
Fang An mengira Plat Giok Angin Surga itu akan digunakan untuk membuka pintu gerbang tembok, ternyata pintu gerbang yang dimaksud oleh Bing Rong adalah pintu gerbang di bagian luar Akademi, tepatnya di sebuah kota, itupun Fang An mendapatkan informasinya dari prajurit yang memeriksa di Pintu gerbang Tembok perbatasan.
Ketujuh calon murid akademi segera memasuki Wilayah Benteng Putih, sebab para calon murid akademi yang tidak akan dipersulit oleh para prajurit di perbatasan.
Tujuh calon murid yang ditemani oleh tiga orang dewasa kini sudah berada di dalam wilayah benteng Putih, dan setelah berada di dalam wilayah itu, mereka semua memandang daratan kosong yang sangat luas.
"Tidak ada hutan, desa, kota, atau apapun disini!" kata Fang An.
Yan Hang juga sama terkejutnya melihat pemandangan yang menurutnya sangat menakutkan, bagaimana tidak menakutkan jika sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah tanah kosong yang sangat gersang serta panas.
"Jika kalian mau menyerah, kalian kembali saja ke Benua Daratan Hijau!" kata seorang pemuda yang memiliki kemampuan paling tinggi dari calon murid yang lainnya.
"Hai kawan! Kita ini berasal dari wilayah yang sama, belum lagi tujuan kita semua sama, apa salahnya jika kita bersama-sama berangkat melewati tanah gersang ini?" kata Yan Hang yang menyentuh pundak pemuda itu.
"Singkirkan tangan kotormu dari bahuku!" kata pemuda itu seraya menepis tangan Yan Hang.
"Kaka Tang, jangan pedulikan para pecundang itu, ayo kita berangkat!" kata gadis berusia 15 tahun yang ditemani oleh ketiga orang dewasa.
"Huuuh! Sombong sekali mereka itu!" gerutu Yan Hang lalu dia kembali ke sisi Fang An.
"Apakah kamu juga berencana pergi sendiri ke sana seperti mereka?" tanya Yan Hang.
Fang An tersenyum lalu dia memperhatikan ketiga pria dewasa yang mengeluarkan payung untuk gadis dan pemuda tersebut.
"Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu butuh teman atau mau pergi sendiri-sendiri?" tanya balik Fang An.
"Kalau kamu mau, kita jalan bersama saja!" jawab Yan Hang.
"Baiklah, lagipula jarak tanah gersang ini tidak terlalu luas, jika jalan kaki mungkin nanti malam kita bisa sampai di ujung tanah kosong ini!" kata Fang An.
Fang An memang berencana untuk terbang dengan Singa Es, dan jika Yan Hang tidak takut jika menaiki punggung Singa Es nya, maka mereka akan bisa lebih dulu sampai di ujung tanah kosong yang panas dan gersang, namun jika ternyata Yan Hang tidak berani, maka Fang An akan berjalan bersama Yan Hang.
Yan Hang menatap Fang An dengan kebingungan lalu dia menanyakan maksud dari ucapan Fang An, "Jalan kaki? Memangnya kamu ingin menaiki Spirit Beast mu dan lari melewati tanah panas itu?" tanya Yan Hang sedangkan yang lainnya sudah jalan lebih dulu.
"Terserah kamu saja, jika kamu mau kita lewat bawah, maka kita akan menaiki Spirit Beast ku dan berlari kesana, tapi kalau kamu tidak takut ketinggian, maka kita akan kesana melewati udara!" jawab Fang An.
Yan Hang jelas terkejut mendengarnya lalu dia menatap Singa Es, sedangkan belalang hitam Yan Hang berada cukup jauh dari samping Yan Hang, sebab belalang hitam itu takut kepada Singa Es.
"Lewat udara! Jangan bilang Spirit Beast mu ini bisa terbang?" tanya Yan Hang.
"Spirit Beast ku memang bisa terbang!" jawab Fang An.
Yan Hang menatap Singa putih itu dengan penuh keterkejutan, dengan suara agak kaku, Yan Hang mulai menebak kemampuan Singa Es tersebut.
"Berarti Spirit Beast mu memiliki kemampuan Bumi 3! Jika benar, lalu kamu sendiri berada di tahap apa?" tanya lagi Yan Hang.
Fang An hanya tersenyum dan kemudian dia mengelus tubuh Singa Es, tentu saja cuaca panas terik matahari tidak akan mempengaruhi Fang An, sebab Singa Es yang terus mengeluarkan kabut dingin.
