
***
Di jalan untuk memasuki ke arena pertandingan, ada dua buah batu mustika berwarna hitam, posisi letaknya berada di tembok kanan dan kiri.
Fungsi dari batu Mustika tersebut adalah untuk mengenali nama-nama calon murid, namun batu Mustika tersebut hanya akan memasukkan daftar murid secara otomatis karena adanya lempengan Giok putih sebagai tanda pengenal.
Tentu para murid tidak akan menyadari akan hal itu sehingga mereka akan penasaran, karena para ketua sudah mengetahui para calon murid yang sama sekali belum memperkenalkan diri mereka kepada para ketua.
Berbeda dengan para murid yang memiliki Lempengan Giok putih yang secara otomatis nama mereka muncul di daftar nama, bagi yang tidak memiliki Lempengan Giok putih, maka mereka harus terlebih dahulu mendaftarkan diri, dan nantinya para ketua yang mengurus para calon murid baru akan memasukkan nama mereka kedalam Giok sebagai tanda pengenal.
Saat ini semua yang ada di kursi penonton sedang tertawa terbahak-bahak melihat postur tubuh Yan Hang yang gendut serta bulat.
Hanya saja Yan Hang terlihat tidak peduli akan hal itu, dia bahkan lebih percaya diri walau dirinya menjadi bahan tertawaan oleh para penonton.
Saat ini ada se sosok pemuda berusia 16 tahun yang sudah berdiri di hadapan Yan Hang, pemuda tersebut memiliki tingkat kemampuan yang sama dengan Yan Hang.
"Silahkan memulai pertandingan kalian!" kata suara sepuh yang berada di kursi para tetua.
Yan Hang langsung mengeluarkan Pusaka Spiritualnya yang berbentuk golok sedikit melengkung, sedangkan lawannya mengeluarkan dua Pusaka Spiritual berbentuk pedang pendek.
"Terimalah ini gendut!"
"Teknik Pedang Kembar."
Pemuda itu langsung menyerang Yan Hang dengan permainan dua pedangnya ke arah Yan Hang, dengan tebasan beruntun dari dua pedangnya, dia membuat Yan Hang melangkah mundur menahan serangan beruntun pemuda tersebut.
"Permainan pedangnya sangat cepat sekali, walau anak itu tidak menggunakan energi bantuan dari Spirit Root nya serta Kertas Mantra Sihir nya, namun serangan itu sangatlah mematikan!" gumam Wang Lao Yi.
__ADS_1
Yan Hang juga menyadari kecepatan serangan lawannya yang menggunakan dua pedangnya, dia hanya terus bertahan seraya mundur sedikit demi sedikit hingga akhirnya kakinya sudah berada di pinggiran arena.
Yan Hang segera berhenti mundur seraya menahan kakinya yang hampir keluar dari arena, dia yang sejak awal hanya bertahan kini mulai memainkan goloknya dengan mengandalkan kekuatannya.
"Teknik Golok Hutan."
Yan Hang langsung melepaskan tebasan ganas dan liar kepada lawannya, dan tebasannya mampu membuat Golok nya berubah menjadi Golok yang lebih besar, dan dengan satu ayunan kuat, pemuda tersebut langsung terpental mundur saat menahan serangan Yan Hang dengan kedua pedangnya.
"Hem! Serangan mu barusan lumayan kuat untuk tubuh se gemuk dirimu, sekarang aku akan serius menghadapimu!" kata Pemuda tersebut dan kemudian dia mengeluarkan dua Kertas Mantra Sihir nya lalu menempelkannya ke kedua pedang pendeknya.
Angin segera berhembus saat pemuda itu mulai melakukan segel Kertas Mantra Sihir nya, di tambah dengan gabungan dari Spirit Root nya yang memiliki Elemen Logam, pemuda itu langsung melesat dengan kedua pedangnya yang menjadi hitam seperti logam.
Pemuda itu menggunakan kecepatan serta kegesitannya untuk mengalahkan Yan Hang, sedangkan Yan Hang juga mengeluarkan Kertas Mantra Sihir nya lalu menempelkannya ke golok nya seraya mengalirkan Elemen kayu ke pedangnya.
Yan Hang mengaktifkan segel Kertasnya dan kemudian dia dengan mengandalkan kekuatannya langsung menyambut serangan kedua pedang.
Benturan kedua senjata mereka kembali saling beradu, dan kali ini sebuah ledakan kecil dan gelongbang angin menyebar dari benturan kedua serangan itu.
