
***
Ledakan itu menciptakan sebuah lingkaran besar sehingga terlihat seperti lingkaran hutan gundul, beruntungnya hujan turun saat ledakan itu membuat kebakaran sehingga api langsung padam.
Ular Batu Sayap Naga sendiri kini terbaring dengan tubuh yang masih bergerak, namun mulut sampai matanya rusak, bahkan energinya semakin melemah sebelum akhirnya Ular itu tidak bergerak lagi.
Kondisi Fang An sendiri juga tidak terlihat baik, dia terbaring dengan ada luka bakar di kulitnya, nafasnya juga semakin melemah.
Untung saja Feng Huang sempat melindungi Fang An walau dia sendiri juga harus mengalami luka, jiwa spiritualnya juga terluka akibat efek dari api, sebab jiwa spiritual sangat lemah terhadap api.
Andai saja Feng Huang tidak segera muncul dan melindungi Fang An, pastinya Fang An akan ikut hancur oleh ledakan sebesar itu.
Dalam wujud jiwa spiritualnya yang mulai memudar, Feng Huang menatap Fang An yang masih terbaring dengan nafas yang melemah, namun dia yakin jika Fang An akan baik-baik saja.
"Kau sungguh nekad Fang An, aku belum pernah bertemu dengan orang yang se nekad dirimu! Namun aku bangga karena kamu sudah berhasil membuat Teknik baru yang belum pernah aku ketahui sebelumnya, " ucap Feng Huang lalu secara perlahan-lahan dia mulai berubah menjadi kabut lalu kembali masuk ke dalam bandul kalung untuk memulihkan dirinya.
Fu Lie Wei segera turun lalu langsung memeriksa kondisi Fang An yang melemah dan juga mengalami luka bakar.
Fu Lie Wei melihat ke arah Ular Batu Sayap Naga yang sudah mati, dia tidak menyangka jika Fang An mampu mengalahkan ular itu, padahal dirinya saja tidak mampu untuk mengalahkannya.
Dia menghampiri jasad Ular Batu itu lalu mengeluarkan dua botol dan mengambil darahnya, setelah mendapatkan darah Ular itu, Fu Lie Wei langsung menancapkan Pedangnya di bagian tengkuk belakang mata sang ular lalu mengeluarkan Spirit Core nya.
Setelah semua keinginannya sudah tercapai, dia segera mengangkat tubuh Fang An dan membawa Fang An ke Goa tempat dirinya di selamatkan oleh Fang An, lalu setelah tiba disana, dia mulai mengobati dan merawat Fang An.
Di tempat lain, Singa Es sudah berada di pinggiran hutan, dia meletakkan Luo Ying yang tidak sadarkan diri lalu memeriksa kondisi tuannya, Singa Es baru terlihat lega setelah merasakan jika tuannya masih hidup sehingga dia tetap di sana untuk menjaga Luo Ying sampai Luo Ying siuman nanti.
Singa Es tidak tahu kalau kondisi Fang An sedang kritis, dia hanya memastikan kondisi Fang An lewat dirinya, jika dirinya merasakan lemah dan sesak nafas, itu artinya Fang An sudah meninggal dan dia akan segera ikut meninggal, namun dia tidak merasakannya sehingga dia yakin jika Fang An selamat dan masih hidup.
Setelah cukup lama, akhirnya Luo Ying terbangun, dia merasakan dadanya sangat sakit, belum lagi bagian belakangnya.
"Ada dimana aku? Lalu dimana adik Fang?" Luo Ying kebingungan setelah sadar jika dirinya berada di pinggiran hutan, namun dia tidak melihat keberadaan Fang An.
Singa Es juga sedang berbaring tidak jauh darinya, dia sendiri juga mengalami luka dalam akibat terkena sabetan ekor ular itu, namun Singa Es memiliki daya ketahanan yang lebih kuat dari manusia.
Melihat Singa Es yang sedang beristirahat, dia mulai mengerti jika dirinya sudah diselamatkan oleh Singa Es itu, namun dia tidak melihat keberadaan Fang An.
"Singa Es, apakah adik Fang masih berada disana?" tanya Luo Ying dan di jawab dengan anggukan oleh Singa Es.
