
Walau saat ini Fang An sudah mengerti akan dunia pengobatan, namun dia sendiri masih belum memiliki alat apapun, jadi yang bisa dilakukan oleh Fang An saat ini hanya membuatkan obat oles sebagai pertolongan pertama.
Beberapa pembuluh darah ada yang pecah, dan ada juga yang membengkak, hal itu yang membuat dada wanita itu membiru, jika darah yang membeku itu tetap dibiarkan, akan sangat menyakitkan nantinya.
Untuk mengeluarkannya membutuhkan jarum akupuntur dan menusuk setiap titiknya agar tidak jadi peradangan, masalahnya Fang An belum memiliki alat-alat seperti itu.
Fang An keluar sesaat untuk mencari tanaman herbal yang bisa di buat obat oles, sedangkan Singa Es menjaga wanita yang tidak sadarkan diri itu di dalam goa.
Setelah berhasil menemukan yang Fang An cari, dia segera membuat obat oles dengan cara dihaluskan dengan menggunakan batu.
Fang An sempat mengambil tiga duri di hutan untuk keperluan pengobatan, setelah obat oles telah jadi, Fang An lebih dulu menusuk tiga titik dada wanita itu yang sudah lebam membiru.
Dengan sangat hati-hati Fang An mulai mengeluarkan darah bekunya, sedangkan wajah si wanita itu terlihat bergerak karena mulai merasakan sakit saat duri itu mulai menusuk kulitnya.
Setelah dirasa cukup, Fang An merobek kain sepanjang yang ia butuhkan, setelah itu dia mengolesi obat tumbukan itu secara menyeluruh di seluruh luka lebam si wanita itu lalu membalutnya dengan kain sekaligus mengikat kain itu agar obatnya tidak jatuh.
Setelah semuanya selesai, Fang An kembali memasangkan pakaian wanita itu lalu dia duduk sembari mengusap keringatnya.
"Fang An, seharusnya kamu jangan melakukan itu sebelum dia sadar!" kata Feng Huang.
"Kalau menunggu dia sadar maka akan terlambat guru," jawab Fang An.
"Aku mengerti, namun selama ini aku sudah mengetahui sifat para manusia, biasanya seorang wanita tidak mau kulit bagian dalam pakaiannya dilihat oleh sembarang orang, apalagi orang asing! Aku khawatir jika yang kau lakukan ini akan membuat pertarungan berikutnya, bisa saja saat wanita itu sadar dan mengetahui jika kamu sempat membuka pakaian bagian atasnya akan langsung marah dan setelah itu dia akan menyerangmu," ucap Feng Huang.
"Mau bagaimana lagi guru? Jika memang kakak ini nanti marah padaku, aku akan berusaha menjelaskannya, lagi pula ini juga demi kesembuhan dirinya," kata Fang An.
Fang An bukannya tidak tahu aturan dan tidak mengerti akan sebuah tempat terlarang, namun dia tidak memikirkan itu, yang ia pikirkan hanyalah menolongnya saja.
"Guru tidak perlu khawatir soal itu, apalagi aku tidak melakukan hal yang lebih dari itu, aku yakin kakak ini lebih mengerti akan situasinya, karena aku lihat dia sepertinya memiliki pikiran yang dewasa," kata Fang An lagi meyakinkan gurunya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Fang An, namun kamu harus ingat satu hal, wanita itu memiliki rasa harga diri yang tinggi, mereka terkadang menjaga kehormatan dengan mempertaruhkan nyawa, jadi jika nanti wanita itu mengamuk padamu, aku tidak akan ikut campur," kata Feng Huang.
Fang An hanya tersenyum tipis, dia menyandarkan tubuhnya dan matanya memperhatikan wanita itu.
Wajah wanita itu sangat cantik, kulitnya hampir menyerupai putihnya salju, kecantikan alami itu terlihat sangat indah dengan pakaian biru lebar dengan desain cantik.
Di Kedua bahunya ada desain ukuran yang terbuat dari logam berwarna putih terang, hanya saja Fang An sedikit menahan pandangannya saat dia melihat ke bagian gaun bagian bawah.
Gaun bagian bawah memiliki belahan yang mencapai paha, dan Fang An bisa melihat betapa mulus dan putih kulit paha wanita itu, sungguh Fang An tidak mampu melihatnya beningnya kulit paha yang terbuka sehingga Fang An bangkit dan memperbaiki gaun bawah itu agar tertutup kemudian dia kembali duduk sembari menghela nafas lega.
Agar pikiran Fang An bisa teralihkan dari pemandangan barusan, dia berusaha memalingkan pandangannya ke arah Singa Es, namun yang terjadi Fang An justru kembali terbayang akan pemandangan tadi, jadi dia melihat paha Singa Es yang putih seperti berubah menjadi paha wanita itu.