"Jika kamu tidak takut untuk dibawa terbang oleh Spirit Beast ku, maka naiklah ke punggungnya!" kata Fang An yang tidak menjawab pertanyaan Yan Hang akan berada di tahap apa dirinya saat ini.
Yan Hang menoleh ke arah Belalang nya yang menjaga jarak dari Singa Es, dia mendekatinya dan kemudian menjelaskan jika Singa Es itu adalah teman.
Setelah belalang hitam berhasil di bujuk, Yan Hang dan Spirit Beast nya langsung naik ke atas punggung Singa Es, sedangkan Fang An yang duduk di paling depan segera menyuruh Singa Es untuk terbang menuju ke ujung Tanah Gersang dan panas dihadapannya.
__ADS_1
Banyak orang-orang yang berjalan kaki melewati tanah gersang itu, ada yang membawa kereta, ada yang menaiki kuda, ada yang menggunakan payung, dan ada juga yang tidak membawa pelindung atau kendaraan apapun, dan diantara mereka kelompok murid baru juga terlihat berada di paling depan.
Para murid-murid itu tidak mengetahui jika Fang An dan Yan Hang sudah mendahului mereka, sebab Singa Es terbang sangat tinggi sehingga akan terlihat seperti burung hitam di langit, padahal itu adalah Singa Es.
"Fang An, apakah kamu ini sengaja lari ke akademi untuk menghindari perseteruan antara Klan Fang dan Sekte Gunung Pohon Persik?" tanya Yan Hang sembari melihat punggung Fang An.
"Aku hanya ingin berlatih saja agar lebih kuat, lagipula kenapa aku harus lari dari Sekte Gunung Pohon Persik? Walau mereka adalah Sekte terbesar dan terkuat di Benua Daratan Hijau, namun aku sama sekali tidak takut," jawab Fang An tanpa menoleh kebelakang.
Yan Hang hanya mengangguk, sebenarnya dia ingin tahu banyak akan permasalahan Klan Fang dengan Sekte Gunung Pohon Persik, namun dia takut jika terus bertanya, takutnya pertanyaannya akan membuat Fang An tersinggung.
Hanya dengan mengetahui jika Fang An memiliki seekor Spirit Beast Bumi 3, Yan Hang menebak jika Fang An kemungkinan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari pada Pemuda sombong calon murid baru.
Mereka terus terbang hingga akhirnya mereka tiba di ujung tanah gersang, Singa Es segera turun dan kemudian Fang An serta Yan Hang berjalan menuju ke Pintu Gerbang.
"Desa Handi!" Yan Hang membaca papan nama di atas pintu gerbang tersebut dan kemudian mereka dihadang oleh empat pria yang semuanya memiliki kemampuan Yu Zhi.
"Berhenti, kalian tidak diijinkan memasuki desa sebelum membayar perizinan masuk kepada kami!" kata salah satu dari mereka.
Fang An memperhatikan mereka berempat, dari penampilan mereka berempat, sepertinya mereka bukanlah anggota prajurit ataupun penjaga, mungkin warga desa atau para Kultivator yang memang menjaga Desa.
"Berapa kami harus membayar?" tanya Fang An.
"Satu orang satu Ziyuan, karena kalian ada empat, maka jadinya empat Ziyuan!" jawab salah satu dari mereka.
"Berempat? Apakah Spirit Beast kami juga dikenai biaya masuk?" tanya Yan Hang.
"Spirit Beast juga seekor makhluk hidup, tentu saja mereka juga akan dikenakan biaya masuk!" jawab nya.
"Tidak apa-apa, biar aku yang akan membayarnya!" ucap Fang An.
Fang An segera memberikan empat Ziyuan kepada mereka, begitu mereka menerima bayaran, mereka langsung membuka pintu dan dengan ramah mempersilahkan Fang An dan Yan Hang serta kedua Spirit Beast mereka untuk masuk, dan setelah itu mereka melihat Desa yang cukup ramai.
Desa tersebut memang terlihat agak gersang serta panas, sesuai namanya Desa Hundi yang artinya Gersang, hanya saja Fang An dapat merasakan akan adanya orang-orang kuat di desa besar tersebut.
"Sebentar lagi sudah malam, sebaiknya kita bermalam disini saja, kita akan mencari penginapan yang paling murah!" kata Fang An.