Luo Ying jelas terkejut lalu dia ingin bangun, hanya saja rasa sakit di dadanya membuat dirinya tidak bisa bernafas saat berdiri sehingga dia kembali duduk.
__ADS_1
"Adik, kenapa kamu sebegitu beraninya dan melakukan hal ini padaku?" gumam Luo Ying.
Dia segera memeriksa kondisinya sendiri, namun ternyata luka dalamnya tidak terlalu parah, dia segera menelan Pil pemulihan setelah itu berniat untuk memeriksa kondisi Singa Es, setelah itu dia berniat untuk menyusul Fang An.
Karena kali ini ada Singa Es, tidak akan sulit bagi Luo Ying untuk menemukan Fang An, karena Fang An akan terkoneksi dengan Spirit Beast nya dimanapun dia berada.
***
"Kau akhirnya sadar juga!" kata Fu Lie Wei.
Selama semalaman penuh Fang An tidak sadarkan diri, hanya saja Fu Lie Wei terus merawat luka bakar Fang An seraya memberinya Pil pemulihan agar kondisi Fang An cepat membaik.
Kali ini Fang An tidak mengenakan baju bagian atas, karena Fu Lie Wei membuka bajunya untuk mengobati luka bakar di punggungnya.
"Kakak Lie Wei, kenapa aku bisa berada disini?" tanya Fang An.
"Aku yang membawamu kesini setelah kamu berhasil mengalahkan Ular itu! Aku tidak menyangka kamu akan mampu mengalahkannya, kau sungguh hebat Huang An," kata Fu Lie Wei yang memuji Fang An.
"Jadi Ular itu sudah mati?" Fang An jelas terkejut dan juga tidak menyangka jika Teknik ciptaannya akan berhasil membunuh Ular yang memiliki kemampuan setara dengan Yu Zhu elit serta Yu Jing.
Fang An ingin bangun, namun dia merasakan perih di beberapa kulitnya, dari lengan hingga punggung bagian belakang.
"Hati-hati Huang An, lukamu masih belum kering!" kata Fu Lie Wei seraya membantu Fang An untuk bangun.
"Terima kasih kakak Lie Wei!" kata Fang An.
"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, lagipula aku juga memiliki hutang karena kamu telah menyelamatkanku kemarin, jadi anggap saja ini sebagai balas budiku," kata Fu Lie Wei yang mulai membersihkan luka-luka Fang An dengan lembut.
Fang An mengeluarkan Rumput Daun Trisula yang pernah ia kumpulkan lalu meminta Fu Lie Wei untuk menghaluskannya.
Yang Fang An butuhkan hanya air sari dari tumbukan Rumput Daun Trisula itu untuk mengobati lukanya agar lekas mengering.
Fu Lie Wei dengan arahan dari Fang An melakukan akan apa yang harus ia lakukan, setelah berhasil mendapatkan air dari Rumput Daun Trisula itu, Fang An meminta Fu Lie Wei untuk mengoleskan itu ke luka bakarnya.
Fu Lie Wei mengoleskan seperti yang disuruh oleh Fang An, dengan agak takut dia mengoleskannya.
"Argh…!"
Fu Lie Wei langsung menghentikan pengobatannya karena Fang An berteriak kesakitan saat lukanya di olesi oleh tumbukan daun itu.
__ADS_1
"Apakah sakit..?" tanya Fu Lie Wei yang agak tidak tega setelah Fang An mengeluh kesakitan, terlebih lagi ada asap yang keluar saat luka itu terkena air Rumput Daun Trisula.
Fang An tidak bisa menjawabnya karena dia merasakan sakit yang sangat teramat, hal itu membuat Fu Lie Wei semakin ketakutan lalu dia duduk dan ingin menyalurkan energinya untuk menolong Fang An.
Fang An langsung mengarahkan telapak tangannya kepada Fu Lie Wei agar tidak melakukan itu, sebab itu adalah efek alami dari reaksi obat tersebut.
