SANG KAISAR PETIR

SANG KAISAR PETIR
Zhang Wei


__ADS_3

***


Singa Es terbang membawa Fang An dan Yan Hang dari Desa Handi ke Kota Funsu, tidak butuh waktu lama bagi Singa Es untuk tiba di Kota Funsu, dan saat ini Fang An dan Yan Hang sudah berada di dalam kota.


Kota Funsu berada di wilayah bagian utara Benteng Putih, kota tersebut adalah salah satu dari dua kota yang menjadi jalur perdagangan dari berbagai wilayah Benua antara lain, Benua Daratan Hijau, Benua Daratan Tandus, dan beberapa pemerintahan-pemerintahan di belahan dunia.


Hanya saja terdapat perbedaan antara Kota Utara dan Kota Selatan, perbedaan yang dimaksud adalah, di Kota Utara atau Kota Funsu terdapat satu tempat pelatihan khusus yang bernama Akademi Puncak Angin Surga, tempat itu di khususkan untuk para calon Kultivator generasi baru.


Sedangkan di kota wilayah bagian selatan sama sekali tidak memiliki apapun kecuali perkumpulan-perkumpulan organisasi, dan organisasi inilah yang mendominasi di wilayah Benteng Putih serta mulai menyebar keseluruhan Wilayah Benteng Putih.


Benteng putih tidak seluas Benua Daratan Hijau, dan masalah kekuatan, kemampuan para praktisi di Benteng Putih jauh lebih kuat daripada di Benua Daratan Hijau.


Sebelum Benteng Putih berdiri, awalnya wilayah tersebut masih menjadi satu dengan Benua Daratan Hijau, bahkan di Benua Daratan Hijau bagian Utara yang saat ini dikuasai oleh Bing Chen juga masih satu daratan dengan Benua Daratan Hijau.


Hanya saja seiring berjalannya waktu, populasi penduduk semakin banyak hingga pemerintahan Benua Daratan Hijau kesulitan untuk mengontrol seluruh wilayahnya.


Belum lagi di wilayah Benua Daratan Hijau bagian Utara dan Selatan memiliki perbedaan kemampuan yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan Pusat Benua Daratan Hijau, dan karena hal tersebut dua wilayah akhirnya memisahkan diri dan lebih memilih membuka pemerintahan sendiri, hal tersebut membuat Benua Daratan Hijau pecah menjadi tiga wilayah, yaitu Wilayah Utara yang dikuasai oleh Bing Chen, Benua Daratan Hijau, dan Benteng Putih.


Awalnya sempat terjadi perdebatan dan juga penolakan dari masing-masing pihak, namun tidak ada yang bisa menemukan solusi apapun sehingga secara resmi Benua Daratan Hijau pecah menjadi tiga wilayah.


Kejadian tersebut sudah sangat lama sekali terjadi, bahkan sebelum Chang Hanzi terlahir serta Klan Chang berkuasa menjadi pemerintah Benua Daratan Hijau.


"Apakah kamu akan langsung menuju ke Akademi Puncak Angin Surga?" tanya Wang Lao Yi.


"Sepertinya begitu! Hanya saja hatiku merasa tidak tenang jika belum menemui Walikota itu!" ucap Fang An.


"Hem! Jadi kamu masih memikirkan orang itu?" tanya Feng Huang.


"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, hanya saja aku merasa kasihan terhadap Bibi Chiyi dan kedua anaknya, walau sekarang kehidupan mereka mungkin sudah lebih baik, tapi tetap saja Xia Longli dan Xia Feihu pasti sangat ingin melihat dan bertemu dengan ayahnya!" jawab Fang An.


Fang An sempat membayangkan jika seandainya yang mengalami nasib tersebut adalah dirinya, pasti dia dan ibunya akan hidup kesulitan untuk hidup dalam keseharian, apalagi Xia Ding sudah pergi selama belasan tahun lamanya.


Untung saja Fang Xian tidak memiliki sifat seperti Xia Ding yang tega menelantarkan istri dan kedua anaknya, karena Fang An seperti merasakan penderitaan yang dialami oleh Jing Chiyi dan kedua anaknya, hatinya tergerak dan seperti terpanggil untuk membantu mengingatkan Xia Ding.


"Sepertinya untuk masalah yang satu ini akan sedikit lebih sulit, sebab orang ini berstatus sebagai Walikota yang pastinya memiliki kekuatan, mengingat di Wilayah Benteng Putih ini memiliki banyak sekali para Praktisi hebat!" kata Wang Lao Yi.


Walau Xia Ding bukanlah seorang praktisi, namun dengan jabatan serta kekuasaannya, bukan tidak mungkin dia akan menyewa jasa para praktisi hebat untuk melindunginya, sebab di wilayah Benteng Putih sangat jauh berbeda dengan Benua Daratan Hijau.


