SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Kitab Pedang Langit


__ADS_3

***


Fang An terus melayang ke bawah Jurang, anehnya dia merasa sudah sangat lama sekali jatuh, namun dia masih belum juga sampai ke dasar jurang.


"Pantas dijuluki Jurang Tanpa Dasar, ternyata dasarnya sangat dalam sekali!" kata Fang An.


"Andai kamu tidak aku lapisi dengan Energi Pelindung, kamu pasti tidak akan sadarkan diri, dan pastinya nanti tubuhmu akan langsung hancur begitu menghantam dasar jurang ini!" ucap Feng Huang.


Fang An langsung mengaktifkan Aura Petarungnya sehingga matanya bercahaya terang, dia melihat ke bawah untuk melihat seberapa jauh lagi dasar jurang itu, namun yang ia lihat hanya cahaya dari Inti Petir Putih yang terlihat masih sangat jauh.


"Guru, bukankah dulu ada seorang Yu Zhu yang jatuh kesini, apakah dia tidak memiliki Energi Pelindung seperti guru?" tanya Fang An.


"Seseorang yang sudah mencapai tahap Yu Zhi sudah bisa menciptakan energi Pelindung mereka sendiri, semakin tinggi tahapnya, maka akan semakin kuat perisai pelindung energinya, bahkan pelindung energi seorang Yu Zhu sangat sulit untuk ditembus, namun perlu kamu tahu jika energi pelindung seorang Yu Zhu dan Yu Jing masih belum mampu bertahan dari tekanan kuat dan dalamnya jurang ini!" kata Feng Huang.


Tekanan yang Feng Huang maksud adalah Aura dari Inti Petir Putih, disamping itu ada tekanan gravitasi yang sangat kuat, semakin dalam maka akan semakin besar pula gaya Gravitasinya.


Gaya Gravitasi kuat itu bergabung dengan Aura Tekanan yang dipancarkan oleh Inti Petir Putih, hal itu akan mampu merusak Perisai seorang Yu Zhu dan Yu Jing, dan sudah bisa dipastikan mereka akan langsung mati saat mencapai dasar Jurang.


"Sebenarnya sebesar apa kemampuan yang kamu miliki guru?" tanya Fang An yang sangat penasaran.


"Kekuatan puncak tubuh asliku dulu berada di Tahap Langit 2 yang setara dengan Tahap Xu Qin elit, sedangkan kekuatan Lian Xiao berada di tahap Xu Tin Tingkat 5," kata Feng Huang.


"Xu Tin?" Fang An agak lupa nama-nama tahapan yang pernah dijelaskan oleh Feng Huang.


"Tahap Xu itu adalah Tahap tertinggi dari Yu, dan tahap Xu itu ada tiga, apakah kamu lupa?" tanya Feng Huang.


"Iy..a!" jawab Fang An agak malu.


"Heh… dasar manusia, ini akibatnya jika pikiranmu sudah dipengaruhi oleh sebuah asmara, jadinya akan lupa akan hal-hal penting!" ucap Feng Huang.


Fang An hanya tersenyum kecut, dia menoleh lagi ke bawah, namun tetap saja dia masih belum merasakan jika dasarnya sudah dekat, padahal sudah cukup lama dia terjun dan seperti melayang ke bawah.


Feng Huang sendiri kembali memberitahukan Fang An akan urutan tahap setelah Yu, dia meminta Fang An untuk mengingatnya dan jangan pernah melupakannya lagi.


Tahap Yu di bagi menjadi 6, yaitu Yu Zao, Yu Zhe, Yu Zhi, Yu Zha, Yu Zhu, dan Yu Jing.


Setelah mencapai Puncak Yu Jing Tingkat 9, maka baru bisa mencapai tahap yang lebih tinggi, yaitu Xu yang akan di bagi menjadi 3, Yaitu Xu Hun, Xu Qin dan Xu Tin.


Setelah lengkap dan mencapai Tahap Xu Tin Tingkat 9, maka baru bisa naik ke tahap terakhir dan yang terkuat, yaitu Tahap Zi yang artinya Dewa, dan tahap Zi juga dibagi 3, Zi Xuan, Zi Xian, dan Xi Xia.


Tahap Zi memang sangat besar dan kuat, hanya sedikit orang yang bisa mencapai tahap itu, dan Benua tempat Feng Huang dulu hanya ada sekitar 15 orang yang mencapai tahap Zi.


