SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Tiba di Gerbang masuk Akademi


__ADS_3

***


"Apa yang kamu ketahui tentang Xia Ding?" tanya Zhang Wei setelah hanya ada mereka berdua di dalam kamar.


"Tidak banyak yang aku ketahui akan dia, namun aku sudah pernah bertemu dengan Istri dan kedua anaknya yang terlantar di Benua Daratan Hijau!"


Fang An mulai menceritakan akan sosok Jing Chiyi dan kedua anaknya kepada Zhang Wei, akan bagaimana kehidupan mereka saat di tinggalkan oleh Xia Ding selama belasan tahun, serta masalah yang mereka hadapi.


Zhang Wei langsung memukul meja kamar sekaligus menggenggam tangannya dengan sangat kuat, dia benar-benar tidak menyangka jika Xia Ding begitu tega melakukan semua itu hanya demi kekuasaan dan jabatan.


"Bajingan itu!"


Zhang Wei yang masih emosi memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan dirinya, saat ini dia masih bingung akan bagaimana caranya untuk membongkar akan siapa Xia Ding yang sebenarnya kepada ibu serta semua rakyat di Kota Funsu.


"Aku memang sudah mengetahui jika bajingan itu sudah berkeluarga di Benua Daratan Hijau, namun aku tidak tahu jika Istri dan kedua anaknya harus mengalami hal yang se tragis seperti ini! Apakah kamu menemui ku hanya untuk menceritakan hal ini saja, atau justru memiliki rencana?" tanya Zhang Wei.


"Sebenarnya ada, namun untuk melancarkan rencanaku, aku membutuhkan bantuanmu!" jawab Fang An.


"Jelaskan padaku apa rencanamu dan bantuan apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Zhang Wei.


"Aku ingin meminta bibi Chiyi untuk datang kesini menemui suaminya, hanya saja itu tidak mudah sebab Xia Ding pasti akan berusaha untuk bersembunyi dengan menggunakan seribu alasan agar ibumu tidak mudah percaya kepada Chiyi, bisa jadi Xia Ding akan mencelakainya atau membunuhnya demi menjaga rahasianya!" kata Fang An.


"Itu bisa saja terjadi karena aku sangat mengetahui sifat si bajingan itu!" ucap Zhang Wei.


"Itu artinya kamu sudah mengerti bukan bantuan seperti apa yang aku inginkan darimu?"


"Hem! Kamu ingin aku melindunginya serta mendukungnya bukan?" tanya Zhang Wei yang menebak akan maksud dari keinginan Fang An.


"Benar sekali, namun tidak hanya itu saja! Aku ingin kamu juga terus mengawasi gerak gerik Xia Ding jika suatu hari nanti Bibi Chiyi sudah tiba disini, kamu juga harus berusaha meyakinkan ibumu jika Bibi Chiyi benar-benar istri Xia Ding yang sudah belasan tahun ditelantarkan!" kata Fang An.


Perlindungan Zhang Wei saja menurut Fang An masih belum cukup, sabab Xia Ding pasti akan mengawasi Jing Chiyi dan akan mencelakainya begitu melihat celah, jadi Zhang Wei juga harus mengawasi gerak gerik Xia Ding, dan Zhang Wei sekaligus berusaha untuk meyakinkan ibunya agar percaya.


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya Zhang Wei.


"Aku tidak mungkin menunggu kedatangan Bibi Chiyi sebab aku harus segera pergi ke Akademi!" jawab Fang An.


Jika Jing Chiyi benar-benar mau datang ke Kota Funsu, maka butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa tiba di Kota Funsu, dan Fang An tidak mungkin menunggunya hingga selama itu.


"Kamu calon murid baru di Akademi?" tanya Zhang Wei.


"Benar!" jawab Fang An kemudian dia menatap Zhang Wei seraya berkata, "Mulai hari ini, berhentilah melakukan pekerjaan yang sia-sia, Judi, Mabuk, dan menghukum orang lain hanya karena mereka membicarakan keluarga mu hanya akan membuat nama Mendiang ayahmu yang baik akan tercoreng!" Kata Fang An.


