SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Saling berbagi pikiran dalam satu tubuh


__ADS_3

***


"Kakak ini adalah Meng Xialo?" Fang An terkejut saat Luo Ying memperkenalkan pemuda yang memegang tongkat di sampingnya.


"Benar, namaku adalah Meng Xialo! Tapi kenapa kalian berdua bisa tahu jika aku adalah Cucu Nenek Meng Po?" tanya Meng Xialo.


"Fang An, kamu saja yang bercerita, aku akan memulihkan diri terlebih dahulu!" kata Luo Ying.


Luo Ying segera menelan Pil pemulihannya sedangkan Fang An mulai menceritakan pertemuan mereka berdua dengan Nenek Meng Po, tentu saja akan janji mereka berdua yang akan menolong cucunya.


Sembari menunggu Luo Ying, Fang An dan Meng Xialo saling bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing, pada akhirnya Fang An menanyakan perihal kaki Meng Xialo yang hanya tinggal satu saja.


"Kakak Meng, apakah kakimu cacat sejak kecil?" tanya Fang An.


Meng Xialo menggelengkan kepalanya dengan semangat yang langsung turun setelah Fang An menanyakan akan kakinya, setelah menghirup nafas sejenak, Meng Xialo mulai menjawabnya.


"Tidak! Aku terlahir dengan tubuh lengkap dan tidak memiliki cacat fisik, aku kehilangan sebelah kakiku ini karena ulah mereka!"


Meng Xialo kehilangan sebelah kakinya karena dipotong oleh para prajurit Pengawas, saat itu dirinya tanpa sengaja tersandung sepatu salah satu prajurit saat dirinya sedang mengangkut batu.


Prajurit itu langsung marah kepada Meng Xialo, sedangkan Meng Xialo sudah meminta maaf atas ketidak sengajaannya.


Bukannya pengampunan yang Meng Xialo dapatkan melainkan sebuah makian kasar serta mendorong tubuh Meng Xialo hingga dia jatuh, di saat Meng Xialo ingin bangun, prajurit itu memanggil dua temannya untuk memegangi dirinya agar tidak bangun.


Meng Xialo tidak mengerti akan apa yang ingin para prajurit itu lakukan, ketika tubuhnya di tahan dalam posisi terlentang oleh kedua prajurit lainnya, prajurit yang marah itu langsung mencabut pedangnya dan tanpa berpikir panjang, dia langsung menebas paha Meng Xialo hingga pahanya putus.


Meng Xialo menjerit sejadi-jadinya karena rasa sakit yang sangat luar biasa saat pahanya putus, sedangkan ketiga Prajurit biadab itu justru tertawa terbahak-bahak.


Tidak ada satu orangpun yang berani menghentikan tindakan para prajurit bejat tak berperikemanusiaan itu, semua orang hanya bisa merasa iba kepada Meng Xialo, padahal kaki prajurit itu belum tentu merasa sakit saat kesandung oleh Meng Xialo, namun dia membalasnya dengan balasan yang lebih kejam.


Meng Xialo sempat tidak sadarkan diri karena kekurangan darah, untungnya saja ada orang baik yang merawatnya sehingga Meng Xialo masih hidup walau sekarang sudah cacat.


Mata Fang An berair mendengar cerita Meng Xialo yang begitu pedih menjalani hidup sebagai pekerja paksa, terlebih lagi usia Meng Xialo masih sangat muda, namun sekarang dia harus hidup dengan kaki yang tersisa satu saja.


"Mereka ini benar-benar gerombolan binatang!" kata Feng Huang.


"Aku setuju dengan perkataan mu guru, mereka semua memang lebih pantas disebut sebagai binatang," jawab Fang An.

__ADS_1


"Fang An, kita hancur tempat seluruh tempat ini agar tidak ada lagi perbudakan seperti ini!" kata Feng Huang membuat Fang An terkejut.


"Apa maksud guru? Menghancurkan tempat ini? Dengan kekuatan ini mana mungkin aku bisa melakukannya?" kata Fang An seraya bertanya.


"Kekuatan mu memang tidak akan mungkin bisa menghancurkan tempat ini, namun kekuatan ku lebih dari cukup untuk menghancurkan tempat ini!" kata Feng Huang.


"Apakah guru berniat meminjam kekuatan guru lagi padaku? Tidak, aku tidak setuju! Aku tidak ingin waktu guru semakin berkurang!" kata Fang An yang menolak keinginan Feng Huang.


"Waktuku mungkin akan semakin berkurang, namun jika tempat ini tidak segera dihancurkan, bisa-bisa mereka akan kembali melakukan hal yang sama seperti saat ini, apa kamu mau akan ada orang lain lagi yang akan mengalami nasib sama seperti pemuda itu? Jika ingin menghentikan kejahatan, maka kamu harus menghapus kejahatan itu hingga ke akar-akarnya, jika tidak mereka akan tumbuh lagi!" kata Feng Huang.


"Apakah dengan menghancurkan Benteng serta pertandingan ini kejahatan ini akan hilang?" tanya Fang An.


"Memang tidak, namun setidaknya kejahatan kelompok ini akan berkurang, mereka akan membutuhkan waktu lagi untuk bisa kembali menjadi kuat, dan saat itu tiba, mungkin kamu sudah bisa menghancurkan Benteng utama mereka seorang diri tanpa bantuanku lagi!" kata Feng Huang.


"Tapi guru, aku tidak ingin waktu Guru akan berkurang sehingga membuat waktu kebersamaan kita akan semakin pendek!" kata Fang An.