Sekarang orang-orang yang sudah mencapai Tahap Zi sedang berusaha untuk bisa mengetahui sebuah rahasia untuk bisa melampaui kekuatan Zi.


Fang An memposisikan tubuhnya terlentang seperti orang sedang tiduran, sebab dia merasa bosan menunggu dirinya yang tidak kunjung sampai ke dasar Jurang.

__ADS_1


"Tahap Zi adalah puncak tahapan seluruh tahapan, apa iya masih ada tahapan yang lebih tinggi lagi dari itu?" tanya Fang An yang merasa tidak percaya.


"Entahlah, namun menurut catatan kuno, dahulu kala ada empat makhluk Divine Beast yang katanya memiliki kekuatan sangat tinggi sekali, bahkan kekuatan mereka bisa melenyapkan satu Benua hanya dengan suaranya saja, dan kekuatan mereka tidak ada yang bisa menandingi nya, bahkan seorang Zi Xin saja seperti kapas bagi salah satu Divine Beast itu!" kata Feng Huang.


"Paling cuma dongeng semata guru!" ucap Fang An.


"Mungkin, tapi bisa saja itu juga benar!" kata Feng Huang.


"Kalau memang ada kekuatan sebesar itu, pasti keempat Divine Beast itu masih ada bukan? Tapi itu tidak ada!" kata Fang An.


"Memang seharusnya begitu, hanya saja cerita terakhirnya dicatat jika mereka berempat sempat terlibat pertarungan yang mengakibatkan benua pecah dan terbagi menjadi tiga benua besar dan pulau-pulau kecil. Karena terlalu banyak makhluk yang menjadi korban, akhirnya salah satu dari mereka yang berhasil bertahan menyegel kekuatan semuanya lalu merubahnya kekuatan itu menjadi energi kehidupan, dan sisanya bagi menjadi beberapa pecahan yang nantinya akan melahirkan beberapa Divine Beast baru, namun dengan kekuatan terbatas."


"Tidak masuk akal!" Fang An tetap tidak percaya dan menepis cerita aneh itu.


"Terserah kamu saja jika tidak mau percaya, sekarang kamu harus bersiap-siap karena aku sudah merasakan jika kita sudah dekat dengan dasar jurang," kata Feng Huang.


Fang An segera menoleh ke bawah, dan dia menggunakan Mata Cahaya Petir nya untuk memastikannya, setelah itu dia bisa melihat bebatuan runcing yang sangat banyak di dasar jurang, jaraknya tinggal belasan meter lagi.


Feng Huang menambah perisai pelindung di tubuh Fang An agar ketahanan tubuh Fang An semakin kuat saat tubuhnya membentur dasar jurang yang memiliki banyak batu runcing.


"Putar tubuhmu Fang An!" kata Feng Huang saat tubuh Fang An sudah tinggal lima meter lagi dari dasaran.


Fang An segera bersalto di udara agar tubuhnya tidak langsung keras menghantam dasaran, terlebih lagi nantinya dia akan mampu menghindari tubuhnya agar tidak jatuh di atas batu runcing.


Suara ledakan redam menggema saat tubuh Fang An jatuh menghantam dasar jurang, padahal dia sudah bersalto, namun tetap saja dia jatuh dengan sangat keras sehingga membuat tanah dasar jurang yang basah itu membentuk sebuah lubang kecil.


Untungnya tubuh Fang An sudah dilindungi perisai oleh Feng Huang, jika tidak tubuhnya pasti akan langsung hancur berkeping-keping.


"Argh…!"


Fang An mengerang kesakitan, dia merasa persendian tulang-tulangnya seperti bergeser.


"Guru bilang sudah melindungiku, tapi kenapa aku masih merasakan sakit saat menghantam dasar jurang?" protes Fang An.


"Masih untung kamu berhasil selamat dan juga masih hidup! Lagi pula tidak mungkin kamu tidak merasakan sakit walau aku sudah melindungimu, sebab tekanan gravitasi disini lebih berat sehingga kamu akan tetap merasakan sakit di tulang-tulang mu!" jawab Feng Huang.


Fang An bangkit sembari merintih kesakitan dan kemudian dia melihat seluruh tempat yang sangat gelap itu dengan Mata Cahaya Petir nya.


"Jadi seperti ini bentuk dasar Jurang Tanpa Dasar yang menakutkan itu?" gumam Fang An.