"Ini bencana..!" gumam Fang An lalu dia bangkit dan memilih duduk di mulut Goa untuk melihat pepohonan sekaligus berusaha melupakan semuanya.
Saat ini Fang An sudah berusia 15 tahun, dan dia sudah mulai mengerti akan sebuah hubungan dengan lawan jenis, hanya saja dia tidak begitu memikirkan hal itu, sebab dirinya tahu jika saat ini dia masih sangat muda untuk berurusan dengan asmara.
"Aku sudah berjalan sejauh ini, aku jadi lupa arah kembali ke tempat kakak Luo Ying!" gumam Fang An yang menyadari jika dirinya sudah terlalu dalam berjalan.
Fang An segera menoleh dan melihat wanita itu yang baru membuka mata lalu dia memperhatikannya ke sekelilingnya seraya berkata, "Ada dimana aku ini?" kata wanita itu dengan suara lemah dan lembut di dengar.
Wanita itu ingin bangkit namun dia merasakan sakit di dadanya sehingga dia meraba dan menemukan jika ada kain yang mengikat dadanya.
"Jangan dulu banyak bergerak, lukamu saat ini masih belum pulih, jadi sebaiknya kakak berbaring dulu," kata Fang An.
Wanita itu terkejut dengan suara seorang pemuda yang sedang duduk di mulut Goa, dia memutar pandangannya dan melihat ada Singa Putih yang sedang berbaring di bebatuan goa.
"Siapa kamu?" tanya wanita itu.
"Namaku adalah… Eee... Huang An!" jawab Fang An.
__ADS_1
"Huang An? Kenapa aku bisa berada disini dan siapa yang sudah mengobatiku?" tanya Wanita itu.
"Kami berdua menolongmu dari serangan Ular hitam bersayap itu, dan membawamu kesini lalu aku mengobati lukamu," jawab Fang An.
"Aduh anak ini..! Sudah benar dia memakai nama samaran, tapi kenapa dia justru berkata jujur," ucap Feng Huang.
"Kamu…!" Wanita itu sangat terkejut lalu dia melihat kain yang menjadi perban di dadanya yang melingkar dan erikat di samping.
"Bagaimana caramu mengobatiku?" tanya lagi wanita itu.
"Iya... membuka pakaian atasmu!" jawab Fang An.
"Ais habis sudah..!" celoteh Feng Huang.
Wajah wanita itu terlihat me merah, marah bercampur malu menjadi satu sehingga pipinya terlihat seperti warna tomat merah.
Wanita itu ingin bangkit untuk memaki Fang An, namun dia kembali merasakan sakit di dadanya sehingga dia kembali berbaring seraya berkata, "Kamu telah lancang membuka pakaian seorang gadis, tunggu saja saat aku pulih nanti, aku akan memberimu pelajaran," kata wanita itu namun dengan pipi yang semakin me merah.
Dia tidak bisa membayangkan rasa malu saat Fang An melihat kulit dadanya, apalagi dia khawatir jika Fang An sempat melecehkannya saat dirinya tidak sadar diri, hal ini yang membuatnya ingin menghajar pemuda itu, namun kondisinya masih belum sembuh.
Fang An bangkit kemudian dia mendekati Wanita itu lalu dia duduk dan berbicara padanya, "Kakak tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan hal yang lebih dari yang kakak pikirkan saat ini, aku hanya fokus mengobati kakak dan tidak melakukan hal lain dari itu, semua ini agar kakak cepat sembuh, sebab jika menunggu kakak sadar baru di obati, bisa-bisa semuanya terlambat dan luka kakak akan terus membekas jika terlambat mengobatinya," kata Fang An yang mencoba menjelaskannya.
"Aku tidak percaya, aku yakin kamu pasti sempat melecehkan ku tadi saat aku masih belum sadar! Walau tidak secara fisik, aku yakin matamu yang mungkin menjelajahi tubuhku," kata wanita itu.
"Tidak kakak, aku berani bersumpah aku tidak melakukan hal demikian," kata Fang An yang melakukan pembelaan.
"Baik, aku akan percaya padamu jika kamu berani bersumpah, jika kamu berbohong kamu akan jatuh di Jurang Tanpa Dasar! Bagaimana, berani kamu mengatakan sumpah itu?"
"Iya aku berani bersumpah demi langit dan bumi jika aku tidak melakukan seperti yang kakak tuduhkan tadi, jika aku berbohong maka aku akan jatuh di Jurang Tanpa Dasar," kata Fang An.
__ADS_1
Fang An lupa jika sebelumnya dia sempat melihat mulusnya kulit paha wanita itu sehingga dia berani bersumpah.
Wanita itu bernafas lega setelah Fang An berani mengucapkan sumpah itu, dia kembali berbaring seraya melihat ke sekeliling ruangan goa yang sangat lebar dan luas.