Yan Hang mengangguk dan kemudian mereka berjalan mencari penginapan, sebab Fang An ingin mandi karena tubuhnya terasa gerah, sedangkan Yan Hang tidak hanya merasa gerah, dia juga sangat lapar.
"Semuanya beri jalan kepada Tuan Muda Zhang Wei!"
Saat sedang santai berjalan, tiba-tiba saja seruan dari arah lain meminta orang-orang untuk minggir, dan seketika itu juga semua orang segera memberikan jalan.
Terlihat beberapa kuda yang ditunggangi oleh orang-orang berpakaian serba kuning melewati jalan tersebut, ada juga orang-orang yang berjalan kaki serta ada tandu yang sedang di pikul.
Setelah mereka melewati Fang An, dia bisa melihat sosok pemuda berusia 17 tahun berada di dalam tandu tersebut.
"Sepertinya pemuda itu adalah orang besar di wilayah ini!" kata Fang An.
"Hei anak muda, dia itu adalah Tuan muda Zhang Wei, dia adalah putra mantan Walikota yang sudah meninggal 14 tahun yang lalu, dan kedudukan Walikota digantikan oleh ayah tirinya! Ibu Tuan muda Zhang menikah lagi sekitar 12 tahun yang lalu dengan seorang pria yang bernama Xia Ding dari Benua Daratan Hijau!" kata seorang wanita paruh baya menjelaskan kepada Fang An dengan suara sangat pelan.
"Hati-hati kalau berbicara, jika sampai Tuan muda Zhang mendengar mu, bisa-bisa kamu akan langsung dibunuh!" kata wanita yang di sebelahnya.
"Xia Ding dari Benua Daratan Hijau?"
__ADS_1
Fang An berusaha mengingat-ingat nama tersebut, dia merasa seperti pernah mendengar nama Xia, dan setelah beberapa saat, dia teringat akan Xia Longli dan Xia Feihu.
Melihat kedua wanita paruh baya itu sangat berhati-hati untuk membicarakan keluarga Walikota, jadi Fang An menunggu rombongan tersebut menjauh karena Fang An ingin mengetahui akan orang yang bernama Xia Ding.
Setelah rombongan Zhang Wei cukup jauh, wanita paruh baya itu berniat pergi, namun Fang An segera memanggilnya. "Bibi! Maaf saya hanya ingin tahu saja, siapa Xia Ding ini? Saya bertanya karena saya juga berasal dari Benua Daratan Hijau!" kata Fang An.
Kedua wanita paruh baya itu saling berpandangan dan menatap ke arah rombongan Zhang Wei yang sudah menjauh, mereka berdua melihat ke sekelilingnya lalu mengajak Fang An dan Yan Hang serta kedua Spirit Beast mereka untuk ikut dengan kedua wanita itu.
Mereka berdua masuk kedalam rumah yang ternyata rumah tersebut adalah milik kedua wanita yang baru di ketahui jika mereka bersaudara, salah satu wanita tersebut sudah bersama suami dan memiliki satu anak yang masih berusia 8 tahun.
"Aku terpaksa membawa kalian kesini karena tidak bisa menceritakan kepada kalian di luar akan siapa Walikota saat ini, terlalu berbahaya jika kita bicara di luar, karena banyak orang-orang suruhan Tuan muda Zhang Wei yang memata-matai seluruh sudut desa ini," kata Wanita tersebut.
"Iya tidak apa-apa bibi, kami mengerti akan situasinya!" jawab Fang An, hanya saja Yan Hang seperti kebingungan karena dia sama sekali tidak mengerti.
Wanita itu mulai menceritakan kepada Fang An akan siapa Xia Ding itu, cerita dimulai dari kematian Zhang Guo, dia adalah gubernur yang sangat baik dan juga bijak.
Namun Zhang Guo menderita penyakit di dalam otaknya sehingga dia meninggal, dan saat itu Zhang Wei masih anak-anak.
Desa Handi sendiri terletak tidak jauh dari sebuah kota yang bernama Kota Funsu, dan di kota Funsu lah letak pintu masuk ke Akademi Puncak Angin Surga berada.
Raja Penguasa Wilayah Benteng Putih berniat mencari pengganti Walikota Kota Funsu setelah dua tahun sejak kematian Zhang Guo, namun siapa sangka ada seorang Pria yang berhasil memikat istri mendiang Zhang Guo, hanya saja Zhang Wei tidak menyukainya.
Namun Zhang Wei yang masih anak-anak tidak berdaya atas keinginan ibunya yang ingin menikah dengan Xia Ding yang di ketahui ternyata adalah seorang Buruh kerja.