Zhang Wei terkejut mendengar nasehat Fang An kemudian dia juga menjawabnya. "Orang-orang itu pantas untuk dihukum! Aku tidak suka jika ada orang yang membicarakan keburukan keluarga ku, apalagi saat ini keluargaku sudah berantakan!" jawab Zhang Wei.


"Kamu terlalu dipengaruhi oleh perasaan pribadi! Biarlah orang-orang membicarakan keluargamu, jika orang lain membicarakan keburukan keluarga mu, itu artinya mereka iri, dan jika ada orang yang membicarakan kebaikan keluarga mu, itu artinya mereka peduli kepadamu!" kata Fang An yang berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan nasehatnya kembali.


"Manusia memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang memiliki sifat buruk seperti iri dan dengki, namun ada juga orang-orang yang memiliki hati yang baik, dan selama kamu bisa menahan diri dan berusaha untuk bersabar, maka namamu serta nama ayahmu akan kembali berada di hati semua orang!" kata Fang An.


Zhang Wei tidak menjawab ataupun membalas nasehat dari Fang An, sedangkan Fang An segera mengambil Kertas lalu dia menulis surat yang akan ditujukan kepada Jing Chiyi yang berada di Benua Daratan Hijau.


Setelah selesai menulis surat itu, dia segera meminta Zhang Wei untuk mengirimkannya, karena hanya dia yang tahu siapa orang yang tepat untuk mengirim surat itu ke Benua Daratan Hijau.


"Aku serahkan sisanya padamu Tuan muda Zhang, aku harap kamu bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus menimbulkan kekacauan apapun yang bisa merugikan kedua belah pihak, aku juga titip Bibi Chiyi nantinya jika dia sudah datang!" kata Fang An seraya menyerahkan surat tersebut kepada Zhang Wei.

__ADS_1


"Aku akan berusaha semampuku!" jawab Zhang Wei.


"Kalau begitu aku harus segera pergi karena temanku sejak tadi sudah menungguku di luar!" ucap Fang An.


"Terima kasih banyak karena telah memberikan informasi serta ingin membantuku!" kata Fang An.


"Aku melakukan semua itu demi bibi Chiyi serta ingin merubah sikapmu agar baik seperti dulu kepada masyarakat kota dan juga Desa Hundi!"


Sebenarnya Fang An membuat rencana karena dia sadar jika untuk melawan seseorang yang memiliki kedudukan dan pengaruh besar di sebuah wilayah harus dengan akal, jika dengan kekuatan, Fang An bukannya tidak berani, melainkan dia tidak mau ada kekerasan hingga harus bertarung, apalagi wilayah tersebut adalah wilayah Benteng Putih yang terkenal memiliki orang-orang berkemampuan tinggi.


"Sampai disini dulu Tuan muda Zhang, kita akan bertemu lagi di dua tahun mendatang!" ucap Fang An seraya berpamitan kepada Zhang Wei.


"Tunggu dulu! Siapa namamu?" tanya Zhang Wei.


"Namaku Fang An!" jawab Fang An.


"Fang An! Aku akan mengingat namamu serta kebaikanmu!" ucap Zhang Wei.


Fang An hanya mengangguk kemudian dia segera pergi meninggalkan Zhang Wei lalu keluar dari rumah hiburan itu menuju ke rumah makan tempat Yan Hang yang sedang menunggunya, sedangkan Zhang Wei duduk diam sembari mengingat-ingat nasehat dari Fang An.


"Fang An, dia masih berusia dibawah usiaku, tapi pemikirannya seperti lebih dewasa dari ku!" gumam Zhang Wei kemudian dia pun keluar untuk mengirim surat itu lewat jasa kurir terbaik yang ada di Kota Funsu.


***


"Apakah kamu tidak makan dulu?" tanya Yan Hang.


"Aku masih belum lapar! Ayo kita berangkat sekarang," kata Fang An.