"Tidak apa-apa Fang An, aku hanya akan mengendalikan tubuhmu dengan menggunakan kekuatanku sebentar saja, lagi pula setelah aku meminjam tubuhmu, waktuku hanya berkurang sekitar lima Bulan Purnama (Lima bulan), jadi masih ada waktu Empat setengah Bulan waktu kita, jadi waktu itu harus di pergunakan untuk berlatih agar kamu secepatnya naik ke tahap yang lebih tingg, jadi ijinkan aku menggunakan tubuhmu sebentar!" kata Feng Huang.


Fang An masih terlihat berat hati, namun belum sempat dia menjawab apapun, aura berwarna ungu keluar dari dalam kalungnya lali masuk ke dalam tubuh Fang An tanpa sepengetahuan siapapun.


Kedua bola mata Fang An langsung memancarkan cahaya ungu terang serta ada kabut yang keluar dari kedua bola matanya.


"Hem… Sudah sangat lama sekali aku tidak bertarung, namun dalam wujud manusia seperti ini rasanya sangat aneh!" gumam Feng Huang yang sudah mengambil alih tubuh Fang An.


"Aneh bagaimana guru?" tanya Fang An.


Walau Feng Huang mengambil alih tubuh Fang An, namun Fang An masih sadar, bisa di bilang keduanya saling berbagi pikiran dalam satu tubuh.


"Adik Fang! Kamu mau kemana?" tanya Meng Xialo saat Fang An bangkit.


"Kalian berdua disini saja, aku ingin melemaskan otot-otot ku di luar!" jawab Fang An.


Meng Xialo merasa aneh dengan suara Fang An, suara Fang An seperti berubah agak sedikit lebih besar.


Tanpa menunggu reaksi Meng Xialo, Fang An langsung melesat bagai kilat dan menghilang dalam satu kedipan mata di hadapan Meng Xialo.


Mata Meng Xialo melotot dengan tatapan tidak percaya saat Fang An tiba-tiba saja menghilang dan hanya menyisakan bekas kakinya di depannya, sedangkan kedua alis Luo Ying berkedut karena dia merasakan sebuah kekuatan besar.

__ADS_1


"Saudara Meng, kemana Fang An?" tanya Luo Ying yang membuka matanya.


"Adik Fang bilang mau keluar untuk melemaskan otot-otot nya katanya, tapi nada suaranya agak aneh!" jawab Meng Xialo.


"Aneh bagaimana?"


"Suara Adik Fang seperti lebih berat seolah-olah seperti suara orang dewasa!" jawab Meng Xialo.


"Omong kosong! Biar aku menyusulnya keluar, kamu tetaplah disini," kata Luo Ying kemudian dia segera berlari keluar untuk menyusul Fang An.


Saat baru sampai di luar, dia dikagetkan oleh suara ledakan keras serta cahaya kilat yang menyilaukan mata membuat Luo Ying harus menutup mata serta menutup telinganya karena suara gemuruh Guntur yang sangat besar.


Saat dirinya membuka matanya, dia melihat Fang An yang tubuhnya ditutupi oleh cahaya kilat berwarna ungu berada di tengah-tengah kepungan prajurit, yang membuat Luo Ying terkejut lagi, Fang An mampu melepaskan Petir aneh berwarna ungu dengan suara ledakan Guntur yang menggelegar.


"Siapa sebenarnya dia itu?" batin Luo Ying.


****


Beralih ke medan pertempuran, tepatnya di dalam lokasi benteng itu sendiri, Panglima Chang Zhang dan Panglima Chang Meili berhasil mengalahkan tiga dari Delapan Serigala Hutan, sekarang hanya tersisa tiga orang lagi yang masih bertahan.


"Sebaiknya kalian menyerah saja karena kalian tidak akan mungkin bisa menang melawan kami berdua!" kata Chang Zhang.


Wen Xixie dan Fu Long serta satu rekannya saling berpandangan, mereka bertiga sadar jika bukan tandingan kedua Panglima yang ada di hadapannya itu.


Chang Meili mengibaskan pedang cantiknya ke arah tanah dan seketika itu juga, suara ledakan kecil tercipta dari energi pedangnya hingga membuat tanah itu berlubang.


"Cepat putuskan mau menyerah atau tidak?" kata Chang Meili.


"Bagaimana ini? Walau kita bertiga bergandengan tangan, sepertinya itu akan sia-sia, apakah kita akan menyerah atau melawan sebisa mungkin terus kabur?" tanya Fu Long.


Wen Xixie semakin tertekan oleh pertanyaan Fu Long, dalam segi kemampuan, Fu Long memiliki tingkat lebih tinggi darinya, namun Fu Long sekarang justru menanyakan keputusan itu padanya.


"Kalau kita menyerah, Tuan kita pasti akan sangat marah kepada kita, namun jika kita melawan, kemungkinan besar kita akan mati di tangan kedua Panglima itu!" kata Wen Xixie.


"Iya kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya rekan satunya.


"Kita Panggil Serigala Dua Ekor kita, karena Serigala itu pasti sanggup melawan mereka berdua!" ucap Wen Xixie.

__ADS_1


Kemampuan kedua Panglima itu sama-sama berada di tahap Yu Zha, seharusnya Spirit Beast Bumi 2 akan mampu menandingi seorang Yu Zha, oleh sebab itu Wen Xixie berencana untuk memanggilnya untuk menghadapi Chang Zhang dan Chang Meili.


__ADS_2