"Itulah mengapa aku ingin membatalkan niatku untuk menemuinya, namun sekarang aku sudah memiliki rencana lain!"

__ADS_1


"Memangnya kamu memiliki rencana seperti apa?" tanya Wang Lao Yi.


"Aku akan mengirim surat ke Bibi Chiyi dan memberitahukannya jika suaminya berada disini, dengan demikian Bibi Chiyi pasti akan datang mencari suaminya, dan setelah itu Istri Xia Ding akan tahu jika ternyata suaminya itu adalah seorang laki-laki yang sudah berkeluarga dan juga seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab," kata Fang An yang menyampaikan rencananya.


"Rencana yang bagus! Tapi apakah kamu tidak berpikir dulu apakah itu rencana yang tepat? Ingatlah jika Walikota itu saat ini sangatlah berkuasa, jika sampai istri pertamanya datang, apakah menurutmu Xia Ding akan diam saja? Bagaimana kalau dia mengelak dan menuduh istri pertamanya adalah seorang wanita penipu? Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi setelah itu," kata Wang Lao Yi.


"Aku sudah memikirkan semuanya guru, karena itu aku sangatlah yakin jika rencana ku ini pasti akan berhasil, guru lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan!" kata Fang An.


Wang Lao Yi terdiam dan hanya terdengar helaan nafasnya saja kemudian dia tidak lagi berbicara, begitu juga dengan Feng Huang yang memilih diam karena dia tidak terlalu memahami masalah manusia.


Di saat sedang masih berjalan di dalam kota, Fang An melihat tandu yang pernah digunakan oleh Zhang Wei di Desa Handi, disana juga ada empat pria berbadan kekar yang sedang menjaga tandu tersebut.


"Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, sepertinya Dewa mengetahui rencanaku!" batin Fang An.


"Yan Hang, aku ingin masuk ke tempat hiburan itu, jika kamu tidak mau ikut, maka kamu tunggu saja aku di rumah makan sebelah sana!" kata Fang An.


"Memangnya kamu mau apa di tempat itu? Jangan bilang kamu ini akan…!"


"Jangan memiliki pemikiran yang macam-macam, aku mau masuk kesana karena ingin menemui seseorang!" ucap Fang An.


Yan Hang yang masih kebingungan hanya bisa melihat wajah Fang An dan mencoba menebak akan maksud Fang An, hanya saja Yan Hang tidak tahu apa-apa sehingga dirinya hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menunggumu di rumah makan disana saja, kebetulan aku sudah sangat lapar sekali!" ucap Yan Hang.


Sudah tiga hari Fang An mengenal Yan Hang, walau sudah tahu jika nafsu makan Yan Hang sangat besar, tetap saja dia merasa jika Nafsu Makan Yan Hang terlalu tinggi, dan Yan Hang seperti tidak pernah merasa kenyang.


Yan Hang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Fang An, dan dengan perut besarnya, dia mengajak Spirit Beast nya sekaligus dengan Singa Es untuk pergi mengikuti dirinya.


Fang An menggelengkan kepalanya melihat Yan Hang yang pergi ke arah rumah makan tidak jauh dari rumah hiburan, setelah melihat Yan Hang selama beberapa saat, Fang An segera berjalan ke arah Pintu masuk tempat hiburan.


Begitu Fang An masuk kedalamnya, di dalam situasinya sangat ramai sekali, banyak orang-orang yang sedang bermain bermacam-macam judi, bau arak memenuhi seluruh ruangan, belum lagi cukup banyak orang-orang yang tertawa terbahak-bahak dengan memangku wanita-wanita penghibur yang bersikap genit dan juga manja.


Karena tujuan Fang An adalah mencari keberadaan Zhang Wei, dia memfokuskan pencariannya dan mencari keberadaan Zhang Wei di kerumunan pemain judi hingga akhirnya dia menemukan keberadaan Zhang Wei yang sedang asik bermain tebak dadu.


Zhang Wei juga ditemani oleh dua wanita paruh baya serta ada empat orang pria paruh baya yang memiliki kemampuan tinggi, Fang An yakin jika keempat pria itu adalah pengawalnya.


Melihat taruhan yang digunakan adalah koin perak, Fang An menghampiri Zhang Wei seraya mengeluarkan koin peraknya.


Bandar yang sedang mengocok dadu di dalam mangkok segera meletakkan mangkok tersebut di atas meja, dan begitu bandar meminta semua para penjudi untuk memasang taruhannya, semua orang langsung memasang di angka mereka masing-masing.