"Apa selain makan tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan padaku? Lihat perutmu yang buncit itu, isi perutmu seperti angin saja," kata Fang An lalu dia mengajak Singa Es untuk berangkat.


Yan Hang menatap perutnya yang buncit, dia menepuk-nepuk perutnya yang mengeluarkan bunyi seperti suara gendang, dan saat dia menatap Fang An, ternyata Fang An sudah berada agak jauh darinya.


"Tunggu aku Fang An!" panggil Yan Hang seraya berlari mengejar Fang An.


Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Pintu Gerbang untuk memasuki Akademi Puncak Angin Surga, dan Fang An yang sudah merasa lebih tenang setelah menyerahkan permasalahan Xia Ding kepada Zhang Wei kini sudah merasa tidak memiliki beban apapun lagi di pundaknya.


Mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan yang berada di pinggiran kota, bangunan tersebut sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas.


Bangunan itu memiliki luas lahan yang setara dengan satu Desa, dan ada sebuah lingkaran di tengah-tengah luasnya bangunan tersebut.


Fang An melihat ada banyak sekali anak-anak di dalam bangunan, ada yang masih berusia 8 hingga 12 tahun, dan ada juga yang berusia lebih tua dari Fang An.


"Akhirnya kita tiba di Gerbang masuk Akademi, tapi aku tidak melihat gerbang itu di sekitar sini?" kata Fang An.


"Aku juga tidak melihatnya, bahkan disini sepertinya tidak ada rumah makannya!" Yan Hang juga berbicara.


"Makan, makan dan makan saja yang ada di otakmu," gerutu Fang An.


Yan Hang hanya tersenyum lalu dia dan Fang An segera melangkahkan kakinya di anak tangga yang menuju ke dalam bangunan, dan setelah berada di dalam, ternyata Lingkaran yang ada di tengah-tengah itu adalah sebuah arena pertarungan, dan di tengah-tengah arena itu ada dua anak-anak yang sedang bertanding.


Fang An dan Yan Hang duduk di kursi batu untuk melihat pertandingan kedua anak itu, karena orang yang seharusnya mengurus para calon murid baru saat ini sedang bersama dengan para Ketua di kursi juri yang berada di bagian atas.


Sebenarnya Fang An tidak tahu akan siapa yang akan mengurusnya, hanya saja Yan Hang sudah mengetahuinya, sebab dia memiliki beberapa informasi yang tidak Fang An ketahui, karena itu Yan Hang menjelaskan jika laki-laki tua yang mengenakan pakaian putih dan mengenakan topi bulat besar itu adalah pengurus mereka, ciri-cirinya ada di tahi lalat besar mirip tompel yang ada di pipi bagian kirinya.

__ADS_1


"Lalu apakah kita akan menunggu saja disini?" tanya Fang An.


"Iya, nanti nama kita pasti akan dipanggil untuk turun ke arena!" jawab Yan Hang.


"Turun ke arena?" Fang An menaikan sebelah alisnya.


"Sebenarnya masing-masing dari kita sudah memiliki orang yang secara khusus akan membimbing kita untuk menuntun kita agar bisa memasuki bagian dalam akademi, hanya saja sebelum itu, kita akan lebih dulu disuruh bertanding satu lawan satu dengan salah satu calon murid yang akan dipilih secara acak!" kata Yan Hang.


"Kenapa Bibi Bing Rong tidak memberitahukan ku akan aturan seperti ini?" batin Fang An.


"Apalagi yang kamu ketahui?" tanya Fang An.


"Tidak terlalu banyak juga, menurut informasi setelah kita berhasil memenangkan pertandingan, maka kita akan bertemu dengan pembimbing kita, sedangkan yang kalah akan tereliminasi dan akan bisa ikut lagi di bulan depan, sedangkan pemenang pertama akan bisa berkompetisi di pertandingan berikutnya hingga mencapai final dan memasuki dua puluh daftar calon murid yang akan lolos untuk memasuki bagian dalam Akademi, hanya itu saja yang aku ketahui!" kata Yan Hang.