Hanya saja Fu Lie Wei tidak sanggup melihat Fang An yang berteriak kesakitan serta meronta-ronta, entah apa yang di memasuki pikiran Fu Lie Wei, dia segera memegang kepala Fang An lalu menyambar bibir Fang An dengan bibirnya sehingga membuat Fang An melotot dan langsung terdiam, namun tangannya masih mencengkram keras ke bahu Fu Lie Wei menahan rasa sakit itu.
Andai dalam kondisi tidak kesakitan, mungkin Fang An akan terbius dan larut dalam ciuman itu, hanya saja saat ini dia sedang kesakitan, sedangkan Fu Lie Wei tidak memiliki pilihan lain untuk membuat Fang An menahan rasa sakit itu serta menghentikan teriakannya dengan cara ******* bibir Fang An sehingga dia dan Fang An berciuman.
Namun cara seperti itu ternyata berhasil menenangkan Fang An, dan setelah rasa sakit itu mereda, Fu Lie Wei baru melepaskan ciumannya dan Fang An hanya bisa tercengang setelah selesai berciuman.
"Maaf, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menolongmu agar bisa menahan rasa sakit mu," kata Fu Lie Wei yang wajah memerah karena malu telah mencium Fang An.
Fang An yang masing tercengang segera tersadar kemudian dia menyentuh bibirnya sendiri lalu berkata, "Caramu berhasil!" kata Fang An sehingga membuat wajah Fu Lie Wei semakin memerah karena semakin malu.
Fu Lie Wei memalingkan wajahnya agar tidak terlihat jika dirinya malu oleh Fang An, namun Fang An justru memegang kepala Fu Lie Wei dan membuat Fu Lie Wei menatap wajahnya.
"Aaap..?"
Fu Lie Wei ingin bertanya apa yang ingin Fang An lakukan, namun Fang An lebih dulu menyambar bibir Fu Lie Wei sehingga membuat Fu Lie Wei tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Fu Lie Wei hanya diam saat Fang An mulai berani terhadapnya, namun pada akhirnya dia juga hanyut dan memegang kepala Fang An sehingga keduanya saling menikmati nuansa itu.
Fang An mengelus rambut Fu Lie Wei yang panjang hitam dan lurus serta lembut itu, dan setelah beberapa saat berciuman, Fang An terkejut saat mendengar dahaman Feng Huang sehingga dia langsung melepaskan ciumannya.
"Fang An, sekarang kamu semakin berani kepada wanita, apa kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan? Ingat usiamu masih sangat muda, dan gadis itu jauh lebih tua darimu!" kata Feng Huang.
"Aku tahu guru, hanya saja aku sendiri juga tidak bisa mengendalikan tubuhku!" jawab Fang An.
Sebenarnya bukan jarak usia yang menjadi permasalahannya, hanya saja saat ini Fang An masih dalam masa pertumbuhan untuk menuju ke kedewasaannya, hanya saja ini adalah pengalaman pertamanya sekaligus ciuman pertama bagi Fang An.
Fu Lie Wei sendiri mulai mundur menjauh lalu dia berbalik dan duduk agak berjauhan dengan Fang An. Dia hanya melirik Fang An tanpa mengucap sepatah katapun lalu berpaling dengan pikiran yang kacau, sama seperti Fang An, ini juga ciuman pertama bagi Fu Lie Wei, sebab dari dulu dia tidak pernah melakukan hubungan asmara dengan laki-laki manapun, apalagi dengan murid-murid di sekte nya, mereka semua tidak berani mendekati Fu Lie Wei, sebab Fu Lie Wei sangat dihormati karena dia adalah murid paling jenius sehingga mampu menjadi seorang wakil Penatua di usia yang masih muda.
Fu Lie Wei juga sadar jika yang ia lakukan adalah salah, terlebih lagi Fang An masih terlalu remaja, namun keputusannya melakukan itu telah membuat pemuda itu juga berani untuk melakukannya lagi.
"Istirahatlah agar luka mu lekas sembuh, aku akan keluar untuk berburu agar kita bisa makan!" kata Fu Lie Wei kemudian dia bangkit dan melangkah keluar.
"Hati-hati dan lekas kembali!" ucap Fang An.
__ADS_1
Fu Lie Wei menoleh lalu tersenyum lembut kepada Fang An setelah itu dia pergi keluar untuk berburu, sebab mereka juga butuh makan.