Lantai arena yang sudah memiliki banyak retakan kini memiliki retakan yang semakin lebar akibat pertarungan mereka berdua, sedangkan para penonton mulai menyemangati kedua Petarung yang semakin sengit.
Pertarungan antara kecepatan melawan kekuatan membuat para penonton yang kebanyakan adalah para calon murid merasa terpukau, yang membuat mereka semua tertarik adalah Yan Hang, dimana dia menggunakan kelebihan tubuhnya itu menjadikannya kekuatan yang mampu menandingi lawannya yang mengandalkan gerakan kecepatan dua kali lipat dari gerakan Yan Hang.
Pemuda itu dengan kedua pedangnya langsung melepaskan serangan terkuatnya untuk menjatuhkan Yan Hang, sedangkan Yan Hang juga mengarahkan goloknya ke belakang dan kemudian menganyunkannya dengan sangat kuat.
"Jdarr!!"
Ledakan teredam langsung tercipta sehingga golok Yan Hang dan dua pedang milik pemuda itu sama-sama terlepas dari genggaman masing-masing dan kemudian terlempar di jatuh di tepi arena.
__ADS_1
Tangan keduanya sama-sama merasa kebas, namun mereka tidak memiliki waktu untuk beristirahat dan kembali saling serang dengan tangan kosong di tengah-tengah gumpalan asap.
Yan Hang mulai terlihat berada di posisi yang tidak diuntungkan, sebab tubuhnya terlalu gemuk untuk menghindari serangan lawannya yang semakin meningkat, sedangkan lawannya terus memukuli Yan Hang dari berbagai arah setelah itu pemuda tersebut langsung memberikan pukulan tangannya yang menghitam seperti logam.
Wajah Yan Hang langsung terkena pukulan tinju keras dari lawannya, lalu tidak lama kemudian sebuah tendangan keras juga mengenai perut Yan Hang.
Yan Hang terhempas hingga ke tepian Arena, dimana disana pusaka mereka berdua tergeletak, untungnya Yan Hang tidak keluar arena, jika tidak maka dirinya akan dianggap kalah.
Pemuda itu kembali maju menyerang Yan Hang, dan dengan tatapan merahnya, dia hampir saja melepaskan pukulan terkuatnya, namun sayang saat dia sudah mendekatinya, Yan Hang segera meraih goloknya kembali lalu dia mengarahkan ujung goloknya kearah pemuda tersebut.
Pemuda tersebut langsung terdiam saat lehernya hampir tertusuk oleh golok milik Yan Hang, jika dia tadi tidak sempat untuk berhenti, maka dirinya pasti akan langsung mati.
Yan Hang bangkit seraya mengarahkan mata goloknya ke leher pemuda itu, dan secara perlahan-lahan Yan Hang menggiring pemuda itu ke tepi arena, bahkan pemuda itu sama sekali tidak sadar saat dirinya sudah berada di tepi arena.
"Kau mau turun sendiri atau aku yang akan menurunkanmu?" tanya Yan Hang dengan goloknya yang sudah siap untuk menyerang kembali.
Pemuda itu melirik ke arah kedua pedang pendeknya, karena pedangnya tergeletak cukup jauh dari tempat dirinya berada, pemuda tersebut akhirnya memilih untuk melompat keluar dari arena.
Alasan pemuda itu memilih untuk keluar dari dalam arena dikarenakan dirinya sudah kehabisan energi, andai masih memiliki energi, tentu saja dia bisa dengan sangat mudah untuk meloloskan dengan menggunakan kecepatannya.
Melihat lawan Yan Hang sudah keluar dari dalam arena, Yan Hang akhirnya dinyatakan sebagai pemenangnya, tentu saja hal ini membuat para penonton merasa kecewa kepada lawan Yan Hang, sedangkan para pendukung Yan Hang bersorak akan kemenangan si gendut.
Yan Hang langsung kembali ke kursinya, dan dia langsung duduk lemas karena sebenarnya energinya juga hampir habis, belum lagi rasa sakit di wajah serta perutnya semakin membuat dia semakin merasakan rasa sakit, hanya saja dia tetap berusaha menahannya.
"Pertandingan yang cukup menarik Yan Hang!" kata Fang An sembari tersenyum kepada Yan Hang.
"Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat pertarungan mu, aku penasaran siapa yang akan menjadi lawanmu nanti?" kata Yan Hang.
__ADS_1
"Entahlah, kita tunggu saja!" jawab Fang An.
Yan Hang hanya mengangguk dan kemudian dia beristirahat untuk memulihkan dirinya, sedangkan pertarungan masih terus berlanjut.