"Lalu ada berapa kali pertandingan agar bisa masuk ke dua puluh besar calon murid terpilih?" tanya Fang An.


"Hingga yang tersisa hanya dua puluh murid saja, dan setelah itu pertandingan untuk murid berikutnya yang baru masuk atau yang telat akan dilaksanakan sekitar 6 hari lagi, namun itu hanya khusus untuk murid yang baru tiba, sedangkan yang sudah pernah bertanding dan kalah, maka mereka akan bisa kembali ikut bertanding sekitar satu bulan lagi!" jawab Yan Hang.


"Owh! Aku mengerti!" ucap Fang An yang mulai memahami aturannya.


Fang An akhirnya hanya bisa menonton pertandingan kedua anak kecil yang masih bertanding di arena sekaligus menunggu giliran namanya dipanggil.


"Fang An, jika sampai hari ini namaku dipanggil dan ternyata namamu juga masuk di hari ini, aku takut kita berdua akan dipertemukan di arena! Jika itu benar-benar terjadi, maka aku tidak memiliki harapan untuk bisa lolos di bulan ini!" kata Yan Hang dengan suara sedih.


Yan Hang jelas tidak ingin jika nantinya dia akan dipertemukan dengan Fang An di pertandingan, jika itu terjadi maka Yan Hang tidak akan memiliki harapan untuk menang melawan Fang An, sebab dia sudah tahu kemampuan yang dimiliki oleh Fang An.


"Aku juga berharap tidak dipertemukan denganmu, karena aku juga ingin masuk ke Akademi bersama denganmu!" jawab Fang An.


Tentu saja Yan Hang merasa senang mendengarnya, hanya saja semua itu tergantung dari takdir, Yan Hang berharap semoga dia dan Fang An tidak di pertemukan di arena sebagai lawan tandingnya.


Pertandingan kedua anak di arena pun akhirnya selesai dengan satu pemenang, dan pertandingan itu memang tidak begitu menarik sebab itu adalah pertarungan antar sesama Yu Zao Tingkat 9.


Hari semakin sore dan sudah empat pertandingan yang sudah berlangsung di arena, sedangkan nama mereka masih belum dipanggil juga, hal itu membuat Fang An merasa bosan melihat pertandingan anak-anak yang masih berada di tahap Yu Zao.


Setelah pertandingan keempat selesai, tiba-tiba saja salah satu ketua berdiri, hal itu membuat Fang An berpikir jika pertandingan akan ditunda hingga esok.


"Hari ini pertandingan antar Calon murid di tahap Yu Zao akan dilanjutkan besok pagi, dan sekarang sudah waktunya untuk para calon murid di tahap Yu Zhe untuk bertanding!" kata Ketua tersebut.


"Sudah sesore ini pertandingan masih berlanjut?" batin Fang An.


"Sepertinya pertandingan ini memiliki tingkatannya juga, sudah pasti temanmu yang gendut itu tidak akan bisa berhadapan denganmu, sebab dia dan kamu berada di tahap yang berbeda!" kata Wang Lao Yi.


"Sepertinya begitu," jawab Fang An.


Fang An akhirnya bisa bernafas lega, karena dia dan Yan Hang tidak akan mungkin bisa dipertemukan sebagai musuh di pertandingan.


Setelah hari menjelang malam, pertandingan masih terus berlanjut, dengan cahaya bola sihir Api yang berada di masing-masing tiang, akhirnya nama Yan Hang pun dipanggil.


"Ternyata namaku juga sudah masuk! Fang An aku akan turun dulu ke arena," kata Yan Hang.


"Berhati-hatilah dan berusahalah untuk bisa menang!" kata Fang An yang memberikan dukungan semangat.


Yan Hang mengangguk dan setelah itu dia berjalan turun ke arena pertandingan, dan lawan Yan Hang adalah seorang pemuda yang usianya sedikit lebih tua darinya, dan kemampuan lawannya juga berada di tahap Yu Zhe Tingkat 9.

__ADS_1


__ADS_2