__ADS_1


"Bandar itu ternyata menggunakan sihir pelindung yang mampu menutupi dadu nya agar tidak ada orang yang bisa melihatnya! Sangat pintar," batin Fang An saat berusaha menggunakan kekuatan Spiritualnya untuk melihat angka yang ada di dalam mangkok.


Zhang Wei memasang taruhan nya sebanyak dua ratus keping perak, dan Fang An mengikutinya dengan menaruk koinnya di angka 8 tempat Zhang Wei memasang taruhan nya.


Zhang Wei mengerutkan kedua alisnya saat melihat Fang An memasang taruhan di angka yang sama, dia menatap Fang An yang ternyata masih berusia sangat muda lalu menegur Fang An.


"Kenapa kamu memasang taruhan di tempatku? Masih banyak tempat lain yang kosong!" kata Zhang Wei.


"Memangnya kenapa? Apakah ada larangan untuk memasang taruhan di tempat yang sudah ada yang memasang?" tanya Fang An tanpa menatap ke arah Zhang Wei.


"Hem! Apakah kamu bukan berasal dari kota ini?" tanya Zhang Wei.


"Aneh sekali! Apa hubungannya memasang taruhan di tempatmu dengan menanyakan akan dari mana diriku berasal?" tanya Fang An.


"Ada hubungannya! Orang luar dilarang ikut bermain dengan memasang taruhannya di tempat yang sama dengan tempatku!" jawab Zhang Wei.


"Benarkah? Jika memang seperti itu, lalu kenapa di kota ini ada orang yang mau menampung orang luar di satu kandang yang sama?"


Alis Zhang Wei terangkat mendengar ucapan Fang An, sedangkan semua orang hanya menatap Fang An dan Zhang Wei secara bergantian, begitu juga dengan bandar dadu yang belum membuka penutup mangkok nya sebab dia menunggu Zhang Wei memberinya perintah untuk membukanya.


"Apa maksudmu?" tanya Zhang Wei.


"Tidak ada! Aku hanya berbicara secara asal-asalan saja," jawab Fang An.


Zhang Wei langsung memukul meja judi itu dengan tatapan marah, emosinya naik dan dia langsung meraih kerah baju Fang An lalu menarik Fang An kedekatnya.


Kedua wanita penghibur yang berada di samping Zhang Wei langsung menjauh, sedangkan keempat pria di belakangnya menghampiri Zhang Wei.


"Aku tahu kamu sedang menyindir diriku! Karena kamu sudah berani menyindir ku, maka aku akan memberikan hukuman padamu," kata Zhang Wei yang memegang kerah baju Fang An.


Zhang Wei mengambil sebilah pisau lalu menyuruh salah satu pengawalnya untuk meletakkan telapak tangan Fang An di atas meja. "Aku akan memotong kelima jari tangan mu, ini adalah hukuman bagi orang yang berani menyinggung diriku!" kata Zhang Wei.


Fang An sama sekali tidak terlihat takut walau tangannya sudah di letakkan di atas meja dengan ditahan oleh salah satu pengawal Zhang Wei, dia justru tersenyum seraya berkata, "Ternyata benar kamu begitu sensitif dan sangat agresif saat ada orang yang menyinggung keluarga mu! Sebenarnya kedatangan ku kesini hanya ingin mengajakmu bekerja sama untuk membongkar kebenaran tentang Xia Ding, sebab aku sangat mengetahui akan semua keluarga Xia Ding yang ada di Benua Daratan Hijau!" kata Fang An.


Mendengar itu, Zhang Wei sangat terkejut hingga dia mengurungkan niatnya untuk memotong jari-jari Fang An, dia memperhatikan semua orang yang sedang memperhatikan dirinya serta Fang An.


"Lepaskan dia!" ucap Zhang Wei lalu dia bangkit seraya berkata kepada Fang An, "Kita lanjutkan urusan kita di ruangan lain, ikutlah denganku!" kata Zhang Wei.


Fang An tersenyum seraya mengangguk dan kemudian dia kembali mengambil koin nya di atas meja lalu pergi mengikuti Zhang Wei, Fang An sudah menebak jika Zhang Wei pasti akan langsung berubah sikap setelah mengetahui akan niatnya, dan kabar akan Zhang Wei yang dulunya sangat baik dan ramah ternyata memang benar, dia bersikap buruk dan mudah marah karena sangat sensitif jika ada orang-orang yang membicarakan keluarganya.

__ADS_1


"Apakah ini salah satu rencanamu?" tanya Wang Lao Yi.


"Benar sekali guru!" jawab Fang An yang sedang berjalan di belakang Zhang Wei dan keempat pengawalnya, dan Zhang Wei membawa Fang An ke salah satu kamar di tempat hiburan tersebut


__ADS_2