Raja Penguasa juga memberikan hadiah sebagai ucapan selamat, dan demi mengingat kebaikan mendiang Zhang Guo, Raja akhirnya menjadikan Xia Ding sebagai gubernur di Kota Funsu dengan melewati perantara dari Gubernur.
Walau demikian Zhang Wei tetap tidak suka, bahkan hingga sekarang Zhang Wei semakin membenci ayah tirinya itu, sebab semenjak ibunya menikah dengan Xia Ding, Zhang Wei merasa ibunya sudah tidak memperhatikannya.
Hal ini membuat kebencian Zhang Wei semakin menjadi-jadi, dia secara terang-terangan menentang Xia Ding dan meminta untuk meninggalkan ibunya, namun ibunya bukan membelanya malah justru menamparnya.
Sejak saat itu sikap Zhang Wei yang awalnya sangat baik seperti mendiang ayahnya justru berubah menjadi sangat angkuh dan semakin membenci rakyat kecil, padahal sebelumnya dia sangat akrab dengan rakyat, namun sekarang dia sering mabuk-mabukkan, berjudi, bahkan tidak segan-segan untuk menghukum mati orang-orang yang tidak dia sukai, apalagi jika sampai ada orang yang berani membicarakan akan masalah keluarganya.
Kebencian Zhang Wei kepada Xia Ding sejak awal bukan tanpa alasan, Zhang Wei sudah tahu jika sebenarnya Xia Ding sudah memiliki istri dan dua orang anak yang ditinggalkan di Benua Daratan Hijau, karena itulah dia tidak setuju, dan sekarang kebenciannya sudah mencapai puncaknya.
Fang An menghela nafas panjang mendengar kisah tersebut, kini dia yakin jika Xia Ding sebenarnya adalah suami Jing Chiyi serta ayah dari Xia Feihu dan Xia Longli.
"Aku tidak habis pikir, kenapa dia rela melupakan istri dan kedua anaknya hanya karena dia sudah menjadi orang paling besar di Kota Funsu, mungkin memang ada benarnya jika ketenaran dan kebesaran akan mampu melupakan masa lalu seseorang!" gumam Fang An.
Fang An akhirnya tidak menyalahkan sikap Zhang Wei yang seperti terlihat sangat sombong, dia melakukan semua itu pasti ingin mendapatkan perhatian dari ibunya.
"Apakah kamu kenal dengan Walikota itu anak muda?" tanya wanita tersebut.
"Aku tidak mengenalnya, namun aku pernah bertemu dengan istri dan kedua anaknya yang terlantar dan menderita di Kota Tianyang!" jawab Fang An.
Yan Hang yang mendengarkan sejak dari awal hingga mendengarkan jawaban Fang An mulai mengetahui maksud Fang An yang ingin tahu akan identitas sang Walikota tersebut, walau dia juga merasa kesal kepada Xia Ding, namun yang ada di pikirannya saat ini justru berbeda, dan dia mengatakannya kepada Fang An.
"Fang An, apakah kita sudah selesai? Kalau begitu ayo kita cari penginapan, aku sudah sangat lapar!" kata Yan Hang.
"Ah iya-iya! Bibi terima kasih banyak akan informasinya, kami harus segera mencari penginapan karena besok kami harus pergi ke Kota Funsu!" kata Fang An.
"Anak muda! Pembicaraan kita hari ini jangan kamu sebarkan kepada siapapun, walau kamu memiliki kemampuan, namun Zhang Wei juga memiliki banyak orang sewaan yang memiliki kemampuan sangat tinggi, tolong jangan beritahu siapapun kalau akulah yang telah menceritakan semua ini kepadamu!" kata wanita tersebut.
"Bibi tenang saja, bibi bisa pegang janjiku, aku tidak akan mengatakan kepada siapapun jika bibi sudah memberitahuku!" jawab Fang An.
__ADS_1
Fang An dan Yan Hang segera berpamitan karena Yan Hang terus menarik-narik lengan baju Fang An untuk segera mencari penginapan, sebab dirinya sudah sangat kelaparan.
Akhirnya keduanya menemukan sebuah penginapan yang cukup murah. Setelah mereka menyuruh pelayan untuk memberikan tempat istirahat kepada kedua Spirit Beast mereka di kandang khusus Spirit Beast, mereka berdua langsung pergi membersihkan diri serta makan malam, lalu Yan Hang pergi tidur sedangkan Fang An bermeditasi sampai pagi.