"Kamu jangan terus-terusan menggunakan Mata Cahaya Petir mu Fang An, lebih baik kamu menggunakan energi Api mu untuk menerangi tempat ini," kata Feng Huang.


Fang An mengangguk kemudian dia mengeluarkan Api dari telapak tangannya, namun api di tangan Fang An tidak bisa bertahan lama dan padam.


"Angin sangat tipis, jadi wajar jika api tidak bisa bertahan terlalu lama," kata Feng Huang.

__ADS_1


Fang An menatap ke atas, dan dia melihat setitik cahaya seperti bintang di atas, namun dia yakin jika itu bukan bintang, melainkan cahaya langit di atas jurang yang sudah terang.


Itu memang cahaya terang dari matahari pagi, saking jauhnya dasar Jurang itu, puncak jurang saja sangatlah jauh, sehingga terlihat seperti setitik bintang yang jauh.


Untung saja Fang An masih bisa bernafas walau berada sangat jauh di dasar jurang, tanahnya lembab, namun hawanya sangat pengap, bahkan cahaya pun tidak ada sehingga semuanya sangat gelap gulita.


"Saat terjun tadi aku sama sekali tidak melihat Tikus Api di tebing, apakah mereka sudah memasuki sarang mereka yang berada di tebing jurang ini?" tanya Fang An.


Feng Huang tidak menjawab, dia justru keluar menampakkan dirinya lalu sayapnya memancarkan cahaya yang mampu menerangi seluruh tempat itu.


"Kamu jangan dulu memikirkan Tikus itu, fokuslah untuk menemukan Inti Petir Putih yang berada di bebatuan ini!" ucap Feng Huang.


Fang memperhatikan semua batu runcing di sekelilingnya, seluruh dasar hanya diisi oleh be batuan, dari yang besar hingga yang kecil, dan semuanya berbentuk runcing seperti mata Tombak.


Fang An masih belum bisa menggunakan Mata Cahaya Petir nya, karena dia sudah beberapa kali menggunakannya saat masih terjun.


Fang An berjalan ditanah yang lembab serta agak berlumpur, dengan hati-hati dia melangkah karena tanahnya sangat licin, jika sampai dia terpeleset dan jatuh, dia pasti akan langsung jatuh di bebatuan yang runcing itu.


"Itu kerangka manusia!" Fang An menemukan beberapa kerangka tulang manusia di bebatuan, kerangka itu sudah hancur, dan dia teringat cerita Luo Ying jika dulu ada beberapa orang yang nekat turun untuk berburu, namun mereka tidak kunjung kembali.


Dia terus jalan dengan hati-hati dan kemudian dia kembali menemukan kerangka tulang manusia, namun kali ini masih dalam keadaan utuh serta posisinya seperti duduk bersandar di batu.


Fang An melihat ada sebilah Pedang logam berwarna biru muda, pedang itu memiliki panjang lebih dari lima jengkal termasuk dengan gagangnya yang juga berwarna biru.


Lebar pedang itu setelapak tangan orang dewasa atau setara dengan 12 cm, jadi pedang itu lebih besar dari pedang pada umumnya, bahkan pedang milik Fu Lie Wei masih kurang besar.


Fang An ingin mengangkat pedang itu, namun saat diangkat, jangankan terangkat, bergerak saja juga tidak.


"Berat sekali pedang ini!" kata Fang An.


"Ada sebuah kitab disana! Coba kamu ambil!" kata Feng Huang.


Fang An melihat sebuah kain kuning yang sudah hampir habis, namun ada sebuah kita biru disana yang penuh dengan lumpur.


Fang An segera mengambil dan membersihkan kitab tersebut dan terlihat jelas nama kitab tersebut.


"Kitab Pedang Langit!"


"Ini bagus sekali, kamu belum pernah mempelajari ilmu pedang Fang An, jadi kamu bisa mempelajarinya nanti!" kata Feng Huang.


Fang An mengangguk lalu dia menyimpan kitab itu ke dalam Cincin nya lalu kembali mengamati pedang yang sangat berat itu.


Fang An memperhatikan ke sekelilingnya berharap menemukan sesuatu yang lain, dan ternyata dia berhasil menemukan sebuah tulisan yang terukir di batu tepat di sandaran tengkorak tersebut.


"Wang Lao Yi sang Penguasa Bayangan Pedang!"

__ADS_1


__ADS_2