganya?" tanya lagi Fang An.
"Ginseng ini sangat langka, dia akan berbuah setiap 50 tahun baru bisa di panen setelah usianya lebih dari 100 tahun, semakin tua usianya maka akan semakin baik khasiatnya, belum lagi tanaman Ginseng ini hanya tumbuh di dalam kawah gunung berapi, jadi harga Ginseng ini aku jual seharga 340 Ziyuan," kata Kakek itu.
__ADS_1
"Mahal sekali..!"
Fang An dan Fang Wu Hong benar-benar terkejut mendengarnya, walau Fang An juga memiliki Ziyuan di dalam Cincin penyimpanan Bumi nya, namun jumlahnya tidak sebanyak itu.
"Bagaimana apakah kamu masih berniat untuk membeli Ginseng Api ku ini?" tanya kakek itu.
Fang An hanya bisa melipat wajahnya yang terlihat kecewa karena tidak mampu untuk membeli Ginseng Api yang langka itu, dia hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Hahaha sudah kuduga!" kata kakek tersebut kemudian dia sudah tidak berniat menawarkannya lagi kepada Fang An.
"Apakah paman sudah selesai?" tanya Fang An.
"Belum Tuan muda, masih ada beberapa barang yang masih belum aku temukan!" jawab Fang Wu Hong.
"Kalau begitu ayo kita cari lagi di penjual yang lain!" ajak Fang An namun matanya melirik ke arah Ginseng Api itu.
Dengan perasaan berat Fang An akhirnya meninggalkan kakek si penjual Ginseng itu, dia dan Fang Wu Hong beserta ketiga anggotanya segera mencari penjual yang lainnya.
"Hai tunggu..!"
Saat baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja ada suara seorang pemuda yang menghentikan Fang An lalu mereka semua menoleh kebelakang dan melihat sesosok pemuda berusia 17 tahun menghampiri Fang An.
"Tunggu sebentar! Apakah anda ini adalah Tuan muda yang dulu pernah mengalahkan pemimpin Kelompok Bayangan Bulan di Desa Tinsang?" tanya pemuda tersebut.
"Maaf tapi kamu siapa?" tanya Fang An.
"Jadi benar itu adalah kamu..! Ini aku salah satu anak dari 13 korban penculikan oleh kelompok Bayangan Bulan, kamu masih ingat kan?" tanya pemuda itu.
"I..iya ingat, tapi aku lupa kamu itu yang mana?" tanya Fang An.
"Aku adalah yang tertua dari semua korban penculikan itu, namaku adalah Bai Lang, dan itu adalah kakek ku Bai Xiang!" kata pemuda itu seraya memperkenalkan si kakek penjual Ginseng Api.
"Owh jadi itu adalah kakekmu!" kata Fang An.
Bai Lang segera mengajak Fang An untuk berkenalan dengan kakeknya lalu dia segera memperkenalkannya.
"Kakek perkenalkan, dia adalah teman sekaligus pahlawan ku yang dulu pernah aku ceritakan kepada kakek itu!" kata Bai Lang.
Kakek itu memiringkan wajahnya, dia memperhatikan Fang An baik-baik setelah itu bertanya, "Teman mu yang mana, dan Pahlawan apa? Kakek sudah lupa!" kata Bai Xiang.
"Ais kakek ini! Kakek ingatkan aku pernah di culik oleh kelompok Bayangan Bulan?"
"Emm iya terus?" kata si Kakek seraya bertanya untuk memulihkan ingatannya yang mulai agak pikun.
"Iya temanku ini yang telah menolongku sehingga aku bisa kembali pulang, makanya aku menganggap temanku ini sebagai Pahlawan ku!" kata Bai Lang.
__ADS_1
"Owh iya maaf-maaf aku lupa, maklum sudah tua hahaha…!" kata Kakek itu seraya tertawa.
Fang An hanya bisa menggaruk kepalanya, ingin tertawa saat melihat kakek Bai Xiang itu tertawa dengan giginya yang hanya tinggal satu biji di depan serta di bagian atas, hal itu yang membuat perut Fang An seraya di gelitik dan ingin tertawa karena lucu, hanya saja dia berusaha menahannya demi menjaga perasaan Bai Lang dan kekeknya itu.